Perjalanan Menata Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 24 July 2017

Apakah anda merok*k?
Ya, Tidak, Kadang-kadang
Berapa jam anda bekerja dalam sehari?
8 jam, 10 jam, 24 jam

Aku bingung untuk mengisi questionser ini pertanyaan yang menurutku sangat tidak penting ini. Penat sekali pekerjaanku tiada libur bagiku, setiap menit aku harus meng-chek emailku. Aku Arahma sasongko aku bekerja sebagai pengacara top dari biro B&P. B&P adalah biro hukum nomor satu di negeriku. Biro ini mempunyai pengacara top dan handal yang menangani kasus dengan 99% kemenangan saat sidang. sekarang hatiku tidak senang karena aku lagi duduk manis di café menemani bibiku yang dari Inggris karena sangat membuang–buang waktuku. Bibiku sangat marah karena aku selalu sibuk bekerja

“Ara kamu kenapa sih, kamu nggak suka ya menemani bibi?”
“bukan nggak suka tapi nanti jam 13.04 aku harus rapat di kantor”
“Apa kamu nggak cape setiap hari kamu bekerja setiap menit kamu harus meng-chek email”
“tapi bi, ini pekerjaanku aku senang menjalaninya, aku bangga karena aku sudah mencapai posisi yang sejak lama aku impikan dari kecil”
“ya bibi tahu, tapi apa kamu tidak iri dengan teman-temanku yang bisa bermain disela-sela bekerja”. Aku tak mengindahkan omangan bibiku aku malah meng-chek email di ponselku.

“Ara coba kamu jangan nge-chek email terus, coba sekali kali kamu nikamti waktumu” kata bibiku sambil merebut ponselku. “Bibi tolong kembalikan ponselku, bibi tolong jangan ikut campur ini pekerjaanku, aku menyukai pekerjaanku” kataku sambil mengambil ponsel dari tangan bibi dan aku langsung pergi dari café.

Kupacu mobilku dengan kecepatan penuh menuju kantorku. Aku berjalan menuju ruanganku saat di lobi aku bertemu dengan Paulo rekananku. “Hai ra Ra muka kusut banget, kau siap rapat” “aku sangat siap Paulo?”. Aku duduk di ruanganku sambil membaca sebuah kontrak yang terdiri dari pasal-pasal dengan bahasa hukum yang berbelit-belit. Tiba-tiba terbesit omongan bibiku di pikiranku mungkin bibi benar aku terlalu sibuk bekerja untuk menggapai ambisiku. Tapi aku sangat menyukai pekerjaanku. Aku menikamti kepuasan waktu melihat celah dalam sebuah kontrak, yang dapat kumanfaatkan. Aku menyukai semburan adrenalin di tubuhku waktu menutup kesepakatan. Aku suka ketengangan negosiasi dan argumentasi, mengemukaan pendapat-pendapat terbaik dan tidak bisa disanggah di ruang rapat.

Kadang-kadang aku merasa ada orang yang menumpukan beban berat di bahuku. Seperti batu-batu bata, disusun satu persatu di bahuku dan aku harus bertahan, betapapun lelahnya… Tapi mungkin semua orang mersakan seperti aku. Mungkin ini sebuah hal yang normal.

Tok… tok suara ketukan pintu “Masuk” perintahku pada orang itu. Ternyata itu Stela asistenku “kak Ara ini kontrak yang harus anda pelajari buat rapat nanti siang” “oh… ya terimaksih”. Aku membaca kontrak berisi 900 milliar rupiah. kini aku sudah membaca kontrak itu dalam waktu 4 menit. Aku sudah terbiasa melakukan apapun dalam waktu 4 menit. Aku sangat tergantung dengan jam tanganku dan emailku. Mungkin dua hal tersebut membuat candu seperti candu alkohol atau kafein. waktu dalm hudupku dibagi dalam segmen-segmen berdurasi 4 menit. Aku bisa menagih klien untuk 4 menit waktu kerjaku. semuanya akan dimasukan ke tabel waktu kerja yang terkomputerisasi, dalam bagian yang spesifik.

11.00 – 11.04 membuat draf kontrak proyek A
11.04 – 11.08 membuat perbaikan dokumen klien B
11.08 – 11.12 mengkonsultasi pasal-pasal kontrak kesepakatan klien C

Waktu pertama kalinya aku bekerja di B & P aku sempat ngeri juga, membayangkan harus mengerjakan dalam waktu dalam waktu 4 menit dan menuliskan kegiatkanku menit demi menit. Dulu aku berpikir: Bagaimana aku tidak bisa melakukan apa-apa dalam waktu 4 menit? kalau begitu apa yang harus kutulis. Tapi kenyataanya aku bisa melakukanya dan aku sudah terbiasa bekerja sepanjang waktu.

Bila kau pengacara di B&P, kau tidak akan bisa duduk-duduk saja. kau juga tidak bisa melamun memandang keluar jendela. Terutama setiap 4 menit dalam hidupmu sangat berharga. Begini gampanganya: kalau aku membiarkan 4 menit berlalu tanpa menghasilkan apa-apa, aku sudah menyia nyiakan 50 juta, 8 menit 100 juta dan 12 menit 150 juta.
Seperti sudah kubilang para pengacara di B&P tidak pernah duduk saja.

Kini sudah pukul 23.00 aku masih berkutat dengan dokumen-dokumen klien, berkutat dengan laptop dan ponsel. besok akan ada rapat tertutup dengan para petinggi perusahan yang memenangkan tender dari pemerintah senilai 900 milliar rupiah. “sampai selarut ini kau masih di kantor” Tanya Paulo padaku “ehm iya dan kenapa kau juga masih di kantor” gumamku pada Paulo. “iya nih akau mau konsultasi pasal-pasal untuk kesepakatan kontrak klienku” “oh gitu ya mau kopi” tawarku pada Paulo “boleh deh” jawab Paulo. Aku menikmati kopi bersama Paulo sampai pukul 02.40 padahal aku besok ada rapat jam 7 pagi. “ehm Paulo aku mau pulang dulu mau siapin baju buat rapat nanti” pamitku pada Paulo “sip good luck ya buat rapat nanti”. aku pun mengangguk.

Jujur aku sangat ngantuk tapi aku harus pulang. Kupacu mobilku dengan kecepatan penuh. Naas aku mengalami kecelakan tunggal mobilku menubruk papan iklan disaat aku sedang terburu-buru untuk persiapan rapat milliaran rupiah nanti. Kini tubuhku terbujur di ruang ICU aku kritis sampai berhari-hari. Aku telah sadar kembali dan yang kudapatkan hanya berita buruk yaitu aku telah gagal mempertahankan klienku yang bernilai milliaran rupiah. Aku sangat terpukul atas insiden tersebut.

Beberapa minggu kemudian aku sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Tapi aku sangat kecewa atas kegagalkanku mempertahankan klienku. Paulo menemuiku aku disuruh ke kantor sekarang “Bagaimana keadaanmu Ra” “Aku sedang tidak baik-baik saja” jawabku pada Paulo dengan tatap sedih “Yah aku mengerti keadaanmu Ra, tapi aku ke sini disuruh CEO kita menjemputmu untuk ke kantor sekarang” “Tapi aku baru saja keluar dar RS, ada Paulo apa aku melakaukan kesalahan besar pada biro” Paulo hanya diam.

Sesampainya di kantor aku langsung menghadap CEO. “saing pak” sapaku pada CEO ku “siang Ara, apa kabar” aku sedang tidak baik-baik saja” tukasku pada CEO “Ya saya tau itu, tapi dengan berat hati saya mengatakan ini padamu, kau harus meninggalkan biro ini, karena kau telah melakukan kesalahan besar kau membuang milliaran rupiah” tapi pak ini sebuah kecelakan yang diluar kendali “ya saya tau itu tapi itu keputusan dewan direksi” jawab CEO ku “tolong pak, beri saya kesempatan saya satu kali lagi pak” “maaf saya tidak bisa, bisakah kamu keluar sekarang kau telah membuang banyak waktu sekarang” usir CEO.

Dalam perjalanan menuju ke ruanganku untuk mengepak barang-barang, aku berjalan sangat tertatih dan aku merasa sangat lunglai. Aku pun terjatuh tak bisa bangkit dalam posisi duduk aku mengamati para pengawai yang bekerja di biro ini tampak sangat sibuk mereka berjalan cepat sambil melirik jam tangan dan di tangan menggengam ponsel dengaan raut muka yang tenggang. “Apakah dulu aku seperti itu, seperti zombie yang hilir mudik di kantor” gumamku dalam hati.

Kini aku menyadari bahwa aku terlalu ambisius dan egois dan selalu terpacu dengan waktu. Mungkin ini jalan yang terbaik yang diberikan Tuhan padaku.

Cerpen Karangan: Rahma Nur Aini
Facebook: Rahma Juni Pranata
Rahma Nur Aini siswa kelas 12 IPA SMAN 1 KARANGKOBAR, yang sangat menyukai Timnas baik kalah maupun menang. Sangat suka dengan kegiatan sosial, menyukai Hansamu yama dan mapel sejarah.

Cerpen Perjalanan Menata Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keadilan Kita Berbeda Rasa

Oleh:
Sebuah jam kuno kotak berornamen kayu jati berdenting sembilan kali, menandakan Tuhan terlampau baik pada manusia agar mampu menciptakan alat untuk membantu mengatur waktu istirahat yang optimal demi kesehatannya.

Dimana Tuhanku?

Oleh:
“Selamat pagi tuan putri”. Sapaku pada Anna dengan senyum mengembang. “Kak Zaki? Kakak kok di sini? Aduh, sepertinya aku lagi mimpi nih”. Kata Anna sembari mengucek matanya. Anna tampak

Perjalanan Si Biji Kopi

Oleh:
Awalnya, ia hanya sekembang bunga putih nan langu, yang serbuk benang sarinya terjatuh pada putik karena kepakkan sayap kumbang. Selang beberapa hari, sang kelopak layu dan jatuh, meninggalkan bakal

Ayah, Aku Rindu Sosok’mu

Oleh:
Pagi itu sang mentari mulai menampakkan mukanya ,dan di dalam balutan selimut yang hangat aku mendengar suara seorang laki-laki yang dengan lantang membangunkan ku,ya,,,dia ayahku,dia adalah sosok seorang laki-laki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *