Pelangi Sederhana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 5 April 2013

Elsia adalah namaku
Pagi buta..
bunyi kericikan air wudlu membangunankanku. Seperti biasa ibuku bangun lebih awal. Bahkan dia bangun sebelum suara adzan subuh berkumandang.
rumah kecil ini hanya ada aku dan ibuku. Sudah 10 tahun lebih ayah meninggalkan kami. Waktu itu umurku 6 tahun. Tadinya untuk pergi merantau ke Jakarta. Akan tetapi sampai sekarang dia tak pernah kembali. Di mana keberadaannya dan bagaimana kabarnya pun kami tak tahu. Hanya saja ibuku adalah wanita terbaik yang aku miliki. dia tegar dan bekerja keras walaupun aku tahu ibu mempunyai keterbatasan. Dia tak bisa bicara seperti kita, akan tetapi dia bisa mendengar. Entah penyakit apa yang membuat merenggut suaranya itu. Tapi aku tak pernah malu dengan itu. Meskipun sering kali teman-temanku mengolok-olokku. Hanya air mata kesedihan yang menjawab olok-olokan mereka. Bahkan ada yang mengatakan ayahku meninggalkan kami karena ibuku yang bisu. Aku tak peduli apa kata mereka. Yang jelas aku tetap menunggu ayah kembali.

Tiap pagi ibu bangun pagi untuk membuat kue kecil. Siangnya dia kesawah orang untuk kerja.
Pagi ini aku mendengar suara isakan. Aku pun mengintip dari lubang kecil pada sela anyaman bambu (tabag). Aku melihat ibu menangis, duduk masih terpasang mukena kusutnya. Mungkin udah beberapa tahun dia tak pernah mengganti mukenanya itu. aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa air matanya membasahi pipinya yang mulai kering kriput. Aku sadar jika ibu adalah wanita yang tercantik yang pernah aku kenal. dialah orang yang paling sempurna dihadapanku.

Diam-diam aku mengambil celengan dari bambu. Aku angkat pelan-pelan supaya ibu tak mendengarnya. Ini adalah celenganku uang yang aku kumpulin dari penghasilanku sendiri. Terkadang aku sering ngerjain PR temen, dan ngajarin temen-temen yang kurang paham dengan pelajaran yang dari guru-guru. Sering kali aku dikasih duit buat jajan, akan tetapi tak pernah aku pakai. Aku selalu bilang aku gak laper. Padahal cacing-cacing yang ada diperut ini telah laper.
Diam-diam setiap pagi aku pun jualan koran kerumah-rumah.

Tadinya ingin aku beli’in baju dress yang dibalik toko itu. Aku ingin menggunakan baju itu buat pesta sekolah 1 bulan lagi. Baju yang sangat bagus. Sayang harganya sangatlah mahal. 500 rb. Bagaimana mungkin aku bisa membelinya. Aku pun betekad untuk mengumpulkan uang itu. Tapi, kini senyumku menjadi getir.
“untuk apa baju seperti itu, sebaiknya aku beli’in ibu mukena. Aku tak tega melihat mukena ibu yang udah gak layak pakai itu. Ya Allah maafkan hambamu ini.”
Niatku telah bulat. Kalau uang ini akan aku beli’in mukena. Mungkin sisanya aku akan simpan buat beli baju itu. Dalam 1 bulan pasti bisa terkumpul ini uang. Fikirku dalam hati.

mukena itu pun telah aku beli, tapi dalam perjalan aku berfikir lagi. Aku harus bilang apa sama ibu, aku gak mau ibu tahu kalau ini mukena aku yang beli. Entar pasti dia curiga dapat dari mana uang ini. Dia kan selalu melarang aku untuk melakukan apa pun. Apa lagi kalau ibu tahu aku jualan koran.
aku bohong aja kalau ini dari jalan yang aku pungut. Barang terjatuh. Ideku.. hehe

Setelah pulang kerumah, aku pun seperti biasa. Yang pertama kali ingin aku lihat adalah wajah ibu.
“ibu..” panggilku..
“oh yach aku lupa, ibu kan belum pulang. Mendingan aku taruh dimeja aja.” Kutaruh mukena yang aku bungkus dengan kresek plastik hitam.
karena capeknya, aku pun tertidur. Tanpa tahu kalau ternyata ibu udah pulang. Seperti apa yang aku tebak, ibu pasti akan tanya tentang plastik hitam itu.
“e,,, he’eeeee gjnkljkllfhk”
“oh itu, el nemu dijalan. Ternyata isinya mukena. Mending ibu pake aja. Mukna ibu kan udah rusak..”
“eee…’’’eee… gjjkkl” sambil menggoleng kepalanya.
“kenapa.? Itu buat ibu aja. Lagian l nemu dijalan.”
Ibu ku tetap mengeleng kepalanya. Mungkin maksud ibu, ibu gak suka. Dia masih bertanya..
sedikit kesel ketika aku jelasin berkali-kali. Ternyata ibu masih gak mau.
“ibu pake aja. El gak nyolong kok.. el nemu didepan prapatan jalan itu. ibu gak usah kawatir.” Jelasku.
ibu pun langsung terdiam. Dia pergi kesumur cepat-cepat. Kenapa ibu sikapnya tiba-tiba seperti itu. aneh !!!
pikirku dalam hati..

Seperti biasa habis shalat magrib, aku ngaji sampai nunggu isya.. perasaanku agak gak enak. Rumah menjadi sepi. Sesaat aku terdiam. Tak ada suara apapun. Apa ibu masih shlat, aku punmenghentikan ngajjiku itu. keluar dari kamarku. Aku melihat mukena itu udah gak ada, dengan diam-diam pula aku mengintip kamar ibu, mungkin mukena itu telah ibu pake buat shalat.
Aku terkejut ketika ibu ternyata tak ada di dalam kamarnya. Kemana dia saat ini.. tanyaku dalam hati.
Tak seperti biasa dia pergi tanpa pamit seperti ini. Perasaan aku semakin gak enak. Ketika jam mulai nunjukin pukul 23.00 pm
“kemana ibu, mana ujan lagi? … mungkin aku harus mencarinya. Aku takut kalau ada apa-apa yang terjadi pada ibu. Dengan payung hitam dan agak robek itu, aku mencoba untuk jalan keluar. aku gak tahu akau harus kemana, tapi aku akan mencarinya kemana pun.

Udah satu jam lebih aku cari ibu tapi, ibu tak aku temui. Khawtiranku semakin memuncak, gak mungkin ibu main di rumah tetangga. Tetangga pun mungkin sedang tidur pulas. Udah jam 12 belas lebih di tambah hujan semkin deras. Akan tetapi mengapa ibu tak kunjung aku temui juga. Aneh!
sesaat aku terdiam teringat kata-kataku tadi siang “ibu pake aja. El gak nyolong kok.. el nemu didepan prapatan jalan itu. ibu gak usah kawatir.”
apa mungkin ibu ada ditempat itu?
aku pun cepat-cepat menuju keprapatan jalan itu.
Rasanya jantungku berhenti sesaat ketika aku melihat wanita setengah baya sedang berdiri kehujaan dan kedinginan. Memeluk bungkusan kresek hitam itu.
Aku tak tahu mengapa ini semua bisa terjadi, ya Allah ampunilah dosaku. Air mataku pun mengalir..

Aku berlari memeluk ibu,
“maafkan el bu” Ibunya memandang heran, dengan bibir yang menggigil. Malam itu sunggguh dingin. Kenapa aku tak mengerti, tak seharusnya aku membohongi ibu. Harusnya aku sadar kalau tak mungkin ibu mau memakai sesuatu yang bukan miliknya. Walaupun barang temu sekalipun. Karena ibu selalu berfikir, orang yang kehilangan barang tersebut pasti akan sedih. Dan itu masih dalam keraguan antara haram dan halalnya.
Ibu pasti menganggap orang yang kehilangan akan mencari dan kmbali ketempat itu. Karena itu dia menunggu disini.
“ee..” “ibu, ini mukena el. El yang beli, el bohong kalau nemu disini. Maafin el..”
Ibunya pun memelukku..

“ya Allah ampunilah dosaku, kebohonganku telah menyakiti orang yang paling aku sayangi. Maafkan aku ibu..

aku berlari ditempat yang tersembunyi,,
berharap orang tak menemukanku..
satu hari, dua hari.. aku bertahan..
tapi entah mengapa nafas ini menjadi sesak, nadiku semakin lemah
diruang hampa ini apa aku masih bisa hidup.
TIDAK !!!
mutiara yang aku bawa tak lagi istimewa.
kini senyum yang aku rindukan menjadi sangat berharga..
kebahagiaan itu Pelangi Sederhana

Cerpen Karangan: Upik Junianti
https://plus.google.com/u/0/100517204208889308511/posts

Cerpen Pelangi Sederhana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Banjir

Oleh:
Sore itu, kota Tuban terasa lebih sejuk. Bulan penghujan sudah mulai datang. Tanah persawahan sudah mulai lembab. Di tengah kesejukan sore itu, terdengar suara anak-anak yang sedang bermain sepak

Penyesalan

Oleh:
“kring…!!! kring…!!!” Seketika suara alarm jam itu mengagetkan Chiko, salah satu siswa SMA di Semarang yang saat ini duduk di bangku kelas 2 SMA dari tempat tidurnya. Biasanya, setiap

Sebelum Habis Masa

Oleh:
Kabut hitam tebal berfose di angkasa sang pencipta. Udara dingin merasuk menembus pori-pori kulit keriput yang menyimpan seribu sejarah. Gubuk sederhana menjadi saksi bisu sandiwara kehidupan. Yang terkadang ada

Punk’s Not Dead

Oleh:
Megan membuka matanya pelan ketika mendengar ketukan keras di pintu kamarnya. Alih alih beranjak dari ranjangnya, ia tetap berdiam di balik selimut patchwork buatan tantenya sambil melirik weker bergambar

Bunga Merah Muda

Oleh:
Burung-burung berjajar rapi membentuk barisan yang abstrak. Bertengger di atas pohon yang merdu apabila sedang melambai. Suara siulannya bagai melodi yang indah. Mereka berjajar di taman menunggu si awan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *