Penghisap Cangklong

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 16 January 2016

Duduk di bale-bale bambu, sambil menghisap pipa cangklong. Asapnya ia hembuskan ke udara. Ia pandangi lingkaran asapnya, seperti menari-nari dalam kehidupannya yang tidak jelas entah ke mana tujuan akhirnya. Tiga tahun sudah Safikah, istrinya pergi mendahuluinya ke alam baka. Terbayang dalam lingkaran asap itu.

Biasanya, kalau sedang menikmati rok*k bako begini, ada yang menyediakan goreng uli dicocol dengan tape atau semur daging kerbau. Pasti lezatnya terasa di lidah dan mengenyangkan. Selera makan pun selalu bertambah, pikirnya. Apa daya masa silam yang selalu menghantui pikiran seakan membayang khayalan yang menyenangkan buat kakek tua si penghisap rok*k cangklong. Kulitnya yang keriput telah dimakan usia. Sembilan puluh tahun lalu.

Safikah yang dinikahinya janda beranak dua. Sedangkan si kakek tua sudah dua kali menikah, karena istri pertamanya meninggal dunia. Belum empat puluh hari sepeninggal istrinya dia menikah lagi dengan Safikah. Dia tidak mempunyai anak. Safikah sudah menopause sewaktu pernikahan tiga puluh tahun lamanya berumah tangga. Asap rok*k dari mulutnya kembali dia tiupkan ke udara. Lingkaran asap itu berputar-putar disusul tiupan kedua dan ketiga bahkan seterusnya asap mengepul dan melingkar di udara.

“Fik, tanggal berapa sekarang?”
“Tanggal tiga puluh, masih lama”
“Tiga hari lagi, gajian,”

Lelaki tua penghisap cangklong itu, tiap awal bulan mengambil uang pensiun veteran. Tetapi Safikah tidak pernah tahu berapa yang diterima suaminya dari gaji pensiun tersebut. Safikah tidak berani menanyakan atau mengutak-atik tentang jumlah gaji yang harus diterima tiap bulan sebagai veteran. Dia lebih baik menunggu pemberian saja, berapa pun yang harus diterima tidak masalah. Asalkan Safikah mempunyai suami dan ada yang melindunginya. Sebab sudah dua kali suami Safikah meninggal dunia di lapangan hijau. Keduanya merupakan pemain sepak bola dan yang satunya hobi bermain sepak bola juga.

“Sudah kamu mah jangan banyak bicara, berapa gaji penisun Abah, yang penting bisa makan dan tidur nyenyak,” kata lelaki tua yang suka dipanggil Abah oleh Safikah istrinya karena usianya tertambat lebih tua dari Kakek tua itu. Tiga puluh tahun jaraknya. Sepantasnya, anaknya atau mungkin bisa jadi cucunya. Sebab, anak-anaknya si Kakek tua ini sudah ada yang sudah mempunyai cucu juga.

Bagi Safikah, hidup akan terasa nyaman di bawah ketiak lelaki tua yang hobinya menghisap rok*k bako cangklong ini. Rasanya, terbebas sudah dari segala kesendiriannya yang sudah bertahan lama menjanda. Lagi-lagi lelaki tua penghiap rok*k bako cangklong terus saja mengepulkan asapnya ke udara tanpa henti. Sambil angan-angannya berlayar ke masa silam. Sewaktu masih ada istrinya yang penurut dan penakut pada suaminya. Ada saja tetangga yang suka menimpali omongan yang menghasut dirinya agar bertindak atau melakukan gerakan keberanian untuk menghadapi si Kakek tua itu.

“Kenapa harus takut Safikah? Kan kamu tinggal juga di rumah sendiri. Peninggalan Bapak kamu juga. Toh dia -suamimu- hanya ikut kamu. Bahkan datang ke rumah ini juga tidak bawa apa-apa?” ujar Asih tetangganya ikut prihatin kalau Safikah tidak berani berontak batinnya. Dia selalu menyembunyikan perasaan amarah, jengkel pada suaminya. Dia hanya berani mengungkapkan perasaannya kepada Asih tetangganya ini.
“Sudahlah, jangan kau pikirkan si lelaki tua bangka ini. Bisanya cuma meniduri kamu dan tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kamu,” ujar Asih lagi yang terus mengompori, akan tetapi Safikah tidak marah pada Asih. Malah dia bersyukur mempunyai teman curahan hatinya.

Pandangan kelabu. Terlihat dari sudut mata lelaki tua penghisap cangklong, tangannya meraba-raba saku baju yang berwarna hitam. Ya, memang dia selalu berpakaian hitam-hitam ala jawara Banten tempo dulu. Tangannya terhenti setelah merogoh gas lalu menyalakan api di cangklongnya. Rok*knya tinggal sepotong lagi. Lamunannya terus membumbung seperti asap yang ditiupkannya ke udara.

Kegiatannya di rumah, dulu melatih silat anak-anak remaja tanggung. Mereka diberikan bekal beladiri silat Cimande, TTKDH, dan ibingan. Bahkan, tak pernah canggung si Kakek tua ini sering tampil di pentas apabila ada hajatan tetangga yang nanggap pencak silat. Seiring dengan perkembangan zaman, pencak silat tradisional ini sudah tidak lagi hadir di masyarakat perkampungan. Sejak itulah, si Kakek tua penghisap cangklong kehilangan gairahnya memanjakan diri memperagakan seni beladiri silat Cimandenya.

Menurut Abah Engkus, Kakek penghisap rok*k bako cangklong ini mantan pejuang zaman penjajahan dulu. Keahlian silatnya ini sering merepotkan barisan tentra Jepang. Kalau perkelahian satu lawan satu, kakek ini selalu di atas angin. Tentara Jepang sering keteteran menahan dan menangkis setiap kali pukulan yang mendarat di tubuh lelaki orang Jepang itu. Tangannya licin seperti belut kalau dicekal malahan tangan musuh kesakitan. Kakek itu memiliki ilmu kanuragan cukup tinggi. Ada istilah belajar ilmu tidak cukup sehari sekali tapi tujuh mulud. Artinya dalam hitungan tujuh tahun lamanya untuk belajar silat ala Cimande yang kakeknya ajarkan kepada dirinya.

Begitu juga si Kakek penghisap cangklong ini dalam mengajarkan murid-muridnya yang remaja tanggung sering memaksa. Ada muridnya yang selalu ragu kalau mendapat serangan atau perlawanan dalam latihan tiap malam kecuali Selasa dan Sabtu, mereka tidak ada latihan di rumahnya. “Untuk menimbulkan gerakan dasar harus mempunyai tenaga di dalam gerakan itu. Jangan loyo,” kata si Kakek memberikan komando terhadap anak muridnya yang nampak ada rasa ketakutan menghadapi gerakan-gerakan silat yang cepat dan tangkas ini.
“Nanti malam Jumat ke sini. Kamu harus saya mandikan,” ujarnya.

Lelaki penghisap cangklong ini matanya memandang ke masa silam. Masa waktu dirinya masih usia muda dan gagah. Sekarang, tubuhnya sudah ringkih. Dan sakit-sakitan. Mungkin sudah pikun. Coba pikirkan, waktu masih pagi di bulan ramdhan ke mana-mana membawa cangklong dan selalu menghisapnya, meskipun berada di luar rumah. ” Apa ini nggak bisa dibilang pikun?” ujar Haji Jumpris, yang tentunya usianya sebaya dengannya, masih tetap tegar dan berpikiran realistis.

Sudah beberapa hari ini, kakek tidak lagi terlihat di beranda rumahnya, duduk di bale-bale bambu, yang dulu dia sengaja buat ketika istrinya masih hidup. Bale-bale itu, selalu ditempatinya. Tidak boleh orang lain mendudukinya atau anak-anak muridnya duduk di tempat itu. Alasannya jangan menempati tempat sang guru besar. “Takut melunjak.” katanya. Yah, semua telah menjadi kenangan dalam pikirannya. Dan pikiran orang-orang di kampung juga pernah merasakan omelannya ketika duduk di tempatnya yang sekarang menjadi kenangan yang berarti baginya.

Bahkan orang-orang di kampungnya sudah tidak pernah lagi melihat kakek menghisap cangklong lagi di rumahnya, semenjak Safikah istrinya meninggal. Tetangga penasaran bertanya kepada anaknya yang kebetulan jualan keliling kampung boleh dibilang baluk itu.

“Teh, Abah ke mana? Nggak pernah melihat lagi di rumah ini?” ujar Umi, tetangganya.
“Oh, Abah sudah dibawa ke rumah anak pertamanya, di sana?” ujar anaknya yang bungsu ini memperkuat dugaan bahwa Abah sudah pikun dan sering ngaco ngomongnya. Maka, untuk menyelamatkan muka tetangga di kampung, Abah lebih baik diamankan di rumah anaknya. Dan tetap mendapatkan perawatan.

Kemarin, ada banyak orang orang berkerumun di rumahnya. Tetangga kampung segera mendapatkan kabar bahwa si Abah penghisap cangklong itu sudah meninggal. Maka, orang-orang di kampung langsung takjiah ke rumahnya dengan membawa beras ukuran satu liter. Tapi anehnya, orang-orang di kampung kembali menenteng bawaannya itu. Dan tetap masih utuh. Ada apa gerangan.

“Abah, hidup lagi. Abah hidup lagi…”

Lelaki di seberang rumahnya berteriak mengumumkan Abah si penghisap cangklong itu tidak jadi mati. Ilmu yang dimilikinya bisa bertahan hidup. Wah mungkin belum waktunya mati. Kalau sudah waktunya siapa pun dan apa pun kehebatan manusia tidak akan pernah bisa melawan takdir. Hidup ini tinggal menunggu giliran saja.

Pandeglang, 1 Januari 2016

Cerpen Karangan: Tb Apin Suryadi
Komunitas Sastra Gunung Karang, Pandeglang-Banten.

Cerpen Penghisap Cangklong merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pengamen Jalanan

Oleh:
Kuku yang biasa kugunakan untuk memetik senar gitar kini sudah mulai memanjang dan menampakkan setumpuk kotoran disana. Kotoran yang tampak lebih kotor dari setumpuk sampah di jalanan Ibu kota

Perisai

Oleh:
Perisai penuh dengan ketebalan demi menahan sebuah serangan pedang. Perisai dirancang khusus untuk menahan sebuah serangan sekeras apapun. Bentuknya pun beragam, mulai yang panjang, pendek, hingga yang berduri untuk

Terlalu Cepat Kau Pergi

Oleh:
Di tengah kesunyian malam. Suara jangkrik terdengar begitu keras. Desir air bersorak begitu ria. Cahaya rembulan tampak tersenyum di malam itu. Dimas, sang pemuda tanggung yang menjadi tulang punggung

People Change

Oleh:
Aku Maulida Anjani, panggil saja aku Lida. Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas di Bandung. Lahir 19 tahun lalu di Semarang dan berada di tengah-tengah keluarga yang

Dancing In The Sky

Oleh:
Awan kelabu menyelimuti kota yang jalanannya seolah tidak pernah sepi, bahkan dibawah naungan langit kelabu suara riuh dari deru kendaran justru kian penuh. Diantara banyaknya orang yang berjalan tergesa,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *