Pertama dan Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 September 2018

Namaku Susi, umurku memang baru 15 tahun. Tetapi, beban pikiranku melebihi umurku. Tanggung jawabku sama seperti orangtuaku, semuanya demi kebahagiaanku dan keluargaku.

Hari ini adalah hari yang sangat kutunggu-tunggu, hari dimana semua orang bekerja di tempat ini, termasuk juga aku untuk menerima gaji yang mungkin tidak besar, tetapi harus aku syukuri. Karena masih banyak yang harus aku pikirkan.

Saat aku melangkah pulang, langkah kakiku terhenti di depan toko baju yang sangat bagus. Bukan baju yang bagus itu yang membuatku terhenti, tetapi mukena yang tergantung di depan toko tersebut yang membuat aku teringat pada ibuku. Aku memandangi mukena itu sangat lama, dan harga mukena itu melekat pada kainnya. Harga yang sangat jauh untuk aku capai, dengan gaji yang besarnya hanya sekali makan saja. Kakiku pun mulai melangkah pergi dari depan toko baju itu.

Akhirnya aku pun sampai di rumahku, aku mengetuk pintu rumahku yang penuh dengan lubang. Ku melangkah masuk ke rumahku yang sangat kumuh dan tidak layak untuk ditempati lagi, ku mendengar adikku menangis sangat keras namanya Leni. Dia satu-satunya adikku. Aku mendekatinya dan bertanya kepadanya mengapa ia menangis. Ternyata ia lapar karena dari pagi ia belum makan. Hatiku terasa teriris mendengar jawaban adikku, aku pun berlari keluar dan membeli beberapa telur dan setengah Kilogram beras. Aku pun memasaknya untuk adik dan ibuku. Melihat adikku makan dengan lahap, membuatku ingin menangis, tetapi aku menahannya karena aku harus tegar di depan adikku. Ibuku tidak bisa bekerja karena sakit yang dideritanya.

Tak sadar, Adzan Maghrib sudah berkumandang. Aku pun pergi berwudhu dan langsung menjalankan Shalat Maghrib. Dalam do’aku aku berharap akan datang sebuah kebahagiaan untuk keluarga kecilku.
Saat semuanya sudah tertidur, aku teringat tentang mukena yang aku lihat tadi. Mengingat uangku sudah habis untuk membeli makanan. Aku tidak tahu bagaimaa cara mendapatkan uang itu lagi, aku hanya bisa pasrah dengan kondisi yang aku alami. Semoga esok ada secercah harapan yang datang dalam hidupku.

Bulan pergi meninggalkan langit yang gelap, Matahari mulai tampak di ufuk timur. Aku sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi ke Sekolah. Setelah aku sampai di Sekolah, aku langsung masuk ke Kelas. beberapa menit kemudian bel masuk pun berbunyi, tanda pelajaran akan dimulai. Setelah beberapa jam aku belajar, bel istirahat pun berbunyi, semua siswa berlari ke kantin. Tidak dengan diriku, aku membawa kue tidak untuk dimakan olehku, melainkan untuk dijual.

Disaat aku melangkah pulang, aku melihat Seorang Kakek, ia terjatuh dan aku menolongnya. Sampai di rumahnya, ternyata ia adalah orang yang sangat kaya. Tiba-tiba ia memberikan uangnya kepadaku. Aku pun menolaknya, tetapi beliau memaksa. Akhirnya aku pun menerima uang itu, lalu mengucapkan terima kasih dan melangkah pergi.

Aku teringat, jika aku memiliki uang yang banyak, aku akan membelikan mukena untuk ibuku. Akhirnya aku menuju ke toko itu, namun sayang mukena itu baru saja dibeli oleh seorang Ibu yang baru saja keluar dari toko itu. Aku mengejar ibu itu dan mencoba membujuknya agar mau menjual mukena itu padaku. Beribu kata aku jelaskan padanya dan akhirnya hatinya terbuka dan memberikan mukena itu padaku tanpa menerima uang yang kumiliki. Karena kebahagiaan yang sangat meluap-luap hingga aku tidak sadar bahwa lampu merah sudah berakhir. Sebuah mobil tidak sengaja menyenggolku hingga aku terjatuh. Aku tidak peduli dengan lukaku, aku tetap berlari menuju rumahku.

Saat aku sampai di rumah, aku melihat ibuku tergeletak di atas tempat tidurnya. Aku pun mendekatinya “Ibu… aku ingin memberikan sesuatu. Mungkin hadiah ini tidak terlalu bagus, tetapi aku berharap Ibu menyukainya”. “Ibu sangat menyukainya nak…” jawab ibu sambil meneteskan air mata. Aku pun memasangkan mukena itu di tubuh ibuku sampai akhirnya, aku menaydari bahwa ibuku tak kuat untuk menahan sakitnya.

“Susi, ibu titipkan adikmu, semoga kamu dapat mengahadapinya” ucap ibu. Aku hanya terdiam, tetapi air mata ini tak berhenti mengalir. Hingga dari akhir nafas ibuku terhembuskan “ibu, aku belum sempat mengucapkan selamat hari ibu” ucapku.

Tanggungjawabku terhadap adikku tidak menjadi bebanku, tetapi aku berpikir hadiah ini adalah yang pertama dan ada yang selanjutnya yang akan aku berikan kepada ibuku. Tetapi takdir mengatakan ssebaliknya, ternyata ini adalah…
Pertama Dan terakhirnya.

Cerpen Karangan: M. Krisna Panjaitan

Cerpen Pertama dan Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Titik Terang

Oleh:
“Panas sekali pagi ini.” kata Laura dengan letih sambil merapikan sekumpulan barang yang ia bawa. “Panas pagi baik untukmu Nduk, kata orang-orang ‘Baik untuk kulit’.” kata Nenek Laura yang

Rindu Kasih Sayang Ibu

Oleh:
Pada hari itu, aku melihat ayah dan ibuku saling bertengkar di hadapanku. Entah apa yang mereka masalahkan, aku tak tahu. Sungguh aku merasa takut melihat ayah dan ibuku bertengkar.

Jangan Petik Mawar

Oleh:
“Apa yang dapat aku sukai dari setangkai bunga? Mencintai bunga hanya perlambang lemahnya seorang perempuan. Bunga bukanlah identitasku sebagai perempuan. Aku menolak mencintai bunga, bukan lantaran aku membenci keindahan,

Surat Terakhir Untuk Sahabatku

Oleh:
Jam menujukan pukul 06:30, aku masih saja tertidur pulas, saperti biasa lina sahabatku masuk kamarku tanpa seijin ku. Dan membangunkanku seenak jidat, “banguuuunnn” (suaranya yang bagaikan kleng rombeng) aku

Naungan Sang Pecandu

Oleh:
Cerita ini dimulai saat aku mulai berkenalan dengan seorang laki-laki bernama Firman. Aku berkenalan dengannya melalui seorang temanku, Geo. Siang itu Geo memberikan nomor teleponku kepada Firman. Ternyata malam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *