Perjalanan di Tanah Rantau

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 17 September 2023

Panas terik matahari begitu menyengat, suara deru kendaraan saling bersahut-sahutan, kepulan asapnya menambah polusi udara disekitarnya. Ditengah itu orang-orang berlalu lalang kesana kemari, membawa koper mereka turun dari sebuah bus, menaiki angkutan umum lain untuk menuju ke tempat persinggahan masing-masing, dan masih ada diantara dari mereka yang duduk di kursi halte.

Aku sendiri sedang berdiri di depan halte bus sejak tadi. Membawa tas dan koper yang berisikan pakaian, uang, dan makanan ringan. Mataku memindai kesegala arah mencari-cari seseorang yang saat ini ingin kutemui. Tak berapa lama seseorang itu akhirnya datang lalu berjalan kearahku sambil tersenyum. Ia menepuk pundakku.

“Hai, kawan! Bagaimana perjalananmu dari Kebumen?”
“Alhamdulillah lancar, tapi semalam sempat mabuk perjalanan.” Jawabku singkat.
“Hha, Aldi… Aldi… dari dulu kalau kamu naik mobil selalu saja mabuk.” Ujarnya sembari menepuk pundakku.
Aku hanya tersenyum kecil lalu mengikutinya berjalan kearah sebuah motor yang terparkir di sudut halte. Lantas ia kemudian mengambil motornya dan membawaku pergi dari halte bus.

“Mas Damar, gimana sekarang kerjaannya masih lancar?” Tanyaku ketika motor sudah melaju pelan ke jalan raya.
“Alhamdulillah lancar-lancar saja, tapi beberapa bulan lagi kontrak saya habis di Jakarta. Kamu bisa kan jaga diri sendiri disini?”. Tanya Mas Damar kembali yang lalu menghisap puntung rokoknya sambil menyetir.
Aku mengangguk menyanggupinya karena mau tidak mau aku harus bisa berbaur dengan lingkungan dimana aku dituntut untuk keluar dari zona nyaman. Dahulu aku masih bisa bersenang-senang di kampung halaman, menikmati canda tawa dan kasih sayang bersama keluarga dirumah. Aku merasa sangat santai, tidak memikul beban hidup, ataupun merasakan lelah yang berkepanjangan. Sekarang aku sudah lulus dan kini saatnya aku menapakkan kakiku kejalan yang baru.

Setelah hampir 30 menit berada di perjalanan akhirnya kami sampai disebuah kontrakan. Mas Damar sebelumnya sudah memesankan kamar mana yang akan aku tinggali. Dia sudah hampir 3 tahun bekerja di Jakarta dan mengontrak disini. Dia adalah tetanggaku di kampung dan usianya 5 tahun lebih tua dariku. Aku langsung masuk ke dalam kamarku dan menata rapi semua perlengkapan yang aku bawa dalam tas. Selepas itu aku merebahkan diriku di kasur, menatap langit-langit kamar, dan memikirkan masa depanku yang belum jelas.

Jakarta, kota dimana aku harus mengadu nasib saat ini. Demi orangtua dan adik-adikku aku dituntut untuk melangkah mencari jati diriku yang sebenarnya. Berbekal uang seadanya dan doa dari keluarga. Sering terbesit dipikiranku, akankah aku bisa membahagiakan orang-orang yang kusayangi? Akankah aku bisa mencapai kesuksesan di kota asing ini? Aku hanyalah seorang lulusan SMA yang belum pernah memiliki pengalaman kerja. Tapi jika aku tidak bekerja siapa yang akan menghidupi keluargaku sedangkan orangtuaku sudah tua.

Roda kehidupanku berputar dan waktu terus berjalan. Menit menjadi hari, hari menjadi minggu, dan minggu telah menjadi bulan. Aku berada pada posisi dimana aku berada pada titik keputusasaan. Dibawah terik matahari aku menarik nafas panjang. Surat lamaran yang aku pegang mulai lusuh, keringatku menetes, dan ada sedikit air mata menetes ke pipiku. Semua perusahaan dan tempat-tempat usaha lainnya tidak menerima lamaranku. Apakah karena aku hanya lulusan SMA? Apakah di kota yang padat ini hanya memerlukan pegawai yang berpendidikan tinggi dan bertalenta?

Aku yang merasa lelah di perjalanan pulang memutuskan untuk berteduh sebentar di bawah sebuah pohon. Tiba-tiba ponselku bordering dan terlihat nama kontak yang meneleponku adalah orang yang paling aku sayangi. “Ibu?.”
Dengan sedikit gugup aku mengangkat telfon dari ibu “Hallo ibu…, as.. assalamualaikum.”
“Waalaikumsallam, nak. Bagaimana kabarmu di Jakarta? Apa kamu sehat?” tanya ibu dengan nada yang lembut padaku.
“Alhamdulillah sehat, bu. Bagaimana kabar ibu, bapak, dan adik-adik?” tanyaku kembali.
“Iya kami disini sehat kok, nak. Ibu mau tanya apa kamu sudah dapat pekerjaan di Jakarta? Sudah 3 bulan kamu disana tapi belum kasih kabar ke ibu.”

Aku terdiam. Aku merasa bimbang apa aku harus memberitahu ibu atau merahasiakannya. Akhirnya aku berkata sejujurnya pada ibu. Ibuku sedikit kaget karena setiap aku melamar pekerjaan lamaranku selalu ditolak. Aku menceritakan semuanya pada ibu dari awal aku melamar hingga hari ini. Setelah ibuku mendengarnya dia tetap tidak marah padaku. Dia menasehatiku dan mendukungku bahwa aku pasti akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bakatku. Yang lalu adalah ujian dan usahaku untuk melamar pasti akan membuahkan hasil asal aku tidak menyerah di tengah jalan. Aku merasa sangat lega mendengar perkataan ibu dan itu membuat semangatku kembali.

Setelah menelepon aku bergegas kembali ke rumah. Ditengah perjalanan aku melihat sebuah pamflet lowongan pekerjaan yang tertempel di batang pohon. Sebuah rumah makan yang letaknya tidak jauh dari tempat aku tinggal memerlukan tukang masak dengan usia 18-23 tahun dengan minimal pendidikan SMK/ SMA. Usiaku menginjak 18 tahun dan mungkin ini kesempatanku untuk mendapat pekerjaan. Sebenarnya memasak bukanlah keahlian utamaku. Walaupun aku laki-laki, ibu selalu mengajarkanku hal-hal yang setidaknya bisa dilakukan untuk meringankan pekerjaan perempuan, demi mendapatkan pekerjaan aku akan mencoba untuk melamar.

ADVERTISEMENT

Keesokan harinya aku pergi ke rumah makan itu. Aku menemui pemilik rumah makan dan tidak lupa juga untuk memperkenalkan diri. Selepas itu kutunjukkan surat lamaran beserta persyaratan lainnya yang sudah kusiapkan semalam. Pemilik rumah makan itu bernama Pak Husen. Dia terlihat sangat ramah kepadaku, mungkin jika aku bekerja disini aku akan merasa betah dan nyaman.

Selang beberapa hari kutunggu informasi dari Pak Husen dan ternyata aku diterima untuk bekerja di rumah makan miliknya. Aku merasa sangat senang karena besoknya aku sudah mulai bekerja. Kutelepon ibu dan memberi kabar baik ini kepadanya. Ibuku merasa sangat senang dan bersyukur aku bisa mendapatkan pekerjaan di Jakarta.

Keesokan harinya, aku berangkat menuju tempat kerjaku. Aku mengikuti semua arahan Pak Husen dan aku mencoba untuk menyesuaikan diri.. Ketika aku ragu aku bertanya pada teman sepekerja untuk mengajariku. Ada dari mereka yang mau membantuku untuk memasak supaya masakanku bisa terasa lezat. Tapi ada juga yang memandangku dengan tatapan sinis ataupun tersenyum kecut seperti tidak suka jika melihatku ada di tempat ini. Aku tidak terlalu menanggapi mereka karena yang terpenting aku bisa bekerja, tapi lama kelamaan aku merasa kurang nyaman karena mereka terlihat seperti menggosipiku dibelakang.

Selama hampir 1 bulan aku bekerja di rumah makan Pak Husen aku mulai pandai memasak.. Semua berjalan dengan baik hingga aku berada pada hari dimana aku dimarahi oleh Pak Husen karena salah menyiapkan menu makanan pada salah satu meja. Disaat itu rumah makan sedang sangat ramai dan aku merasa gugup sehingga ada menu yang aku salah sajikan. Baru kali ini aku melihat Pak Husen memarahiku karena biasanya dia terlihat ramah. Aku meminta maaf kepada Pak Husen dan berjanji bahwa aku tidak akan mengulanginya lagi. Dunia kerja memang tidak sebaik apa yang kubayangkan. Kucoba untuk mengontrol emosiku dan kubasuh wajahku dengan air. Aku menatap ke arah cermin sambil bekata pada diri sendiri, “ Memang aku yang salah, anggap saja ini semua sebagai pelajaran untukku menjadi lebih baik.”

Setelah 1 bulan bekerja aku mendapat penghasilan pertamaku sebesar 2 juta. Aku merasa sangat senang, kusimpan uang itu di dompet dan kurebahkan diriku di tempat tidur. Baru sebentar aku memejamkan mata, Mas Damar mengetuk pintu kamarku. Lantas aku bukakan dia pintu dan dia berkata, “Aldi, kontrak kerja Mas Damar sudah habis. Sebentar lagi mas mau balik ke kampung halaman. Apa kamu bisa jaga diri sendiri disini?”
“Tidak apa-apa mas, Aldi sudah besar dan mandiri. Insyaallah Aldi bisa jaga diri disini.” Jawabku sambil mencoba untuk tetap tersenyum.
Mas Damar kemudian mengelus rambutku kemudian menasehatiku bahwa aku harus kuat. Dia menyemangatiku dan itu membuatku merasa tenang. Selepas itu Mas Damar kembali ke kamarnya dan beristirahat.

Sebenarnya aku merasa kesepian di kontrakan ini. Bukannya aku tidak mempunyai teman, tetapi aku tidak memiliki sahabat disini. Tidak semua orang bisa aku percaya dan aku tidak bisa seenaknya bercerita tentang masalahku kepada siapapun. Mereka bukanlah peduli tapi tidak lebih hanya ingin tahu tentang kehidupanku. Aku hanya bisa memendam semuanya sendiri. Jika aku sedang sedih hanya Tuhan tempat aku berkeluh kesah dan berdoa.

Hari demi hari kulalui, panas atau hujan tidak menyurutkanku untuk pergi bekerja tepat waktu. Memang tidaklah mudah untuk menjadi seseorang yang disukai oleh orang lain. Bukan fisik atau paras yang utama melainkan kemampuan yang ada dalam diri. Mungkin inilah bakatku, berkat didikan ibu aku bisa mengembangkan kemampuanku untuk memasak makanan apa saja yang ku suka.

Setiap bulan aku selalu mengatur keuangan antara biaya hidup di Jakarta, tabungan, dan hasil dari jerih payahku untuk keluarga di kampung. Aku ingin membahagiakan orangtua dan adik-adikku. Semakin lama juga aku semakin mensyukuri semua yang sedang kujalani saat ini. Jalani, syukuri, dan nikmati prosesnya itu adalah prinsip hidupku.

Walaupun begitu ada satu perasaan yang tidak bisa kuhilangkan. Perasaan rindu. Rindu yang amat mendalam karena sudah lama aku tidak pulang ke kampung halaman. Aku sangat merindukan keluargaku terutama ibuku. Ingin rasanya aku memeluknya, ingin rasanya aku mencium pipi ibuku sedangkan perjalananku masih panjang. Aku menghela nafas dan mulai berpikir optimis, aku pasti bisa melewati semua ini. Besok saat perayaan Hari Raya tiba, disaat itulah aku akan pulang ke kampung halaman. Bertemu dengan orang-orang yang kusayangi, membagikan angpao saat hari raya, dan bersilaturahmi ke rumah saudara.

Di kamar yang kecil ini, kuamati foto-foto keluarga di galeriku. Aku tersenyum. Tak henti-hentinya kupandangi foto-foto itu. Terasa hangat, walau hanya memandangnya saja. Dari foto sebanyak itu aku langsung fokus pada salah satu foto. Terlihat aku mengenakan kemeja berwarna biru dan di sebelahku ada seorang wanita yang sangat aku sayangi. Ibuku. Itu adalah foto terakhirku bersama dengan ibu sebelum aku pergi ke Jakarta. Tak terasa setitik air mata mengalir ke pipiku. Tanpa berlama-lama lagi kumatikan ponselku dan kutaruh di atas meja samping tempat tidur. Jam menunjukkan pukul 10 malam, pagi besok aku sudah mulai berangkat bekerja. Cepat-cepat kumatikan lampu kamar. Kutarik selimutku dan kupejamkan mataku.

“Ibu, aku sangat merindukanmu.”

Cerpen Karangan: Riska Yuliana
Blog / Facebook: Riska Rizkha

Cerpen Perjalanan di Tanah Rantau merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia 12 Tahun Lalu

Oleh:
Maya dan Misa adalah Kakak beradik. Maya adalah Kakak yang kasar, tegas, dan sangat pintar menghasut orang, sedangkan Misa adalah Adik yang baik, lemah lembut, dan penyabar. Sikap mereka

Masa Tua itu…

Oleh:
Di keheningan malam aku tertidur pulas di kamar kakakku beserta anaknya yang masih berusia dua tahun. Waktu menunjukkan pukul 02:00, aku dibangunkan oleh suara yang merangsang telingaku untuk mendengarkannya.

Coklat Untuk Adikku

Oleh:
Dua hari yang lalu, aku dan adikku sedang bertengkar. Kami memang sering sekali bertengkar akhir-akhir ini. Entah karena masalah cemilan dan masalah lainnya yang sangat sepele. Oh ya, kenalkan!

Secercah Harapan

Oleh:
Hari yang berbeda dari biasanya. Mama dan papa tidak ada di rumah. Di rumah hanya ada aku, Kak Dinda dan bibi. “Adek, ayo sarapan. Makanannya udah ada di meja

Pasir di Pucuk Ilalang

Oleh:
Gelap malam yang begitu menyelimuti bumi kecil dengan warna hitamnya yang menggugah kalbu, untuk terus menyebut asma-NYA seiring deras hujan bak air terjun dari pegunungan dan kilatan petir yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *