Pelayan dan Tuannya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 19 October 2016

Dalam kehidupan rumah mewah itu, ada seorang pelayan bernama Betsy yang melayani tuannya, Leony.
Betsy sejahtera disana mengingat dulunya ia anak buangan di pinggir jalan.
Makan batu, debu, asap, pasir. Ia tak ingat sosok yang pernah melahirkan dan membuangnya. Dalam bibirnya tak pernah terucap kata ayah dan ibu, anggapnya mereka sebagai sosok yang pernah mencipta ia dalam hidup sengsara, melarat, tak berharga. Ia menyebutnya biadab.
Tuhan masih menyayanginya sehingga keadaan, makanan yang ia dapati sehari-hari tetap membuatnya kuat hingga sejahtera dalam kemewahan. Walaupun hanya jadi pelayan, tapi ia senantiasa menyeringai mendapati senyumnya yang terpantul dari keramik-keramik mengkilap, kilauan permata pada cinderamata, dan emas perak yang tuannya pakai itu.
Terkadang, ia begitu angkuh mengingat orang-orang biasa tak mempedulikannya ketika merengek, mengais, memohon diberi uang atau nasi untuk menyambung nyawanya dengan masa depan. Malahan, Tuan Leony mau membawanya masuk di mobil mewahnya. Kala itu Tuan Leony habis dari pesta dengan penampilan glamornya. Ia berkata dengan lembut, memberinya kehidupan mewah walau sekedar jadi pelayan.
Pelayan dalam rumah mewah, bagi Betsy sungguh indah dan bukanlah profesi rendah. Tuan Leony pun tak pernah menganggap ia rendahan. Tak ada perbedaan sikap dalam rumah itu. Keduanya saling menerima dan berbahagia.

Sudah menjadi kebiasaan mendarah daging bagi Betsy menyajikan secangkir teh bagi Tuan Leony. Entah pagi, siang, sore atau malam, teh menjadi minuman favorit Tuan Leony. Walaupun selera orang kaya biasanya selevel jus buah, b*r atau lebih dari teh dan air putih, Tuan Leony berbeda dengan mereka.
“Selamat pagi, Tuan Leony. Kau tampak cantik menawan pagi ini. Silakan, diminum tehnya.”
“Terimakasih, Betsy. Bersemangatlah hari ini dan seterusnya. Persiapkan dirimu untuk sarapan. Mandi yang bersih, bernampilan harum dan kita makan bersama.”
“Baik, Tuan. Siap!”
Tak pernah Betsy membiarkan matanya terlambat mendahului mentari untuk menuju peraduan. Pagi masih buta, Betsy sudah memijak ke segala sisi rumah mewah itu. Menjamahnya dan membersihkannya.
Masakan Betsy tak pernah terlambat terhidang di meja makan sebelum Tuan Leony bangun dan menuruni tangga.
Tuan Leony begitu membanggakan sosok Betsy ini.
Kadang kala, Betsy lupa akan hari gajiannya karena asyik bekerja bagi tuannya. Tuan Leony menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa,
“Kau ini, budak atau pelayan susah membedakannya kalau gaji saja sampai lupa kau terima” kata Tuan Leony sambil menyerahkan amplop putih bertuliskan “Semangat terus, Betsy! Kau hebat!”
Betsy tersenyum melihat tulisan itu. Bukan sekali dua kali ia menerima tulisan itu. Setiap penerimaan gaji, tulisan itu selalu tertera disana. Tuan Leony benar-benar tak mengabaikan Betsy dan kinerja kerjanya.

Begitulah seterusnya hingga hari berganti bulan, dan bulan berganti tahun. 5 tahun lamanya Betsy bekerja bagi Tuan Leony. Setiap ada pesta, entah dari temannya Tuan Leony atau dari Tuan Leony sendiri, Betsy diubahnya menjadi sosok sahabat bagi Tuan Leony. Didandankan secantik mungkin, semewah mungkin, sehingga hampir tak didapati perkataan merendahkan bagi Betsy, sebagai pelayan, dari orang lain. Setiap Betsy berulangtahun pun, Tuan Leony menyiapkan kejutan baginya. Kejutannya juga tak kalah mewah. Umur-umur Betsy begitu mulia bersama Tuan Leony. Begitupun Tuan Leony. Umur-umur Tuan Leony senantiasa penuh pujian dan pelayanan indah, memanjakan dari Betsy. Betsy telah memanjakan tuannya dengan perkataan pujian disetiap ia menyajikan teh. Ada kalanya, Betsy terdiam apabila Tuan Leony mempertanyakan latar belakang keluarga Betsy.
“Ayah dan ibumu sekarang dimana?”
“Mana saya tahu, Tuan, kedua biadab itu dimana. Yang jelas, mereka melahirkan saya untuk dibuang. Barangkali, hanya kepentingan nafsu s*ksual saja mereka bersama. Mungkin, kehidupannya kini sudah tak bersama lagi.”
“Masakah, kau tidak pernah mendengar desas desus mengenai mereka itu?”
“Kata tetangga saya sebelum saya akhirnya menyadari diri saya untuk memperjuangkan hidup sendiri, mereka adalah sepasang pemuda dimabuk cinta. Statusnya berpacaran, tapi kebablasan. Akhirnya karena dari cinta jadi nafsu s*ksual, ya begini. Tengah malam tiba, mereka cekcok karena satu sama lain tak ada yang mau merawat dan bertanggungjawab. Karena marah dan memuncak jadi dendam, biadab laki itu lari entah kemana, dan perempuan biadab itu mengetahui dirinya dalam keadaan tak aman dan sebelum pagi menyinari aibnya, ia diam-diam ke pinggiran jalan dan membuangku entah kemana lalu ia pun juga hilang. Tetangga sekitar esoknya mendapatiku sudah tak di tangan siapa-siapa, di pinggiran jalan saja. Tapi, tak lepas dari saksi mata, mereka tahu aku dari kedua pasangan biadab itu. Mungkin nyawanya tinggal setengah. Lucunya, ibu-ibu desa itu sepakat untuk merawatku bergantian setiap seminggunya. Begitu terus dan menghadapi setiap ibu yang berbeda cara mendidiknya akhirnya aku menyadari aku harus berjuang sendiri. Terakhir aku diurus oleh Bu Fiona. Beliau tak sampai hati membiarkan niatku itu, tapi aku menyadari sepenuhnya aku tak bisa terus begini. Hingga akhirnya, aku berlari dari semua itu dan sampai seperti saat inilah. Lucunya, aku ternyata tetap di tangan asuhan orang lain juga.”
Tuan Leony dan Betsy tertawa terbahak-bahak. Malam itu mereka bersantai di tepi kolam renang. Tuan Leony menepuk pundaknya seolah meyakinkan Betsy, ia akan baik-baik saja.

Suatu ketika, Betsy cukup lelah dan bosan dengan kehidupannya dalam rumah mewah itu. Tuan Leony belakangan ini juga sibuk pada prioritasnya di luar sana. Ia ingin bisa merasakan berjalan-jalan bersama teman-teman. Yang lebih lagi, ingin merasakan cinta dalam hidupnya. Ia melihat ke luar jendela, ia dapati begitu banyak variasi insani disana. Ada yang bersama satu sahabatnya, ada yang bersama-sama sahabatnya, ada yang bersama kekasihnya. Ia menelan ludah dan duduk terdiam.
Tak lama, mobil Tuan Leony datang. Betsy belum bisa memulihkan keadaannya dan menyambutnya dengan biasa.
“Hai, Tuan.”
“Hai… Betsy.”
Tuan Leony terdiam menatap pelayannya itu duduk melamun saja. Tak biasanya Betsy menyambutnya sehambar itu. Biasanya, Betsy menanyakan berbagai hal padanya tentang apa dan bagaimana yang dilakukan tuannya di luar sana. Atau membantu membawakan tasnya, sepatunya, jaketnya, mantelnya, dan lainnya. Semua masih utuh melekat dan membeban pada Tuan Leony.
Mungkin, ia lelah atau kurang hiburan sehingga Tuan Leony mengajaknya malam itu pergi ke rumah makan mewah dan ke taman hiburan.
Namun, itu tak sepenuhnya mengubah Betsy.
Teh yang dihidangkan Betsy rasanya bervariasi. Kadang terlalu manis.
“Maaf, Tuan. Kebanyakan nuang gula.”
Kadang hambar, tak ada manis-manisnya.
“Aduh, Tuan. Maaf, aku lupa menambahkan gula. Lupa, lupa, lupa. Maaf ya.”
Kadang, dalam secangkir, tehnya bisa tumpah-tumpah dari mulut cangkir.
“Maaf terlalu banyak air. Saya bersihkan, Tuan, bekas tumpahan tehnya.”
Kadang, panas bukan main, hingga lidah Tuan Leony sakit.
“Maaf, Tuan, saya langsung menuangkannya waktu panas, terburu-buru.”
Kadang, harus…
“Betsy! Tehnya mana?”
“Oh iya! Sebentar!”
Tapi, hasilnya, tetaplah berbeda dari biasanya.

Saat penerimaan gaji, Tuan Leony menatapnya sedikit kesal. Bukan lagi amplop putih yang ia terima, melainkan amplop hitam legam dan bertuliskan,
“Kinerjamu menurun, saya kecewa!”
Betsy terdiam kaku membacanya dan tidak sanggup menatap ke wajah Tuan Leony.
“Betsy, aku kecewa akan pelayananmu yang kendor, menurun belakangan ini. Saya memang berusaha menyenangkanmu, berusaha mengerti keadaanmu, tetapi semua itu terus menerus terjadi. Saya kecewa. Sangat kecewa.”
“Maafkan saya, Tuan. Saya menyadari itu. Maafkan saya.”
“Ada apa denganmu? Kurang apa?”
“Saya lelah dan bosan dengan profesi dan keseharian saya yang begitu-begitu saja. Saya ingin suasana baru. Ingin punya banyak teman, ingin merasakan cinta di masa muda, dan sebagainya. Tidak terus menerus bekerja.”
Tuan Leony menghela nafas panjang dan menatapnya tajam.
Lalu, ia merogoh dengan kasar di sakunya puluhan besar dan menyerahkan kepada Betsy.
“Jika itu maumu? Kuberikan! Janganlah pulang ke rumah ini sampai kau menemukan dan merasakan semua keinginanmu! Uang? Ini kuberi tambahan! Puas? Silakan pergi dari hadapanku”
“Tapi, Tuan…”
“Tidak, tidak, tidak. Aku kecewa dan aku ingin kau merasakan yang kau mau. Kembalilah jika kau sudah puas.”
Betsy berlari ke luar rumah sambil menangis. Tuan Leony mengunci rapat pintunya dan membiarkan Betsy pergi mencari semua keinginannya.

10 hari lamanya Betsy pergi tak kembali. Tuan Leony pun susah makan karena tidak ada yang masak. Tubuhnya mulai melemah, apalagi kebersihan rumahnya sudah tidak enak dilihat. Debu-debu sudah membungkus perabotan rumah, lantai dan semuanya. Ia gelisah mendapati Betsy tidak kunjung kembali.

11 hari berlalu sudah. Tuan Leony semakin ringkih, dan jatuh sakit. Ia ingin pergi berobat namun takut kesehatannya justru mencelakakannya di tengah jalan.
Airmatanya berlinangan ketika ia terbaring di kasurnya. Ia ingin Betsy kembali untuk mengurusnya, merawatnya dan rumahnya.
Ia menyesal mengusir Betsy. Ia terus menanti Betsy walaupun keadannya makin lama makin memburuk.

Hingga pada hari ke-15 setelah Betsy diusir, Betsy datang mengetuk pintu rumah Tuan Leony. Tuan Leony dengan lemasnya, dan pucat menyambut Betsy. Tuan Leony tersenyum dengan bibir telah kering, pucat dan membuka pelukan.
“Tu…Tuan ada apa?”
“Aku telah menantimu, Betsy. Apakah kau sudah puas dengan apa yang kau mau?”
“Maafkan aku, Tuan. Tuan sakit kah? Ya ampun! Maafkan aku, Tuan Leony.”

Betsy merawat Tuan Leony yang sakit itu dan membersihkan seisi rumah serta memasakkan banyak masakan yang enak-enak dan tak lupa membuatkan teh hangat yang ia buat seperti kesukaan Tuan Leony.
Semuanya pulih, semuanya berdamai.
Tuan Leony kini menyadari masa muda Betsy begitu penting tuk diperjuangkan.
Kini Betsy disekolahkan dan Betsy menikmati masa mudanya untuk meraih mimpi dan menikmati cintanya. Bukan lagi sebagai pembantu, malahan bagaikan anak. Tradisi menyajikan teh tentu masih berjalan seperti sedia kala. Betsy mengabdi sebagai anak bagi Tuan Leony.

Tentu, ikhlas dan formalitas itu beda walau disajikannya sama.

Kota Solo,
Minggu, 10 Juli 2016.

Cerpen Karangan: Jessica Desideria Tanya
Facebook: Jessica Desideria Tanya

Cerpen Pelayan dan Tuannya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pidato Seorang Buta

Oleh:
Dalam acara perpisahan sekolah, seorang siswa buta nekat berdiri di panggung untuk berpidato. Namanya Zai. Sejak kecil tak tahu segala bentuk yang dapat ditatap di dunia ini. Zai hanya

Bal Bul Wonokebul

Oleh:
Asap mengepul-ngepul dari rumah warga-warga penghuni kampung Wonokebul, di kampung ini Pak Dukuh Dulkamid memang menggalakkan warganya untuk giat merok*k demi kesejahteraan kampungnya di mata pemerintah daerah. Katanya “saya

Mukena Untuk Ibu

Oleh:
“selamat beraktifitas dan tetap semangat” aku mengakhiri siaranku di salah satu stasiun radio swasta di kota Bogor. Ku tancapkan sisa-sisa semangatku sore itu, sutera jingga di langit barat terpintal

Si Miskin Dundai

Oleh:
Abah Si Miskin Dundai duduk di beranda gubuk reot tengah Negeri Bengkulu. Deburan ombak sayup terdengar membisik telinga, seakan mengirim pesan kias singkat. “Wahai Abah Si Miskin Dundai, hantamlah

Buku Yang Tertinggal

Oleh:
Sendok di tanganku belum sempat aku dorong mengantarkan sesuap nasi menuju ke mulutku, ketika tiba-tiba pintu ruang tamu tempat aku tinggal diketok dari luar. Bergegas aku menuju pintu, kulihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *