Prelude Sajak dari Rhun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 25 September 2017

“Berhenti saja menulis, Oja. Sastra kini hanya dibuat oleh tanganmu seorang. Penikmatnya hanya runyam kehidupan pulau Rhun, makan saja susah Ja, kau ini, malah masih saja berkeras kepala” aku diam saja, sungguh tidak akan menyerah sekarang.
“Kamu itu pintar, Oja, tidak perlu mengikuti jejak Abahmu itu” teman-temanku berbicara bersahutan, mendukung apa yang masih enggan kupilih.

Dahulu sastra tidak perlu dibuat di Indonesia, sastra telah dimiliki oleh masyarakatnya, hidup rukun bersamping sahaja. Bertutur kata santun, bertingkah cela deksura, menyapa siapa saja, malam sunyi, serta maghrib yang ramai di surau-surau. Dahulu, tanah ini penuh sastra, seperti kata Abah. Bahwa Indonesia penuh sastra, dan aku hanya bertugas membawanya di saku kecilku saat sekolah di luar kepulauan Banda Neira kelak. Tidak lagi perlu menemani Abah di bilik kecil desa Tana Sanai.

Anak kecil itu bernama Oja, Khodijah lengkapnya, pemberinya berharap ia dapat memiliki keteguhan serupa dengan pendahulu pemilik nama itu yang kian mulia.

Abad ke-17, ketika Belanda dan Inggris masih menjajah Indonesia. Terjadiah perebutan sengit atas sebuah pulau, Rhun namanya, hingga akhirnya tercetuslah ‘Theaty of Breda’ di mana Belanda menukar pulau New Netherlend dengan pulau Rhun yang dikuasai Inggris. Efek nyata pertukaran itu berangsur pelan, dan baru berdampak 2 abad kemudian, pertengahan abad ke-20. Perampasan paksa seluruh ladang pribumi terjadi. Ya, kala itu Indonesia telah merdeka. Ladang keluarga Abah tidak dijajah oleh pihak Belanda lagi, akan tetapi oleh pemerintah kota madya, pemerintah Pulau Banda pinggiran sebutannya. Sejak itu, rempah melimpah pulau Rhun nyaris musnah, diangkut ke Belanda seluruhnya. Benih gelap pemerintah Belanda yang menanam pengkhianatan di Banda Kepulauan itu menuai sukses gemilang.

Saat itu usia Abah 7 tahun. Abah ikut mempertahankan tanah ladang pala bersama kedua orangtuanya, terjerembab hingga terantuk batu saat berusaha menghalangi utusan kota madya beserta puluhan tukang pukul lainnya memasuki ladang. Abah berhenti melihat sejak hari itu, kebutaan total, juga berhenti memiliki kedua orangtuanya, Abah menjadi yatim-piatu. Orangtuanya, kakek-nenekku meninggal dikeroyok tukang pukul pada tahun 1961.

Kali pertama aku mendengar kisah itu aku menangis, tapi Abah mengusap kepalaku, dan berkata bahwa ia bersyukur kala itu pingsan dengan kepala berdarah-darah. Karena jika saat itu tukang pukul kota madya tahu Abah masih hidup, maka Abah juga pasti akan dipukuli hingga tewas, tidak dapat tumbuh dewasa dan menikah dengan Ina juga memiliki anak perempuan yang cantik. Setelah itu Abah tertawa, Abah bilang wajahku pasti jelek sekali saat menangis, padahal Abah tidak pernah melihat wajahku sejak lahir, aku tahu ia berbohong.

Abah dibesarkan dengan status yatim piatu, kesendirian dan pengkhianatan oleh negeri sendiri. Akan tetapi, aku dibesarkannya dengan sematan cinta dan ketulusan pada negeri ini. Abah tidak bisa bekerja namun Ina membesarkanku dengan bekerja apa saja, Ina tidak pernah mengeluh. Hari-hari Abah dihabiskan menghaluskan sengkalan dari para tukang kayu. Juga membuat sajak dan puisi tentang keindahan pulau Rhun. Darinya aku mencintai sastra dan Indonesia. Diceritakannya kisah awal mula gunung api Banda, dan hutan pala desa ini yang terkenal hingga ke Eropa, serta jutaan kisah menakjubkan lainnya. Aku memang belum pernah keluar dari pulau Rhun, tetapi dari Abahlah aku tahu, mengapa aku harus jatuh hati pada negeri ini.

Musim Penghujan, tahun 2000.
Usiaku genap 8 tahun, sedang duduk di kelas 5 satu-satunya sekolah dasar pulau Rhun, Openbare Vervolg School (O.V.V.S) yang didirikan Portugis dahulu. Sudah larut, namun aku sibuk memetakan siklus hujan desa Tana Sanai agar dapat membantu warga memilih tanaman yang akan ditanam musim ini. Aku baru paham siklus hujan di kelas pagi ini. Aku prihatin dengan lingkunganku. Dahulu, Belanda dan Inggris pernah memperebutkan daratan mungil ini karena kekayaan rempah piahnya. Kini, pulau Rhun krisis cocok tanam. Alasannya sederhana sekali, cuaca yang tidak menentu membuat gadamala dan pala tidak dapat disemai karena hujan tiada henti. Tanpa dua primadona rempah itu masyarakat merasa merugi. Padahal tidak demikian kenyataannya, mereka hanya tidak mau belajar dan membaca, itu saja. Kluwak dan kardamunggu tumbuh subur di sini, akan tetapi sedikit sekali yang mau mengolahnya. Hal ini dikarenakan sedikit sekali masyarakat Indonesia yang mau belajar.

Entah kapan Abah memasuki kamarku, ia tiba-tiba sudah berdiri di sampingku sambil menyebut aku si anak jenius, sukses membuatku tersipu sekaligus bangga. Namun, sejurus kemudian Abah malah bertanya padaku ingin menjadi isteri seperti apa aku nanti, bukan mengenai pemetaan yang aku kerjakan. Kutanggapi dia sembari tersenyum, aku akan menjadi isteri yang mencintai suamiku seperti cinta Abah pada Ina, dan membesarkan anakku dengan cinta dan ketulusan. Tetapi Abah menggeleng menolak.
“ada yang lebih baik dari itu, Khodijah” ucapnya dalam senyum sendu.
“cintailah keluargamu seperti Indonesia mencintai kita semua. Ina yang mengajarkan tentang eksekusi waktu, mengajarkan bahwa kita dapat bertahan dengan merelakan segalanya dengan hati lapang” Aku menggangguk, walau Abah tidak dapat melihatnya,

“Khodijah, ingat cerita ketika Abah usia 7 tahun?” Tanya Abah lagi
“Tidak akan pernah lupa” sahutku cepat. Mana mungkin aku lupa, detik-detik kenyataan harus dikhianati negeri sendiri, justru ketika kemerdekaan sudah disela-sela tulang rakyatnya.
“masih membenci pemerintah kota madya?” lanjutnya
Aku terdiam, Abah benar, sebagaimana pun Abah membesarkanku dengan kisah dan puisi-puisi tentang betapa indahnya negeri tercinta, Indonesia. Di hatiku, ada titik itu. Pukul rata seluruhnya, aku masih membenci pemerintah.
“sedikit” jujurku. Kemudian kulihat senyum itu. Senyum terakhir malam itu, malam yang abadi di relung kalbuku.
“pemerintah itu bukan Indonesia, Khodijah. Indonesia itu bukan melulu soal pemerintahnya. Dua hal itu berbeda. Indonesia ya Indonesia. Tanah tempatmu berpijak ini, yang membesarkanmu dengan keanekaragaman menakjubkan, yang lautnya luas dan hujannya hangat berbekas pelangi. Itu Indonesiamu Khodijah. Indonesia kita yang harus dijaga…”
Abah mengusap kepalaku. “…paham, Oja?”
“baik, bah” sahutku. Lalu selesailah kalimat terakhirku malam itu. Penutup kenangan di tahun 2000 masehi silam.

“Kamu itu pintar, Oja, tidak perlu mengikuti jejak Abahmu itu. Percuma saja menulis puisi dan cerita-cerita dongeng itu, kita orang hanya butuh uang untuk hidup bukan omong kosong” cercaan teman-teman sebayaku tadi masih menenuhi telinga, sakit sekali mendengarnya.

Aku menatap buku-buku tentang sejarah pulau Rhun dan Maluku yang kukarang di pojok ruang 2×2 m Openbare Vervolg School yang berfungsi sebagai perpustakaan. Tiga buku jumlahnya, dengan tebal masing-masing ±200 halaman, tidak pernah terbaca dan sama sekali tidak dihargai. Tidak ada lagi yang tertarik akan sejarah jati diri bangsa sendiri. Ucapan teman-temanku benar, tidak lagi ada yang peduli pada adat tutur kata dan sejarah, mereka hanya peduli bagaimana dapat makan dan berkaya harta. Tahun 2005, umurku tepat 11 tahun, dan kusaksikan sendiri seperti apa Indonesia di pinggiran Banda kepulauan yang dulu pernah berharga sama dengan New York City itu.
Duka, kecewa, sedih, dan keprihatinan tak dangkal. Penuh sekali hatiku tahun itu. Aku sungguh hampir menyerah.

Musim kemarau, tahun 2005.
Dibulan yang sama. Aku membuat keputusan untuk meninggalkan pulau Rhun. Derai air mata Ina tak terbendung mendengarnya kali pertama. Aku ingat pesan Abah, bahwa sejarah kebanggaan pulau Rhun dan sajak yang kutulis itu tidak akan sia-sia. Bila tidak dihargai di Tana Sanai, maka bukan itu tempat terlayaknya, demikian kesimpulanku. Sastra Indonesia mendunia sejak dahulu. Maka aku hanya perlu memperkenalkannya ke ranah dunia, tidak lagi hanya kuletakan di saku baju saat sekolah di Rhun. Sajak dan sejarah yang kutulis butuh langit yang lebih luas untuk mengudara dan terdengar hingga penjuru Indonesia manapun.

Pada Ina aku berjanji pulang, kelak, ketika anaknya ini sudah menjadi orang besar hingga patut didengarkan banyak orang. Aku tidak akan menyalahkan penduduk desa Tana Sanai yang mengacuhkan tulisan serta karyaku. Mungkin aku yang belum layak. Belum patut diri. Jadi aku akan menuntut ilmu dan menjadi orang besar. Membangun desa Tana Sanai dan pulau Rhun hingga waktunya tiba kelak. Anak pedalaman Maluku Tengah ini akan mengharumkan nama Banda Kepulauan, tidak hanya itu, bahkan Maluku akan menjadi lebih berharga dari seluruh daratan Manhattan di Amerika Serikat, seperti dahulu, ketika sastra Indonesia dipangku seluruh rakyatnya. Ina, melepasku ba’da subuh keesokannya di pinggiran pulau. Kapal Pelni yang kunaiki telah menarik sauh, kulambaikan tangan pada Ina.
“Oja akan menuntut ilmu sampai pandai di Banda Neira, Oja pasti pulang dan buat Ina bangga!” kulihat Ina menitikkan air mata dan tersenyum bangga. Aku yakin Abah juga tersenyum di alam sana.

Tahun 2005, Khodijah Taher Penboran pergi meninggalkan pedalaman Maluku Tengah dan menuntut ilmu. Bekalnya sederhana. Hanya sajak-sajak dan kebanggaan tanah air yang rimbun di genggaman tangan mungil yang masuk ke saku bajunya yang kian usang.
Siapa yang tahu, hingga kapan hati seseorang dapat bertahan?

Musim penghujan, tahun 2017. Sebuah Kapal Pelni tua membuang sauh dan menurunkan seorang gadis yang segera berlari ke pekuburan desa. Tatapannya nanar, entah merindu atau berduka.
Abah, maafkan anakmu, semua ini harus berakhir menyakitkan. Menatap pusaramu, Bah, meskipun nasihat terakhirmu itu sudah sepuluh tahun lalu tertinggal, rasa-rasanya baru tergema kemarin, masih begitu melekat dihatiku. Hari ini, aku seharusnya sudah menjadi ‘si anak jenius’ asal Maluku yang kain membanggakan, seperti kala Abah menjuluki dulu. Lengkap dengan ilmu segudang yang membawa perubahan. Pemimpin yang membawa perubahan, seperti hadiah terbaik Tuhan untuk anak yang manis dan penurut seperti kata Ina.

Maafkan anakmu, Ina, menatap pusaramu, mengingat semua janji masa depan yang tidak terwujud, hancur berkeping-keping dibawa kemiskinan yang melekat padaku sejak lahir. Seakan berkarat. Ina, mereka yang di kota mengacuhkanku karena tak satupun keping rupiah kumiliki untuk menuntut ilmu. Tak satupun yang peduli tentang gadis miskin asal pedalaman Banda Kepulauan. Aku kesulitan menuntut ilmu, Ina. Kesulitan mencari makan bahkan tempat tidur. Tetapi, oh Ina, ada yang lebih sulit dari itu. Aku sulit untuk tidak menyerah. Ternyata aku belum dapat menyandingi keteguhan Khodijah binti Khuwailid yang melegenda itu. Aku bukanlah Khodijah yang serupa.

Aku tidak pernah mengira sepedih ini lukanya, dikhianati tanah air sendiri. Mana realita pasal 34 Kesejahteraan sosial yang kuhafal sejak belia itu, fakir miskin mana yang di pelihara oleh Negara ini. Ke mana uang pendidikaan yang bernilai milyaran itu? habis dikorupsi siapa lagi? Abah, Ina, aku sungguh hampir menyerah mencintai tanah kelahiranku. Apa yang kelak harus aku ajarkan kepada anak cucuku? Cinta tanah air seperti apa yang dapat kuajarkan pada mereka? Apa dengan kisah gundah gulana ini?
Abah, Ina, apakah benar kita dapat bertahan dengan merelakan semuanya dengan hati lapang? Aku sungguh tidak tahu jawabannya.

Oja bangkit dari pusara kedua orangtuanya, setelah 12 tahun perjuangan merantau ia memilih berhenti, memasrahkan semuanya. Padahal tiada yang tahu hasil usaha hari ini, memang mungkin tidak lusa, bisa jadi pekan depan atau 10 tahun mendatang. Tetapi hasil tidak pernah membohongi jerih payah. Mana ia tahu, di depan bilik kecilnya saat ini menanti sebuah surat dari pemerintah Banda Neira, siap memberinya dana pendidikan jika bersedia menjual siklus hujan ciptaannya belasan tahun silam. Siap untuk menerbitkan sendiri sajak-sajak buatnya di ranah dunia. Menanti si gadis jenius itu pulang.

Mungkin Khodijah lupa. Bahwa tangan manusia hanya mampu mengadah hujan, sedang tangan Tuhanlah yang dapat menurunkannya. Hari itu, merupakan sejarah bangkitnya sastra Indonesia pada abad ke-21 di Maluku.

Cerpen Karangan: Hafizhatunnisa
Facebook: Hafizha Anisa

Cerpen Prelude Sajak dari Rhun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Music World

Oleh:
Di malam yang indah ini aku menemukan dunia yang lain daripada duniaku dan mengapa dunia itu berada di dalam sungai dekat rumahku… Hari ini aku memanggil lalyla sahabatku untuk

Pertemuan Singkat

Oleh:
Entah telah hitungan hari yang keberapa saat pagi tiba hingga sampai pada matahari yang redup perlahan di kaki-kaki langit, ketika aku bangun dari tidur malamku yang kerap dihantui rasa

Hutan Setan

Oleh:
Ayu, Irma, Nisa, Aldo, Rama dan Yuda sedang liburan di perancis, mereka tinggal di rumah kakak Ayu yang bekerja disana. Mereka pun berjalan-jalan di kota yang penuh cahaya dan

The Last Blood (Guardian Sword)

Oleh:
Tok… tok… tok…!! terdengar suara orang mengetuk pintu, Clark beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah pintu depan. Ketika ia membuka pintu, ia sedikit terkejut dengan kedatangan Therra adiknya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *