Penggerebekan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 November 2016

Imamudin datang lebih kurang tiga minggu yang lalu, saat senja hari kamis ketika matahari dengan senang melukis langit dengan warna jingga seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di dunia manusia. Ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Kapolres di kota Solo yang menewaskan satu orang yang tak lain adalah pelaku itu sendiri, menjadikan suasana getir, dan mencekam. Warga menjadi takut akan adanya ancaman bom bunuh diri yang lain, tak terkecuali warga kampung dimana Imamudin pindah.

Imamudin berperawakan sedang, tidak kurus namun tidak gemuk, tidak tinggi namun juga tidak pendek. Jenggotnya ia pelihara dan terdapat dua titik hitam yang terlukis di dahinya. Imamudin selalu mengenakan pakaian jubah yang bawahnya selalu tidak pernah lebih dari mata kaki, pakaian yang selalu ia gunakan setiap harinya. Imamudin mulanya bertempat tinggal di Solo di daerah bantaran kali Bengawan Solo, namun kini ia pindah ke daerah Karanganyar yang masih merupakan daerah karisidenan Surakarta. Pada awal kepindahannya Imamudin merupakan seorang yang ramah dan pandai bergaul. Sehingga ia diterima dengan baik oleh masyarakat, meskipun ada juga desas-desus di antara ibu-ibu di kampung yang lebih bisa disebut curiga kepada Imamudin lantaran penampilannya yang selalu dikaitkan dengan teroris apalagi dengan adanya kejadian bom bunuh diri di itu.

Sehari dua hari Imamudin sering dijumpai ke luar kontrakan dan keliling kampung untuk sekedar bertegur sapa dan mengakrabkan diri dengan masyarakat. Namun semakin kesini Imamudin jarang sekali ke luar rumah, bahkan pintu rumahnya seringkali terlihat tertutup. Kadang dua sampai tiga hari Imamudin sama sekali tidak terlihat ke luar rumah. Hal itu menambah kekhawatiran dan kecurigaan ibu-ibu kampung.
“Jangan-jangan pak Imamudin adalah komplotan teroris yang mati kemarin?. Jangan-jangan dia datang kesini untuk sembunyi dari kejaran aparat penegak hukum?” Kata Sainah, salah satu warga kampung yang rumahnya cukup dekat dengan rumah Imamudin. Begitulah desas-desus itu berawal. Pada awalnya desas-desus itu hanya terjadi di kalangan ibu-ibu, namun kini desas-desus itu sudah merambah ke kalangan bapak-bapak.

“Ya, dia jarang sekali ke luar dari kontrakannya.” Celetuk Pak Raden yang sedang jaga ronda malam di pos ronda.
“Jangan-jangan dia teroris?” Lik Parto menimpali
“Ya, aku juga sudah curiga sejak dia datang, bukankah dia datang saat di daerah solo sedang terjadi aksi bom bunuh diri.” Kata Pakde Jarso
“Apalagi akhir-akhir ini sering sekali orang-orang yang berpenampilan seperti dia ke luar masuk rumahnya setiap malam.”
“Jangan-jangan rumah itu dijadikan markas teroris?”
“Jangan-jangan dia datang kesini hanya untuk lari dari kejaran polisi?”
“Jangan-jangan dia sedang merakit bom di rumah itu?”
“Jangan-jangan dia ingin meledakkan kampung ini?”
“Jangan-jangan dia adalah komplotan Nurohman?”
“Jangan-jangan dia adalah anak buah Arif Hidayatullah alias Abu Mush’ab?”
“Jangan-jangan..” sebelum Pakde Jarso melanjutkan jangan-jangannya seseorang berjalan mendekati mereka. Ketika lewat di depan mereka ternyata orang itu adalah salah satu teman Imamudin yang sering ke luar masuk rumahnya.
“Mari Pak” sapa orang itu
“mariiii” Lik Parto, Pakde Jarso dan Pak Raden menimpali dengan serentak.
Orang itu berjalan terus sambil membawa tas besar di pundaknya yang menambah kecurigaan bapak-bapak ronda.
“Pasti di dalam tasnya ada bomnya.” kata Pak Raden
“Benar, apalagi kalo bukan bom?”
“Ayo kita tangkap dan kita geledah orang itu!” ajak pakde jarso sambil bergegas hendak memburu orang itu
“heee, de, jangan dulu, kalo dia membawa bom di badannya gimana? Pakde sudah siap meninggalkan istri dan anak Pakde?”
Pakde Jarso langsung kembali duduk lagi “lantas kita harus bagaimana? Diam saja?”
“Kita diam dulu, baru besok pagi kita lapor Pak Lurah untuk menggerebek saja rumah Imamudin”
“Ya, betul sekali”
Malam larut, setelah keliling lik parto, pakde jarso dan pak raden pulang kerumah masing masing, mereka pulang dengan dipenuhi pikiran jangan-jangan yang lain.

Pohon-pohon masih menggigil karena embun semalam, namun warga di kampung sudah mulai keluar rumah untuk mulai menjalankan aktifitas masing-masing, tak terkecuali Lik Parto, Pakde Jarso dan Pak Raden, mereka bertiga berkumpul dan langsung menuju ke rumah Pak Lurah untuk memberitahukan kejadian semalam dan mengutarakan segala macam pikiran jangan-jangan mereka.
“Pak Lurah…” seru ketiganya ketika baru masuk kedalam pekarangan Pak Lurah
Pak Lurah yang kebetulan duduk di lincak depan rumah itu terkaget, tetapi dapat diatasinya dan mempersilahkan ketiga orang itu untuk duduk di sebelahnya. Belum kata basa-basi terucap, Pakde Jarso yang mewakili ketiga orang itu segera menceritakan hal apa yang hendak mereka sampaikan sepagi ini. Pakde Jarso langsung mengutarakan pikiran jangan-jangan itu sementara Pak Lurah sesekali manggut-manggut. Saat Pakde Jarso selesai bicara baru Pak Lurah menimpali “Tidak baik main hakim sendiri, lebih baik kita lapor kepada pihak yang berwajib”
“Ya sudah Pak Lurah, sekarang Pak Lurah saja yang menghubungi polisi pak”
“benar pak, saya takut kalau keberadaannya disini akan membuat onar dan mengganggu kesejahteraan rakyat”
“Ya, sebentar.” lalu pak lurah menelepon Kepolisian melaporkan apa yang menjadi pikiran jangan-jangan para warga.

Setelah selesai, pak lurah menyampaikan bahwa kepolisian akan datang pada malam hari, dengan alasan agar komplotan yang biasa datang ke rumah Imamudin ada disana dan akan ikut tertangkap jika memang terbukti bahwa mereka adalah komplotan teroris.

Desas-desus mengenai pengrebekan rumah Imamudin santar di antara warga, bahkan warga kampung sebelah pun ikut panik dengan adanya desas-desus tersebut. Para warga gaduh, sibuk menyiapkan alat apa yang sekiranya bisa untuk dijadikan alat untuk menghajar Imamudin jika nanti terbukti dia seorang teroris, ada yang menyiapkan pentungan, tongkat, bahkan sampai celurit dan parang. Tak ada warga yang ke luar kampung, bahkan untuk bekerja pun mereka enggan karena mereka tidak ingin tertinggal sedetik pun acara penggerebekan tersebut.

Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya, matahari masih melenggang lima belas derajat di barat, para warga semakin tidak sabar. Setiap kali ada suara sedikit, pasti langsung bergegas mengambil barang yang sudah disiapkan di samping pintu masuk dan beberapa ada yang selalu dibawa kemana berpindah. Beberapa orang ditugaskan untuk mengawasi rumah Imamudin. Ada yang pura-pura bermain catur di dekat rumah Imamudin, ada yang pura-pura berjalan lewat depan rumahnya sambil melirik ke arah rumah Imamudin.

Malam telah tiba, matahari hanya tinggal meperlihatkan sedikit cahayanya dibalik mendung tipis-tipis. Semua warga sudah siap dengan segala peralatan tempur di tangan masing-masing, polisi beserta pasukannya sudah tiba di rumah Pak Lurah dan menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan.
Seseorang yang diberi tugas untuk mengintai rumah Imamudin tergopoh datang ke rumah Pak Lurah. “Komplotan sudah masuk pak”
“Bagus, mari kita bersiap-siap” kata Pak Lurah sambil memberi intruksi kepada para warga agar nanti tidak mengganggu kinerja polisi dan pasukannya.

Semuanya bersiap, polisi berada di barisan paling depan sedangkan Pak Lurah dan para warga berada beberapa meter di belakang mereka.
Sampai di depan rumah Imamudin, adzan isya’ dari masjid kampung sebelah berkumandang, namun hal tersebut tidak dihiraukan oleh mereka yang sedang bersiap dalam hitungan mundur untuk menggrebek rumah Imamudin. “tiga… dua… satu…” hitungan mereka dalam bisik, kemudian BRAKKK… pintu didobrak dan seketika terbuka dan remuk.
“Angkat tangan, kami polisi” polisi langsung melancarkan aksinya. Empat orang terlihat di ruang depan dengan pakaian mirip seperti yang dikenakan Imamudin, hanya berbeda warna, dua orang sedang berada di sofa, sementara dua orang lagi berada di karpet bawah memegangi remot televisi. Seketika mereka semua angkat tangan dan melongo heran. Mereka disuruh berdiri dan menghadap tembok. Di antara mereka tidak terlihat Imamudin. Karena itu kemudian polisi langsung menggeledah rumah itu, tak ditemukan apa-apa dan ketika salah satu polisi membuka pintu kamar ia tertegun, melongo, kaget dengan apa yang dilihatnya.

“Maaf pak, ada apa ini?” tanya salah satu teman Imamudin.
Polisi itu masih tertegun melihat seorang lesu, lemah dan pucat terbaring di ranjang, dan dua orang duduk di sampingnya. Tak lama kemudian diketahui bahwa orang yang sedang terbaring itu adalah Imamudin
“Maaf, apa yang terjadi kepada Imamudin?” tanya seorang polisi.
“Dia terkena penyakit Stroke pak, tubuh bagian bawahnya sudah mati, tak bisa digerakkan”
Polisi itu memanggil rekannya dan juga seluruh warga untuk mendekat, sementara empat orang tadi disuruh untuk menurunkan tangannya. Sesampainya di dalam para warga terkaget melihat Imamudin terkulai lemas di ranjang tidurnya.
“Begini bapak, kami mendapat laporan dari para warga, bahwa bapak Imamudin ini telah dicurigai sebagai teroris dan rumah ini dijadikannya sebagai markas untuk membuat bahan peledak atau bom” terang seorang polisi yang memimpin penggerebekan ini
“Sungguh kami hanyalah warga biasa pak, meskipun memang tampilan kami ini seperti teroris yang selama ini terlihat atau mungkin para teroris itu yang menggunakan tampilan seperti kami untuk tujuan mengadu domba. Sungguh pak, kami hanya orang biasa, pak polisi juga sudah geledah tempat ini, tidak ada apa-apa yang patut dicurigai bukan?” jawab salah seorang teman Imamudin.
“Lalu kenapa Imamudin menutup diri seperti itu? Jangan-jangan hanya pura- pura sakit?. Dan pasti bomnya sudah dibawa keluar pak, kemarin saya lihat orang ini membawa tas besar yang pasti isinya bom keluar dari tempat ini” Pakde Jarso bicara dengan suara keras.
Seketika terjadi riuh di antara warga, ada yang bilang bahwa Imamudin hanya berpura-pura, sampai ada yang bilang jangan-jangan kakinya luka karena terkena bomnya sendiri.

Keadaan hening ketika polisi menyuruh para warga untuk diam. Teman Imamudin itu berkata dengan mata yang terlihat akan basah
“Kami adalah teman-teman Imamudin, teman biasa layaknya seorang teman, dia benar-benar terkena stroke, kalau tidak percaya, ini saya berikan bukti dari rumah sakit, dan bapak-bapak serta ibu-ibu bisa cek sendiri keadaannya. Imamudin tidak menutup diri tapi keadaannya memaksanya untuk seperti itu, bagaimana mau terbuka?, Untuk sekedar pindah dari tempat tidurnya saja dia tidak bisa, apalagi bertegur sapa dengan para warga?. Dan mengenai tas yang saya bawa tadi malam, itu adalah tas yang berisi pakaian Imamudin yang hendak saya bawa ke rumah untuk dicuci istri saya, karena memang Imamudin tidak mungkin bisa mencuci. Kami setiap malam datang kesini hanya untuk menemani dan membantunya, karena dia sudah tidak punya keluarga lagi, sedangkan warga disini tidak pernah datang untuk menjenguk atau sekedar mengetuk pintu untuk mengecek apakah Imamudin masih hidup atau tidak, kalau bukan kami yang harus merawat dan membantunya lalu siapa lagi yang akan melakukan?”

Semua yang hadir disitu tertegun, tertunduk dengan pikiran dan penyesalan masing-masing. Mereka menyadari begitu salah dan bodohnya mereka selama ini dengan segala pikiran jangan-jangannya. Polisi dan para warga lalu mendekati Imamudin yang terbaring dengan air mata yang sedari tadi menetes membasahi bantalnya, mereka semua mengelus, mendekap Imamudin dan meminta maaf serta mendoakan kesembuhannya. Tak terkecuali Lik Parto, Pakde Jarso dan Pak Raden, mereka meneteskan air mata yang sangat dan mendekap tubuh Imamudin sembari tak henti-hentinya meminta maaf karena telah terperdaya oleh pikiran jangan-jangan mereka.

Suasana yang mulanya tegang berubah menjadi haru biru. Polisi dan para warga meminta ijin untuk pergi membuang segala pikiran jangan-jangan. Beberapa datang lagi untuk membenarkan pintu, ada yang datang membawakan nasi, lauk, teh hangat, ketela rebus dan juga beberapa macam cemilan. Beberapa warga laki-laki datang ke rumah Imamudin lagi ikut menemani imamudin yang masih terbaring lemas. Namun kini bibir Imamudin terlihat sedikit tertarik ke samping, tersenyum.

Selesai

Cerpen Karangan: Sumarno
Blog / Facebook: Nhotart.blogspot.com / sumarno
28-29 juli 2016. Dusun Suru, Simo, Kradenan, Grobogan
Mahasiswa Universitas Negeri Sebelas Maret
Sumarno
ttl: karanganyar 18 desember 1994
mahasiswa pendidikan seni rupa fkip uns

Cerpen Penggerebekan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Soedirman

Oleh:
Panas matahari menyengat tubuhnya yang berjalan menyusuri cairan aspal yang telah memadat. Suara bising kendaraan yang merambat lebih cepat dari siput yang cacat, sama sekali tak dihiraukannya. Bibir hitamnya

Lorong Gelap

Oleh:
Seorang lelaki berjalan menyusuri deretan pertokoan di tepi jalan. Tampaknya ia berusia sekitar 25 tahun bila diperhatikan dari kulit wajahnya yang mulai kasar, dan jejak kumis yang dicukur seadanya.

Mohon Dukungannya

Oleh:
“Pak, ada yang cari.” Ayu salah seorang karyawati administrasi memanggilku. “Oh, ya? Suruh masuk.” Ayu keluar dari ruang kerjaku dan dalam beberapa detik muncul dua orang lelaki dari balik

Sunggguh Tak Kusangka

Oleh:
Selama ini keluarga Mamad dengan Yanah harmonis hingga mereka dikaruniai Tiga orang anak dan juga telah dikaruniai Dua cucu. Walaupun mereka hidup di kampung serta dengan keadaan ekonimi mungkin

Hingga Nafas Terakhirnya

Oleh:
Siang ini, matahari kian lama kian mengujung. Teriknya seumpama lidah api yang menjilat-jilati sekujur tubuh kurusnya. Ia terpontang–panting tak menentu. Tiba-tiba, tubuhnya terkulai menghunjam tanah. Tubuh kurusnya tergeletak bersejajar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *