Pintu Taubat (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 7 May 2018

Aku heran mengapa namaku tidak tercantum dalam pengumuman itu. Apa mungkin orang mengoreksi hasil tesku kurang jeli kali ya? Padahal aku yakin jawabanku kira-kira 90% benar. Aku rasa aku tidak bodoh-bodoh amat, aku juga alumni SMA salah satu pondok pesantren terkemuka di jawa timur. Namun mengapa aku tidak lolos seleksi masuk pertguruan tinggi negeri? Pertanyaan itulah yang selama ini membebani benakku. Karena gagal masuk perguruan tinggi negeri aku merasa bingung mengenai nasib dan masa depanku selanjutnya.

Aku berinisiatif untuk menghubungi pengurus ikatan alumni di pondokku, dari sana aku mendapatkan info mengenai beberapa nama senior yang sudah sukses di luar sana. “Kak Dimas” aku pilih menghubungi nama itu dari sekian nama yang tertera di daftar alumni yang menurut mereka telah mencapai kesuksesan. Kenapa aku pilih Kak Dimas? Karena saat ia masih di pondok aku sangat mengenalnya, ia juga pernah menjadi ketua kamarku, jadi aku dan Kak Dimas bisa dibilang lumayan akrab. Jarak umurku dengannya kurang lebih 4 sampai 5 tahun. Menurut senior lain yang pada saat itu berada di camp alumni, ia sekarang sukses menjadi salah satu petinggi Bank di Kota Banyuwangi.

Jujur saja aku memang ingin menjadi pegawai bank, namun aku rasa harapanku pupus sudah karena aku gagal diterima di perguruan tinggi negeri. Tanpa berpikir panjang aku menekan tombol nomor, “089685xxxxxx” sesuai nomor telepon yang sebelumnya aku peroleh dari kantor pengurus ikatan alumni pondok pesantrenku. Aku bertanya padanya via telepon, “halo ini kak Dimas?” aku memulai pembicaran. “iya benar, ini siapa ya?” jawabnya. “kak ini aku Ega dari pesantren A, aku baru lulus SMA tahun ini namun aku gagal masuk perguruan tinggi negeri, aku tidak lolos tes kak, katanya kakak lumayan sukses sekarang ya? Bisa nggak kita ketemu, aku pengen kakak memberikan aku gambaran mengenai perguruan tinggi swasta yang bagus kak, Selain itu aku juga pengen ngobrol-ngobrol dengan kakak, sapa tau aku dapat wejangan dari orang yang sudah sukses.” Aku nyerocos aja tak memberi kesempatan kan dimas berbicara. “Hahahaha… kamu toh ga, gimana kabarmu? Sudah lama gak jumpa, yasudah kapan mau ketemu?” respon kak dimas. Tak terasa kami mengobrol lama di telepon. Kami sepakat bertemu di suatu tempat sebelum aku menutup teleponnya.

Sebelumnya perkenalkan namaku Kurnia Mega, biasa dipanggil Ega. Di cafe B aku dan kak dimas bertemu, apa kabar kak? “Baik” jawab kak dimas. “Sudah sudah jangan tegang gitu, gak masuk perguruan tinggi negeri bukan berarti dunia jadi kiamat kan? haha” kak dimas menenangkanku yang pada saat itu terlihat tegang, mungkin benar juga aku tegang karena aku gagal masuk perguruan tinggi negeri. Hehe jadi malu. “ah sampean ini ada aja kak. Wah gini ya penampilannya orang sukses” tegurku melihat penampilannya yang terlihat seperti orang kantoran. “Ah kamu bisa aja” ia tesenyum menatapku. Oh iya, gimana gimana sudah tau atau ada gambaran mau masuk universitas mana?” tanya Kak Dimas. “waduh saya ke sini kan bermaksud untuk konsultasi dengan kakak, gimana enaknya, masuk dimana? Kalo saya inginnya kampus yang ada fakultas ekonominya kak, saya ingin jadi pegawai bank seperti kakak. Kan lumayan tuh gajinya… hehe” candaku kepadanya. Kak Dimas mulai pasang wajah serius sebelum ia menjawab pertanyaanku. “kalo fakultas ekonomi di swasta tu kayaknya di universitas X, bawahanku di kantor tuh banyak dari universitas X, kan sesuai tuh sama keinginanmu kalo lulus pengen jadi pegawai bank.” Saran Kak Dimas. Aku menanggapinya dengan antusias, aku bertanya mengenai fasilitas-fasilitas dan kelebihan kampus X sesuai pengetahuan kak Dimas. Setelah puas berdiskusi mengenai hal tersebut kami memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing dan berjanji akan bertemu atau minimal kontak melalui telepon apabila ada kesulitan.

Aku memutuskan masuk perguruan tinggi X sesuai dengan nasehat yang disampaikan kak dimas. Singkat pada bulan brikutnya kata aku telah lolos seleksi masuk universitas X. Karena jarak antara rumahku dengan kampus lumayan jauh, mau tidak mau aku harus tinggal di rumah kost.

Dihari pertama kuliah, aku menjalani Ospek, aku berkenalan dengan orang-orang yang ternyata bukan satu jurusan denganku. Mereka semua mudah arkab denganku. Aku sangat bersyukur dapat berkenalan dengan teman-teman yang mudah akrab tersebut. Tidak hanya sampai disitu, Ospek hari itu kesannya ya gitu lah, kegiatannya hanya dikerjain senior, bernyanyi, tertawa walaupun tertawanya terpaksa karena aku jengkel melihat ulah jail senior yang suka iseng terhadapku dan juga teman-teman.

Tiga hari kemudian berakhirlah kegiatan menjengkelkan yang bernama ospek terebut. Pada hari berikutnya aku mulai mengikuti kegiatan perkuliahan. Di jadwal tertulis mata kuliah pengantar ekonomi mikro pukul 07.00. Lima belas menit sebelumnya aku sudah tiba di kelas, teman-teman lain juga kebanyakan sudah mengunggu di ruang perkuliahan. “maklum hari pertama” pikirku. Semua terlihat ramah, saling menebar senyum saat berpandangan satu sama lain. Namun, masih terlihat canggung karena di antara mereka jarang terlihat bertegur sapa. Lebih tepatnya kesan pertama terhadap teman-temanku di kelas terlihat cuek.

Pukul 08.00 belum terlihat tanda-tanda keberadaan dosen. Pukul 08.13 dosen yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Pak Nijan namanya, ia hanya memperkenalkan diri sebentar, memberikan pengantar perkuliahan tidak lebih dari lima menit. Selanjutnya ia memberikan tugas kelompok pada kami. “Waduh belum apa-apa sudah tugas?” gumamku dalam hati. Penampilannya rapi, rambu klimis, bahasa tuturnya nampak tertata. Terlihat pintar di kesan pertama, entahlah apa mungkin sok pintar ya. Ia membagi tugas kelompok sesuai nomor urut absen, nomor urut 1 sampai lima adalah kelompok satu, nomor urut absen 6 sampai 10 adalah kelompok dua dan seterusnya.

Berkaitan dengan tugas yang diberikan pak nijan, hat tersebut yang mau tidak mau membuat kami harus mengenal satu dengan yang lain. Aku memperkenalkan diri pada teman-teman kelompokku yang terdiri dari tiga perempuan dan dua laki-laki termasuk aku. Kami berlima memutuskan untuk mengerjakan tugas kelompok di halaman kampus seusai kuliah hari ini.

Hari berganti hari, bulan juga pun berganti tak terasa kesan cuek yang ditunjukkan teman-teman pada awal perkuliahan mulai memudar. Kami mulai akrab antara satu dengan yang lain. Bahkan, tak jarang jarang kami pergi keluar bersama saat libur kuliah. Sekarang makin terasa pebedaan antara masa SMA dengan di bangku perkuliahan. Aku mulai terbiasa dan mentolerir mengenai keterlambatan dosen. Aku juga terbiasa dan cuek saat melihat mahasiswa/mahasiswi berpacaran di depan kampus. Beda saat pertama kuliah, aku merasa risih apabilah melihat orang-orang bermesraan di area kampus. Aku menduga mereka tak punya rasa malu, karena mereka (orang yang berpacaran) tak segan menjunjukkan kemesraannya di muka umum. Hal tersebut berbeda dengan keadaan dan suasana saat aku belajar di pondok pesantren. Jangankan orang berpacaran, melihat wanita biasanya hanya setahun sekali saat aku pulang (libur hari raya). Oh iya pondok pesantren tempat saya menuntut ilmu membedakan letak asrama, kelas belajar, maupun kegiatan lain-lain anatara wanita dan pria. Jadi merupakan hal yang mustahil bagi aku untuk melihat lawan jenis saat berada di pondok pesantren.

Aku mulai terbiasa dengan kampus baru tersebut, dengan orang-orangnya, lingkungannya. Bahkan, aku mulai hafal mengenai tempat favorit tongkrongan para mahasiswa di kota itu. Aku dikenalkan pada tempat clubing, aku mulai belajar merok*k, mencicipi khamar (miras). Jujur saja aku tidak suka dengan bau dan rasa miras. Awalnya aku hanya coba-coba dengan tujuan menghormati teman yang mengkonsumsi miras yang akhirnya tak jarang aku ikutan mabuk bersama mereka.

Tak terasa aku kuliah mulai menginjak semester lima, pergaulanku mulai tidak karuan, aku mengenal seorang penjual miras, mengenal seorang penjual nark*ba yang berkedok sebagai penjual koran. Aku juga mulai ikut-ikutan mengkonsumsi nark*ba. mulanya aku hanya coba-coba nark*ba jenis ganja. Makin lama muncul rasa penasaran untuk mencoba beberapa jenis lainnya seperti put*w, s*bu, dan amfetamin. Aku masih ingat saat pertama mengkonsumsi nark*ba saat clubing bersama teman-teman. Awalnya aku menolak, namun temanku memaksa. Ia merasa tidak dihormati apabila aku menolaknya dan terpaksa aku mencobanya.

Pertama kali mengkonsumsi nark*ba perasaanku campur aduk. Pusing, bahagia, saat berjalan kakiku tak menapaki tanah, seakan terbang. Tertawa terus menerus. Namun, aku tidak tau mengapa aku tertawa. Tidak ada hal yang patut ditertawakan pada saat itu. Pada malam itu aku memutuskan menginap di kost teman karena tak mampu pulang sendiri ke tempat kostku. Entah apa sebabnya aku mulai sering mengkonsumsi barang haram itu. Biasanya aku mendapatkan beberapa jenis nark*ba saat ada teman mengkonsumsinya. Lagian gratis, aku pikir tak apalah. Nark*ba saat ini memang mampu mengalihkan duniaku, saat aku pusing akan tugas-tugas kuliah aku memakainya agar aku tenang dan merasa tidak terbebani dengan tugas-tugasku.

Saat temanku tidak memiliki barang aku mulai kebingungan. Entah perasaan apa yang membuatku begitu. Apa ini yang dinamakan kecanduan? Ah entahlah, yang aku tahu saat itu juga aku harus mendapatkan barang itu agar rasa cemasku hilang. Terpaksa aku membelinya menggunakan uang sakuku. Hari itu pun aku berhasil mendapatkan barang itu setelah mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan untuk membeli barang tersebut. Rasa cemas yang aku rasakan hilang seketika berganti rasa bahagia efek mengkonsumsi barang tersebut.

Pada semester tiga lalu aku telah memiliki pacar bernama Selfi Yuanita, biasa dipanggil Selfi. Ia juga alumni pondok pesntren, bedanya ia adalah adalah sosok wanita yang taat beribadah. Aku sangat sayang pada dirinya, namun pada saat pertengahan semester empat ia tahu bahwa aku mengkonsumsi nark*ba dan ia mulai menjauhiku. Ia berjanji akan kembali padaku saat aku benar-benar berhenti mengkonsumsi nark*ba.

Selfi setiap hari tak pernah bosan mengingatkanku, melalui telepon dan sms ia selalu mengingatkanku bahwa masa depanku masih panjang, kalau aku terus menerus mengkonsumsinya aku akan mendapatkan mala petaka yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Aku hanya mengiyakan nasehatnya namun aku masih tak ingin berpisah dengan yang namanya nark*ba, menurutku hanya barang itu yang mampu membuatku tenang.

Kebutuhan dan gaya hidup yang mulai meningkat membuatku hidup bermewah-mewahan sebagai anak kost. Aku selalu meminta uang saku lebih dari pada bulan-bulan sebelumnya dengan alasan membeli buku atau ada iuran di kampus. Padahal kenyataannya uang tersebut aku pergunakan untuk membeli barang haram yang bernama nark*ba. Aku yang tak ingin orang tuaku curiga dengan kebutuhanku yang terus meningkat, mau tidak mau aku harus menyiasatinya agar aku mampu berpenghasilan sendiri, setidaknya cukup untuk membeli nark*ba.

Awalnya aku hanya mengantarkan barang yang di beli orang melalui bandar. Kebetulan bandarnya ialah temanku sendiri, jadi tidak sulit bagiku untuk mendapatkan pekerjaan untuk menjadi kurir pengantar nark*ba. Benar saja, sesuai dengan apa yang aku inginkan, aku tidak perlu lagi meminta uang bulanan lebih dari orang tuaku. Aku sangat senang dengan hasil yang aku dapatkan, karena setiap pembelian aku mendapatkan laba setidaknya lima puluh sampai seratus ribu rupiah.

Tergiur dengan penghasilan yang lumayan, akhirnya aku memutuskan membeli barang dengan jumlah besar dengan menggunakan uangku sendiri. Selain dikomsumsi sendiri, aku juga menjualnya pada teman-temanku yang biasa mengkonsumsi barang tersebut. Dari bulan ke bulan penghasilanku makin bertambah, pernah sebulan aku mendapatkan penghasilan tidak kurang dari lima juta rupiah. Jumlah yang cukup fantastis bagi ukuran kantong mahasiswa tentunya. Hal tersebut yang membuatakan hati dan pikiranku. Aku mulai tertutup dengan dunia luar. Bahkan, aku semakin enggan bergaul dengan teman-teman kuliahku.

Cerpen Karangan: Ahmad Rifa’i
Facebook: facebook.com/riffay.ahmad

Cerpen Pintu Taubat (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ahh… Hidup (Part 1)

Oleh:
Aphan namaku. Umurku 16 tahun saat ini. Dan di sinilah aku, di bawah naungan pondok kecil yang aku buat beberapa pekan lalu bersama teman-temanku. Perempuan itu duduk di tepi

Gantungan Mimpi Di Negeri Merah Putih

Oleh:
Hanya seorang anak perempuan kecil yang berangan-angan untuk bisa tumbuh menjadi seorang perempuan yang besar. Tak banyak kata yang bisa tuk dikatakan hanya tangisan kecil yang selalu menghantui hati

Remember Me

Oleh:
Siang ini cuacanya sangat panas, dengan berat Naura membuka matanya yang sedang kesilauan. Tiba-tiba ada seorang pengendara motor yang hampir menabraknya karena mengantuk, Naura pun langsung memejamkan matanya secara

Maaf Untuk Masa Lalu

Oleh:
Dasar bodoh! Pikirku. Orang-orang kaya selalu menambah tinggi pagar mereka, sedangkan apa yang terjadi dengan sekolah ini? Apakah tak ada lagi barang berharga tersisa di sini? Mengapa rendah sekali

Doa dan Usaha

Oleh:
Setetes rintik air yang jatuh di atas kelopak mawar merona, mengawali seribu tetes air hujan yang akan hadir menemaniku di keheningan ini. Merasakan kesenduan hati, dengan dinginnya cucuran manik

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *