Pohon Mangga Mbah Karto

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Kehidupan, Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 5 April 2013

Mbah Karto siapa yang tak kenal kakek ini di desa Mayasari. Demikian orang-orang di desa menyebutnya. Di usianya yang ke 85 tahun Beliau masih sehat dan semangat untuk beraktivitas membantu masyarakat di desanya. Tak sungkan Beliau ikut kerja bakti memperbaiki jalan yang memang sudah rusak di Mayasari. Beliau juga yang menggagas ide kincir air yang dapat di gunakan untuk menerangi listrik desa Mayasari. Orang-orang sangat menghormati beliau. Tapi kini beliau hanya tinggal dengan cucunya yang bernama Robi yang kini telah berusia 17 tahun. Sejak 5 tahun lalu ketiga anaknya pergi ke kota dan tidak kembali lagi.

Pekerjaan Mbah Karto sangat mulia. Seumur hidupnya Beliau bekerja di DPU Kebersihan Umum di Kecamatan Pracimantoro. Tapi semenjak 2 bulan yang lalu Beliau berhenti karena sering sakit-sakitan. Walaupun sakit-sakita Mbah Karto tidak mau merepotkan orang lain Beliau masih sanggup untuk mengurusi dirinya sendiri.

Pagi ini Mbah Karto Sudah beraktivitas dikebun samping rumahnya. Beliau sibuk menanam cangkokan mangga yang sudah Beliau persiapkan 1 minggu yang lalu.
“Ada apa Mbah kok pagi-pagi sudah dikebun”, tanya Hadi tetangganya yang kebetulan lewat.
“saya mau menanam mangga”, jawab Mbah Karto.
“Lho kok menanam mangga, untuk apa?”, tanya Hadi lagi.
“Ya kalau sudah besar dan berbuah masak kan dapat diambil dan dimakan”, jawab Mbah Karto.
“Tapi kan Mbah, butuh beberapa tahun untuk mendapatkan buahnya.”, kata Hadi penuh keheranan.
“ini bukan untukku, ini untuk anak-anak yang besok dapat bermain disini sambil memetik mangga.” perkataan terakhir Mbah Karto sebelum Hadi pergi berjalan meninggalkan Mbah Karto penuh keheranan.

Kini 5 tahun telah berlalu. Sudah 4.5 tahun Mbah Karto meninggal. Tetapi namanya masihku ingat. Bukan aku saja semua warga desa Mayasari pasti masih mengingatnya, anak-anak yang kini bermain-main di pohon mangga Mbah Karto serta memetik buahnya dengan bebas Mereka tidak pernah lupa dengan Mbah Karto.

Cerpen Karangan: Roni Istianto
Facebook: www.facebook.com/daftargratis
Ingat aja nama gue Roni Istianto

Cerpen Pohon Mangga Mbah Karto merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Alasan

Oleh:
Pahit begitu terasa di pengkal tenggorokannya setiap kali ia menelan air ludah. Suara bergemuruh selalu muncul dari arah perutnya memprotes kepada sang pemilik yang tidak kunjung memberikan haknya. Entah

Gara-Gara Buruk Sangka

Oleh:
Aku terus berlari tanpa memedulikan panggilan kawan-kawanku yang masih asyik bermain voli di lapangan sekolah. Aku tidak ingin pulang terlambat lagi. Ibuku pasti cemas jika aku belum sampai di

Ahh… Hidup (Part 2)

Oleh:
Dua jam lebih kami perlukan untuk menempuh jarak dari kota Medan ke kota Jambi. Kami harus mampir ke kota Jakarta terlebih dahulu, agar bisa pergi ke kota Jambi. Kami

Karung Terakhir

Oleh:
Sejak bilal masjid mengumandangkan bacaan niat sahur untuk esok, Baba pun mulai berganti ‘baju dinas’. Ke luar masjid dengan mulut komat-kamit. Hatinya bergumam, “ini malam ke-29 ya? masih ada

Maafkan Aku Rakyatku

Oleh:
“Pah, bangun! Sudah pagi pah” ujar Dewi yang membangunkan Aryo untuk bekerja di kantor DPR. Setelah ia merasa terganggu akan tidurnya, Aryo menjawab dengan marah “Mah, lagi enak-enak begini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *