Pemuda dan Penjual Kacang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 13 February 2017

“Pak, beli kacangnya dong. 5 ribu”. Kata pemuda itu
“Siap Mas, Saya pilihin yang masih panas buat Masnya. Jawab Si Penjual kacang sambil mengambil kacang yang masih hangat dari tempatnya. Terlihat asap dari tumpukan kacang-kacang yang membumbung menimpa lampu petromak yang menjadi salah satu penerangan gerobak kacang itu. Dia kemas kacang yang sudah ditakar ke dalam kertas koran yang dibentuk kerucut.

“Ini Mas kacangnya”. Kata Si Penjual kacang sambil memberikan kacang yang sudah dikemas dalam kertas yang berbentuk kerucut.
“Terimakasih Pak, ngomong-ngomong sudah berapa tahun Bapak berjualan kacang” Tanya Si Pemuda itu
“Saya jualan, kira-kira yaa… sudah 20 Tahun Mas”. Jawab Si Penjual Kacang
“Buset lama banget pak, 20 tahun cuma jualan kacang?, gimana Bapak bisa sukses?, maaf lho pak bukannya merendahkan.” Kata Pemuda itu
“Iya mas, lha masnya sendiri sekarang sudah kerja di mana?”. Tanya Si Penjual Kacang
“Saya ini baru selesai kuliah tahun lalu, langsung menjabat sebagai Asisten Sales Manajer di perusahan mobil TOYOTA Cikareng, Pak”. Jawab Si Pemuda itu sambil sedikit menyombongkan dirinya.
“Oh Syukurlah alhamdulilah mas, anak saya juga bekerja di sana yang nomor satu, hehe saya senang sekali melihat anak muda yang punya semangat kerja seperti Masnya ini”. Kata Si Penjual kacang, sambil melayani satu dua orang yang membeli kacangnya. Tidak jarang ada satu dua orang yang membeli kacang dari Bapak Si Penjual Kacang. Meski terlihat tidak laris namun Si Penjual ini selalu tersenyum kepada semua pembelinya.

“Loh Anak Bapak?!, Namanya? bagian apa pak? Produksi atau Teknisi?, barangkali saya pernah melihat saat kontrol di workshop.” Tanya Si Pemuda tersentak kaget.
“Namanya Arif Bijaksono, sepertinya saya tidak perlu memberi tahu jabatan dia apa ke Masnya, beliau cukup terkenal di seluruh jajaran Direksi”. Jawab Si Penjual kacang dengan santainya.
“Pak Arif Sudayono itu direktur utama pak. Astaga maafkan saya pak kalau saya lancang, Pak Arif sangat banyak membantu saya dalam pekerjaan.” Kata Si Pemuda itu sambil memegang tangan Si Penjual Kacang erat.
“Tidak apa-apa Mas. Mas ini sangat semangat sekali dalam meniti karir, seperti saya selagi muda dahulu. Saya ada pesan untuk Mas. Kesuksesan orang tua itu dilihat dari pendidikan, karakter, karir dan keluarga anaknya. Saya memang hanya berjualan kacang, namun anak saya semua saya sekolahkan sampai sarjana dan tidak pernah lupa saya ajarkan tentang rendah hati dan etikat baik dengan sesama.” Kata Si Penjual Kacang sambil menepuk pundak Si Pemuda.

“Apa yang anda katakan benar Pak. Saya sadar nanti juga menjadi orang tua. Daripada bersombong seperti ini, saya harus lebih mempersiapkan kesuksesan anak saya nanti kalau saya sudah berkeluarga. Saya ingin seperti bapak yang mengutamakan kesuksesan anaknya.” Kata Si Pemuda itu dengan tertunduk lesu tersadar atas sifatnya.
“Semangat anak muda, perjalananmu masih panjang. Percayalah, jadilah berkualitas. Hidup ini seperti kacang, bukan kulitnya yang indah yang bernilai, tapi isi dari kacang itu yang kita nikmati. Secantik dan seganteng apapun kita hanyalah percuma. Jika etika kita, hati kita tidaklah baik. Jadilah seperti kacang, Yang berbuah banyak di dalam tanah yang berarti kesuksesanmu tidaklah harus kau pamerkan kepada orang lain. Biarkan buah kesuksesanmu berkualitas baik dan menjadi berkah bagi sekelilingmu.”

Cerpen Karangan: Wendy Kurniawan W
follow my ig @rosariowendyy
contact me wendyhyasinta[-at-]gmail.com

Cerpen Pemuda dan Penjual Kacang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Awan dan Kematian

Oleh:
“Kita tak berhak menilai apakah seseorang itu baik atau buruk,” ujar pria tua itu padaku suatu hari. “Meskipun ada tanda-tanda yang memberi petunjuk?” tanyaku lagi. Ia tersenyum dan memandangiku

Kebahagiaan Merenggut Nyawa

Oleh:
Pagi hari yang cerah tampak seorang remaja yang sedang merenungi hidupnya di pekarangan rumah. Remaja tersebut bernama Agus yang masih duduk di bangku SMP di kota Mataram, Nusa Tenggara

Yang Terakhir Untuk Septia

Oleh:
Sore itu, Septia si gadis mungil berusia enam belas tahun tengah duduk di tepi danau seorang diri. Menunduk menatap permukaan air danau dan terhanyut dengan suasana tenang yang terpancar.

Ambisi Warga Yang Salah

Oleh:
“Mimpilah kau ingin seperti mereka!” suara Yanto mengagetkan seorang anak yang sedang memperhatikan jalan. Ketika anak itu sedang melihat orang-orang yang berlalu lalang di jalan dan akan menuju mall

Seruan Khiar

Oleh:
Cahaya mentari bersinar terang dalam embun pagi. Semburanya cahanya menerangi seluruh jagad raya. Tak ada yang bisa menandingin akan kekuatan cahayanya. Sungguh indah kuasa dari-Nya dan juga anugerah dari-Nya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *