Peramal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 7 October 2017

Setelah membeli handphone baru, yang dilengkapi fasilitas internet. Petang itu, Roma bermain kartu-kartu bergambar di kamarnya. Sendiri. Lampu kamar menyala samar. Tapi justru itulah yang memberinya penerangan -pada alam bawa sadarnya untuk bekerja lebih giat lagi.
Entah apa yang sedang dilakukan, dititik-titikannya tinta itu pada sisi balik kartu. Setiap kartu memiliki kriteria yang berbeda untuk diberinya tanda-tanda yang beragam pula itu.

“Esok, aku jadi peramal”

Sepulang kerja, Roma bergegas memasang spanduk yang sudah dipesannya lebih dari seminggu lalu. Spanduk yang baru jadi itu masih terasa kehangatannya. Sebelumnya sudah dipeluknya mesra spanduk itu. Dan bau tekstil yang masih pekat merasuk ke dalam lubang hidungnya.
“Harum sangat…”

Seorang anak kecil yang kebetulan lewat berhenti menatap spanduk itu. Membaca kata demi kata, sebelum ia mengerti apa makna tulisan di muka spanduk. Begitu lama, Tertulis beberapa kata yang memang belum pernah dikenalnya, dan Meski sampai jenuh mengeja huruf demi huruf, ia tak kunjung menyerah.

“Hei…” Sapa Roma, melihat lelaki kecil yang berdiri di depan teras rumahnya.
“Kau sampaikan kepada kakak kau ya, aku buka praktek ramalan masa depan, ada jodoh, ada karir, horoskop dan sebagainya. ” Anak kecil itu berlari dengan riangnya. Bukan karena telah mengetahui apa yang sulit dimengertinya itu, melainkan karena ia karibnya Roma. Seringkali mereka berdua bermain di lapangan pada hari minggu sore. Juga turut anak-anak kecil lainnya.

Agar lebih menarik perhatian, Roma membingkai spanduk bisnisnya dengan lampu-lampu kecil yang berpendar berbagai warna. Di malam hari, lampu-lampu itu terlihat lebih mencolok. Dan sebagai gantinya, seseorang dengan tiada sengaja mencermati baik-baik setiap kata yang terpaut di spanduknya. Ada yang berlalu begitu saja, ada yang ragu-ragu mencoba jasa pelayanan Roma, ada juga yang sangsi pada kemampuan Roma, mengingat tak satupun terdahulunya pernah terlahir sebagai peramal, pun Ibunya tidak. Tapi dari sekian banyak orang lalu lalang itu ada juga yang tertarik.

“Sesuai hukum bisnis, pelanggan pertama mendapat potongan 20%, begitupun seterusnya, hingga batas akhir dari jumlah pelanggan yang ditentukan. Hanya 3 orang saja, tak banyak, Bagaimana, murah bukan?. Suatu kecelakaan yang bukan kecil lagi jika anda melewatkan masa-masa promosi ini” Roma, dengan segenap kemampuannya, mengucapkan kalimat yang baru dilafalkannya semalam sampai larut.
“Uhm… Bagaimana kalau tambah 10% lagi, terlalu mahal untuk sesuatu yang enigmatis dan nisbi belum mutlak kejelasannya!”
“Tidak, semuanya aku dasarkan pada kebenaran yang konkret!, kalau tak percaya, silahkan saja buktikan.”

Lelaki tambun dengan rambut gimbal itu menyandarkan dirinya di sofa, yang hampir seluruh permukaannya sudah terkikis. Kayu penopangnya juga terdengar berkeriutan, bahkan oleh sekedar terjadinya gerakan-gerakan kecil. Sebagai klien pertama, ia tak meninggalkan sedikit kewaspadaan sepanjang waktu itu. Suatu misteri berada dibalik dinding yang belum pernah orang lain menyingkapnya.

Beberapa lilin kecil dinyalakan. Meja tampak seperti kue ulang tahun. Roma mulai mengacak kartu di telapak tangannya. Beberapa detik, kemudian tiga kartu paling atas ia jakarkan dengan posisi terbalik di atas meja.
“Ambillah!”
“Kosong!” Ungkap lelaki tambun dengan nada terkejut. Sekali lagi, lelaki tambun itu mencomot kartu yang sudah diintruksikan padanya untuk diambilnya satu per satu.
“Apa ini?” Lelaki tambun menatap takjub kartu keduanya.
“Bukan main…” Roma menimpali, seolah menambah kesan magis pada makna gambar di kartu itu. Pemuda tambun penasaran mengetahui arti gambar kartu yang mencerminkan nasibnya kedepan.
“Apa artinya, terjemahkan!” Kartu bergambar gugusan bintang itu masih tergeletak saja menjadi pusat perhatian rasa takjub.
“Ini artinya… Konstelasi bintang Orion!” Lelaki tambun mengerutkan dahi, bertanya “Lalu artinya apa?”
“Kau punya umur panjang, bukan itu saja, perjalanan hidupmu akan bersinar terang. Tapi…”
“Tapi apa, katakan!” Lelaki tambun terpukau, matanya menyiratkan ribuan asa seketika itu pula.
“Bintang ada dikala malam, itu artinya, hidupmu akan gemilang jika kau berusaha bekerja sekeras mungkin, terlebih lagi dijam-jam malam.”

Lelaki tambun, keluar dari rumah Roma dengan senyum-senyum sendiri. Diagnosa tentang perjalanan hidupnya teramat menggembirakan hatinya. Sontak, seseorang yang melihatnya bertingkah kegirangan pun penasaran. Ingin tau apa rahasia dibalik itu semua. Sudah sewajarnya manusia punya rasa cemburu.

Orang itu masuk setelah lelaki tambun sudah hilang entah ke mana jejaknya -kalau tak pulang, lantas ke mana lagi. Sebelumnya telah dibacanya spanduk yang tergelar menggantung di atap teras.
“Pak Roma,” sapanya. Lilin-lilin di meja itu cukup menyakinkannya, bahwa Lelaki tambun yang barusan dilihatnya itu benar-benar bahagia dan bukan cacat psiko.
“Barusan saya melihat pelanggan Bapak, keluar dengan tampak girang sekali. Kalau Bapak berkenan, saya juga mau dibikin bahagia sepertinya.”
“Itu relatif, tergantung nasib Bapak dan cara Bapak sendiri menanggapinya. Bapak mau diramal toh?” Kini Bapak bersarung itu menatap bimbang.
“Diramal? Saya mau bahagia bukan diramal!”
“Tapi klien yang Bapak maksudkan tadi itu meramalkan dirinya!”
“Buat apa? Ramalan belum tentu benar. Maaf, saya kira ada kebahagiaan instan!” Kini Roma yang nanar, menatap heran Bapak bersarung.
“Maksudnya begini, Bapak melayani pesugihan!” Roma terdiam beberapa detik, kemudian entah dari mana, ide tiba-tiba terbesit di pikirannya.
“Oh… kenapa Bapak tak bilang dari tadi. Jangankan pesugihan, susuk asmara pun saya punya!”

Roma menyodorkan sehelai kertas berikut bolpoinnya kepada Bapak bersarung. Dan sebagaimana dengan yang dipinta Roma sebagai persyaratan, Bapak bersarung menuliskan segenap identitasnya. Sembari menekuni apa yang ditulisnya, mengingat-ingat kapan ia dilahirkan dan di mana tempatnya, nama ibu serta bapaknya, ia tersenyum-senyum sendiri. Disamping itu, juga ia bayangkan kemapanan rumah tangganya dikelak hari. Punya mobil, rumah, dan harta melimpah.

“Berapa?”
“Satu saja cukup.”
“Bagaimana kalau bayarnya nanti saja? Setelah uang gaib itu cair?”
“Maaf, sesuai peraturan, pembayaran harus disahkan terlebih dulu!” Bapak bersarung merogok sesuatu dari dalam sarungnya. Sebuah dompet didapatnya kemudian.
“Ini, semuanya 1000.000. Kapan bisa cair? ”
“Setelah bapak memenuhi prosedur yang disarankan. Sebagaimana pesugihan, Bapak perlu mengorbankan sesuatu.”
“Jiwa saya?”
“Bukan, tapi jiwa anak Bapak! Diumurnya yang menjajak 17 tahun, ia akan diperbudak Bangsa Jin.”
“Tapi anak saya sudah pada dewasa?”
“Kalau begitu, yang jadi korban pastilah cucu bapak!”
“Kasihan…”
“Tapi, bukan Roma namanya kalau tak dapat memperingan beban yang berbau dengan mistis. Sebenarnya ada satu cara lagi yang paling kondusif dan sederhana. Aku namakan ini jalur alternatif.”
“Apa Pak Roma?”
“Anda harus mengorbankan tenaga serta seluruh kemampuan Bapak! Mudah bukan? Singkat saja, seperti bapak musti membangun usaha, dan mengembangkannya dengan seluruh kemampuan yang Bapak miliki. Dengan begitu, saya jamin, Bapak pasti kaya.

Bapak bersarung, pun sama dengan klien pertamanya, keluar dari rumah -yang kini sudah diresmikan jadi rumah praktek itu- dengan senyum-senyum sendiri. Ia berjanji, sesampai di rumahnya, ia akan ceritakan semuanya kepada sang istri, meminta saran dan anjuran membangun usaha apa tepatnya.

Pagi itu, seperti biasanya, Roma pergi bekerja sebagai tukang kuli batu. Dan sepulang dari itu, betapa terkejutnya Roma. Lelah yang tertambat di raganya, letih yang juga turut melemaskan tubuhnya, seolah terlepas begitu saja meski tanpa dipijat. Di depan pintunya, menunggunya seorang gadis yang cantik. Roma mengerjap-ngerjapkan matanya, seolah tidak percaya.

“Ehh… Neng, sudah lama?”
“Tidak juga!” Jawabnya pendek, sebut saja sebagai Gadis berwajah bulat.

Si gadis berwajah bulat sedikit risih dengan posisi duduknya. Bukan karena ia dipaksa duduk menyerupai sebagaimana bintang iklan, karena ia sendiri pun suka duduk seperti demikian, tapi karena kursi tunggal yang ada sebagai tempat duduk itu sudah tidak layak lagi dipergunakan.
“Baiklah ambil satu kartu.”
Sambil menatap layar kaca handphonenya, si Gadis berwajah bulat mengambil kartu yang letaknya sudah diliriknya sesaat.
“Apa ini?” Si Gadis berwajah bulat terperangah. Sesaat ditatapnya skeptis Roma si pelamar. Kartu kosong.
“Santai saja, ambil sekali lagi, 2 kartu tersisa.” Si Gadis berwajah bulat menyambar satu dari dua kartu itu, dan untuk kedua kalinya, ia terperanjat. Kartu kosong.
“Terakhir.” Si Gadis berwajah bulat memggambilnya, sembari mulutnya menggamit kata-kata tanpa bersuara.
“Ini baru bergambar, cepat jelaskan apa artinya.”
“Kartu bergambar waru merah.” Sebut Roma pelan. Mengangguk-angguk sambil memilin-milin rambut tipis di dagunya.
“Ini artinya, kau akan menemukan cinta.”
“Aku sudah punya Cinta!”
“Entahlah, mungkin ini artinya pembaruan. Katakan saja, maaf, kau tidak nyaman bersama kekasihmu?”
“Lantas?”
“Jangan pernah memaksakan cinta. Kalau ada tanda yang berpotensi pada kode cinta, dari lain orang, itu artinya dialah Cinta barumu. Cinta sejati.”

Gadis berwajah bulat meninggalkan Rumah Praktek dengan wajah kebingungan. Berfikir-fikir mana baiknya, ia lepaskan kekasihnya yang selama ini bersamanya atau tidak, jika tanda yang dimaksudkan si Peramal padanya menjelma kenyataan.

Sebagai peramal tunggal di kampung, tempat praktek Roma semakin hari semakin ramai saja. Pelanggan yang datang, bukan saja dari kalangan dewasa sampai yang remaja, tapi anak kecil pun turut antusias meramalkan masa depannya, terlebih lagi soal cintanya yang masih lunak itu. Dan untuk yang dibawah umur itu, Roma menarifnya dengan tarif yang berbeda. Hanya 5000 rupiah.

Pada suatu malam yang tidak disangka-sangka, Roma dikejutkan dengan kedatangan seorang pria berdasi. Katanya, dia tidak datang untuk meramalkan dirinya. Roma menggigir, dikiranya orang itu adalah intelegen dari pihak hukum.
“Lalu, apa maksud kedatangan Anda kemari?” Tergagap Roma menanyakan.
“Saya hendak ucapkan terima kasih.” Seketika itu pula Roma tergugah. Matanya melotot, seseorang berdasi itu menyerahkan kopernya. Dia mengaku sebagai pelanggan pertamanya, yang kini sudah berjaya.
“Ini sebagai tanda terimakasihnya.” Dibukanya oleh Roma koper itu setelah seseorang berdasi berlalu dari rumahnya. Mula mula sempat ada prasangka yang mengindap hatinya, tapi itu hanya sesaat. Setelah dikocok-kocoknya koper yang dikiranya berisi bom itu baik-baik saja, hilanglah prasangka tersebut. Roma tercengang, tergeragap. Di dalam koper itu, ribuan uang tersusun rapi, baunya sangat menyengat. Bertanda masih baru. Dan selepas dihitung, ternyata keseluruhan jumlahnya 200.000.00, inklusif koper yang ia perkirakan sendiri harganya.

Lalu dimalam selanjutnya, yang ini Roma sudah memperkirakan datangnya, seorang Gadis berwajah bulat, yang pernah menjadi kliennya, mampir kerumahnya juga bukan untuk meramalkan diri, tapi untuk lain maksud, yang lebih spesifik.
“Bang Roma,”
“Bagaimana perkembangannya?” Selidik Roma, menyembunyikan sesuatu yang memang hanya perlu diucapkan dalam hatinya sendiri -sampai kapanpun itu.
“Saya mendapatkan tanda itu bang, cinta sejati saya!”
“Benarkah?”
“Ya, dan orang itu tak lain adalah abang sendiri!” Roma memasang ekspresi kejut. Agaknya ia sudah berlatih untuk itu.

Dua minggu lalu, selama berturut-turut, Roma, atas nama orang lain ia senantiasa mengiriminya pesan pendek bertema cinta. Kadangkala pesan itu berupa puisi yang eksotis, yang dicari di lembar koran-koran bekas, sehingga sulit ditebak jika itu semua hasil copy-paste. Atau juga hanya kata-kata gombal yang penuh alegori dan parabol. Pun itu semua bukan ciptaannya sendiri.

“Bagaimana bisa saya orangnya?”
“Seseorang bang, Dia tak mau menyebut namanya, selalu membawa-bawa nama abang. Katanya ‘Roma adalah orang yang tepat’ dia tak mau aku jatuh ke tangan yang salah katanya. Katanya ‘Aku bukan siapa-siapa, melainkan orang yang memberi petunjuk’ ”
“Baik sekali dia,” Roma menggigit pelan bibir bawahnya.
“Itu bukan orang suruhan Abang kan? Atau jangan-jangan itu ulah Abang sendiri?” Roma mendengus.
“Bagaimana Aku tahu nomormu? Aku ini orang pedalaman, dalam arti jauh dari teknologi!” Roma mengelak.

Tak seorang pun tau, selepas membeli handphone, nama Gadis berwajah bulatlah yang pertama kali Roma rujuk di mesin pencarian google. Roma memang tak pernah melakukannya sebelumnya, tapi dengan melihat teman-temannya bermain handphone, ia mengerti caranya. Dan setelah mendapatinya, dikeduknya informasi dalam dalam mengenai si Gadis berwajah bulat itu, hingga ia temukan nomor teleponnya.

“Kalau kau ragu denganku, tak usahlah kau permasalahkan semua pesan pendek itu.”
“Tapi, cinta sejati terlalu manis untuk disematkan!”

Di kamarnya, selepas pulangnya si Gadis berwajah bulat, Roma berjingkrak-jingkrak keranjingan. Betapa dengan mudahnya mendapatkan apa yang diinginkan di era modern ini. Beberapa bulan kedepan, ia akan kawin dengan Gadis berwajah bulat itu. Dan bisnisnya akan terus berjalan.

Cerpen Karangan: Riekhaa Dee
Facebook: facebook.com/syahrul.irfan.

Cerpen Peramal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Light at Formosa’s Sky

Oleh:
Mataku mata ikan, tak dapat terlelap malam ini. Sesekali mencoba memejamkan kedua bola mata namun pikiranku melayang. Terpaku memandang wajah malaikat-malaikat yang terlelap pulas di atas tikar tua. Maksud

Bumbu Sate Mbah Ijah

Oleh:
Embun pagi masih menyelimuti kotaku tercinta ini. Matahari juga masih enggan menampakkan sinar kokohnya. Aku juga masih enggan untuk bangun. Tetapi, dari dalam kamar aku mendengar suara kelontangan di

Ujian Untuk Andin

Oleh:
Malam semakin mencekam,,angin bertiup menampar alam, hingga menusuk tulang rusuk yang semakin hari semakin rapuh dengan tangan yang lebam. Ku lihat taburan bintang yang indah di atas langit sana,

Taruhan Cinta

Oleh:
Aku masih berdiri dengan kakiku disini, menatap lurus bangunan megah diseberang jalan itu. Ya, kampus tercintaku. Meski tahun semakin membuatnya terlihat gagah, namun tak begitu membuat kakiku tetap kokoh

Indonesia Dalam Bus

Oleh:
Seorang penjual Koran naik dari pintu depan, dari pintu samping naik pula seorang pedagang asongan saling sikut dengan pengamen jalanan, tak ada yang peduli. Semua wajah terlihat awas, dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *