Pencuri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 30 December 2017

Perempuan berambut pandek itu kau peluk, lalu menuntunnya masuk ke rumahmu. Malam sebelumnya berambut panjang, sepertinya memang kau punya banyak koleksi perempuan.

“Ayah, ayo kita tidur,” Anakku, mengagetkanku. Suaranya sedikit merengek.
Buyar lamunanku tentangmu. Bukan aku sedang memikirkan cantiknya kekasihmu itu.
Aku hanya sedang kepo di mana saja pohon duitmu. Abdi negara sepertimu, tak sepantasnya punya Jaguar, Mercedes X Class. Kulebih percaya kau memilikinya bila kau seorang petani sukses.
“Tidurlah duluan, Nak.”
Michele, gadis kecilku, usianya sembilan tahun. Selalu ingin kutemani tidur sejak ibunya meninggal.
Praktis hanya aku miliknya di dunia ini.

Dari balik jendela berkaca kuamati rumahmu. Karena kudengar suara gaduh dari luar.
“Ayah sedang apa?”
Michele sudah berdiri di sampingku. Tadi kutinggal dia di kamar menyisir rambut. Ia mulai bisa mandiri.
“Ayah hanya mengawasi tukang koran. Pergilah nonton film kartun, sayang.”

Semangat sekali ia berlari ke ruang Tv. Aku hanya mengizinkan dia nonton Tv tiga hari dalam seminggu. Terserah dia menentukan sendiri harinya.
Kubatasi, ketakutanku isi kepalanya semua di bentuk sama Tv. Aku lebih suka jika ia banyak membaca.

Penasaranku datang dengan cepat, gara gara aku melihat banyak petugas berseragam di rumahmu. Tergesa kubuka pintu, ingin tahu ada apa denganmu. Tidak kulihat perempuan berambut pendek, yang tadi malam kau peluk mesra. Ke mana dia kau buang?

“Maaf, Pak. Kami mengganggu kenyamanannya sebentar,” Ucap seorang petugas yang bersandar di tembok pagar rumahku. Ia memakai rompi.
“Ada apa ya, Pak?”
“Tetangga depan rumah bapak itu bermasalah.”
“Apa yang telah diperbuatnya?”
“Korupsi dua milyar.”

“Itu kan Om Pras, Ayah!” Michele mengenalmu. Kami melihatmu di Tv.
“Ya, itu Oom Pras.”
“Kenapa mereka tangkap Oom itu?”
Kugelengkan kepalaku. Membiarkan Michele menikmati keheranannya.
“Aneh, Ayah. Kemarin Om Pras bilang, pak Ahok yang korupsi, kok Om Pras yang jadi ditangkap?”
Kepalaku menggeleng lagi.

Sejak itu, rumahmu jadi sepi. Sangat mirip istana hantu. Tamumu biasanya selalu ramai bak semut yang sedang berkerumun di toples gula. Sepertinya mereka takut ditangkap bersamamu, hingga mereka tak mau lagi injakkan kaki di rumahmu yang mewah? Kontras dengan rumahku yang setengah bata, sangat kumuh berdiri di seberang rumahmu. Begitulah hidup, tidak ada teman dan musuh yang abadi, semua hanya datang dan pergi lagi.

Aku tak pernah benci padamu. Walau rumah kita berhadapan, tak sekalipun kita sempat bicara. Mungkin aku telalu hina kau melihatnya, atau memang waktumu yang banyak tersita di tempat lain.

“Ayah, boleh aku nonton Tv?” Tanya Michele.
“Seminggu ini kau sudah berapa kali nonton Tv?”
“Tiga kali, ayah.”
“Berarti cukup untuk minggu ini.”
“Tapi, kan kemarin remot Tv ayah pinjam. Buat nonton Oom Pras.”
“Oiyaa, ayah lupa.”
“Boleh, ayah?”
“Tentu saja boleh, Nak. Tontonlah yang bermanfaat.”

Tiba tiba aku gelisah. Bagai firasat kurang baik hari ini. Tapi, sebisa mungkin kuhadirkan pikiran positif di kepalaku.

“Baik bu,” Jawabku kepada seorang guru, tempat Michele menuntut ilmu, di ujung telepon.

Tergesa langkahku ke sekolahnya. Ibu wali kelas Michele minta aku menemuinya. Ada apa dengan anakku? Ada banyak pertanyaan di kepalaku. Kuharap jawabnya, ibu guru akan memberi bocoran, bahwa anakku masih tetap ranking umum seperti tahun lalu.

“Ayah sungguh kecewa, Nak.” Ucapku.
Ia masih menangis terisak, menundukkan kepalanya, memboroskan air mata.
“Maafkan aku, ayah.”
Kupeluk dia erat. Aku yang salah. Michele belum pantas salah. Tapi, dari mana dia tahu berbuat begitu, sedang aku tak pernah mengajarkan. Yang ada, pernah kuingatkan dia bila nanti kau kaya bersikaplah sederhana, dan bila kau miskin berbuatlah yang terhormat.

“Mengapa kau lakukan, Nak?”

Cerpen Karangan: Jofa

Cerpen Pencuri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepuluh Juta Rupiah

Oleh:
“Nilai Sepuluh juta rupiah pernah ku ingat dari acara Televisi, talkshow, yang dibawakan Helmy Yahya pakai janggut dan memberi uang sebanyak itu pada orang miskin di jalan yang ditemuinya.

Penggali Batu

Oleh:
Pagi masih belum terang. Sisa-sisa kabut masih menyelimuti desa Waturejo yang letaknya memang agak tinggi, di perbukitan. Dingin udara masih terasa di kulit. Tapi di sebuah rumah bambu sudah

Suara Minor Bangsaku

Oleh:
Mentari mulai kembali ke peraduannya. Digantikan oleh sang rembulan yang meski tak secerah mentari, tetapi tetap menawan dan memperindah mataku ketika melihatnya. Aku dan temanku Arif pergi ke masjid

Jakarta Tak Seramah Mentari Pagi

Oleh:
Seperti sebuah jantung dalam tubuh yang bertugas memompa darah dan mngalirkannya ke seluruh tubuh. Itulah perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan Jakarta saat ini. Sebuah kota metropolitan yang tak pernah

Ketika Langit Terasa Pahit

Oleh:
Sunar bangun sebelum matahari dan sebelum speaker langgar. Rejeki datang untuk orang yang bangun pagi, begitu katanya, meskipun orang miskin yang selalu bangun lebih pagi daripada orang kaya sepertinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Pencuri”

  1. imah says:

    anaknya kenapa? mencuri? kurang paham (*_*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *