Penantian Sheila

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 February 2013

Sebuah taman tempat pasangan remaja berkumpul di pojok senja.
Di bawah pohon-pohon cemara berhias lampu-lampu kecil yang berkerlip bergantian dan lampu-lampu dengan tiang berukir bergaya Venesia. Sebuah air mancur buatan di tengah taman berbentuk bulat dengan sebuah patung Cupid yang tersenyum ditengahnya menambah indah taman itu dan romantisnya taman itu.

Seorang gadis berambut panjang ikal coklat dengan kulit putih dan bermata coklat yang indah selalu tampak duduk di bawah lampu taman yang satu dari dua lampunya padam. Namanya Sheila, gadis cantik yang menunggu belahan jiwanya Kevin. Setiap matahari mulai lelah bersinar dan merebah. Sheila selalu hadir ditempat dan di bangku yang sama di taman itu hanya melihat kendaraan yang lalu lalang, hanya melihat pasangan-pasangan yang selalu membuatnya semakin kehilangan rasa dihatinya, rindu akan kekasihnya Kevin yang semakin menghimpit hatinya. Sudah lama gadis itu selalu tampak di sudut bangkunya menyisakan setengah bangku panjangnya untuk kekasihnya yang tak pernah datang, dia selalu tampak cantik dan anggun setiap harinya di bangku itu, tatapan matanya kosong seperti jiwanya tak ada disana.. Belahan jiwanya, Kevin, pergi meninggalkannya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri setelah keduanya lulus dari SMA.

4 tahun berlalu mereka berdua telah menyelesaikan pendidikannya dan meraih gelar di bidangnya masing-masing
“Tunggu aku di taman tempat kita pertama bertemu tanggal 13 maret 2003 nanti saat matahari mulai tenggelam” kata kata itulah yang terakhir diterima Sheila dan semenjak saat itu Sheila selalu berharap Kevin akan datang menemuinya di taman itu.

Terbersit lagi di angannya saat-saat indah itu datang, saat Kevin dengan gembira memberitahukan kepadanya tentang kepulangangnya. Saat-saat itu adalah saat-saat yang di nantikannya, 13 Maret 2003 sore yang ceria dan tampak menjanjikan,
Sheila mengingat 1 tahun yang lalu tepat tanggal 13 Maret 2003.

Tak tergambarkan suasana hatinya waktu itu, karna hari itu dirinya akan bertemu belahan Jiwanya, bahkan dari malam sebelumnya Sheila sudah menyiapkan pakaian yang akan di kenakannya untuk hari itu, bahkan dia menyiapkan sekotak makanan favorit mereka berdua pada saat mereka saling bercanda dan tertawa menjalin cinta.

Cahaya yang mengintip dari celah celah dedaunan menambah indahnya sore itu menemani langkahnya ringan, bayangan akan sang kekasih yang sudah lama tak dijumpainya membuatnya ling-lung, hatinya-pun tak karuan sesak, gemetaran dan panas dingin.

Sore itu hanya Sheila dan langit yang makin gelap yang terus berharap cintanya datang menjemputnya dari taman yang semakin dingin oleh kesendirian. malam itu Sheila pulang dengan sejuta pertanyaan dan luka menganga di hatinya. Bertanya akan keberadaan kekasihnya yang tak pernah datang.

1 tahun telah berlalu Sheila masih sering datang ketaman itu di saat senja
Masih menunggu di bangku yang sama. Sesekali didengarnya sebersit suara yang mirip seperti kekasihnya yang membuatnya selalu menoleh dan mencari, tetapi hanya angina yang berbicara, seperti menyebut namanya pelan dengan suara yang sama seperti suara kekasihnya, semua itu justru menambah sakit hatinya waktu mengetahui kekasihnya tak pernah datang.

Hari ini tepat 1 tahun semenjak saat itu Entah kenapa bisikan-bisikan itu semakin sering terdengar dan nyata tak seperti hari-hari lalu yang samar. Suasana saat itu berbeda dengan hari hari yang lalu, lebih dingin dan gelap, langitnya berwarna violet gelap kemerahan, pasangan cintapun tak banyak tampak, ibu-ibu renta penjual makanan keliling yang sering menawarkan makanan kepada Sheila-pun tak tampak batang hidungnya. Tanpa ada yang tau sesekali air mata Sheila menggelinang di pipinya yang putih lembut terselimuti rasa rindunya.

“Sayangku aku kangen sama kamu” ucap Sheila gemetar dan lirih.
Tiba-tiba jantungnya seperti berhenti berdetak, dilihatnya sebuah sapu tangan berwarna putih di sodorkan kepadanya.
Perlahan dilihatnya kearah wajah itu. “Kevin?” Tanya Sheila, “sheila” jawab pria itu yang tak lain adalah Kevin.

Sheila-pun tak mampu menyembunyikan keterkejutannya, segala rasa berpendaran dalam hatinya. Senang, rindu, haru, pilu yang kesemuanya membuat Sheila ingin menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan lelaki tersebut
“kamu kemana selama ini?” tanya Sheila, menangis bahagia di pelukan Kevin
“Maaf, aku baru bisa menemuimu sekarang, kamu masih cantik seperti dulu ya” ucap Kevin.

Di angkatnya wajah Sheila yang bergelinang air mata oleh Kevin “Jangan menangis, aku akan selalu ada untukmu walaupun aku tak berada disisimu lagi” Ucap Kevin sambil menghapus air mata Sheila dengan sapu tangannya. “Apa maksudmu berkata seperti itu?” Tanya Sheila heran sambil mengerutkan dahinya Tapi Kevin tak menjawabnya.

Mereka berdua duduk di kursi taman yang biasa mereka duduki berdua, lampu taman mulai menyala satu demi satu menambah kesan romantis. Seakan tak mau lepas Sheila bersandar di pelukan Kevin manja. “Sayangku, kamu jangan menungguku lagi disini, aku sedih melihatmu terus menungguku, kamu mau berjanji?” “Iya sayang, aku janji” jawab Sheila sumringah
“Aku hanya punya waktu sebentar” raut wajah Kevin pun berubah muram “Apa maksudmu?” Tanya Sheila serius “Aku harus pergi” sambil menatap langit yang sudah gelap menghitam “Ta ta tapi kita kan baru bertemu setelah sekian lama?” ucap Sheila dengan mata berkaca-kaca Aku tau, “tapi aku datang hanya bilang kepadamu, untuk berhenti menungguku disini, aku tidak bisa lagi bersamamu” jawab Kevin sedih

Sontak kata-kata yang diucapkan Kevin merobek hati Sheila “Kevin kamu ini bicara apa?, kamu sudah punya kekasih yang lain?” “Tidak, tapi aku ingin kamu membenci aku, lanjutkanlah hidupmu seperti impianmu yang ingin memiliki anak yang lucu-lucu, aku bukan orang yang terpilih untukmu untukmu” “Tapi kenapa?” desak Sheila kepada Kevin “Aku tak bisa beritahukan alasannya Sheilaku yang cantik” Sheila yang menyadari Kevin akan meninggalkannya kembali bergelinangan air mata “Aku sayang kamu Sheila” ucap Kevin tulus sambil memandang mata Sheila dengan pandangan yang sangat damai.

Sheila yang sedih, semakin sedih dan bingung Di peluk dan dipukulinya dada Kevin dengan bagian bawah genggaman tangannya yang mungil, “kamu jahat” ucap Sheila sambil menangis Kevin hanya bisa diam dan terus memeluknya erat sesaat Sheila merasa sangat tentram dipelukan Kevin, seperti malaikat kecil yang telanjang di peluk kedua sayap kekasihnya yang membuatnya nyaman dan hangat. “sampai mati-pun aku ingin tetap di pelukan ini” ucap Sheila dalam hati, rasa cinta seorang Sheila sangatlah besar

Kevin adalah cinta pertamanya. Kevinlah yang memberi warna dunianya, memberi rasa dihidupnya. Mengajarinya untuk tersenyum, tertawa dan menghadapi dunia. Dari canda-canda yang selalu terseret-seret di benak Sheila. Dan membantunya memulihkan sayap-sayap kecilnya yang patah.

“Sudah waktunya Aku harus pergi Sheila” kata Kevin tegas. Tapi Sheila justru memeluk Kevin lebih erat “bisakah aku minta waktu beberapa saat lagi bersamamu, sebentar saja, walau aku tidak akan bertemu lagi denganmu, walau kau akan bersama yang lain, aku rela jika itu maumu, tapi izinkan aku dipelukanmu lebih lama, sebentar lagi.. “pinta Sheila memelas dengan wajah cantiknya.

Kevin tak menjawab tapi pelukan itu tak pernah dilepasnya. Sampai tiba-tiba “aku benar-benar harus pergi kamu jangan menangis untuku Sheila, hapus air matamu aku senang sekali bisa bertemu lagi denganmu walau hanya sebentar “Sambil melepaskan pelukannya perlahan dari Sheila. “slamat tinggal Sheila” diciumnya kening Sheila lembut.

Sheila hanya bisa menangis, 2 kaki yang menopangnya kini roboh seperti tak bertulang sekujur tubuhnya seperti tak bertuan dan lemas sejadi-jadinya, Sheila berlutut dan terusmenangis. Sementara Kevin mulai melangkah meninggalkan Sheila dengan wajah yang sedih. Udara yang dingin kini semakin dingin, kekosongan semakin terasa di hati Sheila dan seisi tamanpun hening tak bersuara. Saat-saat yang dinantinya justru menjadi saat-saat yang paling tidak diinginkannya seumur hidupnya.

Kini malam sudah semakin larut, taman semakin sepi, kekasih pujaan hatinya telah pergi meninggalkannya tanpa alas an yang jelas, Sheila-pun pulang dan secara kebetulan di perjalanan pulang, dilihatnya kerumunan orang di jalan tak jauh dari taman itu.

Sebuah bunga bertuliskan “Peringatan 1 tahun tragedi kecelakaan”, Heran Sheila melihat apa yang dilihatnya dan memberanikan bertannya kepada seseorang di sana “Pak maaf,ada apa ini?” ranya Sheila kepada laki-laki setengah baya yang tampak sedih berdiri menatap hampa udara. “hari ini tepat 1 tahun kejadian kecelakaan maut yang pernah terjadi disini” jawab lelaki itu.

Tak jauh dari karangan bunga Sheila melihat sebuah papan bertuliskan nama-nama korban kecelakaan yang meninggal pada peristiwa itu. Dan begitu terkejutnya Sheila melihat nama Kevin Satria termasuk di dalam nama-nama korban

Sheila-pun kaget sejadi-jadinya perasaannya saat itu galau, bercampur jadi satu, seluruh bulu romanya berdiri merinding terharu seolah tidak percaya apa yang baru di lihat dan di alamainya. Seakan-akan dunia ini ikut berakhir bersama hatinya. Sheila-pun segera sadar akan apa yang baru di temuinya adalah arwah dari Kevin kekasihnya yang meninggal tepat 1 tahun yang lalu di jalan tak jauh dari taman tempat mereka berjanji bertemu.

Dengan air mata yang menggelinang dan sisa tenaga yang dia miliki Sheila berlari kembali ketaman tempat semula dia berada. Dengan rasa tidak percaya yang dahsyat dengan rasa bersalah yang dalam, dan dalam cabikan luka dihatinya dia berlari dan memungkiri takdir hidupnya.

Sesampainya di taman tersebut, taman itu telah sepi, tak ada 1 orang-pun disana hanya ada suara gemercik air di tengah taman, dan daun-daun yang bergesekan tertiup angin, sheila hanya berdiri tepat ditengah taman itu, pandangannya penuh harap menatap langit, “datanglah Kevin, datanglah padaku, katakan bahwa itu bohong, katakan itu tidak benar” Seolah harapan itu ada Sheila menangis dan berteriak-teriak, menepis kenyataan dan takdir yang telah memisahkannya, selamanya tak bisa mendengar suaranya, tak bisa melihat wajahnya, tak bisa melihatnya tertawa, tak bisa melihatnya hidup.

Cerpen Karangan: Riski Frandika Pratama
Facebook: RI S KI

Cerpen Penantian Sheila merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Terakhir Untuk Sahabat

Oleh:
Namaku Clarissa Namara. Biasa dipanggil Mara. Aku mempunyai sahabat yang sangat kusayangi. Namanya, Angel. Hari ini, aku sedih. Karena aku akan pindah rumah serta pindah sekolah dari kotaku. Pasti,

Cahaya untuk Purnama (Part 1)

Oleh:
“Sial! Lagi-lagi kalah,” gerutu seorang pemuda bernama Purnama melempar kartu gaple. “Dari dulu lu itu enggak pernah becus main yang beginian. Sekarang, mana uang lu?” kekeh pria paruh baya

Adinda dan Pada Akhirnya

Oleh:
Gadis itu tak berdaya setelah menerima kenyataan yang begitu pahit dan menyakitkan. Adinda dinyatakan hamil dua bulan oleh dokter kandungan. Awalnya ia tidak percaya saat melihat hasil tespeknya bergaris

Satu Menit Pandangan

Oleh:
Udara pagi yang sejuk, membuatku semangat untuk menyambut hari yang bahagia ini. Setelah 3 minggu kita berlibur sekolah, meskipun libur sekolah kemarin bukanlah hari yang membahagiakan bagiku. Karena saat

Bukan Dengan Kamu

Oleh:
PKMMD, Pelatihan Kepemimpinan dan Manajeman Mahasiswa (tingkat) Dasar, sebuah acara yang diadakan oleh organisasi intra kampus, adalah awal pertemuanku dengannya. Mahasiswa satu fakultas denganku angkatan 2006, satu tahun lebih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *