Peradilan Sesat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 11 April 2014

Tok… tok… tok… hakim ketua membuka sidang pengadilan.
“Sidang Pengadilan terdakwa atas nama Badur dimulai. Terdakwa sehat?”
“Sehat, hakim yang mulia.”
“Saudara badur didakwa memiliki dan mengedarkan sh*bu-sh*bu.”
“Saya tidak pernah memiliki sh*bu-sh*bu, apalagi mengedarkannya. Entah bagaimana awalnya sh*bu-sh*bu itu ada dalam tas saya, apalagi mengedarkan. Sungguh-sungguh saya tidak mengerti dakwaan terhadap saya. Saya tidak terima, hakim yang mulia. Tolong tuan hakim sungguh-sungguh menjalankan keadilan.”
Hakim berkata dengan suara lebih nyaring, setengah membentak.
“Saudara dinyatakan sebagai pemilik dan pengedar sh*bu-sh*bu adalah kesalahan pertama. kemudian saudara membuat kesalahan kedua, merasa diri benar.”
“Bukan soal merasa benar dan merasa tidak benar, Hakim yang mulia. Ini peradilan sehingga yang saya mohon keadilan. Bukan berdasarkan tuduhan rekayasa tingkat tinggi, kemudian tuan hakim yang mulia serta merta memutuskan saya bersalah. Harus berdasarkan fakta persidangan, bukan kata si A, kata si B yang bersifat opini kriminalisasi.”
“Saudara membuat lagi kesalahan ketiga, mengajari hakim yang memiliki kewenangan besar, tak dapat diganggu gugat.”
“Benar tuan hakim yang mulia memiliki kewenangan, namun saya ini warga yang meminta keadilan. Apa gunanya itu lambang dewi keadilan dari lembaga peradilan ini apabila diterapkan falsafah “wani piro”. Tak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa sudah ada rekayasa musuh politik saya dalam kontek kriminalisasi dan hakim yang disebut mulia, apabila merespon atau bersekongkol dengan perekayasa, maka hakim tidak lagi pantas disebut mulia. Peradilan ini dipimpin hakim zalim yang secara otomatis adalah peradilan sesat.”
Hakim sangat murka. Wajahnya merah padam, rambutnya tegak berdiri
“Saudara membuat lagi kesalahan keempat, menghina hakim dan menghina peradilan. Sebenarnya hukuman saudara hanya lima tahun, karena penghinaan tiada tara, maka hukuman saudara menjadi dua kali lipat, sepuluh tahun, segera masuk. Tidak ada protes, tidak dibenarkan korespondensi, putusan ini berkekuatan hukum tetap. Tok… tok… tok…” Hakim mengetok palu. kemudian berdiri meninggalkan ruang sidang.

Badur berdiri dari tempat duduknya, dengan marahnya menunjuk hakim yang sementara berjalan menuju pintu keluar.
“Saya tidak terima, ini peradilan sesat, terjadi rekayasa busuk kriminalisasi. Hanya Tuhan yang akan membalas semua kezaliman ini. Tunggu saja tanggal main, tiba saatnya pembalasan lebih kejam dari perbuatan.”

Tiga orang polisi menghampiri Badur, memegang kedua tangannya dan menggiring ke mobil tahanan.

Ratusan pengunjung sidang peradilan membubarkan diri. Ada dua kelompok pengunjung. Kelompok yang merasa senang atas putusan hakim terhadap politisi Badur yang sementara naik daun. Kelompok itu adalah mereka yang menjadi lawan politik Badur. Ada pula kelompok yang membela, merasa bersimpati, sebab mereka mengetahui betul tindak tanduk Badur dalam kehidupan bermasyarakat. Seorang yang sangat amanah, peduli atas setiap masalah rakyat kecil. Apalagi Badur adalah tokoh yang diharapkan mereka untuk maju dalam pemilihan orang nomor satu negeri Kelabu yang tidak lama lagi akan diselenggarakan.

“Ya sudahlah, apa yang mau diharapkan dari peradilan kita. Tai kambing bulat-bulat, apa boleh buat, namanya saja negeri kelabu, semua serba ndak jelas. Tuhan saja yang Maha Tahu, nanti peradilan-Nya akan turun dan tidak ada yang dapat terhindar.” Begitu komentar pendukung Badur.

“Kita ces dulu.” Kata Ramun, petinggi dari partai Kepiting, pengusaha sukses, seorang yang sangat berambisi menjadi orang nomor satu negeri Kelabu
“Ya mantap. Ha ha ha, akhirnya si Badur masuk sepuluh tahun. Pak Ramun mau dilawan. Ha ha ha ha. Kata Sudur, Ketua Partai Biawak, koalisi dari partai Kepiitng.

Hape ramun berdering
“Oh ia pak Hakim, beres pak, sementara disiapkan. Jangan khawatir. Masih sisa 500 juta kan pak. Kemarin itu sudah saya serahkan 1 M. Pokoknya gini pak, nanti malam ada yang akan mengantarkan ke bapak, ndak usah pakai transfer bank pak, ndak aman pak. Oh ia nanti itu sudah keseluruhan dana buat bapak dan teman-teman lainnya, nanti bapak yang bagi buat penyidik, penuntut. Jangan lupa mereka petugas lapangan yang menaruh barang itu di tas pak Badur. Oke mantap, bapak memang hebat, Badur sudah kena batunya. Ha ha ha ha.”

“Udah gini pak Sudur. Itu tadi telpon pak Sunu, hakim ketua. Jadi, nanti cairkan dana 500 juta dan malam nanti bawa ke rumahnya. Oke, sukses.”

Cerpen Karangan: Usman Hasan

Cerpen Peradilan Sesat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setitik Cahaya

Oleh:
Tatkala langit membiru perlahan, kelak sang raja mulai kembali ke daerah peristirahatannya setelah ia menguasai siang dengan berkahnya. Entah merasa lelah, bosan atau pun mendapat tugas di belahan lainnya.

Orang Misterius

Oleh:
Aku terheran-heran … Entah ilmu apa yang dipakai orang misterius itu. Setiap kali, yang jadi korbannya selalu ABG alias anak baru gede, mungkin karena darahnya yang masih segar, atau

Sebelum Senja

Oleh:
Aku berjalan dengan sepatu tanpa tali dan terbang menyusuri ladang jagung, teh dan padi yang mulai tunduk menguning. bersama hembusan angin teduh pagi itu. kemudian hinggap di ranting pohon

Dream Wanderer

Oleh:
Seorang pria tersentak dan tersadar, “apa yang barusan terjadi?” perasaan bingung menghantui pikirannya. Satu yang dia tahu, seseorang berusaha menyadarkannya dari sesuatu, ya sesuatu dari masa lampau. Pria itu

Lintang Kemukus

Oleh:
Garam Mogok Asin Aku garam. Bentukku macam-macam. Kebanyakan sudah halus dan siap tabur. Tapi di kampung-kampung, masih ada juga yang menggunakanku dalam bentuk kotak-kotak batangan. Mesti ditumbuk sebelum dicampur

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *