Perjalanan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

Di sebuah mobil travel rute semarang menuju surabaya pada suatu pagi yang temaram. Cuaca di luar mobil tampak menampakkan sinar cahaya matahari yang agak redup dikarenakan tertutup sedikit awan hitam. Jalanan tampak lengang karena kebetulan hari ini masih dalam suasana libur. Setiap orang masih betah bercengkerama dengan keluarganya di rumah memanfaatkan momen libur yang panjang. Di mana hari Jumat adalah libur hari paskah disambung dengan sabtu dan minggu momen libur akhir minggu. Mobil L.300 ini mengangkut 9 orang dengan 2 orang di depan bersama sopir, 3 orang di tengah dan 3 orang di belakang.

Sang Sopir merupakan seseorang laki-laki yang cukup berumur. Aku menaksirnya berumur sekitar 55-58 tahun. Dengan guratan-guratan tanda ketuaannya melekat pada wajahnya. Wajah yang telah menyaksikan segala perjuangan hidup setiap anak manusia. Wajah yang telah merasakan kerasnya dalam meniti kehidupan ini. Saking kerasnya sehingga menempa lekuk dan guratan wajahnya berkarakter masam dan keras. Dihiasi dengan rambut pendek yang sebagian telah berwarna putih. Rambut yang memutih dikarenakan lelahnya merasakan lamanya belaian sinar matahari sepanjang perjalanan hidupnya.

Rambut yang telah mengatakan kepada si orangtua, “Telah ku baktikan seluruh kekuatanku untuk melindungi kulit kepalamu hai orangtua dari kejamnya panas sang mentari, sekarang tibalah saatnya kekuatanku berkurang dan mungkin saatnya akan tiba nanti. Bersama dengan tubuh tuamu yang mulai telah renta untuk bergabung bersama tanah, tempat asal kita.” tidak ada keraguan ataupun ketakutan pada wajah sang sopir menghadapi ketuaannya. Tidak ada rasa menyerah, mengeluh ataupun merasakan kekuatannya yang semakin melemah. Aku melihat adanya tekad yang bulat, sebuah semangat yang entah dari mana munculnya meliputi sang sopir. Mungkin rasa tanggung jawab yang dipikul sang sopir untuk mengantarkan kami dengan selamat ke alamat tujuan kami masing-masing.

“Solar saat ini langka sekali di semarang, kemarin pagi ketika jalan dari Surabaya tidak ada masalah. Solar banyak ditemui sepanjang jalan menuju semarang. Namun ketika sampai di tuban, solar kosong sama sekali, beberapa spbu memasang tanda solar kosong. Untungnya ada satu spbu yang ada dan itu pun ngantre.” Ujar sang sopir membuka pembicaraan dengan nada yang kesal. Kekesalan tersebut bermula karena telatnya jadwal sang sopir untuk meluncur menuju ke Surabaya karena harus mencari Solar ke SPBU sekitar semarang.

“Dari bandung menuju semarang, tidak ada masalah Pak, solar banyak di jumpai pada spbu, sepertinya ada yang bermain untuk area semarang,” jawabku menanggapi obrolan sang bapak.
“Biasa di Indonesia, orang kaya lebih suka untuk memonopoli barang-barang kebutuhan rakyat. Terutama para pejabat yang mempunyai usaha sampingan. Dengan begitu harganya bisa naik dua kali lipat. Ya, begitulah.. rakyat kecil yang dibikin sengsara. Dengan naiknya harga solar berarti naik juga biaya transportasi dan harga kebutuhan pokok.” Aku pun tersenyum menanggapi jawaban sang sopir.

Ku condongkan badanku ke depan untuk mengatur posisi ac agar tidak langsung menerpa badanku. Di sebelah kiriku duduk seorang perempuan muda. Sedari tadi hanya menguping pembicaraan kami dan sibuk menekan tuts-tuts hp-nya. “Saya mempunyai anak, sekarang dia di makassar bertugas jadi reserse di Kepolisian,” sambung sang bapak dengan nada bangga.
“Cuma dia laki-laki anakku. 2 orang adiknya perempuan semua. Sekarang semuanya sudah menikah. Satu di padang Sumatera Barat dan satu lagi di semarang.” Ujarnya sambil mengambil kacamata hitam yang ada di saku bajunya, lalu berusaha membersihkan kacanya dengan menggunakan sebuah lap yang berada di dashboard mobil.

“Sudah lama saya tidak bertemu dengan anakku yang laki-laki. Teramat sibuk katanya. Kebetulan anakku itu baru tamat sekolah pendidikan perwira di Jakarta,” tambah sang bapak.
“Wah, hebat Pak. Anaknya sudah perwira. Tapi ngomong-ngomong Bapak umurnya sudah berapa? Sepertinya sudah tua tapi matanya masih sehat Pak? Tidak rabun?” Ujarku dengan memberikan rentetan pertanyaan yang sedari tadi menjadi misteri besar di benakku. Mataku juga tidak lepas memperhatikan sang sopir. Sehingga tidak heran rasa penasaranku akhirnya menjadi kalimat pertanyaan yang merentet ke sang sopir.

Dengan datar dan tanpa tersenyum seperti biasanya sang sopir menjawab, “58 tahun Mas, akh.. biasa aja kok. Masih banyak teman-teman saya yang seumur masih sehat matanya.” Jawab sang sopir tanpa makna dan menggantung. Sambil mengklakson pengendara motor yang menghalangi jalannya kendaraan kami.
“Saya saja yang muda ini sudah minus Pak, makanya saya heran melihat Bapak masih sehat bugar,” uraiku menjelaskan keadaanku. “Tapi malas untuk memakai kacamata, banyak orang yang pakai kacamata tapi tidak berkurang minusnya malah nambah.. yah artinya tidak jadi sehat dong..” Sambungku menambahkan penjelasanku sebelumnya.

Sang perempuan di samping kiriku menanggapi dengan tertawa lirih. Berusaha untuk masuk ke dalam pembicaraan kami berdua. “Pola makan Masnya yang harus berubah, harus banyak makan sayur dan kurangi makan ikan (di jawa ikan itu bukan berarti arti ikan yang sesungguhnya. Namun ikan di sini berarti makan dengan lauk pauknya yang berupa daging sebagai teman makan).” Jawab sang sopir tanpa mengalihkan perhatian dari jalan di depannya.

Sebenarnya aku sudah bisa menebak jawaban dari sang sopir. Pertanyaan tentang mata itu pun hanya sekedar pancingan untuk lebih memperpanjang pembicaraan agar tidak merasa jenuh di mobil. Namun setelah itu aku tidak punya bahan lagi untuk melanjutkan pembicaraan. Sejenak kami pun saling berdiam diri. Akhirnya sang sopir lagi yang membuka pembicaraan kembali dengan topik yang berbeda.

“Sebenarnya dalam hidup ini yang penting adalah iman.”
“Tanpa iman kita tidak akan bakalan tenang dalam mengarungi hidup ini. Saya kalau mau bisa kayak Mas.”
“Dulu sewaktu masih jadi sopir taksi, uang satu tas ketinggalan di bagasi mobil saya kembalikan. Bahkan handphone juga pernah ketinggalan di mobil, saya selalu kembalikan ke pemiliknya.”

“Tidak pernah saya mengajak tamu saya untuk menawari ke tempat-tempat maksiat… memang sih argonya terus berjalan dan belum tips yang diberikan tamu kepada saya. Tapi yah gak bermanfaat juga buat saya, malah saya juga ikut dosa. Paling saya ingatkan, ‘Pak.. ingat istri dan anak di rumah,’ itu terus yang saya ingatkan kepada para tamu,” Sang sopir dengan semangat menjelaskan kepadaku. Sambil memasangkan kacamata hitamnya. Kebetulan cuaca di luar berubah menjadi terang dan panas mencekat. Sinar sang mentari tampak tembus menerangi bagian dashboard depan mobil.

Kebetulan saat ini kami memasuki daerah pantai utara Jaw tengah. Cuaca panas menyengat sebagai ciri khas daerah ini bercampur dengan angin laut yang berhembus menghempas badan mobil yang berani menentang alur angin. Bunyi gemerisik kisi-kisi pintu yang terpentang menantang angin yang datang dari depan dibelah oleh kecepatan mobil yang melaju kencang. Terkadang bau garam laut dan bau amis ikan tembus tercium sampai ke dalam mobil. Sebagai bukti bagi orang-orang yang pernah melewati jalan tersebut bahwa hal tesebut merupakan bentuk kegigihan para pelaut dari zaman dahulu mengarungi ombak untuk mencari peruntungan bagi penghidupan keluarganya.

Aku pun mengalihkan pandanganku menerawang ke luar mobil. Memperhatikan pinggiran laut jawa dengan ombak yang masih tenang. Ada rasa iri ketika melihat anak-anak pantai bermain di sepanjang pantai. Ataupun menyaksikan penduduk sekitar yang sedang duduk menikmati keindahan laut dengan menampilkan aksi camar laut yang sedang mencari mangsa ataupun air laut yang tenang bergelombang kecil mempermainkan kapal-kapal nelayan yang sedang sandar beristirahat untuk kemudian nanti sore kembali untuk melaut lagi. Iri menyaksikan itu semua karena aku tidak pernah punya kesempatan lagi untuk menikmati indahnya laut. Terakhir ketika aku di SMA menikmati indahnya laut pantai selaki dan pantai pasir putih di Lampung.

“Kenangan lama, memang sulit sekali hilang. Ingin kembali terulang tapi waktunya tidak pernah hadir. Entahlah.. mungkin suatu saat nanti,” pikirku pun mengembara ke beberapa tahun yang lalu ketika bermain di pantai bersama teman-teman SMA-ku. Lamunanku pun buyar, karena tidak lama kemudian sang sopir pun melanjutkan obrolannya.
“Karena iman itulah Mas, saya masih bisa bertahan sampai sekarang. Bisa menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi. Masih bisa dipercaya untuk menjadi sopir travel. Saya pernah istirahat atau menganggur. Dilarang bekerja oleh anak-anakku selama 8 bulan. Tapi tidak betah di rumah. Hanya makan dan tidur serta mengasuh cucu. Akhirnya ya begini, saya kembali berkerja jadi sopir.”

Ada raut tersenyum terlihat datar dari muka masamnya sang sopir. Terlihat ikhlas dan tenang mengayun melebarkan mulut melepas suatu sunggingan senyum. Seperti lepas dari belenggu yang selama ini terkekang oleh rasa tanggung jawab yang berlebihan. “Dari dulu juga saya tidak pernah menuntut suatu hal yang tidak bisa saya dapatkan Mas. Apa adanya saja, ikhlas dalam menghadapi hidup ini. Tidak pernah neko-neko. Anak-anak minta ini dan itu. Saya usahakan dengan tenang dan tidak tergopoh-gopoh. Alhamdulillah selalu ada. Yah itu tadi, kalau kita ikhlas menjalaninya, InsyaAllah pasti ada jalan.” Lanjut sang sopir menjelaskan dengan nada menyakinkan.

Aku pun kembali memperhatikan nada bicara dan mimik muka sang sopir. Ada rasa tidak percaya yang timbul di hatiku yang berusaha muncul. Ikhlas itu selalu datangnya dari hati dan terbesit dari mimik muka dan murah senyumnya seseorang, itu yang biasanya aku temui dalam setiap pergaulanku selama ini. Namun hal ini lain dari gerak-gerik sang sopir. Mungkin di akhir perjalanan aku bisa menyimpulkan sinkromisasi antara ucapan dan tindakan. Bukannya zaman sekarang setiap orang sudah pintar berbicara? Terbukti dengan banyaknya pejabat-pejabat, para wakil rakyat yang obral janji bahkan over acting. Karena pada awal kampanyenya pun hanya menjual janji dan bukan bukti.. hal tersebut pada akhirnya diikuti oleh rakyat. Sekarang siapa saja bisa membual, wong pemimpinnya aja raja membual.

Mungkin sebagian cerita sang sopir ada benarnya juga. Tidak bermasalah jika hanya mencari obrolan pembuka supaya tidak merasa bosan. Namun saat ini aku tidak sedang serius membahas mengenai masalah iman dan ikhlas. Karena menurutku itu urusan masing-masing pribadi. Kalaupun untuk urusan iman dan ikhlas, cukup membahas dengan orang yang berkompetent yaitu para ustad. Aku pun mengalihkan pembicaraan bersama sang perempuan di samping kiriku.

Ia ternyata seorang bidan yang baru dua tahun lulus dari sekolah kebidanan. Sudah dua tahun juga ia berkerja di rumah sakit kecil di Semarang. Kebetulan ia mendapat peluang untuk menjadi bidan di Rumah sakit besar Surabaya. Peluang tersebut tidak disia-siakannya, ia pun langsung berangkat menuju Surabaya. Dan di sinilah ia bersamaku berangkat ke Surabaya. Proyeksi-proyeksi rencana kerja kedepannya sangat terencana rapi di pemikirannya. Sangat aku kagumi, selama ini ia sudah 85% sesuai dengan planningnya.

Tinggal 15% lagi ia harus menyelesaikan masa kerja 2 tahunnya agar mendapat izin praktek, lalu melamar menjadi pegawai negeri. Banyak yang ku tanyakan seputar kebidanan, sekolahnya, bahkan pengalamannya. Sangat mengasyikkan dan menimbulkan minat keingintahuanku seputar kebidanan selama perjalanan tersebut. Namun tidak ku tanyakan nama dan nomor teleponnya. Karena bagiku sesuatu hal yang klasik jika ku tanyakan hal tersebut. Toh tidak ada manfaatnya juga bagiku, ia hanya sebagai teman seperjalanan.

6 jam perjalanan, pada akhirnya tiba di Surabaya. Benar dugaanku, sepanjang mengantar para penumpang, sang sopir selalu mengeluh, bertanya kasar kepada penumpang yang kebingungan. Kebanyakan mereka tidak tahu jalan, ataupun baru pertama kali datang ke Surabaya, oleh karena itu memakai travel supaya diantarkan tepat pada alamat yang dituju. Terkadang jika sudah sampai tujuan, sang sopir meminta kembali tambahan sebagai jasa ongkos mencari jalan.

Hilang sudah teori iman dan ikhlasnya tadi yang dibicarakan selama perjalanan. Aku pun tertawa geli melihat kelakuan sang sopir. Memakluminya, terkadang manusia ini sombong berpura-pura tidak butuh padahal butuh. Atau terkadang manusia ini suka membual untuk supaya dikasihani oleh orang lain sehingga mendapatkan lebih. Yah.. teknik membual yang sekarang banyak dipelajari oleh orang Indonesia dan sedang marak-maraknya. Atau di antara pembaca ada yang berminat mempelajarinya?

Cerpen Karangan: Asep Kurniawan
Blog: https://aanfutureimagine.wordpress.com
Nama: Asep Kurniawan
Alamat Email: aan_future[-at-]yahoo.com
Alamat Facebook: asep.kurniawan.35762[-at-]facebook.com
Kelahiran Palembang tanggal 10 September 1978, lebih mencintai tanah kelahirannya. Sampai suatu ketika tiba waktunya untuk membuka mata, pikiran serta hatinya untuk melihat keindahan kota-kota lain di dunia ini. Menamatkan dengan baik Sekolah Dasarnya di SD 1 PUSRI PALEMBANG, SMPN 8 PALEMBANG, SMUN 7 PALEMBANG, dengan predikat anak baik, tanpa nark*ba, tanpa minuman keras, tanpa pernah berkelakuan tidak baik atau mendapat catatan hitam di kepolisian serta tanpa dikejar-kejar oleh orangtua untuk dinikahi anak perempuannya, untungnya…

Berbekal predikat tersebut saya merantau di negeri seberang yaitu tanah jawa. Tanah kelahiran orangtuaku yaitu ayahku yaitu Jawa Barat. Tepatnya di kota bandung untuk melamar menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ITB, namun gagal total karena ternyata otakku masih kalah encer dengan calon-calon lainnya. Akhirnya aku pun terdampar di Kampung Paling Besar di Negara ini adalah Jakarta. Aku pun akhirnya mendapat predikat gelar mahasiswa di salah satu kampus negeri Kementrian Perindustrian dan Perdagangan (dahulunya masih digabung karena sering berebutan jatah akhirnya sampai dengan tulisan profil ini saya buat alhamdulillah sudah dipisah) yaitu APP (Akademi Pimpinan Perusahaan) ceritanya sih pengen jadi Direktur itu pun kalau ada modal, tapi apa daya tangan tak sampai jadi karyawan pun masih Alhamdulillah, mengambil jurusan Perdagangan Internasional.

Tahun-tahun di kampus aku abdikan dari tahun 1997-2001 serta termasuk predikat mahasiswa paling beruntung karena tidak menjadi korban penganiayaan aparat ketika demo mahasiswa untuk menurunkan Presiden Soeharto. Aktif dalam kegiatan Mapala, sepak bola kampus walaupun jadi cadangan dan pemandu sorak, aktif dalam berorganisasi dengan organisasi bentukan dadakan oleh anak-anak kost yang memang belum punya kerjaan terpenting ada ide dan kumpul bahkan aktif dalam dunia jurnalistik walaupun hanya baru sebagai penikmat dan pengamat. Termasuk mahasiswa pencinta buku yang hobi mengkoleksi buku apa pun serta mempunyai hobi menulis walaupun belum pernah kesampaian.

Berbekal ijazah aku pun mendapatkan perkerjaan sebagai EDP (Entry Data Processing) di sebuah perusahaan advertising yang kebetulan menangani ponsel Ericcson. Sambil berkerja ku teruskan untuk berkuliah mengambil Strata 1 di Universitas Nasional Jakarta jurusan Hubungan Internasional. Kecintaanku pada literatur sejarah dunia, Tokoh-tokoh besar dunia, semakin terbuka ketika mengambil jurusan ini. Pemikiran-pemikiran Islam dan Barat beradu argument di kepalaku, tokoh-tokoh sentralnya pun tidak luput dari perhatianku.

Selama berkuliah di Universitas Nasional ini sudah dua kali berganti
perkerjaan. Untuk di perusahaan advertising saya abdikan dari bulan Juni 2001-Maret 2002. Setelah itu saya bergabung dengan PT Summit Plast Cikarang sebagai team Leader. Saya abdikan di perusahaan tersebut dari bulan Oktober 2003-Jan 2004. Selepas mendapatkan predikat Sarjana Strat 1 dengan gelar Sarjana Politik saya pun bergabung di PT Yomart Rukun Selalu dengan spesifikasi perkerjaan retail dari tgl 14 september 2006-15 mei 2011 jabatan terakhir sebagai Spv area untuk daerah Bandung.

Di bulan Mei 2011 saya pun bergabung di PT MNC SKY VISION bergerak di bidang Pay tv (saluran tv berlanganan) sebagai spv area untuk daerah Cirebon, Majalengka dan Kuningan. Saya abdikan di perusahaan ini sampai dengan bulan Maret 2012. Terakhir saya mengabdikan diri saya masih didunia retail yaitu retail garment di perusahaan PT Sandang Makmur Sejati Tritama dengan brand Royalist sebagai Spv Wilayah Indonesia Bagian Timur yang meliputi semua area Jawa kecuali Jabodetabek, Sulawesi dan Kalimantan.

Saya sekarang mempunyai keluarga kecil yang masih menuju bahagia, dengan dianugerahi seorang istri bernama Lina Marlina dan sepasang anak. Anak pertama yaitu perempuan bernama Adinda Zahra Putriana dan adiknya laki-laki bernama Fathi Rizqi Faqihazam Zuhdi (azam). Kami sekarang menetap di kota bandung yang indah nan sejuk.

Cerpen Perjalanan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rintihan Lidah

Oleh:
Semua orang memilikiku. Manusia dan hewanpun memilikinya. Bahkan, tanamanpun sama. Hanya saja berbeda nama. Ada dua cara untuk menggunakanku. Cara pertama, aku selalu di pakai orang untuk mengecap sesuatu.

Mental Kuli

Oleh:
Lampu merah tanda berhenti, aku menyeberang saat semua kendaraan mulai berhenti, berjalan di trotoar menuju ibu-ibu yang membawa seabrek koran, “beli satu bu, berapa?” tanyaku sambil milih-milih koran yang

Semasa Kecil Kelam

Oleh:
Semasa kecil yang telah lama mereka tinggalkan. Semasa kecil adalah masa-masa indah yang tidak akan terlupakan, semasa dimana mereka bagaikan malaikat kecil yang belum ternoda, semasa dimana mereka merasakan

Jalanan Hitam Putih

Oleh:
Aku duduk di bawah pohon jambu ini, sambil melihat ke arah utara. Di sana, mereka sedang bermain dan berlari tak tentu arah. Ya, sekarang kami sedang jam olah raga.

Cincin Kawin Ibu

Oleh:
Suara mesin jahit ibu sudah mulai terdengar, pertanda subuh sudah datang. Seperti biasa ibu meneriakiku untuk bangun dan salat subuh. “Bangun, Le. Sudah subuh,” Ibu yang sudah bangun lebih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *