Pelangi Untuk Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 15 December 2015

Hujan masih menyelimuti bumi yang gersang. Air menggenang di jalan yang berlubang. Entah ke mana sang matahari sehingga tiada hadir menyapa. Sepeda tua itu tetap melaju menembus tirai-tirai air yang hampir menutup pandangan. Akhirnya perjuangan itu sampai pada tujuannya yaitu bengkel motor di pinggir jalan raya. Sepeda tua dan pengendaranya yang masih muda itu pun berhenti. Kemudian, ke luar sang pemilik bengkel dari rumahnya yang bergandengan dengan bengkel itu.

“Pagi pak.” Sapa Doni ramah sambil menaruh jas hujannya di atas sepeda.
“Pagi juga don, hujan lebat seperti ini kok kamu sudah datang, teman-temanmu saja mungkin nggak datang don, kamu tahu sendiri sudah beberapa minggu bengkel ini sepi, apa lagi hujan lebat seperti ini.” Keluh pak Ahmad di teras rumah.
“Siapa tahu hari ini bisa lebih baik dari hari kemarin pak.” Doni tersenyum memberi semangat.
“Kamu ini bisa saja membuat orang bersemangat, ayo masuk dulu minum teh.” Ajak pak Ahmad.
“Terima kasih pak, saya langsung buka bengkel saja, siapa tahu ada yang datang.”

Dua bulan kemudian. Pagi sangat indah, langit biru diwarnai pelangi. Doni duduk melamun di teras rumah kecil yang dia tempati bersama istrinya selama dua tahun ini. Dia mulai mengontrak sejak menikahi Fina karena orangtuanya dan orangtua Fina sama-sama kurang setuju dengan pernikahan mereka.
“Indah sekali ya pelangi itu.” Kata Fina mengagetkan lamunan Doni.
“Eh, emm iya.” Jawab Doni gugup.
“Kenapa melamun?” Tanya Fina.
“Emm nggak kok, lagi lihat pelangi, ya benar lihat pelangi.” Jawabnya meyakinkan istrinya.
“Iya.” Kata Fina sambil menundukkan kepalanya.

Dia tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya setelah kehilangan pekerjaannya, hidup mereka sangat kesulitan, bahkan tak jarang seharian hanya minum air putih, kalau hasil berdagang mainan anak-anak laku baru bisa beli beras. Begitu juga yang terjadi pada hari ini, hari yang tak secerah langit berpelangi. Tak ada makanan yang bisa mereka makan hari ini. Namun semangat, kesabaran, dan kesetiaan mereka tak pernah pudar. Walau segala rintangan datang menghadang. Bermandikan air mata justru mereka jadikan kekuatan.

Suatu hari Doni pulang berjualan mainan keliling hingga larut malam. Dia mengetuk pintu dengan pelan, tiada yang membukakan pintu dan menjawab salamnya, kemudian dia mencoba membuka pintu, “siapa tahu tidak dikunci.” Pikirnya. Dan ternyata benar pintu itu memang tidak terkunci. Dia segera masuk ke kamar namun Fina tidak ada. Tiba-tiba dia mendengar suara orang muntah-muntah di kamar mandi, dia pun berlari ke sana.

“Fina, kamu kenapa?” Tanyanya panik.
“Nggak tahu mas, kepalaku pusing mual-mual dari tadi pagi, kamu kenapa kok pulangnya sampai larut malam?” Fina balik bertanya sambil memegang perutnya yang terasa sakit.
“Aku tadi keliling agak jauh, berharap bisa dapat untung lebih untuk bayar kontrakan, kamu sakit ya?” Jelas Doni sambil balik bertanya.
“Tidak mas, mungkin hanya masuk angin, oh ya, tadi juga ibu kos ke sini, katanya kalau bulan ini kita nunggak lagi kita harus angkat kaki.”
“Tapi kamu tenang aja sayang aku sudah dapat uang untuk membayarnya.”
“Alhamdulilah.”

Matahari kembali menyapa dunia. Doni sudah bersiap-siap menjajakkan dagangannya yang sudah tertata di atas sepeda tuanya. “Fin, aku pergi dulu ya, doakan semoga hari ini lancar.” Pamit Doni pada Fina. “Tunggu mas, ada yang mau aku sampaikan, entah ini berita baik atau berita buruk, aku bingung.” Kata Fani menunduk.
“Ada apa sayang? Katakan saja.” Kata Doni menenangkan istrinya.
“Aku sudah tes, hasilnya positif, aku hamil.”
“Alhamdulilah, harusnya kamu seneng dong Allah telah memberi kepercayaan pada kita, setelah lama kita nantikan.” Kata Doni tersenyum senang.

“Ya aku senang mas, tapi aku khawatir dengan keadaan kita yang seperti saat ini, bagaimana kita akan membahagiakan anak kita?” Fani merasa gelisah.
“Sayang, kamu jangan khawatir, setiap manusia yang lahir ke dunia ini sudah punya rezekinya sendiri-sendiri, begitu juga anak kita nanti.” Kata Doni begitu tenang.
“Ya mas, kamu benar harusnya aku bersyukur, kamu memang selalu membuatku merasa damai mas.” Fina mulai tersenyum.
“Gitu dong senyum, kan tambah cantik, ya sudah aku pergi dulu ya, baik-baik di rumah.” Doni berpamitan mencium kening dan perut istrinya.

Sebelum senja menyapa Doni sudah pulang. Dia sengaja pulang agak sore karena ingin mengajak istrinya periksa ke dokter sekalian jalan-jalan. Dia sangat ingin membahagiakan Fina walaupun dengan uang pinjaman. Ketika sedang berbelanja Fina terlihat ingin membeli baju baru, dia terus memandangi baju itu dan sesekali melirik baju usang yang dia kenakan. Doni merasa sangat sedih melihat istrinya. Dia ingin membelikan baju itu, namun dia tahu saat ini dia belum mampu. Tapi Doni tidak kehabisan cara membuat senyuman merekah dari bibir Fina. Doni mengajak Fina makan bakso di warung tenda pinggir jalan. Benar saja Fina langsung tersenyum dan melupakan baju tadi. Memang bagi Fina sekedar makan bakso itu adalah hal yang spesial.

“Hmm enak banget, makasih ya mas udah ngajak aku makan bakso.” Fina yang polos seketika mengatakan perasaannya. Namun orang yang duduk di sebelahnya langsung berdiri mengejeknya.
“Dasar kampungan, nggak pernah makan bakso ya?” Kata orang tersebut memandang Fina sinis. Bakso yang sudah sampai ke tenggorokan tiba-tiba seperti batu yang keras, Fina diam membisu, air bening itu menggenang di mata sipitnya. Hatinya seperti diinjak-injak. Dia langsung ke luar meninggalkan baksonya yang belum habis. Dia menangis tersedu. Doni segera mengejarnya setelah membungkus sisa bakso dan membayarnya.

“Fina, ayo pulang aku bonceng, jauh kalau jalan kaki.” Kata Doni yang mengejar Fina dengan sepeda tuanya. Lalu Fina berhenti duduk di pinggir jalan dan menangis sejadi-jadinya.
“Aku sedih mas, aku benci dihina-hina seperti itu, aku hanya ingin bahagia, kenapa orang-orang itu mengejekku, apa salahku?” Fina menumpahkan perasaannya.
“Sayang, sabar ya, jangan membenci orang yang menghinamu mereka hanya tidak tahu bagaimana kita, kamu tidak salah apa-apa sayang, aku yang salah mengajakmu ke tempat itu, maafkan aku ya, sekarang jangan nangis ayo kita pulang makan baksonya di rumah biar nggak ada yang ganggu.” Rayu Doni. Fina pun menurut.

Sampai di rumah Fina kembali makan baksonya dengan lahap. Entah karena enak atau lapar. Doni terus memandang wajah istrinya. Fina yang baru sadar kalau dipandangi suaminya langsung tersipu malu. “Kenapa melihatku seperti itu?” Kata Fina.
“Aku senang melihatmu makan selahap ini.” Jawab Doni tanpa mengalihkan pandangannya.
“Kamu mengejekku ya?”
“Nggak sayang, aku serius, udah cepat habiskan nanti langsung minum obat yang dari dokter.” Kata Doni.
“Oh iya, aku lupa pantes aku makannya banyak kan aku makan untuk berdua.” Fina bercanda.
“Ah kamu masa lupa sama anak kita.”
“Bercanda sayang.” Fina tersenyum.

Tiba-tiba Pak Ahmad datang ke rumah Doni dan mengajak Doni kembali bekerja di bengkel Pak Ahmad yang baru. Setelah bengkel lama ditutup pak Ahmad membuka bengkel baru di luar kota, dan maju pesat. Akhirnya Doni dan Fina berangkat ke luar kota dan memulai hidup baru yang lebih baik. Kesabaran itu memang pahit tapi berbuah manis. Kehidupan memang penuh warna, bagai pelangi yang mewarnai langit setelah awan hitam, hujan, dan matahari menyerang. Siapa yang bertahan, dan tetap berusaha insya Allah selalu ada jalan.

Cerpen Karangan: Erna Wijiati
Facebook: Syafa Azzahra

Cerpen Pelangi Untuk Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menggapai Cita Cita

Oleh:
Kukuruyuukk!! kukuruyuuukk!! kukuruyuuukk!! Seperti biasa ayam jantannya Putra berkokok jam 4 pagi, tidak punya jam alarm, ayam jantan pun jadi, Putra bangun menurut kokokan ayamnya. “Huuaahh, hemmzz. Zzz, Zzz”

Mempertaruhkan Nyawanya Untukku

Oleh:
Hujan mengguyur deras desaku, suhunya yang dingin membuat kami malas untuk ke luar dan memilih untuk tetap berselimut. Langit begitu gelap hingga terasa tak ada cahaya matahari. Saat itu

Setitik Cahaya

Oleh:
Tatkala langit membiru perlahan, kelak sang raja mulai kembali ke daerah peristirahatannya setelah ia menguasai siang dengan berkahnya. Entah merasa lelah, bosan atau pun mendapat tugas di belahan lainnya.

Liburan Yang Menyenangkan

Oleh:
Pagi itu adalah pagi yang sangat cerah karena kemarin-kemarin di pagi hari selalu mendung disertai hawa yang cukup dingin. Seusai sarapan aku menuju ke sekolah dengan mengenakan sepeda kesayanganku.

Untuk Ibu

Oleh:
Dalam gudang yang sempit. Diana, seorang gadis yang tengah meringkuk di sudut ruangan. Dia menangis sesegukan kala mengigat peristiwa itu, dia pun tidak mempedulikan sekitarnya yang dipenuhi binatang kecil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *