Poor Families

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 January 2017

Sekarang ini aku jadi malas membaca novel, bagaimana tidak? di dalam novel hanya berkisah tentang kehidupan orang-orang kaya raya dengan rumah mewah bak istana atau sebuah mansion dengan fasilitas yang lengkap. Selalu saja kisahnya tentang orang yang terlampau kaya atau kisah perjodohan yang akhirnya mereka malah saling cinta, awalnya saling membenci jadi cinta atau cinta masa kecil. Semua itu sangat memuakkan, realitanya tidak hanya orang kaya saja yang patut jadi tokoh cerita tapi orang miskin jauh lebih penting untuk disorot bahkan jika dipikirkan dengan logika tidak mungkin seseorang bisa menyukai lawan jenis sejak mereka masih kecil. Kalaupun itu terjadi, mana mungkin akan berlanjut sampai dewasa?. Faktanya dunia ini luas jadi tidak hanya berkutat di orang yang sama, kalau begitu kenapa orang lain bisa punya banyak mantan?. Sudahlah, jika kupikirkan segalanya pasti kepalaku pusing. Ah ya, satu lagi! kisah tentang keluarga sederhana tapi bahagia dan penuh kasih sayang tapi keluargaku justru kebalikannya. Aku lahir dan besar dari golongan keluarga menengah kebawah tapi menderita, sayangnya selama ini tidak ada yang benar-benar peduli padaku.

“Ma, aku mohon pikirkan sekali lagi..!” kataku sambil berharap.
“Mama sudah memikirkan semuanya Liana dan mama rasa ini keputusan terbaik” ekspresi mama terlihat datar.
“Tapi usiaku masih terlalu muda untuk menikah, lagian aku tidak suka dengan hal ini” dadaku rasanya sesak membayangkan bila aku harus menikah dengan orang yang tidak kukenal.
“Liana benar ma.. jangan hanya karena gaji Liana yang kecil kamu jadi merasa bahwa dia sebaiknya menikah agar ada seseorang yang membiayai hidupnya” untungnya papa menengahi.
“Tapi semua ini kan karena kamu! kamu tidak berusaha untuk mencarikan Liana pekerjaan yang lebih baik apalagi keuangan kita menipis” mama jadi marah pada papa dan papa juga tidak terima.
Plak.. Plak..
Tiba-tiba papa menampar kedua pipi mama dengan keras, mama langsung menatap papa dengan tajam.
“Jangan berani menyalahkan aku dalam hal ini ya! aku sudah berusaha tapi memang seperti itu hasilnya, mau bagaimana lagi! lagian kerjaanmu hanya mengeluh terus!”
“Siapa yang tidak akan mengeluh melihat suaminya malas-malasan seperti itu?! waktu itu bukannya kamu kerja tapi malah nongkrong di warung, kalau kerjamu serabutan begini aku bakalan dapat apa nantinya?!” mama langsung melotot sedangkan siratan mata papa juga penuh amarah.
“Kamu pikir cari kerja itu gampang apalagi aku itu juga capek pulang kerja dan seenaknya saja kamu bilang begitu!”
“Kamu itu ayah yang tidak bertanggung jawab, bagaimana bisa kamu tidak mau tahu dengan perekonomian keluarga kita bahkan mengganggap enteng semuanya?!”
“Sekali lagi kamu bicara maka akan kupukul kamu atau kalau perlu aku akan pergi meninggalkanmu dan anak-anakmu!”
“Silahkan pergi! kamu pikir siapa yang akan mengurusmu setelah ini?” air mata mama langsung mengalir sedangkan aku hanya bisa diam tanpa berkata apapun.
“Aku bisa menumpang di rumah adikku Riani kalau aku mau”
“Tinggallah disana, kamu pikir dia akan mengurusmu? justru dia tidak mempedulikanmu. Memangnya kamu tidak ingat kalau dia sangat perhitungan?”
“Jika tidak disana maka aku akan pergi ke tempat lain, aku ingin lihat bagaimana kamu mengurus anak-anakmu!” papa langsung pergi dari rumah sambil membanting pintu sedangkan mama menangis terisak sambil terduduk lemas di lantai, aku jadi tidak tega melihat keadaan mama sehingga aku menolongnya.

Siang itu setelah aku dan Winda pulang sekolah kami langsung ke dapur dan membuka bufet tapi sungguh miris saat kami melihat tidak ada masakan apapun disini apalagi keadaan rumah yang tidak tersapu dan piring juga tidak dicuci, dengan kesalnya aku menghampiri mama yang sedang merok*k. Kulihat di atas meja ada botol alkohol dan gelas kecil, Winda juga ikut menghampiri mama dan marah lebih duluan.
“Apa-apaan ini ma, kenapa mama tidak memasak apapun untuk kami?”
“Kalian kan bisa masak sendiri!” jawab mama dengan santainya.
“Tapi kan kami baru pulang sekolah ma.. kami juga sangat lelah dan lapar jadi seharusnya sudah ada masakan dalam bufet dan kami bisa langsung makan!” Winda jadi semakin geram.
“Kalian ini banyak omong ya! udah, masak aja sendiri! apa susahnya sih?” mama langsung menggebrak meja. Winda tidak tinggal diam, dengan lancangnya dia mengambil rok*k yang ada di tangan mama lalu menginjaknya dengan sandal yang dia pakai.
“Kamu ini kurang ajar sekali ya!” mama langsung kaget melihat perbuatan Winda.
“Kamu juga! kenapa kamu membiarkan adik kamu berbuat begitu?” mama langsung melirik ke arahku.
“Karena mama memang pantas dibegitukan! biar mama sadar bahwa mama memang tidak pernah mengajarkan kebaikan pada kami, yang mama lakukan hanyalah menyuruh kami mengerjakan semua pekerjaan rumah dan menyiksa kami!”
“Dasar anak durhaka! susah payah mama melahirkan dan membersarkan kalian tapi balasan kalian malah seperti ini!”
Kami langsung bergegas pergi tanpa mendengarkan ocehan mama sedikitpun, Winda memutuskan untuk memasak Nasi Goreng dan aku juga ikut membantunya. Bahan-bahan di kulkas sangat terbatas karena itulah kami memilih membuat ini.

Malam menjelang dengan begitu cepat, udara dingin menyembul dari arah luar apalagi hujan turun ke bumi dengan derasnya. Aku dan Winda memilih bersembunyi dibalik selimut di atas kasur, lalu aku membaca novel sebentar sampai akhirnya aku menguap. Aku pun memilih tidur lebih dulu, cukup lama juga aku tidur namun Winda malah membangunkanku.

“Ada apa sih Winda?” ucapku sambil mengucek mataku untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu.
“Mama tidak ada di kamarnya kak!”
“Hah! serius! terus mama sekarang di mana?”
“Aku gak tahu kak, itu makanya aku membangunkan kakak. Biar kita mencari mama bersama-sama”
“Ya sudah, yuk kita cari..” aku bergegas turun dari atas kasur.

Kami langsung mencari mama ke sekeliling rumah tapi tidak ada sampai akhirnya ada orang yang mengetuk pintu dini hari begini membuat aku berhati-hati, dengan mengendap-endap aku mendekati pintu lalu bertanya.
“Siapa?”
“Ini papa!” suara papa terdengar lantang dari arah luar, akupun langsung membuka pintu meskipun aku enggan.
Terlihatlah papa yang berdiri bersama dua orang wanita cantik lalu melesat masuk begitu saja, aku mengejar langkah papa dari papa dari belakang.
“Kalau papa mau bermesraan dengan kedua wanita simpanan papa ini, harusnya bukan disini tempatnya!” ucapku sambil menahan lengan papa tapi papa justru menghempaskanku hingga kepalaku terantuk pintu.
“Papa tidak butuh nasehat kamu!”
“Papa!! tidak seharusnya papa melakukan ini pada kak Liana!” Winda datang dari arah dapur dan langsung membentak papa.
“Diam kamu anak kecil, kamu tidak berhak berkata apapun saat ini”
“Oh, ternyata kamu masih berani menginjakkan kaki disini ya?” entah kenapa, mama malah berdiri di belakang papa.
“Kalau iya memang kenapa? lagian kalian harus segera pergi dari sini!”
“Lho! kenapa kami yang pergi? ini kan rumah milik mendiang ibuku!” mama menghampiri papa dengan emosi yang meluap.
“Karena surat kepemilikan rumah ini sudah berpindah ke tanganku, jadi lebih baik kalian pindah ke tempat lain”
“Baik! kami akan pergi dari sini tapi nanti aku akan melakukan sesuatu yang akan membuat kamu menyesal”
“Bangs*t! jangan mencoba untuk mengancamku!” dengan teganya papa menempeleng mama.
“Hentikan pa! sudah cukup semua kejahatan yang papa lakukan, kami semua akan mengikuti kemauan papa”

Kami semua langsung masuk ke dalam rumah dan membereskan semua barang-barang kami setelah itu kami mengangkat tas besar berisi pakaian, uang dan segala macamnya itu.
“Aku harap papa senang! selamat tinggal pa..” kataku dengan lirih, kami semua melangkah pergi namun aku sempat melirik ke belakang sayangnya disana papa berdiri dengan angkuhnya.

Aku berharap setelah ini papa akan bahagia dengan keputusannya namun ternyata papa malah masuk rumah sakit karena kecelakaan tapi saat itu mama menolak untuk ikut menjenguk papa bahkan mama memutuskan untuk bercerai dari papa, aku dan Winda tidak setuju tapi kami tidak mau ikut campur urusan mereka.

Setelah bercerai dari papa, mama justru jadi sering pulang malam. Kadang sampai berminggu-minggu tidak pulang dan hanya mengirim uang lewat kantor pos, sebenarnya mama kemana coba dan darimana mama dapat uang untuk membeli rumah ini? mama semakin tertutup pada kami.

“Sekarang kita tinggal berdua kak, bagaimana kita akan menjalani hidup setelah ini?” Winda terlihat sedih namun aku harus tegar untuk adikku.
“Kita pasti bisa dek.. kalau memang mama dan papa sudah tidak mau tinggal bareng kita maka kita harus menjalani hidup dengan mandiri.”
“Ya, kakak benar! jangan tinggalkan aku juga ya kak!” Winda langsung memelukku, papa ternyata sudah keluar dari rumah sakit dan entah siapa yang menjemput.

Cerpen Karangan: Fayza Azmina
Facebook: Oktavia De Libra
Kehidupanku tidak sempurna dan aku hanyalah orang yang bermimpi kapan aku akan menjadi penulis terkenal, menulis adalah duniaku tapi sayangnya aku belum bisa menyalurkan hobiku selama ini. Aku hanyalah seseorang yang menyukai hidup sederhana tapi ingin disayang dan berguna bagi orang lain, aku ingin sukses tapi sulit menjangkaunya. Aku berasal dari desa kecil yang kalian sendiri mungkin akan bingung jika harus mencari daerah itu.

Cerpen Poor Families merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nasihat Ayah

Oleh:
Aku adalah siswi kelas XI di SMPN 121 JAKARTA UTARA. Aku mempunyai cita-cita yang tinggi. Aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru bahasa indonesia, karena aku sangat menyukai pelajaran di

Lelaki Berselimutkan Duka

Oleh:
Wajah itu sudah tak teramat asing bagiku, rautan wajah penuh wibawa dan tegas, terbingkai oleh rahang segi empatnya, terlihat ada ketegaran sikap dalam rona wajah itu. Diterangi oleh keremangan

Persahabatan yang Sempat Terputus

Oleh:
Pagi yang cerah bersama kabut dan air embun membuat hati merasa gembira.rasa gembira itu ada di dalam hati tiga remaja ini.mereka adalah tika,aliya,dan iva. Mereka bertiga sudah sahabatan sejak

Kepergian Sahabatku

Oleh:
Di pagi hari yang cerah. Aku dan sahabat ku berjalan bersama kesekolah. Di setiap perjalanan kami selalu tertawa dan bercanda. Hari-hari ku pun ku jalani bersama nya. Di setiap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Poor Families”

  1. Cindy Flowencya says:

    Cerpennya bagus,sayangnya aku rasa endingnya mendadak giru. Tapi,bukan maksudku buat menyinggung. Cerpennya tetep baguss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *