Pembangkit Listrik Untuk Desa Anyar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 30 December 2016

Ada sebuah desa yang kecil, yang baru saja didirikan sekitar beberapa bulan yang lalu, yaitu Desa Anyar. Letaknya tidak begitu jauh dari kota, hanya saja kita harus melewati jalan yang sempit dan berbatuan. Apabila hujan turun di desa tersebut, jalan untuk melewati desa tersebut sangatlah becek, sehingga pengendara kendaraan bermotor harus lebih berhati-hati bila melewati jalan tersebut.

Di Desa Anyar, ada ratusan keluarga tinggal di desa tersebut. Fasilitas di desa tersebut belum memadai. Listrik saja hanya bisa didapatkan dua kali dalam seminggu. Setiap keluarga dipungut sebesar Rp 30.000,-/hari untuk mendapatkan listrik. Kalau dihitung-hitung dalam sebulan Rp 240.000,-, itu pun didapatkan hanya dua hari dalam seminggu.

Pak Adit adalah salah satu warga sekaligus wakil kepala desa dari Desa Anyar, Pak Adit mengusulkan sebuah ide kepada Pak Suro selaku kepala desa. Akhirnya, Pak Suro pun menyetujui usulan dari Pak Adit.

Keesokan harinya, Pak Suro mengumumkan pemberitahuan kepada seluruh warga desa untuk berkumpul di Balai Desa Anyar pada hari Sabtu.

Pada hari Sabtu, seluruh warga desa tersebut berkumpul di Balai Desa Anyar. Pak Suro yang selaku kepala desa akhirnya memulai musyawarah tersebut.
Pak Suro pun memulai musyawarah tersebut, “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”. Semua warga pun menjawab, “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh”.
Pak Suro bertanya kepada warga, “Saya mengumpulkan bapak dan ibu serta saudara-saudari sekalian untuk bermusyawarah. Demi terwujudnya penerangan di desa kita pada malam hari, saya meminta jawaban bapak dan ibu serta saudara-saudari sekalian. Bagaimana jika kita membangun sebuah pembangkit listrik di desa kita, agar kita tidak mengeluarkan biaya yang mahal untuk mendapatkan listrik?”.
“Saya setuju dengan pendapat bapak. Karena kita tidak akan mengeluarkan banyak biaya untuk mendapatkan listrik dari kota”, jawab Pak Agung.
“Ya benar, apalagi pekerjaan saya sebagai tukang ojek di kota. Uang yang saya dapatkan pun juga hanya pas buat makan sehari-hari dan uang sekolah anak. Terkadang saja saya tidak mendapatkan listrik karena tidak memiliki uang”, jawab Pak Wanto.
“Itu benar. Sebaiknya, kita segera membangunnya”, jawab Pak Mulyo.
“Baik. Sebelumnya saya berterimakasih atas pendapat dari Pak Agung, Pak Wanto, dan Pak Mulyo. Saya setuju dengan Pak Agung, karena listrik yang disalurkan dari kota memanglah benar-benar mahal. Begitu juga dengan Pak Wanto, saya sangat setuju dengan pendapat bapak, makan sehari-hari saja terkadang kita semua pastinya kurang”, kata Pak Suro.
“Iya memang benar itu Pak!”, jawab Pak Rinto.
Pak Suro bertanya, “Nah, jadi kita akan segera membangun pembangkit listrik di desa kita. Saya selaku kepala desa akan meminta sedikit bantuan kepada pemerintah. Desa kita memiliki 303 keluarga, jadi masing-masing keluarga akan dipungut biaya untuk membangunnya, berapa biaya yang akan kita keluarkan untuk membangun pembangkit listrik?”.
“Saya pernah diberi tahu oleh teman saya, baru sekitar dua bulan yang lalu, kemarin itu desa mereka membangun pembangkit listrik. Teman saya bilang, biaya yang desa mereka keluarkan kira-kira sebesar Rp 5.000.000,- Pak”, kata Pak Nugroho.
“Baik. Berarti, setiap warga dipungut biaya Rp 17.000,-/keluarga. Uang akan dipungut oleh Pak Adit selaku wakil kepala desa, dan Ibu Wati selaku bendahara di desa ini. Bila uang sudah terkumpul semua, kita akan segera membangun pembangkit listriknya. Bagaimana dengan bapak dan ibu serta saudara-saudari sekalian?”, kata Pak Suro.
“Iya setuju!”, jawab semua warga.
“Baik. Sampai disini dulu musyawarah kita, bila ada hal yang ingin disampaikan, langsung saja datang dan sampaikan di kantor desa kita. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”, kata Pak Suro. Semua warga pun menjawab, “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh”. Musyawarah tersebut pun usai. Akhirnya, mereka pun mengeluarkan biaya sebesar Rp 17.000,- untuk satu keluarga.

Satu bulan kemudian, biaya untuk membangun pembangkit listriknya sudah terkumpul semua. Pak Adit dan Ibu Wati segera melaporkannya kepala Pak Suro. Pak Suro pun mengajak warganya untuk kembali bermusyawarah.

Setelah beberapa jam kemudian, musyawarah mereka pun usai. Desa Anyar akan membangun pembangkit listrik di minggu depan. Kira-kira, pembangunan tersebut akan berjalan paling lama sekitar sebulan.

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Semua warga pun mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk membangun. Semua truk-truk besar pembawa kayu pun berdatangan ke desa mereka. Semua warga pun bergotong royong untuk membangun pembangkt listrik di desa mereka.

Sekitar sebulan kemudian, akhirnya pembangkit listrik di Desa Anyar telah selesai. Mereka pun sangat gembira. Untuk mengucapkan rasa syukur mereka, semua warga tersebut mengadakan acara syukuran bersama. Semua warga desa pun berkumpul dan mengikuti acara syukuran tersebut. Pekerjaan yang telah mereka lakukan bersama-sama itu membawa hasil yang memuaskan.

Cerpen Karangan: Feby Rizkiyana Putri
Blog / Facebook: febiky.blogspot.com / Feby Rizkiyana

Cerpen Pembangkit Listrik Untuk Desa Anyar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surga Yang Terluka

Oleh:
Pagi yang sama dan biasa. Matahari masih menyembul malu-malu di timur, embun menitik dan memeluk pucuk-pucuk teki, menjinjit disela-sela daun beluntas, membasahi kelopak bunga-bunga kenikir. Angin menghembuskan udara dingin

Mantan Napi Berhati Malaikat

Oleh:
Pagi yang indah, di sebuah dataran pegunungan diselimuti embun pagi yang menyejukan hati. Keindahan alam yang luar biasa menandakan kuasa Sang pencipta, burung-burung bernyanyi menghiasi suasana di pagi hari.

Gara Gara Wawancara

Oleh:
Semilir angin malam terasa begitu sejuk bagi Pak Abu. Setelah seharian ia bergelut dengan berbagai macam pertanyaan dan silaunya blitz kamera, akhirnya selesailah sudah bebannya untuk hari ini. Menjadi

Ketika Jembatan Itu Jatuh

Oleh:
Pagi itu Desa Moro digemparkan oleh bunyi deru air di Sungai. Dentuman keras berlangsung beberapa detik. Warga sangat panik. Akankah tanah longsor telah terjadi ataukah batu meteor jatuh ke

Anak Hujan

Oleh:
Matanya menyipit memandang terik matahari, kaki kecilnya berjalan lincah, hatinya bergeming penuh harap. Ketika sampai di rumah reot mirip gubuk matanya melebar mencari-cari sesuatu. Dia berjalan dan mengambil sesuatu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *