Potret Senja Pak Warno

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 14 March 2016

Jam menunjukkan pukul 4.35 sore. “15 menit lagi sampai,” pikirku setelah melihat jam yang ada di pintu masuk gerbong, bersamaan dengan selesainya pengumuman dari staf kereta api akan tibanya kereta api ini di Stasiun tugu Yogyakarta. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Yogyakarta, turun dari gerbong kereta api ada rasa haru yang menyelimuti diriku. Jiwa petualang semenjak aku mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Umum terus menerus menuntut diriku untuk melihat suasana suasana kota di daerah daerah lain khususnya Indonesia. Semenjak sekolah berbagai daerah pernah aku jelajahi namun sayangnya belum pernah sekali pun ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur ataupun daerah lain di bagian Indonesia bagian timur selain Sumatera dan Jawa Barat. Menginjak kuliah dan bergabung dengan Mapala juga hanya gunung-gunung yang ada di Sumatera dan Jawa Barat saja aku jelajahi.

Beruntungnya diriku selepas lulus kuliah ini mendapatkan perkerjaan sebagai supervisor retail. Bukan kebetulan juga ternyata daerah yang menjadi tanggung jawabku adalah Indonesia bagian Timur. Senangnya hatiku mendapatkan perkerjaan ini, artinya aku bisa melihat kondisi dan berkenalan langsung dengan kota-kota yang ada di daerah Indonesia Bagian Timur. Tugas pertamaku adalah berkenalan dengan area Jawa tengah, ku mulai dari Yogyakarta, solo lalu semarang, karena di 3 kota itulah terdapat outlet brand perusahaanku. Di sinilah aku sekarang berada, Stasiun tugu, pintu gerbang masuk Yogyakarta jika menggunakan transportasi Kereta Api.

Stasiun dengan media informasi yang memanjakan pengunjungnya dengan 3 bahasa, yaitu Indonesia, Inggris, dan bahasa Jawa. Stasiun yang bergaya asitektur khas Eropa dengan pintu pintu yang besar berwarna cokelat dan langit-langit yang tinggi. Gaya asitektur kolonial Belandanya sangat kental jika kita ke luar dari stasiun karena bentuk aslinya masih terlihat. Menurut info yang saya dapatkan bahwa stasiun ini didirikan pada tahun 1887, wajar jika arsitekturnya masih bergaya kolonial.

Keluar dari stasiun tampak berjejer rapi para penjaja jasa angkutan becak. Para tukang becak yang sambil bercanda melempar senyum dan tawaran kepada para pendatang bahkan sesekali saling bercanda antar tukang becak, riuh teman-temannya tertawa dan berteriak. Aku pun mendekati salah satu tukang becak, “Bang, ke Mall Galeria yogya, pinten Pak?” Tanyaku, ini bekal yang aku dapatkan dari tetanggaku orang yogya, pakai bahasa setengah jawa setengah Indonesia, akhirnya dapatlah kata-kata pinten, yang artinya berapa. Kata ini dipakai untuk menanyakan harga secara sopan. Itu menurut penuturan tetanggaku. “Biar gak dikasih harga mahal Mas,” itu penuturan tetanggaku.

Tapi menurutku bukan arti mahalnya untuk belajar mengetahui bahasa daerah lain, tapi belajar untuk supaya bisa berbaur dan bekomunikasi dengan mereka, itu sesuatu yang mahal menurutku. Banyak sesuatu yang bisa ku dapatkan jika mengerti bahasa suatu daerah. Akhirnya Pak Warno, si tukang becak pun mengantarkanku ke tujuan. Selama dalam perjalanan aku pun menanyakan kondisi keluarga Pak Warno dan alasannya kenapa masih menjadi tukang becak, padahal perkerjaan lainnya masih banyak seperti menjadi kenek angkot, sopir angkot, berjualan di pasar.

Dengan tanpa malu-malu dan sedikit bangga dalam nada suaranya, Pak Warno bercerita. Dari becak dia bisa membawa semangat ke dalam diri anak-anaknya supaya tidak seperti bapaknya, membawa inspirasi bahwa hidup itu adalah suatu perjalanan yang sulit namun jika direncanakan dari dini akan terlihat hasilnya serta perencanaan yang matang mau dibawa ke mana hidup ini, dari becak juga membawa daya juang bagi anak-anaknya bahwa hidup ini seperti roda, dan dari becak juga membuat mental anak-anak Pak Warno tidak goyah dalam meniti hidup.

Pak Warno mempunyai dua orang anak laki-laki dan semuanya bertitel sarjana serta sudah berkerja di Jakarta. Tidak ada penghasilan lain dari Pak Warno selain membecak. Namun bukan materi yang diberikan Pak Warno kepada anak-anaknya namun nasihat dan nasihat serta semangat selalu disodorkan untuk disantap anaknya sebagai makanan penutup setiap hari. Bukan buah-buahan atau sop seperti orang kaya santap sebagai makanan penutup namun petuah yang bijak dari seorang Ayah yang sayang kepada anak-anaknya.

“Alhamdulillah, anak-anak pada mengerti Mas dengan kondisi orangtuanya, mereka berprestasi, biaya pendidikan semuanya berasal dari beasiswa dan beasiswa sampai akhirnya ke perguruan tinggi.” Ujar Pak Warno.
“Pada kuliah di mana Pak, anak-anaknya?” tanyaku.
“Gak jauh-jauh Mas, keduanya lulusan UGM,” Pak Warno menjawab sambil tersenyum lugu.

Aku pun terpatri menatap jalanan di depanku mendengar setiap perkataan Pak Warno. Luar biasa perjuangannya, luar biasa kegigihannya dalam mendidik anak-anaknya. Karena aku sendiri tidak akan mampu mendidik anak-anakku hanya dengan nasihat-nasihat. Butuh kesadaran emosi dari diri Pak Warno sendiri serta kesadaran batiniah dari anak-anaknya. Mungkin ini yang dinamakan hidup prihatin namun dijalani dengan kesungguhan, keikhlasan dalam menerima hidup yang pada akhirnya mendapatkan kesadaran dari diri anak-anaknya bahwa mereka suatu saat nanti tidak akan seperti ayahnya.

Suatu cerita yang meninspirasiku selama perjalanan ini, bahwa tidak semua pendidikan membutuhkan uang banyak. Hanya dari kesadaran diri anaknyalah untuk merangsang supaya berpikir bisa maju. Namun metode menciptakan dan merangsang timbulnya kesadaran diri anak anaknyalah yang sulit. Namun dari cerita Pak Warno, ia tidak membutuhkan seorang yang ahli sebagai guru bahkan sebuah buku untuk dipraktekkan ataupun metode lainnya, hanya untuk merangsang dan menciptakan anak-anaknya supaya berpikir maju. Hanya dengan cara nasihat, memberikan contoh konkret, intinya adalah komunikasi. Selalu berkomunikasi dengan anak-anaknyalah rahasia yang terbaik dari Pak Warno mendidik anaknya.

“Bapak kok masih narik becak, padahal anak-anak kan udah sukses?” Tanyaku menyelidik, dengan tertawa renyah dan menarik napas Pak Warno pun berkata.
“Hanya untuk bisa berguna bagi orang lain Mas, saya narik becak untuk bisa beramal, bukannya berkerja itu mencari pahala juga toh? Sampeyan tadi kan nanya ke Galeria berapa? Saya kan jawab seikhlasnya sampeyan saja, tapi sampeyan bilang pengen tarif biasanya, ya saya kasih 30 ribu karena tidak enak dengan teman-teman saya yang sudah menetapkan tarif.” Seru Pak Warno dengan logat jawanya yang kental, aku pun tertawa mendengarnya, “Aneh juga,” pikirku, “kok zaman sekarang masih ada yang seperti ini? Mungkin ada tapi di antara 40 tukang becak mungkin hanya ada satu, ya ini Pak Warno.”

Cerpen Karangan: Asep Kurniawan
Blog: https://aanfutureimagine.wordpress.com
Nama: Asep Kurniawan
Alamat Email: aan_future[-at-]yahoo.com
Alamat Facebook: asep.kurniawan.35762[-at-]facebook.com
Kelahiran Palembang tanggal 10 September 1978, lebih mencintai tanah kelahirannya. Sampai suatu ketika tiba waktunya untuk membuka mata, pikiran serta hatinya untuk melihat keindahan kota-kota lain di dunia ini. Menamatkan dengan baik Sekolah Dasarnya di SD 1 PUSRI PALEMBANG, SMPN 8 PALEMBANG, SMUN 7 PALEMBANG, dengan predikat anak baik, tanpa nark*ba, tanpa minuman keras, tanpa pernah berkelakuan tidak baik atau mendapat catatan hitam di kepolisian serta tanpa dikejar-kejar oleh orangtua untuk dinikahi anak perempuannya, untungnya…

Berbekal predikat tersebut saya merantau di negeri seberang yaitu tanah jawa. Tanah kelahiran orangtuaku yaitu ayahku yaitu Jawa Barat. Tepatnya di kota bandung untuk melamar menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ITB, namun gagal total karena ternyata otakku masih kalah encer dengan calon-calon lainnya. Akhirnya aku pun terdampar di Kampung Paling Besar di Negara ini adalah Jakarta. Aku pun akhirnya mendapat predikat gelar mahasiswa di salah satu kampus negeri Kementrian Perindustrian dan Perdagangan (dahulunya masih digabung karena sering berebutan jatah akhirnya sampai dengan tulisan profil ini saya buat alhamdulillah sudah dipisah) yaitu APP (Akademi Pimpinan Perusahaan) ceritanya sih pengen jadi Direktur itu pun kalau ada modal, tapi apa daya tangan tak sampai jadi karyawan pun masih Alhamdulillah, mengambil jurusan Perdagangan Internasional.

Tahun-tahun di kampus aku abdikan dari tahun 1997-2001 serta termasuk predikat mahasiswa paling beruntung karena tidak menjadi korban penganiayaan aparat ketika demo mahasiswa untuk menurunkan Presiden Soeharto. Aktif dalam kegiatan Mapala, sepak bola kampus walaupun jadi cadangan dan pemandu sorak, aktif dalam berorganisasi dengan organisasi bentukan dadakan oleh anak-anak kost yang memang belum punya kerjaan terpenting ada ide dan kumpul bahkan aktif dalam dunia jurnalistik walaupun hanya baru sebagai penikmat dan pengamat. Termasuk mahasiswa pencinta buku yang hobi mengkoleksi buku apa pun serta mempunyai hobi menulis walaupun belum pernah kesampaian.

Berbekal ijazah aku pun mendapatkan perkerjaan sebagai EDP (Entry Data Processing) di sebuah perusahaan advertising yang kebetulan menangani ponsel Ericcson. Sambil berkerja ku teruskan untuk berkuliah mengambil Strata 1 di Universitas Nasional Jakarta jurusan Hubungan Internasional. Kecintaanku pada literatur sejarah dunia, Tokoh-tokoh besar dunia, semakin terbuka ketika mengambil jurusan ini. Pemikiran-pemikiran Islam dan Barat beradu argument di kepalaku, tokoh-tokoh sentralnya pun tidak luput dari perhatianku.

Selama berkuliah di Universitas Nasional ini sudah dua kali berganti
perkerjaan. Untuk di perusahaan advertising saya abdikan dari bulan Juni 2001-Maret 2002. Setelah itu saya bergabung dengan PT Summit Plast Cikarang sebagai team Leader. Saya abdikan di perusahaan tersebut dari bulan Oktober 2003-Jan 2004. Selepas mendapatkan predikat Sarjana Strat 1 dengan gelar Sarjana Politik saya pun bergabung di PT Yomart Rukun Selalu dengan spesifikasi perkerjaan retail dari tgl 14 september 2006-15 mei 2011 jabatan terakhir sebagai Spv area untuk daerah Bandung.

Di bulan Mei 2011 saya pun bergabung di PT MNC SKY VISION bergerak di bidang Pay tv (saluran tv berlanganan) sebagai spv area untuk daerah Cirebon, Majalengka dan Kuningan. Saya abdikan di perusahaan ini sampai dengan bulan Maret 2012. Terakhir saya mengabdikan diri saya masih didunia retail yaitu retail garment di perusahaan PT Sandang Makmur Sejati Tritama dengan brand Royalist sebagai Spv Wilayah Indonesia Bagian Timur yang meliputi semua area Jawa kecuali Jabodetabek, Sulawesi dan Kalimantan.

Saya sekarang mempunyai keluarga kecil yang masih menuju bahagia, dengan dianugerahi seorang istri bernama Lina Marlina dan sepasang anak. Anak pertama yaitu perempuan bernama Adinda Zahra Putriana dan adiknya laki-laki bernama Fathi Rizqi Faqihazam Zuhdi (azam). Kami sekarang menetap di kota bandung yang indah nan sejuk.

Cerpen Potret Senja Pak Warno merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Kecil Tunawisma

Oleh:
Ia hidup namun ia mati Ia bernapas namun sesak yang ia dapat Ia benyanyi hanya dengan melodi perih Ia tersenyum hanya pada maut yang mendengung Tiada kasih, tiada sayang

Interaksi Dengan Orang Asing

Oleh:
Interaksi selalu menjadi bagian hidup bagi seluruh kehidupan di muka bumi ini, baik itu manusia dan manusia, hewan dan hewan, atau pun manusia dan hewan, tentu saja menarik untuk

Krisan dan Bulan Sabit

Oleh:
Bulan tampak malu-malu. Hanya memperlihatkan separuh wujudnya untuk bumi bagian Semarang, kota kelahiranku. Sudah sejak sejam tadi sebenarnya aku ingin segera memandang langit Semarang, tapi baru bisa kesampaian setelah

Terjebak Dunia

Oleh:
Gedoran bertubi-tubi dari pintu kontrakan berhasil membangunkan didi dari mimpinya. Masih dalam kesadaran yang belum pulih, hanya mata yang terbuka, dan sebentar… apa yang baru saja ia dengar? Tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *