Penggali Batu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 4 June 2016

Pagi masih belum terang. Sisa-sisa kabut masih menyelimuti desa Waturejo yang letaknya memang agak tinggi, di perbukitan. Dingin udara masih terasa di kulit. Tapi di sebuah rumah bambu sudah tampak aktivitas. Emak yang sudah tua tampak sibuk menyalakan pawonan untuk merebus air dan menanak nasi. Asap mengepul dari dapur bambu mengusir hawa dingin. Gemeretak ranting-ranting kayu bakar menyediakan kehangatan. Bagi Emak yang sudah puluhan tahun hidup di desa itu, ia tidak mengenal rasa dingin itu. Dulu ketika Pardi, suaminya masih hidup, pun ia sudah terbiasa bekerja keras sejak pagi buta membantu suami. Setelah menikah lagi dengan Badri, semangat dan kebiasaan itu masih terjaga. Ia masih terbiasa bekerja keras sejak pagi buta membantu suami.

Tiba-tiba ia teringat almarhum suaminya itu. Air mata mengalir pelahan dari matanya yang sayu dan lelah.
“Bu besok aku berangkat lebih pagi. Jangan kesiangan ya bangunnya”.
“Ya Pak, memangnya ada apa pak kok tidak seperti biasanya?”
“Itu lo Kang Warsiman pesan dua rit batu. Harus besok katanya”.
“Gak usah ngoyo pak. Kalau biasanya hanya dapat satu rit, jangan dipaksakan dua rit.”
“Ini kesempatan Bu. Sebentar lagi puasa terus lebaran. Anakmu pasti minta baju baru.
“Kalau begitu Wawan biar membantu bapak besok”
“Jangan. Biar ia sekolah saja. Biar pinter, tidak bodoh seperti bapaknya”.
“Ya habis sekolah to pak bantunya”.

Percakapan itu tak berlanjut karena Badri segera beranjak berangkat. Peralatan kerja sudah diikat di sepeda pancalnya. Linggis, ganco, dan pacul. Sebagai penggali batu alat itulah yang mutlak harus dibawa. Tak lupa air putih di botol plastik bekas soft drink sudah dicantolkan di stir sepeda tuanya.

Terik sekali siang itu. Matahari mencurahkan panasnya tanpa terhalang apapun. Langit biru bersih. Burung-burung Sriti bercericit terbang rendah mencari buruannya. Areal pertambangan itu sebenarnya adalah lahan produktif yang cukup subur. Di musim penghujan masih bisa menumbuhkan padi, dan di musim kemarau jagung-jagung pun tumbuh subur. Tetapi, hasil pertanian tidak cukup bagi mereka, para petani itu. Sebagai alternatif tambahan penghasilan mereka menjadikan sebagian lahan mereka sebagai areal penambangan batu. Memang di sawah-sawah mereka banyak mengandung batu. Malahan bagi petani yang kaya, ia tidak perlu mengotori tangannya dengan lumpur sawah, dan tak perlu bersusah payah bercocok tanam. Mereka cukup menyewakan lahan persawahan mereka kepada investor untuk dieksplorasi batunya dengan alat berat.

Di sudut persawahan, di lubang galian batu yang sudah cukup dalam dan lebar, Badri masih tekun mencukili batu-batu yang tersusun rapat seperti kedelai pada tempe. Dengan linggis dan ganco, batu-batu itu terlepas dan jatuh menggunduk satu demi satu. Bunyi benturan linggis dan batu terus terdengar pertanda Badri masih bekerja keras mengejar targetnya tiga rit. Kaos lengan panjang yang sudah tidak jelas warnanya basah oleh keringat.
“Clak… clak…” bunyi ganco Badri mengenai batu-batu.
“Aaah.” Badri melenguh lirih sambil mengayunkan ganconya. Sebuah bongkahan besar batu ambrol. Seulas senyum kepuasan tergambar di wajah Badri. Ia lalu beristirahat sejenak. Duduk di cekungan lubang penggalian yang sudah menyerupai gua. Berlindung dari teriknya matahari yang sudah agak tegak lurus. Beberapa teguk air putih yang dibekalkan istrinya dalam botol bekas minuman ringan melegakan tenggorokannya. Ia mendongak ke atas. Sudah hampir dhuhur, katanya dalam hati.

Baru saja Badri akan bangkit dari duduknya dan melanjutkan pekerjaannya, lamat-lamat di kejauhan terdengar deru suara truk yang semakin mendekat ke penambangan Badri. Badri tersenyum lega. Itu pasti truk Kang Warsiman yang akan mengangkut batunya.

“Assalamu’alaikum…” terdengar salam dari Kang Warsiman.
“Wa’alaikum salam…” jawab Kang Badri dengan muka berseri-seri.
“Gimana Kang sudah dapat?”
“Alhamdulilah Kang. Kalau satu rit itu masih lebih.”
Kemudian truk tua pengangkut batu itu pun dimundurkan mendekati mulut lubang penggalian. Badri dan kernet Kang Warsiman menaikkan batu-batu itu ke bak truk. Bunyi gaduh batu-batu yang dilemparkan ke bak truk terdengar beraturan di tingkah cericit burung-burung Sriti yang terbang rendah. Di benak Badri terbayang uang 80 ribu dan masih kurang satu rit lagi. Mampukah? Setengah jam kemudian semua batu sudah berpindah ke bak truk Kang Warsiman. Keringat mengucur deras di badan Badri dan kernet truk. Mereka beristirahat sejenak. Kebetulan Wawan, anak Badri sedang mengantar bekal makan siang bapaknya.
“Pak, tadi Mak membungkus tiga kopi. Katanya biar pas untuk bertiga”, kata Wawan sambil meletakkan tas rantang-rantang makanan. Tas kresek hitam berisi tiga bungkus plastik kopi diberikannya kepada Bapaknya.
“Wah cocok sekali, Le” jawab bapaknya sambil memberikan bungkusan kopi yang masih agak panas itu kepada Kang Warsiman dan kernetnya.
“Ayo diminum kopinya, biar ndak ngantuk”
“Ya… matur suwun Kang Badri. Biar saya bawa saja ya kopinya. Ini sudah siang biar cepat saya antar batunya ke Kang Sapari, yang pesan batu ini”.
“Oh gitu… ya ya Kang.” Nanti kira-kira jam empatlah rit yang kedua sudah ada”.
“Baiklah. Saya berangkat dulu ya Kang”.
“Ya… Hati-hati ya di jalan.”
Truk pelahan meninggalkan lokasi penambangan. Debu mengepul berterbangan di belakang truk yang semakin menjauh. Deru mesin yang keras menahan beban berat muatan masih terdengar dari lubang penggalian batu Kang Badri.

Kembali Badri sibuk dengan pekerjaaannya. Wawan membantu bapaknya mengumpulkan batu-batu yang sudah dicukili bapaknya dengan linggis. Wawan, meskipun masih kelas 1 SMP, badannya tegap berisi. Ia sudah terbiasa membantu bapaknya berladang dan menggali batu. Kulitnya hitam karena sering kepanasan di sawah. Ia tidak banyak bicara dan mengeluh. Badri sangat sayang pada anak semata wayangnya itu.
“Kalau capek, istirahatlah, Le” kata Badri sambil tetap mengayunkan ganconya untuk merontokkan bongkahan batu-batu itu.
“Ya Pak” jawabnya singkat sambil tetap memunguti dan mengumpulkan batu-batu yang terberai dari dinding lubang galian yang semakin dalam.
Segunduk batu sudah terkumpul. Kira-kira itu setengah bak truk Kang Warsiman. Berarti mereka masih harus mengumpulkan segunduk lagi.
“Istirahat dulu, Le”, ajak Kang Badri kepada Anaknya. Badan mereka sudah basah oleh keringat. Mereka duduk bersandar di dinding lubang galian sambil minum air putih.
“Tadi Bapak bilang ke Kang Warsiman jam empat batunya sudah siap Le…” kata Kang Badri kepada anaknya seperti mengguman sendiri.
“Jam empat masih lama Pak.”.
“Ya… semoga nanti sebelum jam empat kita sudah mengumpulkan satu rit lagi. Dan yang penting Kang Warsiman datang.”
“Ya pak semoga kang Warsiman terus butuh batu dan pesan ke bapak”.
“Iya Le”.

Setengah jam berlalu. Wawan mengajak bapaknya bekerja kembali. Satu demi satu batu batu tercongkel dari dinding galian dan dengan tekun wawan mengumpulkannya di dekat lubang galian tempat biasanya truk kang Warsiman diparkir. Bila lubang penggalian batu itu semakin besar, biasanya akan terbentuk seperti gua. Dalam lubang bisa sampai 5 meter dan luasnya bisa sampai setengah luas sawah yang ditambang. Kira-kira 50 X 50 meter persegi. Truk yang mengangkut batu biasanya masuk ke dalam lokasi penggalian dengan cara mundur.

Matahari sudah condong ke barat pertanda siang akan bergeser ke sore. Mereka tidak punya jam tangan untuk melihat waktu. Kang Badri tahu kapan harus mengakhiri pekerjaannya hanya dengan melihat kecondongan matahari.
Hari semakin sore. Matahari semakin condong ke barat. Terik semakin berkurang. Dua gunduk batu sudah terkumpul. Ada kepuasan di wajah anak-bapak itu. Mereka duduk-duduk istirahat sambil menunggu truk Kang Warsiman datang. Hari semakin senja. Matahari memerah di ufuk barat. Tetapi, truk Kang Warsiman tidak juga kelihatan memasuki areal persawahan lokasi penggalian batu.
“Ini mungkin sudah lewat jam empat Pak.” Kata Wawan kepada Bapaknya
“Ya… Le. Mungkin Kang Warsiman ngeban atau mogok truknya. Kok belum datang juga ya?”
Redup semakin bertambah hingga menjelang magrib truk itu tidak kelihatan datang. Mereka memutuskan pulang. Cukup rasanya kerja hari itu. Dapat dua rit batu, tapi yang satu rit belum terangkut dan tentu saja belum terbayar.

Tiba di rumah ia dapati istrinya termenung di ruang tamu. Ia tampak memikirkan sesuatu yang berat.
“Tadi Kang Sarwo ke sini lagi sama istrinya,” kata istrinya.
“Masih mbujuk lagi?” tanya Badri dengan muka serius.
Istrinya tidak menjawab tapi menganggukkan kepala. Kang Sarwo adalah pemilik sawah yang berdempetan dengan sawah Badri, tepatnya di belakang sawah Badri. Belakangan ini ia paling getol membujuk Badri agar turut menyewakan sawahnya untuk dibego atau digali batunya dengan alat berat. Karena letak sawah yang depan-belakang maka Kang Sarwo sangat tergantung pada Badri. Jika Badri tidak menyewakan sawahnya maka tidak ada akses jalan ke sawah kang Sarwo.
Tapi, istri Badri ngotot tidak mau membegokan sawahnya itu. Ia ingat pesan ibunya bahwa sawah warisan dari ibunya itu jangan sampai dijual. Badri yang merasa tidak memiliki sawah itu tidak mau berkomentar. Ia serahkan sepenuhnya keputusan pada istrinya. Badri juga bukan tipe pria yang mata duitan yang silau dengan harta benda dan puluhan juta uang. Meskipun sebenarnya saat ini keluarganya sedang butuh uang, ia tidak ingin mempengaruhi istrinya agar menyewakan sawah itu.
“Kenapa kang Badri bersusah-susah menggali batu itu sendiri. Toh sama saja akhirnya”.
“Ya… kalo digali manual tidak cepat habis kang”.
“Rugi kang. Kalo dibegokan langsung dapat 100 juta. Tinggal ngatur uang itu saja”.
“Nah itu masalahnya. Kalo kita pegang uang banyak pasti kita ingin ini itu. Cepat habis kalo bentuknya duit.”
“Oh itu tergantung orangnya. Kalo kita pandai ngirit, tidak mudah kepencut barang yang dijual pedagang keliling itu, ya gak habis uang kita.”
“Benar kang. Tapi masih adakah orang yang seperti sampean sebutkan tadi di zaman seperti sekarang ini?”
Percakapan itu tak berlanjut. Kang Sarwo tahu bahwa Badri tidak akan menyewakan lahan sawahnya. Ia tahu bahwa orang ini teguh pendiriannya. Jika sudah bilang tidak tentu ia akan terus berkata tidak. Tiba-tiba ada ide melintas di kepalanya. Dalam hati ia menemukan cara lain. Ia tersenyum sendiri. Di kepalanya berkelebat rencana-rencana untuk mewujudkan keinginannya.

Rumah Mbah Sosro tampak sepi ketika kang Sarwo hendak bertamu. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, keluarlah empunya rumah. Sesosok tua dengan pakaian khasnya baju hitam celana hitam dan menutup kepalanya dengan kain udeng-udeng. Mbah Sosro terkenal sebagai dukun yang bisa dimintai pertolongan untuk menyelesaikan berbagai masalah.
“Siapa Sampeyan dan dari mana?” tanya Mbah Sosro ketika tamu dan tuan rumah itu sudah duduk berhadapan di ruang tamu mbah Sosro yang cukup luas. Tampak ia sudah terbiasa menerima tamu-tamu yang datang kepadanya. Bau kemenyan menusuk hidung kang Sarwo. Suasana di ruang tamu itu seram.
“Saya Sarwo mbah. Dari Majakerta. ”
“Majakerta itu mana?” tanya Mbah Sosro lagi.
“Itu lo Mbah baratnya Surabaya. Ya kira-kira 60 km ke barat.
“Dekat Jombang?”
“Ya Mbah. Bahkan desa kami berbatasan dengan desa yang masuk wilayah Kabupaten Jombang.”
Setelah berbasa-basi kang Sarwo pun menyampaikan maksud tujuannya datang ke si dukun.
“Syaratnya berat. Aku tidak yakin kamu sanggup memenuhinya.” kata Mbah Sosro.
“Apa syaratnya Mbah?” tanya Sarwo penasaran.
Mbah Sosro memberi isyarat kepada Sarwo untuk ke mendekat. Sarwo pun beringsut mendekatkan kepalanya ke Mbah Sosro. Lalu, Mbah Sosro membisikkan sesuatu ke telinga kliennya itu. Sarwo terkejut bukan main. Wajahnya tegang, urat-urat di jidatnya berkerut pertanda ia sedang berpikir keras. Beberapa saat kemudian ia termenung memikirkan syarat yang sangat berat itu.
“Bagaimana?” tanya Mbah Sosro.
Sarwo masih terdiam. Ia berpikir keras.
“Bagaimana? Sanggup kau?” Mbah Sosro bertanya lagi.
“Ya Mbah. Saya sanggup!” jawab Sarwo ragu-ragu.
Mbah Sosro tersenyum.
***
Badri sedang salat malam ketika terdengar sesuatu jatuh menimpa genting rumahnya. Ia tidak memedulikan suara itu. Ia tetap khusuk berdoa. Tak lama kemudian terdengar adzan subuh pertama. Kira-kira pukul setengah tiga pagi. Di desanya ia sudah akrab dengan suara adzan subuh yang dua kali. Adzan yang kedua itulah adzan subuh pada umumnya, kira-kira pukul empat. Badri masih tekun berdzikir ketika tiba-tiba terdengar istrinya terbatuk-batuk dari kamar tidurnya. Ia bergegas ke kamar dan mendapati istrinya terduduk sambil menahan muntahan darah di tangannya.
“Astagfirloh! Kenapa Bu?” tanyanya tergopoh-gopoh sambil merangkul istrinya. Istrinya tak bisa menjawab dan terbatuk lagi. Darah segar keluar dari mulutnya. Badri panik. Wawan pun terbangun dan segera ke kamar ibunya. Ia menjerit demi melihat darah yang begitu banyak.
“Pak, kenapa Emak?”
“Gak tahu Nak. Kok tiba-tiba begini”.
Dalam kepanikan wawan berlari ke rumah tetangga terdekatnya untuk minta bantuan. Kang Tono bergegas menuju ke rumah Badri.
“Ada apa Kang Badri?”
“Ndak tahu kang! Tiba-tiba begini,” jawab Badri sambil tetap mendekap istrinya yang terlihat tersengal-sengal menahan sakit di dadanya.
“Sudahlah ayo kita bawa ke rumah sakit. Aku siapkan mobilnya ya”
“Ya, ya, makasih Kang!”
Mereka pun bergegas membawa istri Badri ke rumah sakit terdekat. Mobil Kang Tono melaju kencang. Kecemasan melanda seiisi mobil itu.

Berita sakitnya istri Badri yang tiba-tiba, dan parah, menjadi perbincangan orang-orang sedesa. Di desa yang tidak terlalu luas itu kejadian apa saja mudah menyebar dan menjadi bahan obrolan di mana saja, termasuk di warung-warung tempat para sopir truk pengangkut batu biasa istirahat untuk makan siang.

Siang itu lima truk terparkir di dekat warung Yu Jum. Lima sopir truk pengangkut batu sedang menikmati makan siang di bangku panjang warung itu sambil bercakap-cakap ringan.
“He Mam, kau sudah dengar istrinya kang Badri tiba-tiba sakit parah?” kata Sogol sambil menyeruput kopi hangatnya.
“Oh iya ta? Aku sudah agak lama ndak ngambil batu di Kang Badri. Sakit apa?” jawab Sogol sambil tetap mengunyah makanannya.
“Ya itulah masalahnya. Sakitnya tiba-tiba, batuk darah parah, padahal istrinya Kang Badri itu kan sehat-sehat saja selama ini.”
“Kena santet Kang!” tiba-tiba kang Bogel yang sedari tadi diam saja. Orang-orang tercengang.
“Huss! Jangan bilang begitu kalau tidak ada buktinya. Itu fitnah.”
“Trus kata dokter sakit apa?” tambah Bogel ikut nimbrung membicarakan sakitnya istri Kang Badri di warung itu.
“Wah ndak tahu aku Gel! Orangnya memang diopname di rumah sakit katanya. belum selesai mereka membicarakan sakitnya istri Badri, terdengar sebuah truk pengangkut batu parkir lagi di depan warung lalu Ardi, si sopir masuk.
“Ayo, makannya dipercepat trus takziah” katanya sambil memberi kode pesan makan siang ke pemilik warung.
“Inalilahi… siapa Di yang nggak ada?” Tanya Bogel spontan.
Istrinya kang Badri. Nanti ambulansnya lewat sini kan? Bogel dan Sogol saling berpandangan.

Malam itu desa Waturejo mendadak gempar. Segerombolan orang sambil membawa berbagai senjata tajam bergerak menuju rumah Kang Sarwo. Mereka juga membawa oncor dari bambu untuk penerangan. Mereka berteriak-teriak, “Habisi dukun santet, bakar dukun santet…!. Dalam waktu singkat banyak warga yang ikut serta dalam aksi itu, terutama anak-anak muda yang gampang terprovokasi. Aparat desa tergopoh-gopoh.

Rumah kang Sarwo tertutup rapat. Rupanya kang Sarwo dan keluarganya telah menyelamatkan diri entah ke mana.
“Sarwo… keluar kau!” teriak seseorang sambil berkacak pinggang. Di belakang badannya terselip golok yang masih terbungkus rangka kulitnya. Tak ada jawaban apapun. Pintu dan jendela rumah Sarwo tertutup rapat dan tidak ada tanda-tanda orang di dalam
“Keluar!” teriak orang hampir bersamaan. Suasana semakin mencekam. Orang-orang desa semakin banyak yang berkumpul.
“Kalau tidak keluar, kubakar rumahmu! Teriak orang itu lantang sekali. orang-orang mengikuti berteriak, “Bakar, bakar, bakar…”
Dan tanpa dikomando oncor-oncor itu melayang ke atap rumah Sarwo. Kaca-kaca jendela rumah dilempari batu, kemudian oncor pun dilemparkan ke dalam rumah. Dalam sekejap si jago merah sudah menyala-nyala. Cahaya api menerangi malam yang gelap. Gemeretak kayu-kayu terbakar terdengar di sela teriakan hujatan-hujatan kepada Sarwo yang dituduh tukang santet.

Tak lama kemudian terdengar suara sirene mobil polisi. Mungkin ada yang menghubungi polsek. Tapi, polisi selalu datang terlambat. Warga berhamburan melarikan diri. Gelap malam menolong orang-orang menghilang dari TKP. Orang yang berteriak lantang tadi pun tak mau berurusan dengan polisi. Ia lenyap setelah berhasil memprovokasi massa, dan rumah Sarwo rata dengan tanah.

Sebulan setelah peristiwa itu, sawah kang Badri akhirnya jatuh ke juragan batu dan dibego juga untuk menutupi hutang biaya pengobatan istrinya yang tidak tertolong. Sementara Kang Sarwo di suatu tempat yang jauh tersenyum puas kala mengecek saldo rekening banknya. Ada tranferan 250 juta. Itu pasti dari juragan batu yang besok juga mulai menambang batu di sawahnya. Dengan uang sebanyak itu ia bisa membangun lagi rumah yang ia bakar sendiri lewat tangan-tangan orang suruhannya. Ia meninggalkan ruang ATM dengan senyum kemenangan. Tapi, baru beberapa langkah ia berjalan hpnya berdering. Segera ia lihat siapa yang meneleponnya. Mendadak ia pucat karena yang tertera di HP itu adalah nama Mbah Sosro. Ia biarkan saja HP itu terus berdering. Berdering dan terus berdering.

The end

Cerpen Karangan: Suwarsono
Facebook: Sam Swarson

Cerpen Penggali Batu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Taman Syurga Raudhatul Jannah

Oleh:
Suara gemuruh hati menikam dari dalam jiwaku. Hasrat tuk menjejaki suasana baru itu membuatku resah tak karuan. Sebenarnya apa juga yang harus kuresahkan. Praktek menjadi seorang guru itu kan

Mimpi Yang Membawa Berkah

Oleh:
“Hai Wilson.” Suara wanita-wanita disekolah terdengar ditelinga gue. Gue sudah terbiasa disapa cewek-cewek yang cantik. Gue sebetulnya dinobatkan sebagai cowok tertampan disekolah. Dan yang pasti cewek-cewek disekolah ini pada

Tentang

Oleh:
Adakalanya kau membutuhkan kesendirian untuk memekik pada udara kering perihal semua rahasia hatimu. Dengan tatapan pasi. Dengan ratapan nanar. — Malam turun dengan sempurna di Kaduara Timur. Menyisakan tebasan

Ikhlas

Oleh:
Pagi itu, menjadi pagi yang paling aku nanti-nanti sejak malam kemarin, pagi yang paling aku impikan selama dua tahun berlalu, pagi yang akan menjadi sejarah dalam perjalanan hidupku, pagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *