Permata Kasandri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Kehidupan, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 3 February 2019

Tanpa melihat keluar jendela. Kasandra tahu bahwa suara merdu yang sedang melafalkan Ayat-ayat suci itu adalah Kasandri, sang suami. Penatnya rutinitas yang mesti dijalaninya sebagai mahasiswi di salah satu perguruan tinggi ternama di kota M, masih layak ia syukuri. Bagaimana tidak, Tuhan sedang berbaik hati menitipkan padanya pelipur lara dikala hidupnya kacau balau digilas roda zaman yang menjerumuskannya jauh diatas lautan tak bertepi.

Lama terombang-ambing hingga nyaris kewarasannya pun raib direnggut hantu laut pun sudah ia lalui. Kasandra tahu, tidak ada lagi yang pantas ia tinggikan di hadapan Tuhan, ibu, bapak, juga suaminya. Kasandra kerap merendahkan diri, meski tak jarang kasandranya yang lain datang mencibir.
“Lihat dirimu kini, menyedihkan sekali.” Ucap kasandra nya yang lain itu suatu waktu.
“Anda saja kau menuruti ucapanku, barangkali sepatu dan tas-tas mahal itu masih kau dapati”

Kasandra menyudahi pekerjaanya. Membasuh wajahnya yang putih khas remaja perkotaan. Duduk di atas amben buatan suaminya di pekarangan rumah, tepat di bawah pohon jambu air yang sesekali berjatuhan bunganya. Ia tak dapat membendung tawa, ia teringat pesan sang suami.
“Bila suatu waktu, hatimu gundah. Basuhlah wajahmu, berteduh di atas sini dan bayangkan wajahku kalau sedang tertidur. Kalau juga tak membaik hatimu, berbaringlah, lukis wajahku di langit”. kali ini tawanya lepas tak lagi mampu ia tahan. Tidak, tidak hanya karena pesan itu teruji, tetapi karena Kasandra tahu, wajah suaminya bila tertidur lucu sekali. Begitu bahagianya bahkan nyaris ia lupa Kasandranya yang lain masih berdiri mengikutinya meski tak kasat mata. Menatapnya dengan tatapan tajam, lalu berkata
“Dasar pel*cur murahan, tidak tahu diuntung. Tubuh sudah bau anyir masih saja tak tahu diri”

Kasandra tak bergeming, semakin Kasandranya yang lain ricuh layaknya badai api. Ucapan Kasandri, pun turut mengalir membasuh perih. “kalau juga tak membaik hatimu, berbaringlah, lukis wajahku di langit”
Kasandra memalingkan wajahnya, menatap langit biru, jari-jemarinya seakan meniru Leonardo Da Vinci. “Ah, kasihku” Batin kasandra dalam hati.

Semenjak hari itu, kasandra selalu mengingat kasandri, Suaminya. Menghiraukan cibiran yang datang bak semut berbaris rapi. Kalau-kalau ada yang mengatakan ia tak tahu diri, sudah gila. Kasandra, ia membalasnya dengan tawa kecil. Dalam hati ia berbisik, “yah aku memang sudah gila. Bahkan sudah tergila-gila” tuturnya sambil bergegas melangkahkan kaki ingin cepat pulang menemui sang Suami.

Sesaat kemudian lamunannya berakhir, pandangannya menjadi gelap gulita. Listrik tiba-tiba saja mati. Bersamaan dengan itu seluruh ingatannya akan suaminya seakan raib terenggut hantu laut. Bayangan lelaki dari masa lalunya kembali hadir, ketika lelaki itu mengecup bibirnya, menanggalkan satu persatu pakaiannya, berjanji menikahinya dengan seluruh kemegahan di dunia. Kasandra tak berkutik, kehormatannya dilucuti habis. Ia tak memungkiri, ia bak pel*cur murahan di pinggiran jalan. Menikmati momen itu meski dalam hati juga gundah. Terus hadir, ia teringat ketika lelaki itu menamparnya keras. “Dasar Pel*cur” ucapnya.
“Jangan mengada-ada. Jangan bermain-main denganku” tambahnya.
Selayaknya film layar lebar, “movie platinum” ingatan itu terus menampilkan adegan-adegan hebatnya.

Ketika ia berdiri di tepi atap hotel berbintang. Isak tangis ibu dan saudari-saudarinya ketika ayahnya meninggal, semua menyalahkannya. “Dasar wanita murahan,” sergah salah satu rekan ibunya. Dadanya menjadi sesak, pikirannya terus menerawang jauh, berhenti tepat dihari pernikahannya. Tidak ada sanak saudara, ibunya jatuh sakit, saudari-saudarinya menjauhinya. Tidak ada teman, atau sahabat yang datang. Bahkan rekan sosialitanya pun yang dulu menggadang-gadangkan ikatan kekeluargaan seakan menghilang. Lalu di sampingnya, ia melihat Kasandri. Menggenggam erat tangannya meski ayah dan ibunya juga tak datang. Mengecup keningnya meski hanya segelintir rekan dan sahabat yang bertandang. Kemudian berjanji akan sehidup semati dengannya, meski saudara-saudarinya enggan berjabat tangan. “Tuhan, Tuhan di mana engkau. Tak bisakah kuakhiri ini sekarang.” Ucapnya dalam hati.

Kasandra memejamkan matanya, berharap hantu-hantu laut itu juga cepat datang, merenggut jiwanya seorang. Hanya jiwanya, berharap jauh-jauh terkubur dalam-dalam. Ada bisikan hangat di telinganya, “Hey, aku sudah disini” sesaat ia merasa izrail sudah datang. Tapi tidak, mengapa sehangat ini. Ia membuka matanya. Lagi dan lagi itu Kasandri, menyelamatkannya dari laut tak bertepi. Tangisnya tumpah di pundak sang suami tercinta. Kali ini ia yakin betul. Ia melihat Tuhan di matanya, mata kasandri yang berkilau bak permata yang milyaran harganya.

Cerpen Karangan: Randi Anggara Putra
Blog / Facebook: Randi Anggara

Cerpen Permata Kasandri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arti Makna Kehidupan

Oleh:
Awal cerita berawal dari seorang anak yang merantau ke negri orang dimana dia dulunya adalah seorang anak yang dimanjakan oleh kedua orang tuanya yang bernama JANUR. Anak ini mencari

Dua Sisi Segala Hal

Oleh:
Namanya Kia, bibirnya merah muda dan mulutnya yang beraroma v*dka menyemburkan kalimat-kalimat yang tak ku mengerti. “Adam.” Tahukah engkau, bahwa laki-laki selalu berakhir di suatu tempat yang sama? Entah

Takdir Teridah

Oleh:
Separuh nyawaku terasa hilang, buliran bening air mata turun tak terbendung membasahi pipi, hati kalut dan dipenuhi kekawatiran yang dalam, ketika engkau melambaikan tanganmu di dalam bis yang akan

Takdir ‘Ai’ Kita (Part 1)

Oleh:
Takdir. Satu garis yang telah dilukis Tuhan buat para hambanya. Seperti saat ini. Ketika seorang pria bernama Emir Haidar sedang duduk tenang di meja kafe dan menatap serius laptopnya

Ulang Tahun

Oleh:
“An, apa yang kamu inginkan?” Tanya Ahmad pelan saat Ana sedang melipat baju di kamar. “Haa? Maksud mas?” Ana menjawab dengan bingung sembari menaikkan alis sebelah kirinya. “Yaa… maksudku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *