Pelangi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 October 2017

Pagi yang cerah matahari terbit dari ufuk timur. Sinarnya menembus rimbunnya pepohonan di desa yang indah, desa tempat Nina dan keluarganya tinggal. Akhirnya desa itu mendapatkan hangatnya mentari pagi setelah tiga hari cuaca mendung disertai hujan. Seperti biasanya, Nina bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, saat ini dia duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Tubuh kecilnya selalu bergerak dengan lincah. Setelah sarapan nasi goreng dan segelas susu, Nina berpamitan kepada ayah dan ibunya untuk berangkat ke sekolah. Nina berangkat ke sekolah dengan sepeda yang diberikan oleh ayahnya di hari ulang tahunnya, sepeda berwarna merah muda yang sekarang menjadi salah satu barang kesayangannya. Dengan tawa polosnya, Nina melepas satu tangannya dan melambaikan tangan kepada kedua orangtuanya yang dari tadi melihat putrinya dari teras rumah mereka bersama anjing Nina. Seakan membalas lambaian tangan Nina, anjing itu terus menggonggong dan melihat ke arah Nina.

Setelah pulang sekolah, Nina bermain dengan anjing kesayangannya yang diberi nama Moli. Anjingnya selalu menungguinya hingga Nina pulang, tapi tidak pernah ikut saat Nina meninggalkan rumah, kecuali saat Nina mengajaknya, anjing itu memang anjing yang pintar dan penurut. Setelah lelah bermain dengan Moli, Nina merebahkan tubuhnya di antara rerumputan hijau di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba setetes air menetesi mata bulat Nina -dia pun mengedipkan matanya- dan disusul dengan hujan yang tidak terlalu lebat. Hujan turun saat matahari masih menyinari bumi, hanya ada segumpal awan hitam di angkasa. Setelah mendengar suara gonggongan Moli yang sudah ada di teras rumah, Nina langsung berlari masuk ke dalam rumah dan menemui sang ibu yang sedang merapikan bunga-bunga di meja ruang tamu. Setelah itu, ibu mengajak Nina untuk masuk ke ruang keluarga bersama ayahnya.

Nina mulai bosan karena hujan tak kunjung reda, apalagi Nina ingin sekali bermain bersama teman-temannya. Nina juga ingin main hujan-hujanan, tapi tidak diizikan ibunya. Beberapa hari lalu, Nina sakit karena terlalu lama bermain hujan-hujanan.

Setelah beberapa menit, akhirnya hujan reda, Nina berteriak kegirangan karena setelah menunggu cukup lama akhirnya hujan reda juga, jadi dia bisa bermain bersama teman-temannya. “Hore… hujannya sudah reda. Aku main dulu ya Ayah, Bunda. Da…” Ayah dan Bundanya hanya tersenyum melihat anaknya yang pintar itu begitu besemangat. Tubuh mungil dan kaki Nina bergerak cepat menuju sepedanya. Saat anak berusia delapan tahun itu hampir menggayuh pedal sepeda, kakinya terhenti saat melihat ke arah langit. Anak itu melihat kumpulan warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu yang membentuk setengah lingkaran di langit. Nina melihat kagum kumpulan warna itu lalu sambil mengarahkan telunjuknya ke langit dia berteriak memanggil ayah dan bundanya. “Ayah… Bunda… lihat!” Mendengar teriakan anak semata wayangnya memanggil mereka, mereka pun bergegas mengahampiri Nina. Mereka melihat arah jari telunjuk mungil Nina yang mengarah ke langit.
“Oh, itu namanya pelangi. Pelangi itu muncul saat ada bidadari yang turun ke bumi,” jelas ibu sambil menatap anaknya.
“Bidadari itu apa, Bun?” tanya Nina penasaran saat mendengarkan penjelasan ibunya.
“Bidadari itu wanita cantik sekali yang tinggal di langit sana.”
“Bunda itu bagaimana? Bukan begitu, Bun. Itu Cuma mitos. Nina, pelangi itu punya tujuh warna, yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Warna itu terbentuk karena pembiasan sinar matahari oleh tetesan air yang ada di langit. Saat cahaya matahari melalui tetesan air, cahayanya dibengkokkan sehingga membuat pelangi yang berbentuk melengkung dan indah seperti itu.”
Nina hanya memperhatikan dengan polos saat ayahnya yang sedang menjelaskan panjang lebar tentang pelangi. Tapi, setelah ayahnya selesai menjelaskan, Nina hanya menggaruk-garuk kepalanya karena tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan ayahnya. Yang dia mengerti, saat ada pelangi, maka akan ada bidadari yang datang ke danau yang tidak jauh dari rumahnya. Jadi Nina berfikir mungkin jika ada pelangi lagi dia harus datang ke danau untuk melihat bagaimana wajah bidadari yang kata ibunya sangat cantik itu, apalagi setelah mendengar cerita dari ibunya tentang tujuh bidadari yang turun ke bumi dengan tujuh warna pakaian terang.

Akhirnya, hari itu Nina tidak jadi pergi bermain bersama teman-temannya karena tertarik untuk mendengar lebih jauh tentang tujuh bidadari yang sangat cantik itu. Ibu Nina bercerita bahwa bidadari datang untuk bersenang-senang. Nina menjadi semakin berimajinasi tentang bidadari yang suka bermain, seperti dirinya.

Beberapa hari setelah hari itu, Nina selalu menanti akan datangnya pelangi, agar dia bisa menemui bidadari yang cantik itu di danau. Beberapa hari kemudian, tepat di hari minggu, Nina bermain dengan teman-temannya. Mereka tengah main petak umpet. Di hari yang cerah, ditengah asiknya mereka bermain, tiba-tiba hujan turun. Nina dan teman-temannya segera berteduh di gubuk kecil tempat mereka sering berkumpul dan bercanda ria. Setelah hujan reda, salah satu teman Nina melihat ke langit dan berkata “lihat, ada pelangi.” Nina dan teman-temannya bergegas melihat pelangi itu. Salah satu teman Nina, bertanya tentang pelangi dan Nina pun menjelaskannya. Seperti yang diceritakan oleh ibu dan ayahnya.
“Pelangi itu punya tujuh warna, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Warna itu terbentuk karena sinar matahari bertemu dengan air hujan. Kata ibu, waktu muncul pelangi, itu berarti ada bidadari yang… hah… bidadari…” Nina tanpa permisi langsung berlari meninggalkan teman-temannya saat mengingat bidadari. Nina mengayuh sepedanya sekencang mungkin menuju danau. Dia tidak mau terlambat untuk menemui bidadari-bidadari cantik yang ada di danau.

Setelah sampai danau, Nina sangat bersemangat untuk menemui bidadari cantik seperti yang telah diceritakan oleh ibunya. Setelah sampai di danau, Nina mengelilingi tepi danau dan tidak juga menemukan para bidadari yang diceritakan ibunya. Setelah lelah mengelilingi danau, akhirnya Nina melihat seorang wanita yang duduk sendirian di sebuah bangku di tepi danau dengan tatapan kosong dan muram, seakan dia memiliki begitu banyak masalah dan beban kehidupan yang ingin dibuang di danau yang luas itu. Tanpa rasa takut dan justru dengan rasa penasaran yang tinggi, Nina mendekati wanita itu. Wanita itu masih terlihat sangat cantik dengan pakaian berwarna gelap dan rambutnya yang terlihat jarang disisir. Tanpa berfikir panjang, Nina langsung duduk di samping wanita misterius itu karena menganggapnya sebagai bidadari. Nina berfikir, mungkin ibunya salah tentang bidadari yang suka bermain, mempunyai banyak teman, dan memakai pakaian berwarna terang. Tante bidadari memang cantik, tapi dia tidak ceria, bahkan tidak tersenyum sedikitpun kepada Nina, meskipun begitu, Nina tetap yakin jika bidadari adalah wanita yang baik dan tinggal di langit.

“Tente, pasti bidadari, kan?”
Wanita itu hanya melihat Nina dengan tatapan kosong. Tapi Nina tidak takut sedikitpun.
Nina terus berbicara dengan kepolosannya dan bertanya semua hal yang ingin dia tanyakan. Dia juga berbicara mengenai cerita ibunya tentang bidadari di saat muncul pelangi. Dia terus berbicara dan bercerita meskipun wanita misterius itu tidak meresponnya. Setelah Nina selesai bercerita, wanita itu berbicara dengan dingin “aku bukanlah bidadari, aku hanyalah makhluk menyedihkan, aku datang ke sini setiap hari, bukan hanya saat ada pelangi.” Kata ibu, bidadari tidak akan mengaku tentang identitasnya, batin Nina sambil melukiskan senyum di wajah kecilnya.

Ingin membuktikan perkataan wanita itu, keesokan harinya Nina kembali ke tempat itu. Ternyata benar, wanita itu datang ke danau tidak hanya saat ada pelangi, satu lagi cerita ibu Nina tentang bidadari salah. Setelah itu, hampir setiap hari Nina datang ke danau untuk menemui tante bidadarinya. Wanita misterius itu pun mulai mau berbicara meskipun tanpa senyum sedikitpun. Terkadang, Nina juga membawa makanan untuk teman barunya itu. Nina juga bercerita pada ayah ibunya tentang bidadari cantik yang ada di danau, tapi mereka hanya mengira kalau anaknnya itu mempunyai teman khayalan, itu memang sering terjadi pada anak-anak.

Setelah dua hari tidak datang ke danau, Nina kembali datang ke sana untuk bertemu dengan wanita misterius yang dianggapnya bidadari. Sebelum itu, gadis kecil itu berpamitan kepada kedua orangtuanya yang sedang bercerita mengenai wanita misterius yang tertabrak mobil di jalan raya tadi malam.

Setelah sampai di danau, Nina langsung menuju ke bangku tempat tante bidadarinya sering duduk, tapi dia tidak melihat seorangpun di sana. Tiba-tiba Nina teringat dengan kejadian beberapa hari lalu. Saat perempuan itu untuk pertama kalinya tersenyum pada Nina dan juga anjingnya. Apalagi, dia juga memberikan coklat dan sosis untuk Nina dan Moli. Tante bidadari kembali menatap danau dengan tatapan kosongnya sambi berkata “pastikan ini jadi hari terakhirmu datang ke sini untuk menemuiku karena aku tidak akan datang lagi ke sini besok, aku senang karena Nina adalah satu-satunya orang yang mau menjadi temanku.”
“Bukannya tante bidadari memiliki enam teman? Mengapa aku menjadi satu-satunya teman tante bidadari?”
“Ceritaku tidak sama dengan apa yang diceritakan ibumu. Jadi, mulai sekarang jangan memangilku tante bidadari, panggil aku tante Ana. Bermainlah dengan teman-temanmu dan jangan lupa untuk belajar!”
“Tante Ana? Apa tante akan kembali ke langit dan tidak kembali lagi ke sini?”
Mendengar peetanyaan Nina, perempuan yang ternyata bernama Ana itu hanya tersenyum. Mungkin dia ingat pada masa kecilnya yang terlalu mempercayai dongeng.

Kemudian, Nina melihat pelangi di langit. Pasti Tante Ana sudah bahagia di sana.

Cerpen Karangan: Nadya Nurlisa
Blog / Facebook: nadyanurlisa.blogspot.co.id / Nadya Nurlisa

Cerpen Pelangi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Darkness In My Heart

Oleh:
Ini bukan kisah tentang cerita horor yang sering kau baca. Ini bukan kisah tentang cerita menyedihkan yang membuatmu menitikkan air mata. Ini bukan tentang kisah cinta remaja pada umumnya.

Dentingan Bersayap

Oleh:
Dunia telah bersaksi, tiada yang abadi. Rambut indah juga akan rontok, pakaian mahal tak juga dibawa mati. Perbuatanku yang akan menentukan, Surga atau Neraka? Jika harus memilih, pastilah aku

Orang Misterius

Oleh:
Aku terheran-heran … Entah ilmu apa yang dipakai orang misterius itu. Setiap kali, yang jadi korbannya selalu ABG alias anak baru gede, mungkin karena darahnya yang masih segar, atau

Bidadari Surga

Oleh:
Saat itu aku merasa semua akan baik-baik saja, aku akan tumbuh besar dan bisa menggapai cita-citaku, aku pikir kata kasih sayang hanya sebuah kata hiasan seperti seseorang yang bertindak

Pesan Untuk Alya

Oleh:
Udara pagi yang sejuk mulai menyapa pagiku. Berjalan dan berlari-lari kecil setiap minggu pagi adalah kegiatan rutin yang biasa aku lakukan untuk program penurunan berat badan (diet), meskipun kelihatannya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Pelangi”

  1. Adindhya S says:

    Apa makna dari cerita ini? Apakah artinya nina menciptakan pelangi untuk tante ana? Terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *