Pemuda dan Pengemis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 16 October 2021

Ada seorang pemuda miskin yang sedang menikmati pemandangan di taman di dekat jalan raya. Pemuda itu lalu duduk di dekat air mancur. Ia merasa tenang dengan suara gemericik air. Namun ternyata ada seorang pria tua berbaju lusuh yang berjalan mendekatinya. Wajahnya sedikit lusuh. Dia menaksir kira-kira usianya kurang lebih 60 tahunan. Kulit pria tua tadi sangat keriput dimakan usia. Pria tua tersebut berjalan perlahan dengan bertopang pada tongkat kayunya itu. Suara langkah kakinya terdengar dan menarik perhatian pemuda itu. Dari pakaiannya yang compang-camping, tak butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa pria tua itu adalah pengemis. Pemuda itu membatin, “Sepertinya pria lusuh itu adalah pengemis, dari pakaiannya saja sudah terlihat seperti itu.”

Tak berapa lama, pria tua yang lusuh itu duduk di sebelahnya. Dia meletakkan sebuah topi lusuh yang dikenakannya tadi di atas trotoar, tepat di depannya. Ia tidak bicara dan tidak pula melihatnya. Terdengar suara denting recehan, beberapa koin receh dilempar ke dalam topi lusuh pria itu. Beberapa orang tampak memberikan uang recehan di topi lusuh yang diletakkan oleh pria tersebut. Tentu saja pengemis itu tampak senang, ia tersenyum sebagai tanda berterima kasih kepada orang-orang yang telah memberinya sejumlah uang, memberi meski sekedar 500 perak. Hanya saja pengemis itu memegangi perutnya, sepertinya ia kelaparan. Melihatnya, pemuda ini pun tak tega. Pria itu meliriknya dengan prihatin, beberapa lama ia meninggalkannya.

Ia pergi menuju ke sebuah warung makan, dan membeli dua buah telur rebus dan seporsi nasi putih yang dibungkus kertas minyak. Setelah pemuda itu telah memilih lauk tersebut, pesanannya pun sudah siap, pemilik warung kemudian memberi tahu total harga yang mesti dibayarkan pemuda tersebut. Dia mengeluarkan dompetnya yang hanya berisi puluhan ribu rupiah, untuk kebutuhannya selama seminggu ini. Dengan memandangi dompetnya, ia menghela napas saat menatap sisa uangnya yang tersisa. Dia menyerahkan uang sebesar bernilai 10 ribu rupiah yang ia tarik dari dompet kepada pemilik warung itu.

Tak berapa lama kemudian, dia datang kembali menuju tempat duduknya tadi. Pengemis tua itu masih duduk di bangku dengan tatapan kosong, pandangan matanya tidak menatap pria tersebut yang berada di hadapannya. Tangan kanannya menggenggam sebuah tongkat dari kayu. Sementara tangan kirinya memegangi perutnya yang kosong, menahan perih. Sembari tersenyum, dia menyerahkan makanan itu kepada pengemis tersebut. Pemuda itu berharap makanan pemberiannya dapat menolong pengemis tua yang mungkin kelaparan sepanjang hari itu.

“Pak, ini saya ada sedikit rezeki untuk bapak, mohon diterima ya” Pengemis itu menoleh ke sumber suara. Pengemis renta yang buta itu mengucapkan terima kasih kepada pemuda tersebut. Pria tua tadi itu pun kemudian berkata seperti ini sambil menegadahkan tangannya berdoa kepadanya “Terimakasih ya nak, Semoga Allah swt memberikan rezeki kepadamu dan Semoga Allah swt membalas kebaikanmu” Doa pria tua itu kepadanya. Wajahnya tersenyum hangat, bersyukur mendapatkan makanan untuk mengganjal kelaparan dari perutnya itu. Meskipun wajahnya tersenyum memandang kepada pemuda tersebut, matanya tidak memandang dirinya, melainkan menatap hal yang lain.

Melihat hal itu, pemuda tersebut bertanya pada pengemis itu. “Maaf pak, tapi saya berada di depan bapak. Mengapa anda memandang hal lain?” tanyanya keheranan. Mendengar hal itu dari suara pemuda yang memberinya makanan, membuat senyumannya kian memudar. Dia menghela napas panjang. Dia berkata bahwa setelah usianya terus bertambah, ia tidak bisa melihat apapun dengan jelas, pandangannya kabur. Penglihatan pengemis itu kian memburuk, hingga ia tidak bisa melihat total, atau buta.

Pemuda itu terenyuh mendengar bahwa pangemis tua itu ternyata seseorang yang buta. Dia pun melirik tongkat tua pengemis itu. Pria itu tersenyum penuh kelembutan dan dia mulai membuka makanan yang dilapisi kertas minyak yang sudah dibelinya. Jari-jari tangannya mulai menyentuh nasi bungkus itu. Dia dengan sabar mengupas telur rebus itu dari kulitnya. Lantas, ia pun menyuapi pengemis tersebut secara perlahan dengan tangan kanannya. Pengemis buta tua itu makan begitu sangat lahapnya. Sekali kali laki laki yang baik itu menyentuh lembut ujung bibir pengemis tua itu dengan jemarinya untuk menepiskan sisa makanan yang melekat ujung bibir pengemis tua itu.

Setelah menyuapi makanan ke pengemis tua itu, ia juga memberinya sebuah minuman mineral. Dia pun pamit. Tubuhnya beranjak berdiri dari tempatnya duduk di air mancur itu. Dia menyentuh lembut pundak pengemis tua itu, sebagai ungkapan kepergiannya.

Cerpen Karangan: Salsabila Resti Khoirunnisa

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 16 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Pemuda dan Pengemis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dimana Tuhanku?

Oleh:
“Selamat pagi tuan putri”. Sapaku pada Anna dengan senyum mengembang. “Kak Zaki? Kakak kok di sini? Aduh, sepertinya aku lagi mimpi nih”. Kata Anna sembari mengucek matanya. Anna tampak

Kembar Tapi Beda

Oleh:
Buah jatuh ada yang jauh dari pohonnya, mungkin kata itu lebih tepat menggambarkan kehidupan Aira dan Airin. Terlahir kembar sulit membedakan antara Aira dan Airin, selain memiliki paras cantik

Kau Tak Sendiri

Oleh:
“Gedubrakk!!” aku meringis kesakitan. “Hahahaha”. “Rasain lo sampahh!!” ucap mereka penuh kebencian. Aku bangkit meraih ransel, lalu pergi dari hadapan mereka. Mengutuk diri sepanjang hari, mangapa aku tidak bisa

Dibalik Kebencian

Oleh:
Kebencian, dari mana rasa ini berasal? Peperangan, perbedaan, agama? Atau ini genetika? Sesungguhnya bukan lah itu inti dari kebencian. Mari bacalah dan kita akan mengungkap dibalik Kebencian. Cinta, siapa

Taruhan Cinta

Oleh:
Aku masih berdiri dengan kakiku disini, menatap lurus bangunan megah diseberang jalan itu. Ya, kampus tercintaku. Meski tahun semakin membuatnya terlihat gagah, namun tak begitu membuat kakiku tetap kokoh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *