Pohon Di Pinggir Kota

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 7 May 2018

Kuletakkan surat kabarku di meja. Banyak berita orang saling berebut kursi. Aku heran, apa istimewanya? Mereka tidak selamanya duduk di kursi itu. Lagi pula, ketika mereka mendapatkan kursinya, secata otomatis mereka juga mendapatkan tanggung jawab yang belum tentu dapat mereka pikul. Daripada pusing kepalaku memikirkannya, lebih baik aku pergi berjalan-jalan saja.

Sepertinya rasa pusingku semakin bertambah saja, bagaimana tidak? Jalanan sangat kacau. Kendaraan mengular panjang, suara klakson saling berperang, terkadang terdengar umpatan agar kendaraan di depannya cepat jalan. Kesal, kutelusuri asal kekacauan ini. Tampak pohon tumbang melintang di aspal. Ada beberapa pekerja yang berusaha menyingkirkan pohon. Dan juga tampak polantas yang mencoba menguraikan lalu lintas. Dengan tenaga seadanya, kubantu para pekerja. Agar para pengendara tak lagi menderita di atas kendaraannya. Dan juga berhenti memperk*sa klaksonnya.

Kulanjutkan acara jalan-jalanku ini. Kali ini tujuanku jelas, area pohon besar di pinggir kota. Di sana aku dapat menemukan kedamaian di dalam kehidupan yang absurd ini. Pohon itu seperti memancarkan energi yang tak dapat dijelaskan. Ketika aku sudah sangat “budrek” dengan kehidupan ini. Aku datang ke sana. Mendengarkan desiran angin meniup sejuk melewati dedaunan dan burung-burung yang bernyanyi menikmati hari. Setelah itu aku akan tertidur di sana sampai aku bangun dengan sendirinya.

Dengan masih adanya pohon ini aku sangat bersyukur, karena kota ini masih memiliki cadangan udara segar. Sehingga ketika ada orang merasa terlalu banyak menghirup asap knalpot, mereka tinggal datang kemari dan menarik nafas dalam-dalam untuk menukar polusi dengan oksigen.

Hari ini aku begitu terkejut, pohon yang kuanggap rumah keduaku hanya tersisa pokok batangnya saja. Tampak ada beberapa orang di sana, kutanya mereka. “Kenapa pohon ini di tebang?” salah satu di antara mereka menjawab, kalau pohon ini diduga angker dan menjadi sarang setan. “Tahu dari mana?” tanyaku. Dari dukun katanya. Geleng-geleng kepala aku mendengarnya. “Bodoh!” umpatku dalam hati. Di zaman yang katanya era globalisasi ini, masih saja ada orang yang mempercayai takhayul murahan seperti itu. Kali ini bingung menghampiri diriku, ke mana lagi akan kudapatkan kedamaian duniawi ini. Kutatap burung yang sedang terbang. Kasihan, rumah mereka telah musnah hanya karena kedunguan manusia koplo ini.

Mataku menatap sekeliling kota, mencari apakah masih ada pohon yang tersisa di kota ini. Nihil, hanya ada pohon beton di kota ini. Kuputuskan, hari ini atau besok, aku kan pindah. Akan kubawa semua barang-barangku. Kecuali, satu hal. Anakan bringin yang kutanam di belakang rumah.

Cerpen Karangan: Absar Adalla
Facebook: Absar Adalla

Cerpen Pohon Di Pinggir Kota merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Koruptor

Oleh:
Tetesan air hujan bagai sebuah piano yang mengeluarkan melodi indah. Suara yang hampir setiap harinya menemani gadis yang tengah menunggu bus di halte-bila musim hujan tiba. Gadis itu dilihat

(Masih) Tanpa Jawaban

Oleh:
Adakah yang lebih memilukan dari mimpi-mimpi di ambang nyata yang mendadak lumpuh dan menanti binasa? Adakah yang lebih mengerikan dari tiupan napas yang bahkan tak sanggup dikendalikan kita? Atau,

Senyum Terakhir Ibu

Oleh:
Pagi ini, di saat matahari belum terlihat jelas, seorang pemuda telah sibuk menyiapkan kotak semir yang akan dibawanya untuk mengais rezeki. Pemuda itu bernama Ardit. Umurnya baru 16 tahun,

Anjing Geladak

Oleh:
“Lelaki ya harus kerja.” perkataan Bapak Mertuanya itu yang selalu dia ingat dalam benaknya. Pernah suatu hari Banyu jatuh sakit, typus, hasil diagnosis dokter. Dia berusaha untuk menyembunyikan rasa

Maaf Ayah, Aku Bohong

Oleh:
Deras hujan waktu itu membuat Sandi khawatir akan keadaan ayahnya yang belum pulang dari kantor. Maklum, sejak kematian ibunya, Sandi hanya ditemani sang ayah. Sudah dua tahun ini. Entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *