Persimpangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

Malam menampakkan kepekatan yang mengerikan dengan langit tanpa sinar rembulan dan bintang. Bergelayut mendung menduduki singgasananya menunggu waktu untuk menumpahkan seluruh isinya. Burung walet beterbangan menyapa hujan yang mulai akan turun. Bercericit riang memenuhi langit malam ini, mengucapkan salam persahabatan kepada angin dan kepada malam. Bercericit syukur kepada sang pencipta atas berkah hidup indahnya. Hujan rintik-rintik pun berganti menjadi hujan yang sangat deras. Namun tidak berarti angin yang dihembuskannya bernada dingin. Tetap seperti biasanya angin meniupkan hawa hangat bercampur bau tanah kering yang tertimpa air.

Tanah yang seharian ditimpa panas sang mentari yang terbakar, melepas debu asap berbau tanah ketika tertimpa air sang hujan. Seorang pemuda duduk terpaku menghalau pandangannya yang terhalang air hujan yang tumpah ruah ke bumi. Setengah berlari menuju kamar kostnya yang terhalang kisi-kisi kayu untuk menghalau sang hujan agar tidak langsung menerpa pintu dan dinding kamarnya. Dibiarkan pintunya terbentang setengah terbuka, dengan harapan bisa merasakan udara dingin yang masuk menggantikan hawa panas yang mendekap di dalam kamarnya. Kembali dia duduk bersila menghadap ke arah luar, seperti menunggu apa yang akan muncul di depan pintu kamarnya.

Berkerut keningnya menatap luar kamarnya, seperti memikirkan seperti apa bentuk atau wujud yang akan nanti hadir di hadapannya. Matanya tanpa henti terpaku terus menatap luar, napasnya tampak teratur mengatur irama pikirannya. Menghadirkan suatu nada irama indah yang mengalun pelan menuju ke akal pikirannya lalu dihadirkan dalam bentuk objek-objek maya yang diproyeksikan ke dalam tatapan matanya. Namun yang hadir tidak seperti yang diharapkannya. Seorang ibu gemuk, dengan rambut terurai, memakai baju tidur hadir tiba-tiba di depan matanya.

“Mas, kost tinggal 3 bulan lagi yah? Syukurlah, kalau begitu..”
“Begini Mas. Kost-an Ibu ini sedang sepi, ya cuma Mas dan penghuni kamar dekat pintu masuk saja yang paling lama dan betah tinggal di sini. Penghuni yang lain paling cuma satu sampai dengan dua bulan sudah ke luar. Ibu berterima kasih kalau Mas merasa nyaman.. jangan sungkan-sungkan kalau butuh sesuatu ya Mas,”
“Tadi Ibu ke mari cuma mau cek, kok lagi hujan pintu kamarnya terbuka, takut Mas ketiduran atau sedang pergi lupa menutupkan pintu. Maaf ya Mas mengganggu,”

Sang pemuda tidak sempat berbicara apa pun, namun sang ibu kost pun sudah berlalu pergi. Tampaknya sang ibu cukup puas dengan melihat anggukan dan senyuman sang pemuda saja, yang menganggap bahwa apa yang dibicarakannya dapat dimengerti oleh sang pemuda. Tanpa memikirkan pembicaraan yang terjadi barusan, sang pemuda pun merebahkan badannya ke tempat tidurnya. Sambil kembali menatap ke luar pintu kamarnya. Kali ini ia menatap hanya dengan tatapan kosong. Terlihat hanya gerakan dadanya yang kembang kempis serta menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kencang. Seperti mencoba untuk membuang beban pikiran yang menghantuinya semenjak tadi.

Kamar kost pemuda ini terletak di lantai dua sebuah bangunan bedeng. Bangunan bedeng maksudnya bentuk kamar yang bersusun menghadap sebuah halaman atau langsung menghadap dunia luar. Kebetulan di sepanjang koridor yang membatasi kamarnya dengan dunia luar dibatasi oleh kisi-kisi kayu. Kegunaannya seperti yang sedang terjadi, dapat menahan hujan ataupun ketika sedang cerah, dapat menahan panas matahari sehingga tidak langsung menghujam ke arah kamarnya. Beruntung karena letaknya di atas, sehingga pemuda tersebut tidak terganggu oleh orang-orang yang lalu lalang di depan kost-annya ini.

Sudah 3 bulan, pemuda ini tinggal di rumah kost ini. Awal mulanya ia mendapat tugas dari kantornya untuk menangani masalah anak cabang perusahaannya di kota ini selama 6 bulan. Namun baru saja 3 bulan, ia merasa seperti terbuang dari kehidupannya, terbuang dari keluarganya, serta terbuang dari perkerjaannya. Merasa bahwa dirinya ditempatkan di daerah ini karena tidak dibutuhkan oleh kantor pusat sehingga sengaja membuang dirinya ke luar kota yang jauh. Belum lagi perasaan kangen yang membuncah di dadanya jika ingat anak dan istrinya. Anak yang baru berusia 7 dan 4 tahun, masa di mana sedang manis, nakal dan lucu-lucunya. Pada akhirnya kembali ia merenungkan dan menyesali keputusannya untuk menerima tugas di luar kota.

“Perusahaan saat ini sangat membutuhkan kontrol yang ketat di daerah tersebut, jadi saya harap anda mau menerima tawaran ini,”
“Apa yang saya dapatkan Pak, kalau saya menerima tawaran ini?”
“Uang kost akan ditanggung perusahaan, transport, sedangkan uang makan sedang saya ajukan, nanti saya usahakan akan diadakan meeting 1 bulan sekali sehingga anda bisa pulang.”
Pemuda tersebut setuju dan merasa tertantang untuk memperbaiki daerah yang ditugaskan kepadanya.

Sebelumnya ia memang sudah tertempa untuk menerima tanggung jawab yang besar. Telah terbiasa menerima tugas dan kepercayaan penuh dari para atasan sebelumnya. Oleh karena itu kepercayaan dari perusahaan ini merupakan tantangan tersendiri bagi dirinya. Namun tidak ada kontrak atau kertas hitam di atas putih yang jelas. Tidak ada surat tugas yang menegaskan batas-batas tugas atau wewenangnya di kota tersebut. Pada akhirnya di sinilah ia terdampar dengan penuh luka terkoyak. Hanya tanggung jawab yang bisa menahan dirinya untuk kembali. Tanggung jawab sebagai seorang bawahan yang sedang menjalankan tugas serta tanggung jawab sebagai suami untuk menghidupi keluarganya.

Luka yang terkoyak tersebut ditimbulkan oleh janji yang tidak pernah terealisasi. Semuanya atas dasar pengertian dan sukarela karena perusahaan tiba-tiba mengalami krisis financial akibat kenaikan UMR (Upah Minimum Regional). Hanya uang kost yang pemuda tersebut dapatkan, uang makan berasal dari uang gajinya sendiri yang tidak cukup karena menghidupi dua dapur, pulang pun memakai uang pribadi setiap bulannya dengan alasan-alasan tertentu. Terkadang ia pun menggunakan uang pribadi untuk setiap pengeluaran dalam masalah kerja.

Saat ini ia sedang mempertimbangkan untuk mundur dari perusahaan ini. Dengan pertimbangan keluarga. Anaknya yang kecil sudah sering sakit-sakitan, istrinya pun sering mengeluh karena jauhnya tempat berkerjanya dari rumah. Karena sebelumnya pemuda tersebut yang bertugas mengantar dan menjemputnya di tempat kerjaan. Selain irit juga hemat di waktu. Akibatnya pengeluaran rumah tangga pemuda tersebut pun membengkak. Terkadang mereka di tengah bulan sudah harus mencari pinjaman ke sana ke mari untuk menutupi biaya operasional dan makan keluarga. Sungguh ironis, padahal perkerjaan di tangan mereka berdua merupakan perkerjaan yang paling strategis dalam perusahaannya masing-masing.

Di tangan sang pemuda tergenggam handphone dengan isi Short Message System (SMS) yaitu sebuah panggilan kerja di sebuah perusahaan kompetitor. Sedari tadi ia memikirkan masak-masak mengenai tawaran yang berada di tangannya. Perusahaan yang memanggilnya merupakan perusahaan yang sudah besar dan ternama. Hanya kerja keras untuk me-maintenance pencapaian omzet salesnya. Namun perusahaan yang sedang ia geluti sekarang masih berumur 3 tahun. Tidak sedang dalam bangkrut dan aman, namun memang sedang melakukan pembenahan dalam hal kalkulasi untung dan ruginya operasional sehingga ke depannya perusahaan lebih bisa safe kembali.

Peluang yang ia dapatkan jika ia bertahan tentu lebih besar dan terbuka. Pemuda tersebut mengerti jika ia bertahan dalam suatu badai tentu kedepannya ia malah lebih kuat dalam menghadapi badai yang lebih besar. Penghargaan yang ia dapatkan pun tentunya akan lebih baik jika ia hengkang dalam keadaan perusahaan profit. Namun ia tidak bisa berlama-lama di tempat seperti ini, mau sampai kapan? Kasihan keluargaku, mereka sangat membutuhkan kehadiran seorang ayah untuk menjadi imam buat mereka. Pertentangan-pertentangan tersebutlah yang muncul dalam benak pikirannya. Mengganggu tidur di waktu malamnya, mengganggu konsentrasi dan komunikasinya dengan pihak ketiga dalam perkerjaannya.

Pandangannya pun masih menerawang ke luar pintu kamar, menunggu siapa yang akan mewujud hadir dan menang dalam pertentangan ini. Berharap sang pemenang dapat menarik dirinya ke luar dari lingkaran-lingkaran frustasi yang menghinggapinya. Pertentangan itu pun sampai saat ini terus berlangsung, mewujud menjadi bentuk suatu persimpangan jalan. Suatu persimpangan yang masing-masing arah menuju jalan yang gelap tanpa cahaya. Semuanya masih meraba, semunya pasti ada resiko, semuanya pasti akan berbeda namun dengan kondisi yang sama yaitu harus kerja keras di mana pun berada.

Namun semua pilihan yang ada adalah ia harus kumpul bersama keluarganya baik di tempat yang baru atau di tempat yang lama dengan kondisi tawar menawar.. Tapi mungkinkah? Entahlah.. hanya gemericit suara burung-burung walet yang melintas cepat menyambar sang ngengat sebagai menu makannya sehabis menikmati segarnya air hujan malam ini. Pemuda itu pun masih tenggelam dalam mencari keputusannya, menatap rintik-rintik hujan yang mulai sedikit demi sedikit reda.

Cerpen Karangan: Asep Kurniawan
Blog: https://aanfutureimagine.wordpress.com
Nama: Asep Kurniawan
Alamat Email: aan_future[-at-]yahoo.com
Alamat Facebook: asep.kurniawan.35762[-at-]facebook.com
Kelahiran Palembang tanggal 10 September 1978, lebih mencintai tanah kelahirannya. Sampai suatu ketika tiba waktunya untuk membuka mata, pikiran serta hatinya untuk melihat keindahan kota-kota lain di dunia ini. Menamatkan dengan baik Sekolah Dasarnya di SD 1 PUSRI PALEMBANG, SMPN 8 PALEMBANG, SMUN 7 PALEMBANG, dengan predikat anak baik, tanpa nark*ba, tanpa minuman keras, tanpa pernah berkelakuan tidak baik atau mendapat catatan hitam di kepolisian serta tanpa dikejar-kejar oleh orangtua untuk dinikahi anak perempuannya, untungnya…

Berbekal predikat tersebut saya merantau di negeri seberang yaitu tanah jawa. Tanah kelahiran orangtuaku yaitu ayahku yaitu Jawa Barat. Tepatnya di kota bandung untuk melamar menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ITB, namun gagal total karena ternyata otakku masih kalah encer dengan calon-calon lainnya. Akhirnya aku pun terdampar di Kampung Paling Besar di Negara ini adalah Jakarta. Aku pun akhirnya mendapat predikat gelar mahasiswa di salah satu kampus negeri Kementrian Perindustrian dan Perdagangan (dahulunya masih digabung karena sering berebutan jatah akhirnya sampai dengan tulisan profil ini saya buat alhamdulillah sudah dipisah) yaitu APP (Akademi Pimpinan Perusahaan) ceritanya sih pengen jadi Direktur itu pun kalau ada modal, tapi apa daya tangan tak sampai jadi karyawan pun masih Alhamdulillah, mengambil jurusan Perdagangan Internasional.

Tahun-tahun di kampus aku abdikan dari tahun 1997-2001 serta termasuk predikat mahasiswa paling beruntung karena tidak menjadi korban penganiayaan aparat ketika demo mahasiswa untuk menurunkan Presiden Soeharto. Aktif dalam kegiatan Mapala, sepak bola kampus walaupun jadi cadangan dan pemandu sorak, aktif dalam berorganisasi dengan organisasi bentukan dadakan oleh anak-anak kost yang memang belum punya kerjaan terpenting ada ide dan kumpul bahkan aktif dalam dunia jurnalistik walaupun hanya baru sebagai penikmat dan pengamat. Termasuk mahasiswa pencinta buku yang hobi mengkoleksi buku apa pun serta mempunyai hobi menulis walaupun belum pernah kesampaian.

Berbekal ijazah aku pun mendapatkan perkerjaan sebagai EDP (Entry Data Processing) di sebuah perusahaan advertising yang kebetulan menangani ponsel Ericcson. Sambil berkerja ku teruskan untuk berkuliah mengambil Strata 1 di Universitas Nasional Jakarta jurusan Hubungan Internasional. Kecintaanku pada literatur sejarah dunia, Tokoh-tokoh besar dunia, semakin terbuka ketika mengambil jurusan ini. Pemikiran-pemikiran Islam dan Barat beradu argument di kepalaku, tokoh-tokoh sentralnya pun tidak luput dari perhatianku.

Selama berkuliah di Universitas Nasional ini sudah dua kali berganti
perkerjaan. Untuk di perusahaan advertising saya abdikan dari bulan Juni 2001-Maret 2002. Setelah itu saya bergabung dengan PT Summit Plast Cikarang sebagai team Leader. Saya abdikan di perusahaan tersebut dari bulan Oktober 2003-Jan 2004. Selepas mendapatkan predikat Sarjana Strat 1 dengan gelar Sarjana Politik saya pun bergabung di PT Yomart Rukun Selalu dengan spesifikasi perkerjaan retail dari tgl 14 september 2006-15 mei 2011 jabatan terakhir sebagai Spv area untuk daerah Bandung.

Di bulan Mei 2011 saya pun bergabung di PT MNC SKY VISION bergerak di bidang Pay tv (saluran tv berlanganan) sebagai spv area untuk daerah Cirebon, Majalengka dan Kuningan. Saya abdikan di perusahaan ini sampai dengan bulan Maret 2012. Terakhir saya mengabdikan diri saya masih didunia retail yaitu retail garment di perusahaan PT Sandang Makmur Sejati Tritama dengan brand Royalist sebagai Spv Wilayah Indonesia Bagian Timur yang meliputi semua area Jawa kecuali Jabodetabek, Sulawesi dan Kalimantan.

Saya sekarang mempunyai keluarga kecil yang masih menuju bahagia, dengan dianugerahi seorang istri bernama Lina Marlina dan sepasang anak. Anak pertama yaitu perempuan bernama Adinda Zahra Putriana dan adiknya laki-laki bernama Fathi Rizqi Faqihazam Zuhdi (azam). Kami sekarang menetap di kota bandung yang indah nan sejuk.

Cerpen Persimpangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hanya Mimpi

Oleh:
Matahari muncul dari ufuk Timur. Menyinari seluruh kehidupan. Orang-orang segera melakukan aktivitasnya masing-masing. Begitu juga diriku. Karena hari ini hari Minggu, aku bebas melakukan apa saja. Pagi ini aku

Bahagiaku Adalah Bahagiamu

Oleh:
Kring.. kring.. kring bunyi handphone di saku kananku, Aku tidak berani membukanya meski tak seorang pun mengawasiku di ruangan ini tapi tetap ada CCTV di setiap sudut ruangan tengah

Paradigma

Oleh:
Satu tambah satu sama dengan dua, ya, itu memang benar. Dua tambah dua sama dengan empat, ya sekali lagi, benar. Dua tambah tiga sama dengan lima, benar sekali. Bagaimana

The Gift For My Parents

Oleh:
“Duaaaaarrrrr.” suara gemuruh petir yang diiringi dengan derasnya hujan malam ini membuat tak terdengarnya isak tangis Salsa di dalam kamar. Ia tak percaya bahwa perbincangan dengan orangtuanya tadi membawa

Nona Manis

Oleh:
UAS telah selesai. Itu artinya aku bisa pulang kampung. Ritual yang juga biasa dilakukan oleh Mahasiswa lainnya terutama mereka yang merantau. Aku menyebutnya pulang kampung meski Kalideres adalah kota.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *