Pemimpin Cengeng Dan Sapu Tangan

Judul Cerpen Pemimpin Cengeng Dan Sapu Tangan
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Daerah, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 February 2016

“Oma e-oma e aneuk meutuah Ma, pu kapeugah nyan agam. Tanyoe hana sapu na, tanyoe ureng gasin Nyak e, bek kapeugah njang ken-ken Neuk e (Aduh-aduh anak kesayangan Ibu, bilang apa kamu anak lelakiku. Kita orang, tidak memiliki apa-apa, kita orang miskin sayang, jangan berkata macam-macam buah hatiku).” Resah sang Ibu Manawiah itu. Oleh sabab anak lelakinya Belukar, berkata-kata dengan perkataan yang tidak sewajarnya ia katakan. Karena masih berumur senja ianya.

Adapun Belukar kecil berkata dalam tanyanya kepada sang ibu, “Mak -Ibu-, kenapa harus ada pemimpin di dunia ini, dan kenapa harus ada yang memimpin?” Dengan pertanyaan itu saja Ibunya sudah resah bagaimana, entah kenapa ibu itu sebegitunya! Dalam harap gundah, sang ibu belum pun menjawab pertanyaan Belukar kecil. Dipikirnya anak itu sedang bercanda dengannya, atau dia sedang hanyut dalam permainan membacanya. Belukar berhidung mancung itu sedang bermain dengan buku bacaannya. Membaca sudah menjadi mainannya walau masih belum tebal akan Belukar itu.

Keranalah masih bertanya dan sekarang ditarik akan tangan pemilik rumah itu olehnya. Sang ibu baru sadar bahawa si kecil itu benar kepadanya bertanya. Sejenak dia berhenti dari menggiling bumbu masak di waktu yang hampir menjelang siang sambil ditaruhnya batu padat persegi bulat itu di tempatnya, adalah mereka berdua di rumah, Ayah, Kakak, dan Abang-abangnya yang lain sibuk melakukan kegiatan masing-masing di luar rumah.

Ayahnya, bekerja di perusahaan Garam milik pribadi keluarga itu, satu orang kakaknya lagi kuliah dan disibukkan oleh Tesis akhir dari tugas S2-nya. Kakak yang satu lagi sudah menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan bekerja di rumah Sakit Umum di daerahnya. Dan dua orang abangnya itu masih menetap dan sudah sepuluh tahun belajar-mengajar di sebuah Dayah Salafi yang sedikit jauh dari kampungnya itu, setamat dari SD (Sekolah Dasar) kedua abangnya itu langsung dihantar ke Dayah oleh orangtuanya.

“Kenapa dulu anakku ini mengganggu kegiatan Ibu, nanti bisa telat Ibu memasak untuk ayahmu. Dan lihat sekarang sudah jam sebelas, jam dua belas Ayahmu akan pulang dan makan bersama-sama kita.”
Setelah mencuci tangannya, Ibu Manawiah dengan geram manjanya menimang si buah hati itu.
“Ini Mak, lihat tulisan di buku ini, saya bingung kenapa sampai jua tertulis begini?” Belukar kecil sambil menjulurkan tangan menampakkan akan pertanyaan di dalam buku itu kepada ibu terkasihnya. Dan perempuan berperangai embun itu pun mendirikan si Belukar di atas lantai semen rumahnya itu, dia beranjak duduk di atas sehelai Tikar Pandan warna-warni bak pelangi setelah hujan membasahi bumi. Lalu Belukar pun didudukkan dalam pangkuannya, mengambil buku tadi, melihat dan sekarang dia menjawab sekaligus ikut membaca buku itu.

“Di dunia ini wajib ada pemimpin, dan wajib ada yang memimpin. Seperti Ayahmu, dia wajib memimpin kita semua, rumah tangga ini. Kerana memang dialah pemimpin dan terlahir ia hanya khusus untuk memimpin (Walau hanya memimpin diri dan kerana kita semua adalah pemimpin). Dan jikalau saja tidak ada pemimpin ke mana kita nak mengadu, dan kepada siapa kita nak berkeluh kesah, meminta sesuatu.” Ibu itu menjawab akan sekalian pertanyaan anaknya dengan semampu mungkin, dan biar Belukar yang belum tebal itu pun mampu memahaminya.

Ibu itu terus larut dalam ceritanya sayup-sayup terdengar kian bersahaja akan cerita-cerita itu, “Setiap pemimpin itu terlahir, dan jiwa kepemimpinan seorang pemimpin itu benar-benar terpimpin, dan dia sangat takut akan Allah SWT, ke mana saja dan di mana pun berada, hatinya akan selalu menangis oleh sebab apa yang dipimpinnya itu belum merasakan dan belum merasa damai dengan kepemimpinannya. Dan sehelai sapu tangan niscaya terbawa selalu di saku, kerana mereka tahu di setiap waktunya akan mengeluarkan air mata, oleh sebab mereka adalah pemimpin rendah hati.” Begitulah kian akan kata-kata itu berlalu dari mulut sang ibu itu.

“Jangan sekali-kali kamu wahai anakku mengata-ngatai, mencemoohi, dan berkata dengan kata-kata seperti orang yang tak berakhlak, tak pernah bersekolah, untuk pemimpin. Kerana hari ini mereka yang di sana. Tiada yang tahu untuk suatu saat nanti, kamu yang menjadi orang nomor satu itu. Sungguh ini penyebab pilu dan orang lain akan menanti-nanti walau hanya sebutir debu akan khilafmu anakku.” Ibu itu terus berkata-kata.

Dan sangat pasti, seorang pemimpin itu. Sudahnya memahami akan tangga-tangga dasar dalam kepemimpinan, mereka sangat-sangat paham dan sudah menjadi bagian dari dirinya tentang bagaimana untuk menjadi Pemimpin yang Dicintai, Pemimpin yang Dipercaya, seorang Pembimbing, Berkepribadian tinggi dan Pemimpin Abadi. “Anakku, Imam dalam Salat ialah contoh pemimpin sejati, di mana dalam setiap gerakan salat itu, makmumnya senantiasa selalu mengikuti, teratur dalam aturan. Kerana memang sang Imam, memimpin perintah Rabbi. Allah SWT yang maha segala-galanya yang ia turuti tidak dan untuk yang lain.” Ibunya Belukar pun terdiam seketika.

Dia pun tiada sadar bahawa Aneuk Agam -Anak Lelaki- nya itu sudah tertidur pulas di pangkuan berkasihnya. Dan teringat akan pekerjaannya, belum selesai ia hanya menggiling bumbu. Menidurkan sang buah hati di atas tikar pandan, beralas Ija Sawak akan kepala si Belukar yang baru berumur lima tahun setengah itu. Dan bergegas balik ia menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda tadi. Begitulah pemimpin sejati, takut akan Allah SWT, dan selalu menangis cengeng di dalam hati. Sehelai sapu tangannya pun kian menyimpan rahasia diri.

Cerpen Karangan: Syukri Isa Bluka Teubai
Facebook: Syukri Isa Bluka Teubai

Cerita Pemimpin Cengeng Dan Sapu Tangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jika Benci

Oleh:
Ranu adalah pegawai baru disebuah perusahaan yang bergerak dibidang pelayanan jasa. Ia diterima sebagai salah satu staff keuangan. Bidang yang sangat baru baginya. Meskipun ia kuliah jurusan yang sama

The Muslim, Misteri Manusia Cahaya

Oleh:
Makhluk tersebut terus mendekat, mendekat dan mendekat. Seperti seekor predator yang menginginkan mangsanya. “Tolong” teriak mereka bersamaan. Aisyah dan Rasti gemetaran dan saling memegang tangan satu sama lain. “Ya

Bedul Si Anak Emak

Oleh:
Siapakah pemilik negeri ini? Siapakah penguasa negeri ini? Dan siapakah penghuni negeri ini? Negeri loh jinawi, kaya akan rempah-rempah yang luar biasa lengkap, bahkan terlengkap di dunia. Negeri yang

06.15.30

Oleh:
Minggu, 17.30 WIB. “Keputusan Astrid sudah bulat! Apapun yang ayah dan ibu bilang gak akan mengubah pendirian Astrid untuk kuliah di Yogya!!!” bentak Astrid ketus kepada kedua orangtuanya. Sore

1000 Langkah Maju

Oleh:
Ayah bingung aku mencari resep cream soup. Ayah bingung saat aku bertanya soal bumbu. Ayah bingung aku mau pergi ke pasar seperti ibu-ibu. Ayah bingung saat aku bertanya hal-hal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *