Perjalanann Hidup Anak Rantau

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 19 December 2017

“pengalaman membuat kita mengerti tentang banyak hal. Mengerti akan arti hidup yang sesungguhnya dan berada jauh dari orangtua, merubah kita menjadi dewasa. Dewasa dalam berpikir, dewasa dalam bertingkah dan dewasa dalam mengambil keputusan”.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun berganti, tak terasa 3 tahun sudah kulalui. Canda, tawa, susah dan senang datang silih berganti. Itulah seni dari kehidupan. Sekian lama aku bergumul bersama orang-orang asing di tempat yang asing pula. Kesendirian, kesunyian dan kehampaan selalu kurasa dalam hidupku. Betapa sulitnya aku menyesuaikan diri di tempat yang asing ini. Tak ada saudara, tak ada keluarga, sahabat pun jarang. Dalam keadaan seperti ini, aku bingung, aku ragu dan aku bimbang dalam mengarungi kahidupan dan menjalani hidup ini sendiri. Dalam hati kecilku, aku bertanya-tanya, mampukah aku menjalani semua ini?

Kasih sayang kini tak lagi kurasakan dari kedua orangtua dan sanak saudaraku. Saat ini, aku dituntut untuk bisa mencari dan menemukan kasih sayang dari orang-orang asing ini. Tanpa kasih sayang dari keluarga aku harus bisa menentukan hidupku sendiri. Betapa sulitnya hidup ini. Hidup ini tak segampang seperti kita membalikkan telapak tangan. Dengan segala kesederhanaan, dengan segala kekurangan aku mulai menapaki hidup ini tanpa ditemani seorangpun. Ketika bersama orangtua dan sanak-saudaraku, walaupun sederhana tapi aku selalu santai dalam menjalani hidup. Tetapi kini kenyataan mulai berbalik. Bersama diriku sendiri, aku harus membuat segala sesuatu yang tak ada menjadi ada. Membuat segala sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin.

Demi hidup dan masa depanku, aku harus rela meninggalkan kampung halaman, meninggalkan ayah-ibu dan sanak saudaraku. Demi sesuap nasi, aku harus tinggal di tanah orang. Tinggal dengan orang yang tak dikenal, dengan orang yang tak punya hubungan apapun, aku harus nunut hidup dengan mereka untuk bisa bertahan hidup. Ini adalah pengalaman pertamaku tinggal bersama dengan orang. Betapa sulitnya aku menghadapi semua ini, tetapi semua ini kulakukan demi hidupku.
Sekian lamanya aku terlarut dalam pikiranku. Aku terlena dengan kenyataan hidup seperti ini sehingga pada akhirnya aku lalai untuk merangkai dan merencanakan kehidupanku kedepannya.

Berteman sebuah laptop tua dan sebatang rok*k, aku coba merenungi dan merefleksi hidupku. Seketika, aku terbangun dan teringat akan kata-kata kuno yang sangat sederhana yang pernah kudengar dari seorang sahabatku. Katanya, “di dalam menjalani hidup ni, janganlah beban yang lebih besar daripada hidup, tetapi hidup ini yang harus lebih besar dari pada beban”.

Berpijak dari kata-kata ini, aku sadar dan mulai dengan kehidupanku yang baru. Perlahan-lahan aku mulai merubah arah hidupku dan mengejar semua ketertinggalanku. Setelah aku sendiri, baru aku sadari, ternyata hidup ini tidak terlalu sulit, apabila kita menikmati hidup apa adanya, menjalani hidup apa adanya, dan mensyukuri semua yang telah diberikan tuhan kepada kita. Interaksi yang baik dengan sesama, mencintai sesama, mencintai pekerjaan, ketekunan, kedisiplinan, kejujuran dan kesetiaan adalah kunci utama menuju pada hidup tenteram dan sejahtera.

Sekian

Cerpen Karangan: Urby Binsasi
Facebook: Urby Binsasi
Nama: Urby binsasi
Ttl: kefamenanu, 10 juni 1991
Pekerjaan: guru (SMP Satap Siufmuke)
Selamat pagi teman-teman, ini merupakann cerpen pertamaku yang di upload. Mudah-mudahan bisa berguna bagi kita semua.

Cerpen Perjalanann Hidup Anak Rantau merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebahagiaan

Oleh:
Kucing-kucing hitam yang lucu bercerita padaku. “Sebenarnya aku dulu manusia, namun aku lelah menjadi manusia, aku memilih menjadi seekor kucing, aku seperti ini adalah kehendakku…” katanya. Lalu aku tanyakan,

SMS Lailatul Qadri

Oleh:
Setelah shalat Subuh, aku baru kembali mengaktifkan hp yang semalaman di off kan. Malam ke 27 bulan suci Ramadhan aku sempatkan beri’tikaf di masjid dekat rumah. Sebenarnya, ingin sekali

Aku Juga Wanita

Oleh:
Entah berapa juta-juta kali kata-kata cemoohan dan cibiran itu keluar dari mulut setiap orang yang mengetahui keadaanya. Bahkan yang paling ekstrim ada yang sampai mengutuk dan memvonisnya sebagai penghuni

34 (1)

Oleh:
Aku melihat bapak dari kejauhan. Duduk di kursi kayu depan rumah kami yang lapuk. Beliau tertunduk. Memperlihatkan rambut yang telah tertutup uban. Entah apa yang dipikirkannya. Memikirkan apa yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *