Pintu Taubat (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 7 May 2018

Bulan berganti bulan tak terasa aku sudah membolos kuliah selama kurang lebih enam bulan. peraturan di kampusku apabila ada mahasiswa yang tidak masuk lebih dari enam bulan maka ia otomatis dinyatakan cuti kuliah. Status tersebut dapat berubah dan dapat dinyatakan aktif kembali sebagai mahasiswa saat semua diurus di bagian akademik dan kemahasiswaan di kantor pusat. Tentunya setelah membayar sejumlah uang tertentu, maklumlah sekolah swasta pikirku.

Aku makin terlena dengan uang-uang yang aku dapatkan sehingga aku lalai mengontrol siapa-siapa yang harusnya aku beri barang dan tidak. Menurut pengalaman dan nasehat dari teman-teman pengedar, aku harus pandai memilih konsumen kalau tidak ingin masuk penjara. Ah hal itu jauh dibenakku, toh aku pikir aku sudah mengenal baik para konsumenku, jadi apa yang mesti ditakutkan.

Saat aku terbangun di pagi hari, aku dikagetkan dengan panggilan tak terjawab yang ada di ponselku, tertulis Ari sembilan kali panggilan tak terjawab. Ia adalah temanku yang sudah lama tak bertemu denganku. Menurut kabar yang kudengar ia bekerja di luar pulau setelah tertangkap polisi dan menjalani hukuman karena menjual enam ons g*nja pada orang yang tidak dikenal yang ternyata adalah suruhan polisi.

Pagi itu aku meneleponnya, “ada apa bro, gimana loe punya kabar?” sapaku. “haha, baik bro gimana kabarkmu? Sudah lama gak ketemu, jadi kangen.” Jawabnya. Katanya ia sudah seminggu pulang ke jawa karena di PHK oleh perusahaan tempat ia bekerja di Kalimantan. Waduh kirain elu mati ditembak polisi, hahaha” aku menanggapi pernyataannya dengan bercanda. ”wah sialan lu bro, doain gue mati ya? Lu gak tau sih rasanya di penjara itu gimana”. Jawabnya. Setelah kami puas mengobrol melaui telepon, aku menyuruhnya datang ke tempatku aku ingin mendengarkan cerita dan pengalamannya saat ia masuk penjara dan bekerja di luar pulau.

Keesokan harinya Ari datang ke kosku. Ia bertanya apa aku masih mengonsumsi barang itu, dengan santai aku jawab, ”bukan cuma makai bro, semenjak elu di penjara, konsumenmu menghubungiku, mereka menyuruhku mencarikan barang yang diinginkan. Ya awalnya kecil-kecilan, kok hasilnya lumayan, ya jadinya seperti yang kamu lihat sekarang ini.” Sambil sok-sokan menunjukkan keadaanku dengan pakaian modis pada masa itu, dan didukung perabotan kost lengkap yang dapat aku beli menggunakan uang hasil dari menjual barang tersebut.

Selang beberapa hari kemudian, entah kenapa ari meneleponku, ia memesan barang dengan jumlah yang tidak biasa, saat aku tanyakan katanya sih buat di edarkan lagi, “oalahh… oke bos gampang, butuh kapan? Buat kamu aku kasih harga khusus” jawabku. “tenang aja bro, loe kasih harga biasanya juga gak masalah, kan entar aku juga dapat hasil dari barangmu ini”. Kami tertawa bersama sebelum menutup teleponnya.

Hari kamis ari memintaku mengantarkan barangnya, ia mengirimkan alamat yang harus dituju via sms, tertulis “ barangnya anter hari kamis besok bro, ke jalan ria gang xiv nomor 8 pukul 22.00. tak tunggu ya bro”. “Okeh bos siap laksanakan” jawabku. “Wah hari kamis kan tinggal dua hari lagi pikirku harus ambil barang di bos besar nih” gumamku.

Di hari, jam dan alamat yang telah di tentukan aku menunggu ari namun ia tak terlihat, setelah sekitar lima belas menit aku menunggu aku mendengan bunyi sepeda motor, jauh di belakangku. Mungkin itu si Ari, pikirku. Benar saja dia muncul dari kegelapan menggunakan motornya. Kami pun bersalaman, sambil tertawa. Ari menyodorkan uang sekitar empat belas juta rupiah tak perlu kuhitung karena aku percaya padanya, aku pun menyodorkan barang yang ia pesan.

Tanpa berpamitan, Ari bergegas meninggalkanku. Sebelum aku keluar dari gang, samar samar terlihat beberapa orang menghampiriku dengan secepat kilat. “jangan bergerak” bentaknya. Seseorang dari belakang memukulku, sontak aku terjatuh dan beberapa orang berpakaian serba hitam itu mendekatiku, ada yang menendangku, ada juga yang menginjak dadaku saat aku terjatuh. “ampun pak, saya gak akan melawan” dengan memelas aku mengucapkannya. “cepat ambil motor beserta barang bukti, yang lain bawa dia ke kantor” “siap pak” jawab orang-orang itu.

Dalam mobil polisi aku menangis sejadinya, bahkan aku tak sadar kalau aku adalah seorang laki-laki, pengedar pula. Aku mengangis seprti seorang bocah yang kehilangan balon udara. Aku merengek pada bapak-bapak yang ada dalam mobil itu. “pak tolong lepaskan saya, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Orang-orang dalam mobil itu hanya tersenyum mendengarku. Mungkin yang mereka pikirkan adalah kenaikan pangkatnya pasca berhasil menangkapku.

Tiba di kantor polisi aku diseret ke ruangan khusus, yang aku rasakan saat itu hanya perasaan takut. Ruangan itu sangat gelap, hanya ada satu penerangan di atas meja. Aku didudukkan di kursi yang menghadap ke meja tersebut. Terlihat seorang pria tinggi besar duduk di seberang meja. Aku diinterogasi ini itu, aku menjawab sejujur-jujurnya karena aku takut dan yang aku rasakan hanya ingin pulang dan keluar dari tempat itu. Setelah proses interogasi selesai aku baru tahu bahwa Ari adalah orang suruhan polisi untuk menjebakku. Saat itu aku sama sekali tidak menaruh dendam pada Ari karena yang aku pikirkan hanya perasaan menyesal, takut, dan ingin pulang. Aku benar-benar menyadari bahwa itu sepenuhnya adalah akibat dari perbuatanku.

Sesaat kemudian aku diantarkan ke ruangan gelap, dingin, banyak nyamuk, dan berpagarkan besi. Beberapa jam aku sendirian dan terdiam di tempat itu. Terlihat seorang polisi datang memanggilku, ia menyuruhku keluar untuk menemui orang yang ingin menemuiku. Sesampai di ruangan yang ditunjukkan petugas aku melihat beberapa sosok yang aku kenal. Benar saja, ayah, ibu, beserta selfi pacarku. Mereka menangis dari kejauhan, langkahku terhenti karena melihat raut wajah mereka. Antara takut, malu dan merasa bersalah campur aduk dalam benakku. Mereka yang melihatku terdiam, berlari kearahku, mereka memelukku dan menangis sejadinya. Aku tak mampu berucap sedikitpun. Aku menyesali semua ini.

Mereka melemparkan sejuta pertanyaan padaku namun aku tak mampu menjawab satupun dari pertanyaan mereka. Badanku terasa lemas, yang aku ingat aku hanya mampu melontarkan satu kata untuk mereka, “maaf” lalu aku menangis lagi. Aku memilih meninggalkan mereka dan berlari menuju sel penjaraku lagi sambil diantarkan pak polisi yang berjaga di ruangan itu.

Hari berganti hari, malam berganti malam kini aku benar benar harus menghabiskan hari-hariku di tempat terkutuk itu. Namun, aku sadar inilah konsekuensi dari apa yang telah aku perbuat. Aku harus bicara dengan orangtuaku, aku memberanikan diri meminta izin pada pak polisi untuk menelepon kedua orang tuaku. Melalui telepon aku bercerita semuanya, apa yang telah aku lakukan sampai proses aku tertangkap. Aku tak henti-hentinya meminta maaf pada mereka atas kesalahanku. Aku tidak peduli mereka percaya atau tidak, mau memaafkanku atau tidak. Inilah naluriku, aku harus berkata jujur mengenai semuanya dan aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan mengkonsumsi obat-obatan terlarang lagi dan akan menjauhinya untuk selamanya.

Tiga bulan selama masa penahananku, putusan pengandilan pada sidang akhir itu akhirnya keluar juga. Aku divonis enam bulan penjara dengan tiga bulan masa percobaan. Tiga bulam di penjara mungkin sama dengan menjalani setahun ospek masa awal perkuliahan, begitulah yang aku rasakan. Di penjara aku ikut kegiatan remaja masjid, bahkan aku merasa ilmu yang aku peroleh di pondok pesantren lebih terealisasi saat aku berada di penjara daripada saat aku di kota tempat aku menjadi mahasisswa. Bahkan, tak jarang aku yang menjadi imam sholat jamaah di dalam penjara itu.

Aku mulai menemukan potensiku di tempat itu, pak polisi yang mengetahui kelakuan baikku mengajukan aku untuk bekerja menjadi kasir di kantin penjara, karena ia tau bahwa aku adalah mahasiswa ekonomi. Aku makin kerasan dengan tempat itu, walaupun hati kecilku berkata, aku ingin pulang. Aku harus pulang dengan perubahan, apa yang menjadi hal negatif dalam diriku harus aku tinggalkan di sini, di penjara ini.

Masa tahananku masih tersisa dua bulan, aku tak sabar ingin secepatnya keluar dari tempat itu. Pada saat aku selesai memimpin sholat di masjid salah seorang polisi penjaga tahanan menghampiriku, ia memberikanku surat kemudian menyuruhku membacanya, “deek” seakan jantungku mau copot saat membaca surat dari kepala kepolisian yang tertulis di pojok bawah surat itu. Aku dapat remisi, aku mendapakan remisi satu setengah bulan. Aku langsung bersujud syukur di halaman masjid itu, setelah itu aku bersalaman pada bapak yang tadi membawakan surat itu.

Di dalam penjara aku tak dapat menyembunyikan perasaanku, aku bercerita pada teman-teman yang ada di sana, aku akan segera bebas. Dua minggu lagi aku akan menghirup udara kebebasan. Aku menelepon kedua orangtuaku bahwa aku akan secepatnya bebas, aku juga tak lupa menelepon selfi dengan menceritakan bahwa dua minggu lagi aku akan bebas. Aku berjanji kalau aku bebas nanti aku akan meninggalkan sifat-sifat negatifku dan akan kembali kepadanya. Semoga saja dia masih mau menerimaku.

Hari yang ditunggu sudah tiba, aku melihat kedua orangtuaku beserta selfi di depan pintu keluar penjara, mereka semua memelukku. Kembali menetes air mata kami pada saat itu. Tak lupa aku melakukan sujud syukur saat kakiku mulai menjauh dari penjara itu. Dalam sujud aku berdoa agar tuhan mau menerima taubatku, semoga aku tidak kembali ke tempat itu lagi dan meninggalkan semua hal negatif yang pernah aku lakukan.

Tiga tahun kemudian aku berhasil menyelesaikan kuliahku. Aku diwisuda dengan nilai yang sangat memuaskan, lulus dengan pujian. Beberapa bulan setelah lulus kuliah aku diterima di salah satu Bank terkemuka milik negara. Aku sangat bersyukur dengan pengalaman yang aku miliki sekarang. Ini akan selalu menjadi ceritaku agar setiap orang yang mendengar dan membaca ikut termotivasi dengan pengalamanku ini.

Jangan merasa kecil saat kau melakukan kesalahan, perbaiki semuanya dan kau akan mendapatkan apa yang kamu cita-citakan. Sekarang aku telah memiliki seorang anak dengan jenis kelamin wanita, cantik tentunya sama dengan selfi ibunya yang berkulit putih dan berparas cantik. Dalam karir aku juga tidak kalah beruntung, aku telah beberapa kali naik pangkat. Mungkin karena kinerjaku baik dengan disertai pertimbangan berdasarkan pencapaianku. Awal diterima bekerja, posisiku sebagai costumer service dan akhirnya sekarang aku dipercaya untuk memimpin salah satu cabang dari bank tersebut. Melalui proses dan perjuangan pastinya.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Ahmad Rifa’i
Facebook: facebook.com/riffay.ahmad

Cerpen Pintu Taubat (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kata Terakhirku Untuk Ibu

Oleh:
“Pergi kamu! kamu bukan anakku..” Seorang ibu berkata kasar pada seorang anak perempuan yang memiliki kekurangan pada fisiknya Yaitu fay. Faylina tasya atau lebih akrab dipanggil fay, adalah anak

Lelaki yang Tercemar Air Mata

Oleh:
Wanita Satu Meski kau tak pernah alpa ciptakan cerah di senyummu, entah mengapa aku selalu bisa selami tatap itu bukan sebagai gerbang tawa, melainkan sepasang ceruk kesedihan. Aku memang

Mimpi Kami Anak Bangsa

Oleh:
Berjalan menyusuri jalanan saat dimana orang lain melakukan aktivitas mereka dan juga anak seusiaku tentunya mereka bergegas ke sekolah. Tidak sepertiku hanya melihat megahnya gedung sekolah tanpa pernah merasakan

Egoisnya Negeri Ini

Oleh:
Aku kembali menatap langit, gelap dan pekat. Aku tidak menghitung seberapa lama aku telah berada di sini, rasanya waktu tak beranjak. Hanya saja luka ini terlalu sakit untuk disimpan

Semu

Oleh:
Aku diam menatap wajah semu yang semakin hilang. Benakku mengingat jalan, sawah dan pohon-pohon yang setiap detailnya menceritakan sesuatu. Tak hilang wajah manis yang selalu kecut ketika menatap diriku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *