Presiden

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 9 December 2016

Di balik jeruji besi. Ketika terik cahaya rembulan menggigilkan tubuh mulai merasakan ada pemberontak bersarang indah dalam tempurung kepala. Ternyata di dalam diri tak sendiri, ada seseorang yang mencoba ke luar dan menjadi Aku. Entah siapa dan seperti apa perwujudannya, yang jelas dalam sepi ternyata aku tak sendiri. Seketika hati ini merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan otak di kepala ini.

“Sepertinya kau harus melakukan cangkok otak!”
“Lah, memangnya bisa?!”
“Bisa, karena tempurung otakmu kini ditumbuhi pohon yang lebat dan ikal!”
Aku tak lagi menjawab karena sibuk memikirkan tentang apa yang dikatakannya. Rasanya ada sesuatu yang ganjil! Bagaimana mungkin percakapan itu terjadi begitu saja, padahal aku sedang sendiri? Mungkin, apa yang dikatakannya benar. Kalau di otakku ada yang tidak beres dan segera melakukan cangkok otak. Apakah mungkin kalau aku sudah gila?
Para sahabatku banyak yang berkata demikian. Tapi anehnya mereka yang berkata seperti itu adalah orang gila. Semuanya. Karena hanya orang gila yang menyebutku gila. Ini bukan soal pembelaan. Jika mereka berkata demikian kepadaku, maka aku pun demikian kepada mereka. Tapi anehnya mereka malah semakin percaya dengan menganggap kalau aku benar benar gila!

Rasanya dalam persidangan ketika itu telah kukatakan “Sumpah aku tidak melakukan hal sekeji itu, mana berani aku melakukan hal kotor macam itu. Sumpah aku tidak korupsi! Aku. Koruptor. Bukan! Aku Koruptor! Aku. Bukan Koruptor! Aku. Koruptor. Bukan?”

Pagi sekali aku terbangun dan di atas ranjang kusadari diriku telah berubah menjadi seekor serangga raksasa yang mengerikan. Coba kau bayangkan bagaimana Franz Kafka membayangkan kegilaan macam itu! Atau ketika Putu Wijaya yang melakukan metamorfosis pada seekor anjing yang bermimpi telah berubah menjadi seorang manusia dan melakukan hal hal yang biasa manusia lakukan yang penuh dengan tata aturan. Kegilaan mana lagi yang harus aku lakukan ketika kudengar Edgar Allan Poe mati bunuh diri, sepertinya aku juga hendak demikian. Tapi kenapa? Dan untuk kepentingan apa?
Permisi maafkan aku yang telah terbawa emosi. Karena ini adalah kesalahan, diriku yang kian hari kian tak mengerti dengan seseorang yang ada di dalam diri ini. Maksudku begini, pada pagi itu ketika aku sedang sepi menangis sendiri, sesenggukkan mengurung diri di dalam kamar yang gelap dan sunyi. Seseorang tengah berbisik dalam diriku.
“Kau adalah orang aneh, anak orang gila! Pecundang!”
“Tidak, bukan! Aku adalah seorang badut!”
Mereka tiba tiba menertawakanku, begitulah aku ketika pagi itu di Sekolah. Mereka membuli dengan brutal mengatakan kalau aku orang aneh, anak orang gila, yang dipungut tidak sengaja, jadi tidak berharga. Aku berlari sekuat tenaga, pulang menuju rumah dengan menangis yang meledak ledak. Membanting pintu dan masuk ke dalam kamar.

Ibu masuk ke kamarku dan mengusap lembut kepalaku. Aku yang sedang menangis sembari memegangi kedua lutut dan bertanya pada ibu yang tengah berjongkok di depanku.
“Kenapa Bu, banyak orang yang tidak suka denganku?”
“Ah, itu biasa. Nanti juga mereka akan lupa tentang ayahmu yang ketahuan korupsi di DPR sana”
“Bu, kenapa ayah sampai melakukan hal sekeji itu?”
“Mungkin ayah sedang khilaf sampai gila harta dan tahta, mungkin juga karena wanita.”
“Memangnya ayah tidak merasa cukup dengan dua istri?”
“Kenapa tidak kamu tanyakan saja nanti pada ayahmu di RSJ”

Besoknya aku dan Ibu menjenguk Ayah yang sudah lama tinggal di RSJ dengan teman teman yang sejenisnya. Setiap aku berkunjung kesana, ia selalu bertingkah seakan akan seperti bajak laut yang sedang berburu harta karun. Ia juga pernah berkata kepadaku kalau di Gedung Putih sana, ada harta karun yang sangat dicari oleh para bajak laut terutama Kapten Jack Sparrow. Aku tak pernah tahu, benar atau tidaknya, dengan apa yang dikatakan oleh ayahku itu, tetapi isi hatiku yang paling dalam sangat mempercayai tentang apa yang dikatakannya, karena biasanya perkataan dan perbuatan orang gila selalu benar di masa depan. Seperti Thomas Alva Edhison, yang pada jamannya orang orang tak percaya dengan apa yang dilakukannya bahwa bola lampu itu akan menyala, dan orang orang menganggap dia gila, tetapi penemuannya sampai sekarang dinikmati oleh mereka yang menyebutnya gila!

Sampai ketika pulang ke rumah aku pun bertanya pada Ibu tentang Gedung Putih yang Ayah bicarakan.
“Gedung Putih itu tempat tinggal Pak Presiden kita”
“Terus kalau aku mau ke sana harus gimana, Ma?”
“Harus jadi Presiden dulu, biar enggak dihajar PASPAMPRES”
“PASPAMPRES itu apa Ma? Emh, kalau gitu suatu hari nanti aku harus jadi Presiden!”
“Amin, nanti juga kamu tahu kalau sudah jadi Presiden.”

Malam pun mengantarku tidur di atas sebuah ranjang usang dan keras di dalam kamar. Aku yang terbaring berselimutkan kain tipis yang sudah pada robek, ditemani Ibu yang duduk di pinggiran ranjang sambil mengusap ubun ubunanku dan berkata “Nanti kalau ibu dapet uang banyak ibu bakal beli kasur yang bagus dan empuk, seperti punya kamu dulu.” Aku menjawabnya dengan tersenyum bahagia “Iya Bu. Terimakasih.”

Sebetulnya aku bukan Koruptor, tapi hanya telah merusak tata bahasa dan tata logika, tata bahasa logika? Aku sudah melanggar aturan EYD tata bahasa yang baik dan benar, sempurna? Ini keterlaluan! Untuk berekspresi masih harus terpenjara oleh alasan ini dan itu, demi ini demi itu. Katanya, karena aku bukan siapa siapa atau belum jadi apa dan siapa. Masih mentah. Memangnya aku ini apa? Ini teks sastra yang tidak ilmiah, kurasa begitu.
Kuceritakan keluh kesah itu pada diri ini, yang dalam sepi ternyata aku tak sendiri. Otak ini tertawa mendengarnya tetapi hati ini mengkritik dan mencibir “Terlalu melebih lebihkan!” Lah, apa itu? Aku tertawa dengan puas ketika mendengarnya, karena setidaknya aku berhasil membuatnya membaca cerita halusinogen ini. Yang jelas aku sudah mencangkok otaknya.

Setelah itu tiba tiba Tuhan berkata kepadaku, “Coba buat cerita yang baik, benar, dan bagus yang tidak merusak tata bahasa dan logika, tata logika bahasa. Aku menjawabnya iya iya saja dengan anggukkan kepala. Karena, mungkin lebih baik menuruti perintah~Nya dari pada menjadi korbannya.

Kutulis ketika kesal dengan seorang dosen
2016

Cerpen Karangan: Fajar Sidik
Facebook: fajarwbhdeath[-at-]rocketmail.com
Fajar sidik seorang pengaguran sejati yang sedang merintis gelar S1 di jurusan sastra inggris tapi engga mau tau apa itu sastra inggris? yang sekarang lagi hobi ngritik teks sastra para dosen dan para teman yang pandai menulis dan merangkai kata, bahkan “karya mereka yang logis tapi tidak puitis, membuat iri dan dengki, maka harus di kritisi.”

Cerpen Presiden merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebelum Senja

Oleh:
Aku berjalan dengan sepatu tanpa tali dan terbang menyusuri ladang jagung, teh dan padi yang mulai tunduk menguning. bersama hembusan angin teduh pagi itu. kemudian hinggap di ranting pohon

Cinta Terlarang

Oleh:
ini kisah nyata yang di alami oleh sahabat terbaikku. cerita ini aku tulis 7 tahun yang lalu, Cerita ini bermula ketika gue baru sampai beberapa hari di Jakarta. Namanya

Pamungkas

Oleh:
Lastri baru saja melahirkan bayi laki-lakinya yang sehat dan normal. Ini adalah anaknya yang keempat. Tak banyak pancaran kebahagiaan di wajahnya. Tarno, suaminya, tahu kalau Lastri kurang bahagia. Dan

Pasrah

Oleh:
Inge,37 tahun, istri yang baik yang bagi Aldi, 42 tahun yang sudah 7 tahun dalam perkawinan mereka hidup sederhana saja. Inge bekerja dan menerima suaminya yang bekerja partime sebagai

Black Work

Oleh:
Cakrawala membentang bagai permadani alam tanpa ujung, di sana semuanya misteri. Lebih dalam disingkap, semakin dalam pula pandirnya manusia berulah. Di bibir pantai Sanur, siang memaki dengan terik tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *