Pencapaian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 29 June 2021

“Umur 20 seharusnya sudah jadi apa?”
“Minimal memiliki tabungan puluhan juta, sih.”
“Lah? dapat darimana?”
“Ya kerja. Bisnis, membantu orangtua, part-time, dan sebagainya.”
“Kau kira mudah sekolah sambil melakukan itu semua?”
“Buktinya banyak orang bisa, kan?”
“Mungkin kamu melupakan peran orangtua, relasi, harta dan semua privillage yang mereka punya.”

Gila! Percakapan itu terjadi dalam diriku sendiri. Otak dan hati dalam satu tubuh bertengkar setiap hari. Tak bisakah mereka sejalan barang sehari? Tak bisakah mereka saling menyetujui? Capek kalau terus-terusan begini.

Aku menutup wajah dengan bantal. Berisik! Kebiasaan! sudah malam begini malah memunculkan masalah untuk diselesaikan sendiri. Ayo tidur! Waktunya istirahat. Besok kerja! Aku mengamuk, entah pada siapa.

Kringg…
Gubrak!
Sial! Aku terjatuh dari tempat tidur karena kaget. Coba saja punya suami, apakah aku akan dibangunkan setiap hari dengan lembut? Lalu sudah disiapkan roti dan jus jeruk seperti sinema di televisi? Atau justru kita sama-sama bangun kesiangan dan terkena panic attack berbarengan? Haha lucu sekali kalau dibayangkan. Loh kan, pagi-pagi sudah halu sekali. Aku mengecek kepalaku, aman. Sepertinya tidak terjadi benturan yang serius sampai amnesia. Buktinya aku masih ingat namaku siapa dan ini dimana. Kemudian pekerjaanku apa dan pacarku tidak ada. Heh!?

Kembali ke realita, yuk kerja!

Aku sampai di tempat kerja pukul 7 lebih 55. Senyum menghina OB kantor adalah hal pertama yang aku jumpa. Iya iya, dia yang berangkat paling awal. Tidak ada yang menyangkal. Karena dia harus membuka pintu dan membersihkan ruangan-ruangan kami dahulu. Sebetulnya aku respect dengan pekerjaannya, tapi kalau modelan pekerjanya yang seperti dia, ya malas jadinya.

Pukul 8 sampai 5 sore, ngobrol dengan komputer, menghadapi laporan keuangan di Microsoft Excel. Aku jadi mulai membayangkan, bagaimana kalau aku jadi resepsionis di depan? Setiap hari menyapa orang-orang yang beragam. Atau customer care? menerima keluhan pelanggan dan memberikan saran untuk menyelesaikannya. Apakah menyenangkan karena bisa ngobrol dengan orang-orang? Apakah aku akan suka? Aku jadi berpikiran untuk ganti pekerjaan. Tapi nanti saja, sekarang pulang dulu. Kerja bagai kuda, eh bayaran tak seberapa hmm.

Di depan kantor biasa kutemui ojek-ojek yang menawarkan jasa. Mereka mengemis, bahkan meminta untuk mengantarkan siapa saja. Kenapa tidak cari kerja yang pasti-pasti saja? Seperti aku misalnya. Eh, tapi aku lupa. Barusan sepertinya aku juga tidak bahagia. Ada hal lain yang ingin aku coba.

“Mbak, ojek?”
“Ngga, pak. Makasih.”
“Kemana Mbak?”
“Ngga, pak.”
“Ayolah mbak. Narik dari pagi belum dapet penumpang sama sekali. Kasihan anak sama istri.”
Kalau belum mampu kenapa menikah? Pikirku sinis. Aku menghela nafas kesal.

“Kesini berapa?” Aku menunjukkan alamatku yang tertera di google maps kepada bapak ojek. Tadinya, aku mau memesan taxi online.
“Tiga puluh ribu, mbak.”
Gila! pikirku. Naik motor butut tiga puluh ribu! Mending naik taxi lima puluh ribu. Tapi mungkin aku bisa menghemat dua puluh ribu untuk beli kopi.
“Kemahalan mbak? Dua puluh lima angkut deh.”
Heh? Dipikirnya aku buah-buahan? Bukan! Aku sayuran.
“Dua lima? Emm, oke.” Aku setuju setelah menimbang aku lebih hemat lima ribu rupiah lagi.

Perjalanan dengan motor, tidak buruk juga. Malahan kerasa lebih cepat karena bisa menyelip ditengah macetnya ibu kota. Aku bisa melihat warna dengan jelas. Kalau dari dalam mobil, terhalang gelapnya kaca. Langit kota senja ini begitu hangat. Merah, biru, jingga, ungu. Apakah begini setiap hari? Apakah aku selalu melewatkannya?

“Mbak, kerjanya apa?” Tanya bapak ojek, memecahkan lamunanku.
“Hah? Anu, itu, akuntan pak.”
“Akuntan yang ngitung uang itu ya, Mbak?”
“Iya pak.”
“Kerja di kantor kayaknya enak, mbak. Adem, bersih, bisa pake baju bagus.”

Aku tidak terima. Dia tidak tahu saja budaya kerja dan tekanannya. Aku hampir membuka mulut untuk berdebat sebelum bapak ojek meneruskan,
“Kalau kerjaan seperti saya ini, gak pasti. Apalagi sekarang banyak ojek online. Orang tua begini, mana ngerti pakai HP bagus? Juga mana mampu beli? Kalau ada uang segitu, mending buat beli beras sama bayar sekolah anak. Alhamdulillah, hari ini anak bisa makan. Tadi pagi dia minta ka ep ci katanya. Tapi dia kasih tau saya harganya, ternyata mahal. Ah saya juga gak ngerti cara pesennya.”
Aku berpikir keras, ka ep ci apaan dah?
“Ka ep ci apa ya pak?”
“Itu lho mbak, yang ayam goreng tepung.”
“Oh astaga.” Ucapku sambil menepuk helm.

“Mbak, ini masuk gang depan betul?”
“Betul pak. Rumah tingkat cat biru depan itu ya.”
“Siap.”

Kami berhenti di tempat yang aku tunjukkan.
“Rumahnya bagus mbak.”
“Pak, ini kost-an. Saya perantau.”
“Oh. Kost jaman sekarang juga bagus-bagus melebihi rumah.”
Aku memberinya dua lembar uang dua puluh ribuan.
“Mbak, ga ada kembaliannya. Kan saya bilang, mbak pelanggan pertama. Dituker dulu mbak sama temen kostnya.”
Jadi, bapak ojek ini benar-benar tidak memegang uang sepeserpun. Aku terdiam. Bagaimana dia makan, bagaimana kalau ada sesuatu di jalan?

“Yaudah pak, dibawa aja.”
Bapak itu kaget. “Lima belas ribu lho mbak?!”
“Ya sudah iya, gak apa-apa.”
“Makasih mbak, makasih.” Ia memasukkan uang kedalam saku jaketnya. Dapat kulihat dengan jelas tangannya gemetar. Ia putar balik dan menghilang dari pandangan.

Aku tidak perlu berganti pekerjaan. Aku tidak harus sudah memiliki puluhan juta di rekeningku. Aku tidak harus mengikuti pencapaian orang lain pada umur tertentu. Karena standar mereka, bukan standarku. Mereka menetapkan standar begitu karena mereka tahu mereka mampu meraih itu dengan segala dukungan yang mereka miliki. Tentu saja usahamu adalah yang utama. Tapi tanpa dukungan semuanya jadi lebih sulit bahkan sia-sia. Kau masih bisa hidup, bersyukur. Kau memiliki pekerjaan yang menghidupimu, kau beruntung. Banyak yang terjebak dalam perubahan jaman yang begitu cepat, tidak mampu menyesuaikan diri. Banyak yang tak berpendidikan. Banyak yang masih struggle mencari pekerjaan. Aku hanya harus menerima apa yang aku punya. Tapi dengan catatan, kedepannya aku akan berusaha untuk lebih bahagia.

Aku melihat portofolio sahamku di beberapa perusahaan ternama, terpantau hijau, aman. Kemudian melihat jumlah yang tertera di buku tabungan, cukup baik. Lalu melihat isi dompet yang tidak kekurangan untuk seminggu kedepan, lega rasanya. Malam ini, aku tahu aku akan tidur nyenyak.

Cerpen Karangan: Wuri Wijaya Ningrum

Cerpen Pencapaian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Melatonin

Oleh:
Aku terbangun. Di tengah heningnya malam, tanpa tahu apa yang akan kulakukan sampai melihat matahari terbit. Jadi aku melangkah ke meja laptop, membukanya, dan melanjutkan menulis. Dinginnya subuh membuatku

Terimakasih Ibu

Oleh:
“Indi, aku yang jaga, kamu yang ngumpet, ya!” seru Kezia sambil berjalan menuju pohon terdekat untuk mulai menghitung. Dengan gembira, aku berlari mencari tempat persembunyian. Suara Kezia yang menghitung

Cinta

Oleh:
Banyak hal yang telah ku lewati… dan sekarang ku tiba di saat ini. Tapi ku sadari aku masih belum banyak mengerti tentang hidup ini. Banyak tanda tanya di hatiku

Matahari pun Tak Bosan

Oleh:
Di pucuk dedaunan masih bergelayutan embun nan segar. Malu-malu ia untuk pergi meninggalkan tempatnya. Hasil gutasi ditambah suasana dinginnya malam dia muncul disana. Perlahan-lahan dia sebar senyum disekitarnya. Kulihat

Skill Merendahkan Orang Lain (Part 2)

Oleh:
Suasana Kastil tempat kediaman Zic hari itu sangat tenang, ditambah dengan sinar matahari sore yang lembut menyentuh wajah Chinoz yang tengah asik dan larut dalam perbincangan kuda. “Nah thoroughbred

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Pencapaian”

  1. ANza says:

    Terimakasih kaakk buat ceritanya, cerita ini ngingatkan aku untuk bersyukur atas apa yg aku punya, dan gk harus iri sama pencapaian orang lain diluar sana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *