Pesan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Covid 19 (Corona), Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 29 June 2021

Pras menghela nafasnya yang makin terasa pendek. Tangannya memegang sebatang rokok yang dari tadi cuma dia genggam. Matanya tertuju pada layar handphonenya. Dia sedang membaca satu pesan di grup Whatsapp mengenai virus baru yang datang dari negeri di timur jauh itu.

Pesan tersebut berisi tentang argumentasi dan bukti-bukti dari si pengirimnya bahwa virus jenis baru itu tidak ada. Virus jenis baru hanyalah berita yang dibesar-besarkan. Otak Pras pun mengaminkan pesan tersebut. Sudah dari awal dia tidak percaya tentang virus jenis baru ini.
Makanya dia tidak pernah mengikuti saran dari pemerintah untuk memakai masker dan menjaga jarak. Bagi dia virus jenis baru itu hanyalah dongeng pengantar sebatang rokok.

Di luar sedang hujan deras sekali. Seperti biasa, Pras selalu menyempatkan diri untuk sebatang rokok, di bawah kanopi depan kantornya ketika dia merasa suntuk dengan pekerjaannya sebagai manajer Sumber Daya Manusia. Dia merasa otaknya beku.

Dia menyalakan rokoknya dan melanjutkan membaca pesan tersebut. Dia semakin yakin bahwa virus jenis baru itu memang tidak ada. Dongeng yang menyenangkan pikirnya.

“Pak Pras” terdengar suara memanggilnya. Suara yang dia kenal baik.
“Ya, Bud,” sahut Pras.
“Pak, kita jadi rapat soal penanganan virus baru di kantor kita?” Budi bertanya sambil matanya was-was karena atasannya itu tidak pakai masker. Padahal Pemerintah sudah menganjurkan untuk memakai masker.
“Semuanya sudah kamu siapkan, belum?”
“Sudah, Pak. Semua sudah saya letakkan di meja Pak Pras.”
“Oke Bud, nanti aku lihat ya. Sebatang dulu nih, tanggung.”
“Siap, Pak!”, ucap Budi.

Budi kemudian berbalik dan berjalan kembali ke arah kantor. Dalam hati dia berpikir sepertinya atasannya itu tidak terlalu semangat kalau akan membahas soal virus baru ini.
Dia berpikir bagaimana mungkin kantor ini bisa mengatasi virus jenis baru ini kalau pimpinannya saja tidak niat begitu. Terserahlah pikirnya.
Yang penting dia sudah berusaha supaya tidak tertular virus ini. Sisanya dia serahkan ke Tuhan. Begitu pikir Budi sambil kembali bekerja.

Pras sangat menyukai Budi. Dia ingat pertama kali Budi bergabung di kantornya, Budi adalah karyawan yang sangat bersemangat. Jarang sekali Budi sakit. Hampir dalam dua belas bulan, Budi nyaris selalu masuk kantor.
Pokoknya Pras sangat menyukai Budi. Dia bahkan berencana mempromosikan Budi bulan depan. Dia tidak terbayang bagaimana pekerjaannya jika tidak ada Budi yang membantunya.

Sambil menghisap rokoknya, ingatan Pras kembali ke dua belas bulan silam ketika virus jenis baru ini masuk ke negeri ini, kemudian virus jenis baru ini dengan cepat menyebar tanpa henti ke seluruh pelosok. Saat itu harga masker melonjak tinggi, semua jenis vitamin mendadak hilang dari pasaran. Hand sanitizer mendadak menjadi barang langka. Pras tidak mengerti kenapa semua orang begitu panik.

Pras ingat mendadak semua orang rajin mencuci tangan. Semua orang mendadak bermasker. Sampai-sampai istrinya saja memakai masker ketika di rumah. Pras juga ingat dia sering ditegur oleh anak buahnya kenapa dia tidak memakai masker.
“Ah, virus jenis baru ini kan cuma flu biasa,” begitu jawab Pras saat itu. Disertai pandangan yang geli ketika melihat semua orang memakai masker.

Rokoknya sudah habis 3 batang, Pras kemudian berjalan kembali ke ruangannya. Saat membuka pintu masuk ruangannya, baru dia memakai masker. Daripada anak-anak kantornya melihatnya dengan sinis, lebih baik pakai masker. Begitu pikir Pras.

“Ayah, jangan lupa maskernya,” istrinya mengingatkan pagi itu sebelum Pras berangkat ke kantor.
“Iya, pasti aku pakai kok, tenang saja, badanku ini kuat. Virus jenis baru itu tidak akan mempan terhadapku,” ucap Pras sambil tersenyum kepada istrinya.
“Ayah harus ingat, di rumah ini ada anak-anak kita dan juga aku. Jangan terlalu yakin begitu, tidak baik,” sahut istrinya sambil memandang kesal ke arah suaminya.
“Ya sudah, aku berangkat dulu ya”
“Ya,” istrinya hanya menjawab singkat.

Pras tahu istrinya pasti kesal. Tapi Pras lebih yakin dengan pesan-pesan yang dia baca di grup Whatsapp tersebut. Dia sudah begitu yakin akan pesan-pesan itu bahwa virus jenis baru ini hanyalah flu biasa.

Sesampainya di kantor, seperti biasa Pras merokok sebatang dan kemudian membuat kopi. Dia kemudian tenggelam dalam pekerjaan pagi hari itu.
Tersentak Pras ketika suara dering telepon menyadarkan dia dari pekerjaannya. Rasanya sudah lama sekali dia bekerja hari ini. Jam dinding menunjukkan pukul 10.30, jam merokok pikirnya.
“Halo, selamat pagi Pak Pras,” suara di seberang mengucapkan salam kepada Pras.

Hari kedua setelah Pras menerima telepon tersebut, dia merasa harus segera bertindak karena si penelepon tersebut adalah orang yang dia sangat perlukan hari ini.

“Siska, coba kamu tanya Budi bagaimana kondisinya hari ini, apakah sudah bisa masuk kantor atau belum. Saya sangat perlu bantuan dia hari ini,” Pras menelepon dari ruangannya ke Siska, bagian operasional.

“Ah, hari ini pasti aku sangat repot sekali. Budi kenapa sakit sih, sudah tahu hari ini banyak hal penting,” pikir Pras sedikit kesal.
Pras kemudian kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Dia orang yang sangat suka bekerja. Baginya kerja adalah hobi.

“Pak Pras,” suara Siska menyadarkan Pras dari pekerjaannya. Sekilas Pras melihat ada rona panik di muka Siska.
“Pak, ini soal si Budi,” suara Siska seperti tercekat.

Tak lama kemudian Pras sudah ada di rumah sakit tempat Budi dirawat. Semalam Budi masuk Unit Gawat Darurat karena sesak nafas.
Menurut dokter yang berbicara dengan Pras, Budi positif tertular virus jenis baru itu. Kondisi Budi makin mengkhawatirkan karena Budi punya masalah ginjal.

“Kami mengalami kesulitan tabung oksigen, Pak, tabung oksigen mendadak menjadi langka di pasaran,” kata dokter kepada Pras.
“Kami akan usahakan sebaik mungkin,” ucap dokter tersebut.
Pras pun meninggalkan nomor telepon dia kepada dokter tersebut serta menitipkan pesan untuk mengabari dia mengenai kabar Budi. Dokter itu pun menggangguk dan berjanji mengabari Pras perkembangan Budi.

Tiga hari berlalu setelah kematian Budi karena tertular virus jenis baru itu. Suasana kantor Pras masih berkabung. Semua orang bersedih dan saling bertanya-tanya di mana kira-kira Budi tertular virus baru tersebut.

Pras merasakan tatapan-tatapan yang seakan-akan menyalahkan Pras karena hanya Pras satu-satunya orang di kantor tersebut yang enggan memakai masker dan menerapkan protokol kesehatan.

Pras sadar tatapan-tatapan itu. Tapi otaknya masih dipenuhi argumentasi meyakinkan dari si pengirim pesan di Whatsapp-nya yang mengatakan kalau virus jenis baru itu tidak mematikan, hanya flu biasa.
Pras masih yakin itu benar. Tapi hari ini dia memakai masker. Bukan karena dia percaya virus jenis baru ini, tapi karena dia terpaksa daripada tatapan-tatapan sinis tersebut terus dia rasakan.

Hari itu entah kenapa tenggorokan Pras terasa sakit. Mungkin aku terlalu banyak merokok pikir Pras. Nanti sampai rumah aku minta istriku membuatkan wedang jahe campur jeruk nipis seperti biasa, ujar Pras dalam hati.

“Ayah, yang kuat ya, Ayah pasti kuat,” suara istri Pras terisak-isak. Matanya sembab melihat Pras terbaring dengan infus. Seharusnya Pras memakai tabung oksigen. Namun kata dokter persediaan tabung oksigen terbatas.

Dua hari yang lalu Pras demam tinggi dan tenggorokannya sakit. Nafasnya tersengal-sengal. Istrinya kemudian membawa Pras ke rumah sakit tempat Budi dulu dirawat.
Kata dokter, Pras positif tertular virus jenis baru tersebut. Dokter juga menanyakan apakah Pras punya riwayat penyakit bawaan. Istrinya mengatakan ke dokter kalau Pras perokok berat.

“Bu, setelah Ayah sembuh, Ayah janji akan memakai masker,” ucap Pras lirih. Dia ingin sekali membalas si pengirim pesan di Whatsapp-nya.
Pras ingin mengatakan kepada si pengirim pesan tersebut kalau dia selama ini selalu percaya. Sampai detik ini dia masih sangat percaya kepada si pengirim pesan itu.

Satu jam kemudian…
Sebuah pesan terkirim dari handphone Pras. Dikirimkan istrinya ke grup WhatsApp di mana Pras bergabung.

Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un, telah berpulang suami dan ayah kami, Bapak Prasetyo pada hari Minggu 26 Juni 2021. Mohon agar seluruh dosa-dosa dan kesalahan almarhum dapat dimaafkan. Begitu isi pesannya.

Sebuah pesan terakhir dari Pras kepada si pengirim pesan di group Whatsapp-nya. Satu pesan terakhir Pras yang mungkin dia ingin sampaikan sendiri.

Cerita ini hanya rekaan belaka, kesamaan nama, tokoh dan tempat hanyalah kebetulan semata tanpa kesengajaan.

Cerpen Karangan: Andesna Nanda

Cerpen Pesan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sudahkah Aku Terbangun

Oleh:
Belum pernah rasanya kelabu sepekat ini menaungi kami. Sudah beberapa hari matahari selalu menyembunyikan sinar hangatnya yang biasa menyapa kota yang mendadak sepi ini. Yang tampak sekarang hanya jalanan

Di Ujung Perjalanan

Oleh:
Aku menatap dalam dalam wajah istriku, senyumannya yang misterius membuatku terusik. Sebelumnya tak seperti ini tak sedalam ini yang ku rasakan, tapi makin hari hatiku seperti diremas. Tak terlihat

Dia Bukan Jodohku

Oleh:
Pov Shila Aku menyesap choco hezelnut, minuman yang disediakan oleh kedai coffee and chocolate. Asapnya mengepul, aku mencium aromanya dan meminum kembali choco hazelnut. Aku melirik arloji yang ada

Terlambat

Oleh:
Buru-buru aku menarik trolley bagku, tas selempang besarku ternyata mengganggu langkah kakiku. Suasana ribut dan penuh sesak. Aku menghela nafas panjang, mencoba mencari udara segar. “Mama, Vio haus…,” Tangan

Bus Kota Warna Merah

Oleh:
Aku menaiki tangga pintu keluar stasiun bawah tanah Kota London yang padat. Di ujung pintu keluar lantas aku memesan burger isi daging panggang khas masakan India. Setelah membayar, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *