Pikaichi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 April 2013

“Jadi benar, nama vas bunga ini fikaichi nona sela?”
“Bukan pak! Namanya PIKAICHI! Bukan FIKAICHI!”
“Diam! Saya tidak peduli vas ini di sebut apa..! Yang penting sekarang akui kejahatan anda nona.”
Sela melirik vas bunga yang di sebutnya pikaichi. Pikaichi adalah vas bunga yang dari jepang sengaja di kirim ke Indonesia. Dalam bahasa jepang, pikaichi artinya ‘yang paling bersinar’. Memang, Vas itu sangat kuat, Tidak mudah pecah dan sangat bersinar di banding vas manapun. Ketika masa taishokan di jepang, barang itu sangat langka.

“Anda tidak tahu vas ini..”
”pikaichi..”
“ya, ya.. fikaichi ini…”
“pikaichi!”
”Terserahlah! Toh bukan milik anda lagi..!”
Pria itu menggeleng berulang kali. sela menatap dengan memelas. Tangannya tak bisa digerakkan.
Sela menghentak-hentakkan kaki.

“Nona!”
“Saya mau memegang pikaichi saya!”
“Nyebut nama Allah nona! Anda sedang di kantor polisi sekarang..!”
Sela menatap si pria yang menginterogasinya dengan mata nanar. Kini ia merasakan perih di pergelangan tangannya karena tergesek borgol.
“Apa sekarang kita harus panggil dokter jiwa atau psikiater pak?” Tanya pria itu kepada temannya yang sedang berdiri di sampingnya dan berpakaian seperti preman.
“Saya tidak gila..!” seru Sela.
“Tapi kenapa berkali-kali anda minta vas ini? bukannya seharusnya ada yang lebih penting daripada ini nona?”
“Gr..gr..pikaichi..!” Sela menggertakkan gigi. Ia marah.
“Sementara negeri kita sedang menimpa macam-macam musibah seperti gempa bumi, gunung meletus, banyak orang yang kehilangan jiwanya dan hartanya..! anda malah menyebut-nyebut pikaichi yang mungkin tidak ada artinya bagi pengungsi-pengungsi di yogja!” Kata teman pria itu.
“Tahukah nona kalau sekarang ini anda di jerat dengan pasal 338 KUHP, yang berarti dengan sengaja merampas nyawa orang lain?” Timpal temannya lagi yang berpakaian polisi sambil melirik sela.
Yang di lirik pun menoleh dan mengangkat dagunya. “Kalian semua tidak tahu!” teriaknya dengan gusar.
“Tidak tahu apa? Tentang pikaichi ini yang artinya bersinar?!” Sindir pria yang berpakaian polisi.
Sela menjulurkan tangannya dan sedikit membungkuk. Lalu mengangkat wajahnya dan menatap ke tiga pria tadi berganti-gantian dengan tatapan menyalang. “Kalian bertiga laki-laki!”

Pria-pria tidak akan pernah tahu..
Bukan masalah pikaichi, tapi ini masalah hati. Sampai kapanpun mereka tidak akan tahu walau terus berseteru. Bagaimana mulanya ya? Hm… Sebut saja pria. Mereka penyebab ini semua. Sela tak pernah meminta. Ia tidak pernah minta di lahirkan jelita. Tidak pernah berharap memiliki tubuh yang duhai indahnya di mata pria. Suara yang lembut.. Bibirnya merah merekah dan seakan menggoda. Penampilan mempesona… Ia harapkan? Tidak pernah.
Dari SMP di kejar pria. Satu persatu menggandengnya. Cinta pertamanya saat di SMA, kemudian kehilangan apa yang di sebut selaput dara. Tak ada janji apa-apa. Sela di tinggal begitu saja. Ia tak menyesal, malah ia rasa ini memang sudah waktunya.
Sela mulai menikmati apa yang diminta pria. Imbalannya? Bisa uang, bisa kenikmatan, bisa pula tidak apa-apa. Sela adalah bunga, dan para pria itu boleh menghisap madunya. Sela adalah bunga yang mekar, ia berjanji akan terus seperti itu hingga akhir masa.

“Aku tak akan menyakiti dan meniggalkanmu Sela..! Aku janji.” Bisik pria tua, duda itu. Sela tak pernah menyangka ia akan dibikin mabuk kepayang dengan pria tua, duda itu. Setelah sekian lama, ia kembali merasakan panah asmara. Sela menganguk. Awalnya biasa-biasa saja. Tapi lama-lama ternyata ia tak bisa membohongi diri sendiri, Ia memilih pria tua itu. Biar kepalanya sudah setengah botak, perutnya membuncit. Memang ia kaya, tapi bukan karena kekayaannya itu, tapi karena Cinta. Entah darimana datang begitu saja.

Satu, dua, tiga, empat, lima! Lima tahun lamanya mereka bersama dalam suka dan duka. Sela sering keluar masuk hotel bersamanya. Tapi Sela tidak boleh terlihat. Karena di anggap perusak citra. “Belum, belum saatnya.” Bisik pria itu. Wajar, pria tua ini adalah politisi ternama. Bahaya jika ada yang tau dia keluar masuk hotel bersama seorang wanita. Sela pasrah. Ia pun paham.

Pemerintah baru, presiden baru, dan kesempatan baru. Kekasih mendapat tawaran baru. Hidup baru. sedihnya sela ketika di tinggal oleh pria tua itu. Ada perempuan lain. Pria tua itu tidak bisa mengajak Sela di lingkungan bergengsi. Bisa-bisa Sela di anggap perempuan yang saru. Sela di tinggalkan tanpa ba bi bu. Sampai suatu saat ia mengetahui dirinya muntah-muntah, diperiksa.. dan ternyata..

Sela berkali-kali menelepon ke nomor pria itu, tapi mailbox.
“Mas, tolong angkat..” Rintihnya
Sela seperti tersandung batu. Selama ini ia berjalan tanpa tahu arah. Baru di sadarinya. Siapakah bapak Beni yang lima tahun ini bersamanya? Atau dia Cuma mimpi? Nonsense belaka?
Ia tidak mau jauh merana. Apa yang di dalam perut di gugurkannya. Semua karena terpaksa.
Sela tidak tahu harus bagaimana. Ia diam seribu bahasa. Haruskah ia kembali ke jalan yang dulu? Di pegang oleh siapa saja. Dan tidak tahu arti cinta..? Tidak..! pasti ada jalan yang lain. Padahal lima tahun ini dia milik seorang pria.
Di tengah kegalauan, Sela tahu cara menghibur diri. Ia ingat dengan uang peninggalan kekasih. Mungkin itu alasannya meninggalkan uang, agar dia bisa pergi dengan tenang.
Sela menggila. Ia membeli apa saja. Perempuan yang suka berbelanja atau hobi belanja, memang di sebutnya shopaholic. Bukan karena stress kok.

“Di jepang lagi musim pikaichi, tau nggak ?” bisik mirana, si bencong di salon langganan sela.
“Pikaichi? Apaan itu?”
“Duuh.. ityu lhoh.. Vas bunga, coraknya menarik. Vas bunga Pikaichi itu paling bersinar di antara yang lain.” tambah mirana lagi.
Sela tersenyum. Sebelumnya mirana pernah bilang stiletto (Sepatu yang berhak lancip tinggi). Terus rok berenda ala joyce.. Syal dari paris. Tas antik breddan. Sekarang pikaichi?
Di lihatnya pikaichi di sebuah toko guci. Wiih.. memang paling bersinar, Sela tergoda untuk membelinya. Tapi niat itu tertahan ketika pandangannya menuju ke label harganya. Sela mendesah, uangnya semakin menipis. 3 hari yang lalu habis dipakai untuk menyumbang korban gunung meletus. Jangan di Tanya kenapa, karena ia manusia dan hatinya iba. Tapi gara-gara aksi kemanusiaan itu ia kehabisan dana. Darimana ia bisa dapat uang setelah itu? Kembali ke masa silam seperti… Ah..! jangan..! Harus cari cara lain..
Sela mulai memikirkan pikaichi dan masa depannya. Ia mulai mencari-cari pekerjaan. Tapi dia bingung mencari pekerjaan untuknya yang tidak punya ijazah kuliah, tapi lulus SMA dan cukup cerdas. Si bencong, mirana menawarinya pekerjaan. Di perusahaan iklan ada lowongan tenaga kerja administrasi. Sela di terima oleh si bos.
Ini tidak masuk akal, pikir Sela. Ia tak bisa hidup tanpa uang, dan kini ia sudah jadi perempuan pecinta belanja, pemerhati pasar, dan pengikut mode. Lagipula belanja membuatnya senang dan merasa nyaman. Ibaratnya seperti kecanduan.
Di kantor kariernya cemerlang. Kini ia bahkan sudah naik pangkat menjadi sekretaris si bos. Semua karena otak cemerlang. Sela bahkan di ajak untuk ikut pesta tahunan kantor.
Tunggu! Pesta?! Bagaimana dengan penampilan?! Hm… Dilihatnya isi tabungan. Akhirnya! Dua bulan perjuangan untuk sebuah pikaichi. Berkilau, bersih dan sangat kelihatan mewah. Ia membelinya dari toko guci yang dilihatnya itu di Bandung dan membawanya ke Jakarta. Ia ingin membawa Vas itu ke pesta. Ia ingin memamerkannya. Pikaichi sangat mahal. Mungkin hanya Sela yang mampu membelinya dengan perjuangan keras selama berbulan-bulan.

“Saya lihat dari tadi kamu sangat cantik. Penampilanmu mewah” puji pak Irawan, si Bos.
“Terimakasih” Sela tersenyum lembut. Dalam hati sela menambahkan, cantik itu bukan terlahir, tapi juga terawat. Sela merawat dirinya keluar masuk salon, luluran, mandi, meni pedi. Cantik? Sudah tentu!
“Pulang di antar siapa?”
“Naik taksi”
“Lho? Jangan. Ini kan sudah malam. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana?”
“Tapi saya sudah biasa pak ”
“Tapi saya sangat keberatan, bagaimana kalau saya antar?”
Sela melihat tatapan pria itu menantang. Sela merasa menang. Padahal sudah lama ia tidak mengiyakan. Tapi entah kenapa kali ini jawabannya angukan.
“Baik.”

Di jalan, mereka berdua saling berbincang-bincang. Mengobrol tidak karuan, membiarkan mulut berkata-kata. Tapi setelah 1 jam, mulut capek, tangan yang berjalan. Tangan pak Irawan perlahan-lahan memegang rambut sela. Sela hanya tersenyum. Ketika tangan itu pindah, sela terdiam. Tubuhnya dingin Tangan itu diam-diam menyelusup. Sela tercekat.
Ia berkata, “Jangan pak..!”
“Ah.. tidak apa-apa, sudah biasa..” katanya sambil tertawa.
Sela benci melihat tawa itu. Memecah malam dan mengusik kalbunya. Tangan itu nekat. Kemudian mobilnya dipinggirkan dan mesin di matikan. Sela berusaha melawan, Tapi apa daya, ia perempuan.
Sela tidak bisa. Tawa laki-laki itu kian membahana. “Hahahahahaha! Sudah! Sudah biasa!”
Sela mengambil pikaichi dari tas yang berada di sampingnya tanpa sepengetahuan si bos. Ia mengarahkan mulut vas pikaichi itu kearah kepala si bos.
Dilihatnya tawa tidak ada lagi. Sunyi. Senyap. Darah keluar deras dari kepala pak Irawan.

“Saya perlu mencucinya, ada sedikit darah.”
“Hah?”
“Itu, di pikaichinya, vasnya!”
“Anda gila ya?”
“Saya kira nona ini memang sudah gila..”
“Saya tidak gila!”
“Kasihan dia.. Kita panggil psikiater saja.”
“Pikaichi itu tidak mengkilat lagi!”
“Fikaichi?”
“Errh..! Pi-ka-i-chi, ! Pe, i, ka, a, i, ce, ha, i..! PIKAICHI!!!”
“Ya,ya.. Pake’ Pe, pikaichi.”
“Ya! Anda tidak tahu, pikaichi itu pengganti laki-laki!”
“Nona, saya tak mengerti maksud anda…”
“Tentu saja anda.. eh, kalian takkan pernah mengerti..!”
Tiga pria itu saling berhadapan.
“Karena kalian laki-laki!”

Cerpen Karangan: Seya Zunya Uchiwa
Facebook: selly yunia

Cerpen Pikaichi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


November Rain

Oleh:
“Sebaiknya kita intropeksi diri masing-masing dulu, karena pasti gax bakalan ada yang mau disalahkan antara kita”itulah sms terakhir vani yang bikin telingaku berdenging setelah satu jam lebih kami berdebat.

Pesan Terakhir Poniko

Oleh:
Namaku Madotsuki, usia ku 15 tahun. Aku masih duduk di bangku SMP, tentunya. Aku yatim piatu. Aku tinggal bersama guru musikku di sekolah. Namanya Masada. Aku tidak ingin tinggal

Tempat Bercerita

Oleh:
“Anda tidak perlu repot. Saya sudah sangat paham tentang hal itu. Anda tahu saya sangat senang bercerita.” Lelaki berjaket cokelat musim dingin itu meletakkan lilac grape coffee-nya pada sebuah

Tinggal Angan

Oleh:
Angin malam menyambut, membalut pori-pori kulitku. Mengantar pada rasa yang sangat kukenal, bahkan sudah menjadi sahabat karibku. Malam ini seperti biasa aku berkumpul dengan teman-temanku. Malam bagaikan surga bagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *