Perempuan Dalam Foto Itu Tersenyum

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 16 July 2014

Setelah lama memandang sebuah foto di tangannya, laki-laki itu sadar hari sudah memudar. Maka dia beranjak turun dari kamar, bergegas menuju warung yang ada di bawahnya. Langkahnya sedikit goyah dan wajahnya kusut karena seharian dia duduk mengurung diri, tidak makan, minum, apalagi mandi. Dia turun sekadar membeli segelas kopi dan sebungkus nasi. Lalu pergi ke kamar mandi sebelum berbalik mengurung diri. Rutinitas yang dilakukannya dari hari ke hari.

Langit senja menyapanya ketika dia turun dari kamar. Sekawanan burung melintas, pulang kembali ke sarang. Anak-anak kecil pada berlarian mengejar satu sama lain, memakai sarung dan telekung, ke arah masjid tidak jauh dari sana. Beberapa pekerja terlihat bersepeda, sisanya berjalan, pulang dari pabrik di seberang.

Warung yang dituju laki-laki itu selalu ramai pada waktu-waktu demikian. Kaum laki-laki asyik duduk-duduk, mengobrol melepas lelah, ditemani gelas kopi, piring gorengan dan nasi, juga batang rok*k yang disulut api. Terkadang suasana kian ramai ketika salah satu berseloroh dan gelak tawa meledak. Namun, suasana itu mendadak mereda, ketika laki-laki itu berdiri di ambang warung. Orang-orang diam menatapnya selagi laki-laki itu berjalan pelan mendekati pemilik warung.
“Pesan kopi dan nasi. Dibungkus,” katanya pelan dan dalam.
“Kamu tampak lesu sekali, tidak seperti biasanya. Kamu baik-baik saja Mas?” tanya pemilik warung sambil menyiapkan pesanan.
“Tidak. Saya tidak baik-baik. Sudah lama saya tidak baik-baik saja.”
“Beristirahatlah, atau perlu saya temani ke dokter?”
“Tidak, terima kasih, saya tidak suka mereka.”
“Atau mau dipanggilkan mantri…”
“Tidak! Saya tidak mau mereka terluka seperti tempo lalu!”
Teriakan laki-laki itu mendatangkan sepi yang menghardik seisi warung. Mereka terdiam. Suasana pekat. Beberapa ada yang berani menatap. Beberapa yang lain tampak berbisik, sambil mencuri-curi mata kepadanya.
“Baiklah, tapi tolong jangan teriak-teriak di sini. Saya tidak mau para pelanggan merasa tidak enak Mas,” kata pemilik warung menyerahkan pesanan.
“Maaf, saya tidak sadar,” wajahnya menunduk, “oh iya, ada pisau?”

Setelah membayar pesanan dan membawa sebilah pisau yang dipinjam, laki-laki itu bergegas kembali ke kamar. Suasana mereda. Obrolan dan seloroh mulai timbul setelah tenggelam dalam detik-detik yang pekat. Beberapa orang duduk mendekati pemilik warung.
“Sampai kapan kamu menyewakan kamarmu ke laki-laki itu?”
“Ya, sampai dia memutuskan untuk pindah.”
“Kamu tidak khawatir?”
“Khawatir apa?”
“Dia membahayakan penghuni rumah, juga orang di sekitarnya.”
“Tidak, saya percaya dia tidak akan melakukan macam-macam.”
“Tapi, dia gila!”
“Kalau memang gila, lantas kenapa? Dia tetap bisa berlaku seperti orang pada umumnya. Dia mengerti jumlah uang yang akan dibayarkan kalau membeli sesuatu di sini. Dia juga bercakap-cakap seperti kalian. Selama tidak melakukan hal yang membahayakan, apa bedanya?”
“Kamu tidak mengindahkan kejadian tempo lalu, saat dia mengamuk ketika kita membawakan dokter ke kamarnya dan dokter itu pulang dengan luka.”
“Bagaimana tidak mengamuk, kalian membawa dokter jiwa tanpa sepengetahuannya, pun tanpa setahuku, sebagai induk semangnya. Lalu memaksanya pergi ke rumah sakit jiwa. Jika saya jadi dia, pasti saya melakukan apa yang dia lakukan.”
“Kami membawanya karena khawatir dia terguncang jiwanya.”
“Karena ditingggal mati pacarnya?”
“Iya.”
“Saya rasa kalian yang terlalu berlebihan, dia tidak gila. Dia normal.”
“Ya, terserah kamu saja. Saya cuma khawatir dia mendadak ngamuk dan melukai orang-orang di sini. Tadi juga dia meminjam pisau, kenapa kamu malah meminjaminya?”
“Dia pinjam pasti karena ada keperluan, tidak perlu lah berpikir macam-macam.”
“Kamu terlalu mudah menyepelekan sesuatu. Hati-hati.”

Laki-laki itu melihat kerumunan mereka dari balik jendela. Senja sudah benar-benar larut oleh malam. Lampu jalanan mulai menyala, menerangi satu dua orang yang berjalan berdua. Penjual nasi goreng terlihat mendorong gerobaknya, berpapasan dengan penjual sekoteng dari arah sebaliknya. Kendaraan tidak sering tampak, hanya sesekali lewati jalanan yang lengang.

Udara malam masuk dari jendela kamar. Laki-laki itu duduk diam menghadap jendela. Sebuah foto di tangannya. Matanya memandang sosok yang tersenyum. Semakin lama dia memandang, semakin hanyut dirinya di angan-angan. Keramaian warung di bawah perlahan hening di telinganya. Lampu kamar meredup. Dunia menggelap. Hingga dia merasa sendiri, dan hanya ditemani foto yang dipegang jemari.
Mendadak, dia dikejutkan oleh suara ketokan pintu. Lamunannya buyar seketika. Wajahnya menampakkan kekesalan. Dia paling tidak suka bila ada yang mengganggu saat-saat dia mengurung diri.
“Siapa di sana? Tidak tahukah saya sedang sibuk!”
“Ini aku.”
“Aku siapa?”
“Kamu lupa padaku? Cepat buka pintunya.”
“Saya tidak mau buka, kecuali kamu beritahu siapa kamu!”
“Ini aku.”
“Ya, aku siapa!”
“Buka saja.”
Suara seseorang tersebut seperti tidak asing bagi laki-laki itu. Tapi, dia ragu. Hatinya mengatakan untuk membuka pintu, tapi pikirannya yang diliputi kesal menolak.
“Tidak!”
“Bukalah, aku perlu berbicara denganmu.”
“Tidak!”
“Tolonglah. Aku mohon.”
“Sudah kubilang tidak ya tidak! Pergi sana!”
Hening. Laki-laki itu merasa orang tersebut sudah pergi. Maka dia beranjak lagi ke kursinya. Saat hendak mengambil foto, terdengar suara gedoran pintu.
“Cepat pergi! Kubilang pergi!”
“Buka dulu, bila tidak aku memaksa.”
Laki-laki itu tidak punya pilihan lain. Dia buka pintu, dan seorang anak laki-laki berdiri, yang dengannya mirip sekali.
“Sudah kubilang, ini aku.”

Warung di bawah kamar mendadak tidak seramai tadi. Mereka merendahkan suara. Setelah mendengar teriakan dan gedoran dari arah kamar laki-laki itu sampai tidak terdengar lagi suara demikian.
“Tidak ada yang ke atas selain dia.”
“Dia berulah lagi.”
“Memang, ulahnya tidak membahayakan, tapi hanya sedikit mengganggu.”
“Sampai kapan kamu tahan terhadap ulahnya ini?”
Pemilik warung itu hanya bisa menunduk diam.

Selama tinggal di kamar itu beberapa lama sebelumnya, laki-laki itu tidak pernah berbuat diluar kewajaran. Dia pergi bekerja di pabrik tidak jauh dari sana, menyapa orang yang mengenal dan dikenalnya, bercakap-cakap hingga sering lupa waktu di warung bawah kamarnya.

Sebagai seorang pemuda, dia cukup dikenal di lingkungan tempat tinggalnya. Bila ada yang membutuhkan bantuan, dia akan turun tangan. Dia juga cakap dalam bertindak, segala sesuatu yang disuruh selalu dikerjakannya dengan baik. Tidak heran, bila banyak gadis yang menyukai sosok dirinya. Dan dia bertemu dengan seorang gadis. Kebetulan gadis itu juga sepabrik dengannya. Mereka menjalin pita cinta sudah hampir setahun, dan berencana melanjutkan hubungan tersebut ke jenjang yang lebih serius.

Namun, laki-laki itu tiba-tiba berubah sikap setelah ditinggal mati oleh si gadis. Si gadis meninggal akibat dibunuh oleh sekawanan orang, ketika sebelumnya dia diperk*sa dan digilir satu persatu. Dan mayatnya ditemukan mengambang di sungai kecil dekat pabrik.

Percakapan di warung berlanjut. Mereka berniat meyakinkan pemilik warung dengan berbagai macam cerita, yang sudah sering didengarnya, bahkan beberapa juga dilihatnya secara langsung. Namun, pemilik warung itu tetap pada pendiriannya. Dan menjawab sesekali ucapan mereka dengan senyum.
“Saya rasa, wajar bila dia demikian sikapnya.”
“Memang wajar saat dia lari tergopoh-gopoh mendengar pacarnya menjadi mayat yang mengambang. Lari tanpa pakai sandal dan hanya pakai kolor ke tengah jalan, ke rumah sakit tempat mayat si gadis diinapkan.”
“Ya, lantas, apa yang perlu diributkan? Kejadian setelah dia pulang? Itu hal yang wajar.”
“Apa kamu bisa bilang wajar, bila dia lari dari rumah sakit dengan wajah sumringah, kedua tangan hendak menggapai-gapai sesuatu di depannya, padahal tidak ada apa-apa atau siapa-siapa di sana. Dan ketika di persimpangan jalan, dia tidak melihat ke kanan kirinya, padahal lalu lintas sedang ramai. Dia lari melintas jalan begitu saja. Jika saja tidak ada saya yang menangkap menghentikannya waktu itu, mungkin dia sudah mati terlindas mobil.”

“Mereka tidak pernah tahu. Mereka tidak mau tahu. Mereka tidak mengalaminya!” Teriaknya memecah kesunyian warung di bawah yang sudah sepi ditinggal pelanggan. Seekor kelelawar terbang dari pohon mangga di samping rumah, menjerit seakan menjawab kegetiran laki-laki itu.
“Aku tahu, mereka menganggapku gila. Dan aku tidak peduli. Tidak. Aku tidak gila!”
“Aku sadar aku menemuimu di kamar itu. Kamu menatapku dengan pandangan kosong. Bibirmu sedikit terbuka. Ada suara rintih yang sunyi keluar darinya. Dan dokter-dokter itu tidak mendengarnya. Kamu masih hidup! Aku memberitahunya, tapi mereka malah memaksaku keluar, menyeretku, memisahkanku darimu. Mereka juga dengan seenaknya menutupimu dengan selimut dan memasukkannya ke sebuah laci pendingin. Mereka hanya banyak berkata yang intinya untuk menenangkanku, dan bagaimana bisa aku tenang, bila mereka memisahkanku darimu?!”
“Hah, bodoh dan gila mereka. Pasti mereka tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan.”
Perempuan dalam foto itu tersenyum.
“Saat itu, aku juga masih sadar. Ketika tiba-tiba aku mendengar suaramu dan melihat dirimu keluar dari lorong rumah sakit. Maka, aku berlari mengejarmu. Kamu berjalan di depanku, dengan kedua kaki jenjangmu yang putih. Saking cepatnya kamu berjalan, tubuhmu seperti melayang, kakimu tidak menapak. Lantas ada yang tumbuh di punggungmu. Sepasang sayap merpati yang pernah kamu idam-idamkan itu. Bagaimana aku tidak senang bisa melihatmu dengan penampilan demikian?”
Kini, laki-laki itu sudah duduk diam tidak terhitung berapa lama. Matanya menerawang jauh ke dalam sosok perempuan dalam foto. Angin malam berhembus masuk, membelai sebilah pisau di atas meja. Sudah beberapa kali laki-laki itu meliriknya.
“Aku ingin pergi, Mei.”
Perempuan dalam foto itu tersenyum.

Cerpen Karangan: Ruhadyan A.W.
Facebook: Ruhadyan Agustianto Wahyono

Cerpen Perempuan Dalam Foto Itu Tersenyum merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku, Sahabatku dan Pacarku

Oleh:
“Tutt… tuttt” nada sms dari ponsel Raya membuyarkan konsentrasinya. Dia pun segera mengalihkan perhatian dari buku yang sedang dibacanya. “kamu dimana, Ray?” pesan singkat dari Doni, teman satu kampus

Bintang 7 Tahun

Oleh:
Namaku Septian. Aku akan menceritakan sebuah kisah yang mungkin telah aku pendam selama ini. Mungkin tak terlalu menarik, tapi apa salahnya kita berbagi pengalaman hidup. Sebenarnya aku bingung mau

Akankah Kau Kembali? (Part 1)

Oleh:
Namanya Kelvin Syahputra. Mahasiswa jurusan Psikologi. Awalnya dia gak mau masuk jurusan ini. Tapi gara-gara orangtuanya kepengen punya anak psikolog, akhirnya Kelvin masuk jurusan ini. Menurutnya, psikologi itu gak

Seorang Sepertimu

Oleh:
Aku berdiri di tengah hamparan rumput yang luas. Tempat ini sudah di sulap menjadi sebuah tempat resepsi pernikahan. Ku menatap pelaminan yang masih kosong tapi sudah di tata dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *