Perempuan Buta Itu Bernama Hening

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 16 June 2017

Hening, begitulah namanya. Ia adalah gadis kecil berumur 17 tahun yang mengalami gangguan mata sejak kecil. Ia menderita tuna netra. Wajahnya yang polos dan sikapnya yang baik tak sebaik nasibnya. Ia ditinggal oleh orangtuanya sejak umur 9 tahun.

Ketika itu, rumahnya dibakar oleh orang yang ingin menuntut balas terhadap orangtuanya. Usut punya usut, Bapaknya Hening seorang depkolektor sedangkan ibunya seorang pembantu rumah tangga. Pak Amin, begitulah nama dari Bapaknya Hening, ia terpaksa melakukan pekerjaan yang keras dan kontroversi ini yakni menjadi seorang depkolektor. Dan ternyata, ada yang dendam dan sakit hati dengan Pak Amin, orang itu membakar rumah beserta isinya saat tidur. Dan yang selamat hanya Hening, sungguh tragis.

Api yang membakar rumah, teriakan histeris sang ibu yang melihat bapaknya terbakar selalu menghantui pikiran Hening. Meskipun tak bisa melihat, suara itu selalu terngiang-ngiang membuat hari hari Hening menjadi kacau dan sakit saja.

17 tahun berlalu..
Hening diasuh oleh tetangganya karena hening tidak punya saudara. Tiap hari ia membantu jualan Mbok Parti, begitulah nama Pengasuh Hening. Tetapi ekonomi yang pas-pasan dan tuntutan hidup yang makin sulit, membuat Mbok Parti kebingungan. Ia bimbang antara mengasuh Hening atau menyerahkannya ke Pak Broto (Bos Juragan Tahu Terkenal).

“Malang benar nasibmu, ning. Matamu tak bisa melihat, orangtuamu mati terbakar bersama rumahmu. Aku harus bagaimana? Aku ingin sekali mengasuhmu seumur hidupku tapi ekonomiku susah, ning. Seandainya saja, orangtuamu masih ada, kini kau pasti bahagia meskipun tak bisa melihat” Kata Mbok Parti sambil mengusap air matanya yang terus saja berjatuhan. Ia menangis. Sedih hatinya melihat Hening begitu menderita.

Di pinggiran jalan, Hening yang tunanetra jualan minuman-minuman dingin, berharap ada sopir atau orang yang iba yang akan membeli minumannya. Untung yang didapat juga tidak besar paling-paling kisaran 2 ribuan/botol minuman. Itu pun juga jika tidak ketipu, karena tak bisa melihat, ia hanya berharap kejujuran dari pembeli.

Begitulah hari-hari yang dilewati Hening, ia pasrah saja kepada Allah, berharap kelak akan diberi kebahagiaan. Tetapi tiba-tiba saat jualan, ia diculik pemuda kemudian dibawa memakai mobil.
“Mau apa kalian? Apa salah saya? Tolong.. tolongg” Hening berteriak
Tetapi teriakan itu percuma, karena ia langsung dibungkam memakai lakban. Kasihan benar nasibnya. Adakah yang akan menolongnya…

Mobil pun terus melaju kencang membawa Hening sedangkan Mbok Parti kini panik kebingungan dicampur kesedihan tiada bertepi, Si Hening hilang dari tempat biasanya ia jualan. Mbok Parti menangis, pikirannya hancur dan ia pun bingung mau mencari ke mana Hening itu.
“Ning,.. Kamu di mana? Mbok di sini Ning?.. jangan tinggalin Si Mbok..” Mbok Parti meratapi kesedihannya.

Mobil yang membawa Hening berhenti di depan rumah Pak Broto. Ternyata Pak Broto merupakan sindikat penjualan manusia sedangkan pekerjaannnya yakni sebagai bos jualan tahu hanyalah kedoknya. Hening direncanakan dijual ke Batam untuk dijadikan P*K. Ia diikat tangannya dan dimasukan ke sebuah gudang besar belakang rumah. Dan ternyata di sana banyak sekali wanita yang disekap.

Tetapi di antara wanita-wanita itu, ada polwan yang berpura-pura disekap untuk mencari barang bukti sehingga kejahatan Pak Broto dapat terungkap. Dan rumah Pak broto pun sudah dikelilingi polisi yang menyamar sebagai preman. Walaupun begitu, Pak Broto punya puluhan preman juga yang bekerja untuk menjaga rumahnya.

Polwan itu merasa iba pada Hening karena tak menyangka ada wanita buta yang ikut disekap, Polwan yang bernama Briptu Anggi, berniat menyelamatkan Hening.
“Siapa namamu? Tega sekali si Broto itu,” Tanya Briptu Anggi
“Namaku Hening. Apa salah saya, mengapa saya disekap di sini” Hening menjawab dengan suara terbata-bata dan takut. Air matanya mengalir menandakan betapa besar kesedihan yang dihadapinya.
“Aku polisi. Aku sedang menyamar, ning. sebentar lagi rumah ini akan dikepung. aku sudah memiliki video ini. ini sebagai bukti kejahatan Pak Broto” Briptu Anggi sambil menggerakan kacamata yang ternyata bukan kacamata biasa. kacamata itu memiliki kemampuan merekam untuk beberapa menit.

Benar saja, tiba-tiba rumah Pak Broto dikepung polisi berpakaian preman. kontak senjata tak bisa dihindari, polisi melawan anak buah pak broto pun terjadi.
Dar.. Dor.. Dar.. Dor peluru saling saut maut terus menerus
Hingga akhirnya, anak buah Pak Broto dapat dilumpuhkan meskipun harus ada yang tewas. Nyawa hening pun terselamatkan. Kini ia dibawa oleh Briptu Anggi, dikenalkan kepada kakaknya yang ternyata aktivis sosial bidang tunanetra. wajah hening yang cantik dan senyumnya yang manis semakin membuat Alfin (kakak dari briptu Anggi) jatuh cinta. Hening dilamarnya dan akhirnya mereka pun menikah. Hening mendapatkan kebahagiannya yang selama ini ia impi-impikan.

Tetapi apakah kaum tunanetra, nasibnya akan sebaik Hening? Atau sebaliknya? Kaum tunanetra terpaksa turun ke jalan-jalan sambil mengharap belas kasih manusia yang bisa melihat dunia? Mereka terus berjalan dan di jalanan mereka mungkin bertemu pengemis lain. bisa pengemis yang benar-benar pengemis atau mungkin pengemis professional yang semata-mata ingin mengakali dengan perasaan iba. Begitulah kaum tunanetra itu akan berjalan, ia dipaksa untuk terus berjuang, dan semoga makin banyak yang akan peduli dengan dirimu. Bukan masalah nominal atau takut pengemis professional, jika mereka buta atau cacat lainnya haruskah kita berpikiran seperti itu? Uang recehan kita tak bisa menyelamatkan hidup mereka tetapi bisa menggembirakan hati mereka. Siapa yang akan menang di dalam dirimu, hati nurani atau hati yang buta?

Cerpen Karangan: Kang Nihat
Blog: www.kangnihat.wordpress.com

Cerpen Perempuan Buta Itu Bernama Hening merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Langit Menjadi Tanah

Oleh:
Ku pandangi langit yang cerah pagi ini, “hari yang cerah” gumamku. Ku pandangi lagi jalan tanah di dekatku, “Becek, tadi malam hujan,” gumamku kembali. “Koran, koran!” teriak penjual koran

Secercah Asa

Oleh:
Saat itu, aku masih berusia 9 tahun. Ayahku sudah meninggal, beliau hanya mewariskan malaikat tanpa sayap padaku, Ibuku. Aku sudah merasakan kerasnya hidup dimana anak-anak seusiaku hanya menikmati harta

Pertemuan 5 Sahabat

Oleh:
Suara Adzan Mengalun Indah memanggil hamba Allah untuk menjalankan sebuah kewajiban yaitu sholat subuh. Sejenak Sang surya menampakkan cahaya terangnya. Suara ayam berkokok mengiri kemunculan sang surya. Suasana pagi

Dr. Herman And The Seven Manisah

Oleh:
Namanya Dr. Herman, lengkapnya Dr. Herman Suherman, S.Pd.M.Pd.M.Phill, gelar akademiknya banyak. Namun tiada yang menyangka jika bertemu dengannya orang akan mengira dia hanya seorang Mahasiswa Pascasarjana, maklum usianya baru

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *