Perbedaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 October 2012

“Kapan yach kehidupan senang dan bahagia berbalik arah kepadaku…?”
Ya… itulah kalimat yang senantiasa selalu ada dan hadir di benak perempuan yang senang berpakaian warna pink ini. Ketika dia duduk di teras rumahnya yang agak kusam dan kurang tatanan rapi. Di sekitarnya tumbuh pepohonan dan serangkaian pot plus bunga yang beraneka ragam warnanya. Ia memang suka sama bunga. Terlebih bunga Rose. Dengan penuh semangat dia tempatkan bunga rose kesayangannya di beranda rumahnya.
Ooo.ia yach, nama perempuan bernuansa pink dengan brouse bentuk Rose di kerah bajunya ini adalah nayla. Nayla adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Nayla sekarang sudah duduk di bangku kuliah tepatnya di Universitas ternama yang ada di Makassar yaitu Universitas Hasanuddin (UNHAS) Fakultas Ekonomi Jurusan Management Akuntansi semester 4.
”Nay, mau kemana ceh ko cepat-cepat amat jalannya???” Lia berteriak ke arah Nayla yang sedang terengah-engah berjalan di pinggir jalan menuju fakultasnya. Lia adalah sahabat Nay yang sangat mengerti sifat dan tingkah laku Nay. Lia juga sudah tahu latar belakang dan Kepribadian Nay.
”Bentar dulu Li, saya mau ke Fakultas dulu. Tungguin di tempat biasa yach…” sambil menjawab pertanyaan Lia ia pun terus berlari menuju Fakultas.”Kamu kenapa? Sebenarnya ada apa? Tadi ngapain di Fakultas?” Lia langsung ceplas-ceplos bertanya ke Nay. Berbagai pertanyaan melontar dari mulur Lia. Maklum Lia orangnya mank ceplas-ceplos. Itu yang buat Nay demen banget dengan sahabatnya ini.
”Tadi ditelpon sama pak Ilham disuruh datang di Fakultas untuk tanda tangan Bea Siswaku.” sambil memasukkan sepotong bakso ke mulutnya.
”Cie…… dapat Bea Siswa nech yeee……” sambung Lia lagi
Nay memang salah satu Mahasiswi berbakat dan Pintar di Fakultasnya. Jadi wajar saja dia tiap semester selalu mendapatkan Bea Siswa. Dengan kesederhanaan yang dimiliki Nay membuat tidak sedikit temennya yang suka bergaul dengannya. Dia baik, ramah, ceria, dan penurut. Tapi, kadang sich keras kepalanya kambung tiba-tiba.
Nay juga jarang marah, jengkel ceh sudah keseringan. Maklum banyak tuch temen cowoknya yang jail-jail abiz dech.
Ngomong-ngomong tentang teman cowok ya jangan menafsirkan yang ngga-ngga ya…. maksudnya teman sekelas Nay yang cowok. Tapi teman cowok di kelasnya maupun di jurusannya pada suka tuch sama dy. Tapi kenapa ya Nay belum punya cowok?
Sekitar enam tahun yang lalu sewaktu Nayla masih duduk di bangku SMP, dy mempunyai teman dekat yang juga sekelas dengan dy. Menurut Nay, dy sangat baik dan pintar. Kelas 1 SMP hampir saja dy dikalahkan oleh temannya itu. Untungnya Nay berhasil menduduki peringkat 2 dan dia peringkat 3. malu-maluin donk dikalah sama cowok. Hihihih…….
Tapi tunggu dulu…. kenalkan saja nama cowok itu Rio. Ya… Rio dimata Nay sangat perfect. Melebihi yang lainnya. Nay dan Rio berteman baik dan selalu barengan. Suatu ketika Rio mengatakan perasaannya ke Nay kalau Rio juga punya perasaan yang sama ke Nay sama seperti yang dirasakan Nay ke Rio, nay merasa belum bisa jalani hubungan yang serius dengan lawan jenisnya dikarenakan umur Nay masih terlalu dini untuk itu.
“Apa salahnya kita coba Nay, siapa tahu kita bisa berbagi dalam suka maupun duka. Lagian kamu juga suka kan sama saya?” Kata Rio hari itu disaat sekolahnya lagi mengadakan rapat tahunan. Otomatis siswa tidak belajar. Tapi bukan berarti sekolah libur loh. Hanya saja proses pembelajaran break untuk beberapa jam saja.
“Okey Rio, saya akui saya kagum sama kamu, saya senang berteman sama kamu, kamu baik dan sopan. Tapi saya masih ragu sama perasaan saya Rio. Apakah dengan saya mengagumi kamu itu berarti saya suka sama kamu?”
“Baik, saya minta sedikit waktu untuk jawaban ini. Paling tidak saya bisa memastikan perasaan saya ini hanya sebatas kagum apa benar-benar suka sama kamu. Key……..” Nay mencoba meyakini Rio agar tidak kecewa atas tanggapan Nayla.

Seminggu dilalui Nay dengan sebuah pertanyaan yang masih terlalu dini dipikirkannya. Hingga akhirnya dy bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan yang entah bagus baginya ataukah tidak.
“Rio, saya sudah pikirkan semuanya. Saya akan mencoba berbagi denganmu baik suka maupun duka.”
Hati Rio seakan-akan terbang di awan mendengar penuturan Nay gadis yang disayanginya sejak dulu itu.
Namun terkadang kenyataan berbalik arah dengan keinginan manusia. Termasuk Nay dan Rio. Kenyataan yang membuat mereka berbeda dan tidak bisa bersatu. Namun demikian Nay sangat menyayangi Rio terlebih Rio pun demikian.
Suatu hari menjelang acara perpisahan sekolah Nay mengirim surat kepada Rio yang isinya :

“Sebelum membaca isi surat ini, saya harap bacalah dengan sebuah senyuman dan jangan salahkan takdir.
Maaf sebelumnya, bukan maksud saya tidak menghargai kamu, bukan juga saya bermain-main dengan menulis surat ini, akan tetapi saya takut bertatap muka dengan kamu hanya dengan bicara seperti ini. To the point saja, saya maupun kamu tahu kan kalau kita tidak akan bisa bersatu? Meskipun kita terusin ini hubungan akan tetapi kita tidak akan bisa bareng selamanya. Tidak ada yang menjamin kita bisa selamanya hidup berdampingan. Jujur, saya benci dengan cinta yang tidak bisa termiliki. Sebelum terlanjur hati ini tidak bisa berpisah denganmu, saya ingin biar saya yang terpaksa pergi untuk meninggalkan kejadian perih yang akan saya hadapi nantinya. Kamu mengerti kan apa maksud saya??? Kamu yang terindah dalam hidup ku dan kamu orang pertama yang mengajari saya bagaimana bisa mengerti sesama, bisa berbagi dalam suka dan duka. Saya menjauh bukan berarti saya sudah tidak sayang sama kamu, akan tetapi saya merasa tidak akan sanggup hadapi kehidupan selanjutnya bersama kamu. Saya tidak bisa bicarakan ini langsung di hadapan kamu. Saya tidak sanggup melihat tatapan matamu yang sangat menyayangiku. Rio, ada yang bilang Tuhan itu suka ngga adil. Ada juga yang bilang…takdir suka mempermainkan orang. Suatu saat Tuhan pasti adil dan suatu saat takdir akan berusaha memperbaiki semuanya. Bener kan? Salam hangat dan sayang selalu dariku.
NayLa

Meskipun dengan linangan air mata dan kepedihan hati saat Rio membaca surat Nay, Rio mengerti mengapa Nay tiba-tiba mengiriminya surat. Rio juga sadar nggak akan mungkin dy ikut Nay lantaran keyakinan yang dimilikinya dan keluarganya terlalu dalam. Dy juga berpikir betapa sulitnya saat-saat yang bakal dilalui Rio tanpa Nay disisinya. Akhirnya Rio dengan kesabaran hati bisa menerima kenyataan pahit harus berpisah dengan orang yang pertama kali memikat hatinya.

Acara perpisahan pun sejam lagi diadakan, Rio berjalan menghampiri Nay yang sedang duduk termenung di salah satu kursi undangan di halaman pekarangan sekolah. Rio mengajukan sebuah kado berbungkus desaign bunga Rose denga pita berwarna pink sesuai dengan warna kesukaan Nay.
“Apa ini Rio?” sambil mengambil kado tersebut Nay pun bertanya dengan nada yang sangat lembut.
“Kado terakhirku mungkin. Kado ini tolong disimpan baik-baik yach, meskipun harganya tidak seberapa tapi saya ngasihnya tulus dan ikhlas. Kado itu tanda sayang saya ke kamu selamanya.” Tanpa kata-kata dari Nay, Rio beranjak pergi meninggalkan Nay .
Tanpa membuang waktu lebih banyak Nay segera membuka bingkisan dari Rio itu. Alangkah terkejutnya Nay ketika melihat Rose itu. Indah dan diselimuti bentuk hati. Tanpa tersadari air matanya pun jatuh ke pipinya saat membaca sepilah kertas dalam bingkisan itu. “ Kalau sosok itu tak lagi terjangkau, haruskan melepaskannya? “
“Saya janji, Rose ini akan menjadi saksi setiap perjalanan hidup saya, dan akan menjadi teman berbagi saat suka maupun duka.” Tersedu-sedu Nay pun mulai mengeluarkan kalimat yang sangat pahit.
Kurang lebih enam tahun dilalui Nay tanpa pengganti Rio. Nay pun masih sering mengingat sosok orang yang selalu menemani masa-masa Nay duduk dibangku SMP. Tapi semenjak kuliah, Nay dan Rio kembali berkomunikasi lagi. Mereka akrab sekali melebihi dulu. Mereka sering ketemu, jalan-jalan dan sering makan bareng. Sampai suatu ketika Rio kembali mengungkit kisah mereka yang kurang lebih enam tahun yang lalu. Hingga Nay kembali pada kepedihan yang mendalam.
“Saya masih sayang kamu Nay, sampai sekarang tak seorang pun dapat menggantikan posisi kamu dihatiku sama seperti janjiku yang dulu.” Rio berkata sambil menatap dalam-dalam mata Nay.
“Saya juga sebenarnya merasakan apa yang kamu rasakan Rio. Cuma, mau dilanjutin atau tidak sama saja kita tetap tidak akan bisa bersama. Trus apa gunanya coba kita jalani hubungan yang lebih serius kalau akhirnya kita terpisahkan oleh keyakinan kita masing-masing?” sambil menangis tersedu Nayla pun membalas pernyataan Rio.
Memang, hal yang membuat Nay dan Rio sulit bertahan adalah keyakinan. Mereka sebenarnya berbeda keyakinan. Nay Cuma berpikir bahwa saingan terberatnya hanya keyakinan itu. Hanya satu perkara: keyakinan! Mereka tidak pernah memperhitungkan akan datang perkara-perkara lain di dalam kehidupannya. Mereka tidak pernah berpikir akan ada orang ketiga dalam hidupnya. Mereka tidak pernah memperhitungkan hal itu. Mereka sangat sulit untuk disatukan karena mereka juga sangat kuat dengan keyakinannya masing-masing. Nayla seorang Akhwat dan Rio entah apa namanya, yang jelas Rio seorang pengurus gereja. Dengan cara apapun mereka tidak akan bisa bersatu kan?
Nay sering menyuruh Rio mencari pengganti dirinya agar Rio tidak kesepian. Tapi percuma, Rio tetap saja masih sendiri dan masih tetap pada pendiriannya kalau dia akan mempertahankan Nay. Bagaimana bisa, cara satu-satunya hanya menyatukan keyakinan namun it’s impossible.
Begitu banyak hal yang terjadi selama ini. Rasanya seperti melewati samudra besar dengan rakit kecil. Salah sedikit saja, dia bisa tertelan hidup-hidup ke dalam lautan yang bernama kehidupan. Begitu banyaknya peristiwa membuat Nayla merasa pikirannya hanyalah kecil. Begitu kecil dan sempit. Di dalam panjangnya waktu, Nay hanya bisa membuat otaknya berpikir akan satu hal. Kehilangan…. perasaan kehilangan yang begitu menusuk. Nay takut akan itu.
Suatu ketika sinar matahari dengan teriknya memancar disekitar lingkungan kampus, tiba-tiba kepala Nay sakit dan akhirnya tidak sadarkan diri. Nay dilarikan ke rumah sakit terdekat di kampusnya. Nay pun rawat inap di rumah sakit. Dengan keadaan yang semakin melemah Rio masih terus berada disamping Nay dengan keyakinan Nay pasti sembuh.
“Nay bangun, lihat saya berada disampingmu, menemanimu dan selalu bersamamu. Janjiku telah saya penuhi akan selalu berada disampingmu lewati segala kesenangan dan kesusahan yang ada. Ayo Nayla bangun, Plizzz.” Tak sanggup Rio menahan sedih yang dipendamnya akhirnya jatuh juga air mata itu.
“Yang sabar ya Rio, kita disini semua juga merasa bersedih. Mengapa Nay selama ini sakitnya dan tidak sadarkan diri.” Lia pun terus berada disamping sahabat yang disayangi dan dikaguminya itu. Mengapa tidak, Nay pendengar pertama setiap curhatan Lia, Nay perfect banget ngaci solusi setiap permasalahan yang dihadapi Lia. Baik masalah pribadi, pacarnya, keluarganya, dan yang lainnya.
“Saya tidak tahan melihat Nay seperti ini Li, rasanya tulang-tulangku remuk-remuk seperti sudah dipukuli.” Itulah perasaan yang paling dalam dari hati sanubari seorang Rio.
Tiga hari dilalui Nay dengan keadaan koma, hingga akhirnya dia pun sadarkan diri. Tubuhnya yang segar kini mulai lemah, lunglai dan seperti mayat hidup. Namun demikian, dengan keadaanya yang sekarang tidak membuat Nay sesedih Rio dan Lia sahabatnya. Nay selalu saja tersenyum dan masih bisa bercanda bersama Lia. Tiap kali ada yang menjengutnya, Nay selalu kelihatan lebih tegar dibandingkan dengan teman-temannya. Bahkan Nay sempat mengajak Rio pergi di lapangan luas malam-malam untuk melihat bintang. Katanya Nay kagen sama bintang. Siapa tahu saja sinarnya bintang bisa menentramkan hatinya.
Hingga waktu yang telah digariskan sang khalik telah tiba, Nay menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rio disaat Nay ingin bermanja-manjaan dengan Rio. Nay merasa lega meskipun dengan keadaan yang tidak memungkinkan Nay masih bisa bersama Rio, masih bisa melihat Rio tersenyum dihadapannya. Dengan itu Nay bisa pergi dengan tenang.
Sudah tidak terhitung banyaknya air mata yang keluar. Bagaimana penyesalan merobek-robek hati Rio. Bagaimana perasaan lambung yang menghantui emosinya. Bagaimana keputusasaan menyerap semua harapannya yang tersisa. Bagaimana inginnya dia memutar ulang waktu dan membuat dirinya bisa mencegah kepergian Nay. Bagaimanan perasaan kehilangan menusuk jantungnya beratus-ratus kali. Bagaimana dia mengharapkan adanya bintang jatuh yang bisa melemparnya ikut keluar angkasa….menjauh dari semua kepenatan yang ada.
Dengan langkah tak bersemangat Rio berjalan menghampiri Nay di pembaringan terakhirnya. Rio terjatuh kaku disamping pembaringan terakhir Nay sambil meletakkan serangkaian bunga Rose kesukaan Nayla dan seutuh bintang penerang kehidupan Nay selanjutnya.
Masih berbekas dengan jelas di matanya, bagaimana pertahanan tubuh Nay runtuh saat penyakit kanker otak itu menjangkitnya. Dengan mata tertutup pun, dia bisa membayangkan bagaimana rapuhnya dia saat tahu orang yang paling dicintainya pergi begitu saja. Masih tersisa rasa sakit hati yang selalu menggerogoti hari-harinya saat harus hidup tanpa Nay.
Sebelum Rio meninggalkan tempat itu, Lia sempat memberikan sepucuk surat yang sempat ditulis Nay sebelum kepergiaannya.
Sekarang saatnya Tuhan adil, dan takdir mulai memperbaiki semuanya….
Dulu saya pernah bilang kalo saya benci dengan cinta yang tidah bisa memiliki kan?. Tapi sekarang akhirnya saya sadar, ternyata memang ada cinta yang tidak harus memiliki. Sy mungkin bukan chairil anwar yang bisa menyerukan kata-kata cinta dengan lantang. Tapi saat ini, sy mencoba menjadi seorang Nay yang ingin menyatakan sayang untuk yang terakhir kalinya pada seorang cowok bernama Rio.
Selama tujuh tahun ini ternyata sy terjerat cinta yang oleh kebanyakan orang disebut sebagai cinta terlarang. Cinta yang sampai mati pun nggak akan pernah bisa saya lupakan. Cinta terakhir yang selalu membuat sy merasa he’s the one.
Tapi sekarang sy harus pergi. Pergi jauh…sy harus pergi meninggalkan cinta itu. Meninggalkan semua kenangan, menghapus semua waktu dan membiarkan takdir memperbaiki semuanya. Inilah jalan terbaik buat saya dan kamu.
Jangan tanya seberapa sedihnya sy! Karena sy pun nggak bisa menghitung tetes kesedihan itu. Maaf sy nggak bisa ada disamping km lagi. Maaf…sy nggak bisa nepatin janji buat selalu ada buat km. Maaf… tas semua luka dihatimu.
Terima kasih… atas semua cinta. Terima kasih … atas semua senyum dan kesabaran. Terima kasih… atas semua pengertian.
Tapi, kamu nggak perlu setegar itu! Setiap mau nangis, cari bintang dan liat Rose itu. Bintang-bintang itu yang akan menjadi pengganti senyum sy. Jangan lupa, di mana pun itu, ada seseorang yang sayang banget sama km, satu hal yang sy minta sama km. Setelah ini, apa pun yang terjadi , km harus bahagia… km mesti bahagia…
Nayla

“Nayla, kamu berhasil bersamaku disaat sisa-sisa hidupmu sementara engkau tinggalkan saya disini sendiri terpaku merindukan orang yang selalu tersenyum untukku. Mengapa engkau tega meninggalkan harapan yang akan kita buat menjadi nyata Nay?”
Hanya Rose peninggalan Nayla yang dipunya Rio sekarang. Dengan Rose itu Rio pun menganggap Nay masih terus memberi semangat dan motivasi buat hari-harinya.
Seandainya kenangan bisa dibukukan. Pasti akan jauh lebih baik. Kalau setiap saat ingin melihatnya, tinggal buka lemari pendingin saja. Kenangan itu masih akan tersimpan rapi disana

Saat serpihan kenangan perlahan menghilang…. itu pasti karena waktu…

_________End_________

Cerpen Karangan: Jhazmin
Blog: http://www.jhazmhyn.blogspot.com

Cerpen Perbedaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


S pangkat 2 (SS)

Oleh:
Saat ini Aku sedang duduk di kelas 6 SD. Tetapi, pengertianku akan cinta begitu dalam. Beberapa kali Aku dekat dengan cowok. Sekarang Aku sedang sangat dekat dengan adik kelasku

Sebuah Kisah Klasik

Oleh:
Sejak dulu aku selalu menatap matanya dari jauh. Tapi aku selalu tak tahu bagaimana cara untuk menyapanya terlebih dulu. Aku selalu terdiam ketika dia berdiri di sampingku sambil menunggu

Citarasa Cinta Masa SMA (Part 1)

Oleh:
Namanya Aldiara Sanjaya. Begitu sempurna untuk dikagumi para kaum hawa di sekolahku. Secara fisik, ia tinggi, atletis dan jelas saja tampan. Seorang yang berotak encer dalam bidang akademik dan

Munafik

Oleh:
“Kau harus segera pulang.” Katanya padaku. Aku mengambil baju yang tergeletak tak berdaya. Tubuhku tak terbalut sebenang pun. Kututupi lekukan tubuhku satu persatu hingga berpakaian lengkap. Aku mengecupnya lembut

Media Sosial

Oleh:
Saat itu aku sedang duduk di kelas, mereka semua menatap layar-layar itu dengan serius. Berteriak, dan selalu mengejek-ngejek. Entah mengapa mereka semua melakukan itu. Apa ini semua adalah perilaku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *