Penyesalan Pahlawan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Nasionalisme, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 3 May 2017

Waktu bergulir. Matahari kembali ke peraduanya. Bintang mulai berserakan di langit luas. Bulan sedikit menampakan dirinya, malu-malu tertutup gumpalan mega hitam. Aku pandangi sekelilingku, sepi, sunyi. Sangat berbeda dengan beberapa jam yang lalu. Kini bunyi senapan yang memuntahkan isinya tak lagi terdengar. Hanya jangkrik dan binatang lain yang bersuara, mendominasi malam gulita. Aku bersyukur masih bisa selamat.

Aku duduk di bawah pohon beringin yang berusia ratusan tahun. Usia yang cukup untuk menyaksikan bangsaku dijajah oleh orang-orang biadab. Aku letakkan senapan di pangkuan. Aku bersihkan dia, aku lap. Inilah nyawaku.

Tiba-tiba ada tangan menepuk pundaku. Aku kaget bukan kepalang. Aku tenggok dengan ragu. Joko rupanya. Nyaris saja dia menjadi santapan senapanku.
“ada apa?” tanyaku kesal
“komandan menyuruh kita berkumpul”

Aku bergegas bangkit. Kepalaku pusing, tapi aku biarkan. Kaki, tangan, badanku terasa pegal, tapi aku acuhkan. Tubuhku pedih penuh luka, aku hiraukan. Semua itu tidak penting, yang lebih penting adalah memerdekakan bangsaku.
Aku berlari menuju tempat berkumpul. Api unggun dinyalakan. Aku dan para pejuang lain mengitari api itu. Kupandangi wajah mereka satu-persatu. Nyaris tidak ada keceriaan yang terlihat. Apa yang aku rasakan mungkin juga dirasakan mereka, atau bahkan lebih.

“besok, kita selesaikan semua ini, kita selesaikan tugas kita. Tepat pukul empat pagi, kita semua berkumpul di sini, bersiap menyerang. Ini komando dari markas pusat. Kita hancurkan kamp-kamp mereka!!” kami terdiam, mencoba menerka apa yang akan terjadi esok hari.
“kita bagi tim ini menjadi empat kelompok. Kelompok pertama akan dipimpin Mayor Joko, menyerang dari arah depan. Kelompok kedua dipimpin oleh Mayor Amir mencari jalan alternatif menyerang dari arah kiri. Kelompok ketiga saya langsung yang pimpin, juga mencari jalan alternatif meyeberang sungai menyerang dari sektor kanan. Dan kelompok yang terakhir, kelompok empat dipimpin oleh Mayor Hasan, membantu kelompok satu. Biar kelompok satu yang menjadi tim penggedor, setelah itu kelompok empat langsung menyerang. Kita kejutkan mereka dengan serangan mendadak. Kita tumpas habis orang-orang biadab itu. Merdeka atau mati!!”
Aku tertegun, namaku disebut. Apakah aku bisa memimpin kelompok empat? Apakah aku bisa, diumurku yang baru seumuran jagung ini?
“sekarang istirahat. Kumpulkan tenaga. Tenangkan pikiran. Ingat, jam empat tepat”

Aku matikan api unggun. Semua kembali ke tempat masing-masing. Aku kembali ke pohon beringinku. Aku lihat arloji. Pukul sepuluh lebih tujuh menit. Masih ada waktu sekitar enam jam untuk rehat, untuk merasakan hidup yang mungkin esok tak bisa kurasakan lagi. Aku letakkan senapan. Perlahan aku rebahkan tubuh penuh lukaku. Terasa sakit, amat sakit. Tapi, akan lebih sakit lagi jika terus-terusan bangsaku diinjak-injak oleh an*ing-an*ing Belanda itu.

Berkali-kali aku mencoba tidur, aku picingkan mata berkali-kali, namun sulit rasanya. Banyak pikiran menghantuiku. Aku bangun, kulihat sekeliling. Aku lihat kawan-kawanku, ada yang terlelap dalam tidur, menikmati mimpi yang mungkin ini mimpi terakhir mereka. Ada yang menulis surat, padahal mereka tahu surat itu mungkin tidak akan pernah sampai.
Pandanganku tertuju pada Joko. Ia termenung aku dekati ia.

“kenapa belum tidur?” tanyaku sembari duduk di sampingnya.
“apakah kita bisa merdeka San?” matanya masih tertuju kedepan. Tatapan kosong. Badanya belum bergerak.
“kenapa kau tanya seperti itu?”
Ia terdiam sejenak, kemudian menghela nafas panjang.
“lebih dari 300 tahun kita dijajah. Lebih dari 300 tahun pula kita berjuang, namun apa hasilnya? Nihil. Tidak pernah ada hasil” kini tatapannya diarahkan kepadaku. Begitu tajam.
“ini yang terakhir. Dahulu kita berjuang di masing-masing daerah tanpa ada persatuan. Esok semua pelosok di negeri ini akan bangkit dan menyerang bersama. Kita akan merdeka”
“apa kau yakin? Lantas setelah merdeka apa, apa yang akan kau lakukan? Bukankah nanti pada akhirnya kita kembali akan dijajah?”
Aku kaget mendengar pertanyaan Joko. Aku tidak mengerti apa yang dimaksudnya dengan ‘dijajah kembali’
“apa maksudmu?”
“kita sekarang dijajah, kita lawan, lalu merdeka. Setelah itu ada penjajahan lagi, kita lawan, merdeka dan seterusnya. Semua ini tidak akan ada akhirnya. Sama halnya dengan hari. Setiap hari matahari datang lalu pergi, lalu datang lagi. Hanya saja setiap hari berikutnya tidak akan sama dengan hari sebelumnya. Penjajahan juga seperti itu. Penjajahan selanjutnya akan berbeda dengan penjajahan sekarang ini. Beda yang menjajah, beda sistem penjajahanya. Mungkin di masa depan penjajahan akan lebih mengerikan dari sekarang ini. Bisa jadi penjajah itu berasal dari saudara sebangsa sendiri”
“maksudmu akan ada anak cucu kita yang saling menjajah?” tanyaku semakin keheranan. Sorot matanya tetap tajam. Seakan ikut membenarkan argumenya.
“begitulah. Apakah itu tidak lebih menyakitkan?” aku terdiam. Ada benarnya juga omongan Joko. Pasti akan sangat menyakitkan jika sesama saudara sebangsa akan saling menjajah. Musuh dalam selimut akan lebih sulit dikalahkan ketimbang musuh yang nampak di depan mata.

“lalu apa yang harus kita lakukan?”
“kita tidak usah ikut dalam pertempuran”
“maksudmu kita lari? Kita bersembunyi? Tidak” jawabanku tegas.
“apa yang kau cari dari pertempuran kali ini. Mustahil kita menang. Mati, itu yang akan kau dapat”
“walaupun aku mati, aku akan mati dengan terhormat. Mati atau tidak itu urusan belakang. Aku tidak takut mati. Roda kehidupan biar tetap berjalan. Kalau setelah ini ada penjajah lagi, itu bukan urusanku. Ini zamanku, biar aku yang kali ini mengentaskan bangsa dari an*ing-an*ing Belanda. Untuk masa yang akan datang, itu bukan tanggung jawabku, itu tanggung jawab generasi mendatang” suaraku meninggi. Aku naik pitam. Darahku mendidih oleh ocehan-ocehan tak berguna Joko.
“apa kau yakin bangsa ini akan benar-benar merdeka? Dan akan diridhai yang maha kuasa?” tanyanya tenang.
“merdeka atau tidak itu bukan urusanku. Urusanku hanya terus berjuang dan berjuang sampai titik darah penghabisan. Diridhai atau tidak tinggal kita lihat nanti kedepanya”
Aku beranjak pergi, meninggalkannya. Aku tidak ingin terus-terusan terbawa emosi. Aku tidak ingin termakan omongan tak bergunanya.

Tepat jam empat pagi, kami para pejuang bangsa mulai menyerbu kamp-kamp musuh. Sesuai rencana. Aku akan menjadi kelompok pembantu untuk kelompoknya Joko. Jeritan senapan terdengar di mana-mana. Musuh tidak mengira akan diserang pagi-pagi buta. Dengan sekejap mereka membalas serangan kami dengan senjata yang tentunya lebih mutakhir.
Hujan peluru mulai mendera. Korban berjatuhan di kedua pihak. Satu, dua, tiga, sepuluh, seratus, bahkan tak terhingga jumlahnya. Bau anyir darah mulai menusuk hidung. Suara jeritan senapan makin menggila, diiringi jeritan manusia yang tak berdaya.

“dorrr!!!” kakiku tertembus peluru musuh, aku terkapar. Aku menjerit. Aku mencoba terus bertempur, aku tidak ingin menyurutkan semangat merdekaku. Aku tembaki an*ing-an*ing itu dengan semampuku.
Dari kejauhan aku lihat Joko berlari menuju kamp musuh sendirian dengan pistol di tanganya. Ia lihai menghindari timah-timah panas yang siap menghujam dirinya. Aku tidak habis pikir dengan apa yang sedang ia rencanakan. Ia terus melaju, ia nampaknya kehabisan amunisi. Ia buang pistolnya. Di tanganya kini tergenggam dua granat jagung. Aku alihkan pandanganku ke musuh yang membidiknya. Sebelum an*ing itu menarik pelatuknya, kepalanya bolong tertembus timah panasku, menjadi santapan senapanku. Sesaat kemudian.

“bummmm!!!” suara ledakan dari kamp musuh. Api membumbung tinggi di angkasa. Semua memekikkan kata “Merdeka!!!”.
“dasar bodoh!!!” teriakku. Aku benar-benar tidak habis pikir. Joko mengorbankan dirinya untuk meledakkan kamp musuh. Kepalaku pusing, dunia berputar. Semua gelap, hitam pekat. Beberapa saat kemudian aku lihat ada cahaya putih menyala, aku dekati. Semakin dekat, semakin besar cahayanya.

Ada orang memanggilku.
“kakek bangun!” aku kenal jelas suara itu. Suara cucuku, Zahra. Aku terkejut, Zahra sudah berada di depanku.
“kakek mengigau lagi ya” aku hanya tersenyum. Ternyata tadi hanya mimpi, mimpi yang benar-benar pernah terjadi tujuh puluh tahun lalu.
“kau benar Joko. Sekarang bangsa ini telah dijajah lagi. Kini penjajah menjelma jadi tuan-tuan berdasi. Dasar biadab. Kemiskinan tak teratasi walau sudah tujuh puluh tahun lamanya. Kesenjangan sosial sangat terpampang. Banyak orang yang terjajah di atas kemerdekaan. Dan yang lebih mengerikan, sekarang ini banyak generasi muda kita yang bobrok moralnya. Tidak punya sopan santun. Miras, nark*ba, po*nografi, tawuran telah meraja-lela. Bukan tidak mungkin para generasi inilah yang akan menjajah kita masa depan. Sungguh mengerikan. Dahulu aku menghadapi penjajah dengan angkat senjata, tapi sekarang aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat untuk mengusir penjajah ini. Mungkin kau di sana tertawa puas atas kebenaran prediksikmu. Tapi, aku di sini sungguh tersakiti dengan kondisi ini.

Di umurku yang sudah renta ini aku sangat tidak kuat melihat kekacauan di mana-mana. Aku meyesal telah memperjuangkan Republik ini, Joko. Kalau aku tahu akan jadi sehancur ini, aku tidak akan mau bertempur waktu itu. Jika para pejuang masih hidup, niscaya mereka juga akan menyesal. Mereka akan menangis dengan keadaan sekarang.

Jika para generasi muda mau mendengarkan aku, niscaya aku akan suruh mereka mengisi kemrdekaan dengan hal-hal yang positif, bukan dengan Miras, nark*ba, po*nografi, tawuran dan hal negatif lainya, agar dapat memutus roda ‘penjajahan-merdeka-penjajahan’. Mereka akan aku suruh merenungkan perjuangan pahlawan waktu itu. Bagaimana seorang pahlawan yang mau mengorbankan segalanya untuk Republik ini, harta bahkan jiwa, semua di korbankan. Kalau dipikir rasional, pahlawan berjuang bukan untuk diri mereka sendiri. Namun untuk para generasinya. Agar generasinya tidak merasakan pahitnya penjajahan waktu itu. Tapi sekarang apa yang terjadi. Aku menyesal, Joko. Semoga penyesalanku akan hilang bersama hilangnya roda ‘penjajahan-merdeka-penjajahan’”

Cerpen Karangan: Zulamuhammad
Facebook: Zula Muhammad
lahir 08 september 1997 di kota Kudus

Cerpen Penyesalan Pahlawan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penggila

Oleh:
Lelaki itu duduk tak tenang pada batu cadas yang keras, sekeras deru debam kendaraan yang lalu lalang pada mulusnya Pantura yang tak pernah lengang. Sinar mentari pagi yang mulai

Rintihan Sembilu Duka

Oleh:
Di celah jendela kamarku, hujan begitu derasnya mengguyur halaman rumahku, suara deru angin mendesau ikut besendu mesra bersama hujan. Dan keramaian petir menari-nari di atas angkasa, yang terdengar bising

Air Mata Kembang Gula

Oleh:
Siang itu Jakarta sangat panas. Semua orang naik mobil, bus, atau angkutan umum bak tertutup demi menghindari sinar terik matahari dan debu yang beterbangan di mana-mana. Seperti biasa, jalanan

17:00

Oleh:
Wanita tua itu masih terdiam di beranda runahnya bersama secangkir teh hangat di kanannya. Tangannya yang telah keriput telah menunjukkan umurnya yang telah lama, setengah abad lebih enam tahun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *