Perempuan di dalam Bus

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 24 June 2019

Aku bertemu dengan perempuan itu tanpa sengaja. Sore yang sama seperti yang sudah-sudah, aku berjalan dengan langkah tergesa-gesa mengejar bus terakhir ke rumahku. Terminal tidak terlalu jauh dari rumah orang kaya tempat aku memberi les privat, berjalan kaki menuju terminal adalah pilihan tunggal untuk menghemat uang yang jumlahnya tidak seberapa.

Mentari hampir tenggelam ke peraduan, langit jingga menghiasi senja yang syahdu. Peluh menetes tidak terbendung lagi, kulitku terasa lengket dan aroma tidak sedap perlahan tapi pasti muncul ke permukaan. Aku tidak punya waktu banyak untuk sekadar menyeka tetesan tetesan bening yang baunya kecut itu.

Kuteruskan langkah, sambil menjinjing tas sandang hitam yang penuh dengan sobekan. Tinggal beberapa meter lagi sampai ke tempat bus dengan tujuan rumahku biasa ngetem.

Terminal tidak sepadat tadi siang, pedagang asongan mulai berpulangan dengan hasil penjualan yang pas-pasan. Mereka yang berjiwa besar memilih tinggal demi beberapa lembar uang seribuan. Hidup memang sulit, kadangkala perjuangan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan, kios-kios mulai tutup.

Beberapa pengemis yang sama masih berdiam nyaman di area kekuasaannya. Ada yang menatap berharap belas kasihan, ada yang hanya duduk memandang dengan tatapan kosong, bahkan ada yang tertidur pulas di atas lantai emperan kios yang kotor dan dingin. Aku membuang pandanganku dari mereka, toh aku tak punya waktu dan duit banyak untuk peduli.

Aku langsung naik ke bus, mencari tempat duduk sebelum tidak kebagian. Bangkunya hampir penuh, menyisakan dua tempat di paling belakang.
Aku memilih di pinggir, bersebelahan langsung dengan jendela. Kuletakkan pantatku, kusandarkan punggungku dan menarik napas dalam-dalam. Aku memeluk tas ranselku yang sudah usang, namun sangat kubutuhkan.

Tak lama kemudian seorang perempuan yang usianya kira-kira dua atau tiga tahun lebih tua dariku duduk di sebelahku.
“Boleh duduk di sini, Mas? Kosong kan?” Dia tersenyum.
Senyum yang manis, dan mata bak manik-manik tersenyum ramah. Aku mengangguk dan kembali menatap ke luar jendela. Parfum perempuan yang punya senyum manis itu sangat menyengat, kontras sekali dengan bau tubuhku yang aromanya sewaktu-waktu dapat mengundang lalat.

“Mas-nya mau ke mana ya?” Dia mencolek lengan kiriku.
“Ng.. eh.. saya? Saya mau ke Desa Pandanjati.” Sahutku gugup.
“Ohh gitu. Memangnya mas nya habis dari mana?”
“Habis ngajar les tadi.” Sahutku seperlunya.
“Saya Noni, Mas. Saya juga mau ke Desa Pandanjati. Mau ke rumah tante saya. Mas sendiri namanya siapa?”
“Putra. Nama saya Putra.” Aku sedikit merasa jengah dengan rentetan pertanyaan yang dia lontarkan. Saat ini aku benar-benar lelah dan butuh istirahat. Bahkan wajah cantiknya tidak mampu mengundangku untuk terbuai dalam pembicaraan yang hangat dan bersahabat.

“Mas terganggu ya saya tanyain terus?” Dia menatapku dengan sorot mata sedih, seolah mampu membaca pikiranku.
“Nnggg… eh bukan.. bukan begitu mbak. Enggak ah. Saya biasa aja kok. Santai.” Jawabku gelagapan, menghindari tatapannya.
“Hahahahahahahahaha… Mas lucu deh kalau lagi salah tingkah begitu.” Dia tertawa lepas, dan mencubit gemas pipiku.

Aku melongok bingung dan beberapa detik kemudian semakin salah tingkah. Perempuan macam apa dia ini? Berani betul dia bersikap sebebas itu pada laki-laki yang baru ditemuinya beberapa menit lalu. Aku tidak biasa melihat perempuan jenis begini. Perempuan di desaku pada umumnya sangat sederhana, pendiam, malu-malu dan kalem. Tidak ada yang seperti dia.
Perempuan di kampusku juga hanya ada dua kategori. Kategori pertama, perempuan berkelas tinggi dengan penampilan mewah bermodalkan tampang bagus, fisik oke dan dompet tebal. Yang sudah dapat ditebak mereka juga hanya mau berteman dengan laki-laki yang punya strata sama seperti mereka. Yang dengan demikian tentu saja aku tidak pernah berhubungan dengan mereka. Perempuan kategori kedua adalah golongan biasa-biasa saja yang menghabiskan waktu hanya bersama perempuan lainnya entah itu untuk cekikikan entah menertawakan apa, saling berbisik atau bergerombol di satu tempat dan sibuk membicarakan orang lain. Tapi tidak ada yang pernah menyentuhku bahkan dengan lancangnya mencubit pipiku.
Tapi benarkah dia lancang? Lantas mengapa perlahan muncul detak-detak tidak biasa dalam dadaku? Semakin lama semakin bergemuruh kencang. Astaga!

“Mas keringatan, ini saputangan saya. Mas boleh pake buat menyeka keringatnya. Masih baru kok, belum saya pake. Kebersihannya terjamin.” Dia menyodorkan selembar saputangan bewarna biru polos dengan hiasan huruf N bewarna merah di sudut kiri bawah.
Aku tak kuasa menolak.
Kuterima saputangan yang ia tawarkan. Astaga! Wanginya luar biasa. Aku tak sanggup menodainya dengan peluhku.

“Ya dipake toh mas. Jangan cuman dilihatin.” Dia lagi-lagi tertawa.
“Ngg.. iya.” Aku menyeka peluhku dengan enggan.
“Saputangannya disimpan aja dulu. Lain kali kalau kita jodoh, Mas boleh kembalikan ke saya.”
Dia mengulum senyum. Aku terpengarah. Gila! Tapi aku tak dapat menyangkal bahwa aku memang ingin dipertemukan kembali dengannya.

Bus masih melaju seiring dengan malam yang semakin pekat tanpa gemerlapnya bintang. Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara kami berdua. Dia tertidur pulas dengan kepala yang bersandar di bahuku akibat guncangan di dalam bus, dan aku menikmati saat-saat itu.

Aku sampai tujuan lebih dulu. Sebelum turun, aku berpamitan padanya. Dia melepasku dengan senyuman yang jauh lebih manis.
“Sampai ketemu lagi.” Ucapku.
Dia hanya mengangguk dan tersenyum tanpa sepatah kata. Aku melepas kepergiannya bersama bus yang semakin menjauh dari pandangan.

Sesampainya di rumah, Bapak tiriku sudah menungguku di teras. Seperti biasa, dia bukan menantikan aku. Dia hanya menantikan uang yang sudah aku dapat dengan susah payah.
“Mana setoran?” Demikian dia menyebutnya. Setoran.
Aku merogoh kantong celanaku hendak mengambil dompet. Tak kutemukan barang yang aku cari. Sebagai gantinya, saputangan bewarna biru itu mengisi kantong celanaku. Padahal seingatku, tadi aku menaruhnya di dalam tas. Tiba-tiba pandanganku nanar. Suara amarah Bapak yang menggelegar semakin terdengar samar-samar.

Cerpen Karangan: Natanya Aloifolia munthe
Blog: natanyanya.tumblr.com
Natanya Aloifolia. Perempuan berzodiak Leo yang bersyukur terlahir kidal.

Cerpen Perempuan di dalam Bus merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bal Bul Wonokebul

Oleh:
Asap mengepul-ngepul dari rumah warga-warga penghuni kampung Wonokebul, di kampung ini Pak Dukuh Dulkamid memang menggalakkan warganya untuk giat merok*k demi kesejahteraan kampungnya di mata pemerintah daerah. Katanya “saya

Life is Game

Oleh:
Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah celah tirai jendela. Ruangan berdekorasi stiker bunga sakura pink itu sudah ditinggal pemiliknya dengan kasur dan meja belajar yang tertata rapi seperti

Harapan Kecil Untuk Rafi

Oleh:
“BRAK!!!” Suara gebrakan pintu itu mengagetkanku. “Ayo bangun, mau sampai kapan lo tidur terus?! Dasar anak tidak tahu malu. Udah numpang, males-malesan lagi!! Lama-lama gue usir juga lo!!!” bentak

Penyesalan Pahlawan

Oleh:
Waktu bergulir. Matahari kembali ke peraduanya. Bintang mulai berserakan di langit luas. Bulan sedikit menampakan dirinya, malu-malu tertutup gumpalan mega hitam. Aku pandangi sekelilingku, sepi, sunyi. Sangat berbeda dengan

Terlambat

Oleh:
“Terlambat…” bisiknya lirih. Sorot matanya tajam menatapku tanpa secuil pun kata keluar dari bibirnya. Aku hanya terdiam mematung. Butiran air mata dengan cepat membasahi kedua pipinya. Mata yang sebelumnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *