Promosi Jabatan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 9 July 2012

Setelah hampir sepuluh tahun aku bergelut dengan pekerjaan sebagai customer service officer (CSO), setelah dua kali ganti managemen, baru kali ini aku mendengar kata promosi jabatan kawan, baru sekarang ini aku bisa sedikit mencicipi apa itu kenaikan pangkat, meski dalam taraf kecil, meski tidak terlalu signifikan tapi dampaknya meletupkan sedikit working passion dalam hatiku. Passion yang sudah lama sekali beristirahat dengan tenang dialam baka, passion yang sudah lama dikalahkan dan dipermalukan dengan tragis oleh kata “jenuh dan pasrah”. Maka ketika seminggu yang lalu kulihat namaku tergeletak dalam daftar orang-orang yang dipromosikan, aku bengong, antara percaya tak percaya, antara ada dan tiada, is it true??? Kataku dalam hati berulang-ulang, kurasakan kemudian kebahagian membuncahkan hatiku, semangat juang tinggi untuk dapat meraih jabatan itu memenuhi seluruh rongga tubuhku. Cukup lama aku berdiri menatap lembaran kertas yang tertempel didinding kaca kantor, membanggakan sekali namaku bisa bertengger di chart tangga bersama-sama dua puluh tiga konstentan lainnya. Tak jemu hatiku memandangnya, ku eja namaku berulang-ulang, seperti anak TK baru belajar membaca “Istihanah Indah Wahyuni—-promosi jabatan—-DC”, aku tersenyum-senyum simpul, disebelahku berdiri pula teman seangkatanku yang tak kalah lawas dan kadaluwarsanya denganku sebagai CSO. Setelah bertahun-tahun kawan, melakukan pekerjaan yang sama, yang itu-itu aja, dengan gaji yang segitu-segitu pula, maka wajar jika kami para veteran CSO ini diliputi euforia yang tak biasa. Meski untuk itu kami harus berjuang menghadapi pesaing-pesaing muda yang fresh graduated. Senyum bahagia bercampur harapan terkembang pula dibibir temanku itu. setelah aku puas memandang namaku, kusikut lengan lengan temanku,

“hei, tau gak apa kepanjangan dari DC?” tanyaku, temanku menggeleng, matanya masih belum lepas dari kertas yang tertempel itu, lalu diapun balik bertanya padaku, “kalau TL kamu tau gak?” setali tiga uang, akupun menggeleng. Tak apalah kawan, meski kami tak tau arti dari jabatan yang dipromosikan, yang penting bagi kami, mendengar kata “promosi” saja itu sudah lebih dari cukup, sangat cukup.

Keesokan harinya, ke-duapuluh tiga kontestan dikumpulkan dalam satu ruangan untuk mendapat pembekalan dan tahap-tahap apa saja yang harus dilalui untuk dapat berlomba memperebutkan kursi jabatan (kayak anggota dewan saja). Hanya ada dua test yang harus kami lewati, test tulis dan test presentasi. Kuperhatikan satu-satu para kandidat, ada semacam garis tipis samar yang terbentang “the existing vs new comer”. Hmm….kebanyakan para anak muda yang masih gress, fresh from the oven, yang aura spirit dan smartnya terpancar dari kedua matanya. Sisanya adalah pejuang veteran, yang kadar semangatnya kalah besar dengan urusan pribadinya. Tapi kompetisi adalah kompetisi, usia, latar belakang, latar pendidikan, apapun itu bukan alasan untuk menjadi takut untuk berjuang. Ku lihat Imam hanya duduk termangu, mungkin pikirannya terbelah pada bolosnya dia hari ini dari koperasi (side jobnya sebagai debt collector) dan istrinya yang sedang sakit. Pak Sutawan sedikit ngosngosan karena tadi sebelum kekantor harus mengantar anaknya kesekolah terlebih dulu, belum lagi menahan sedikit rasa sakit dikakinya yang lukanya tak kunjung sembuh akibat dari penyakit diabetes yang dideritanya. Teman perempuanku ada yang lipatan kerut didahinya berlapis-lapis bukan hanya ratusan tapi mungkin ribuan, karena memikirkan bahwa anaknya sedang menghadapi UN disekolah hari itu. Jika kontestan muda yang belum menikah, belum beranak pianak duduk tegap sambil membusungkan dada, menyimak dengan fokus uraian yang disampaikan para mentor, maka kami para veteran hanya bisa manggut-manggut, tertagagap-gagap mencoba memahami dan mencerna apa yang dijelaskan oleh bapak dan ibu mentor. Aku yang kebetulan duduk didepan—sengaja duduk didepan—-bukan karna ingin menonjolkan diri agar dapat diperhatikan oleh para mentor, tapi terlebih dikarena daya tangkap pendengaranku yang tak mampu bekerja secara optimal kawan. Bayangkan saja, sembilan tahun bekerja sebagai operator telpon, headset seperti sudah menyatu dikepala dan ditelinga, keluhan bahkan makian pelanggan yang nadanya mulai dari oktaf terendah sampai oktaf tertinggipun sudah terbiasa keluar masuk telinga kanan kiriku, semua itu menjadi rutinitas yang mendarah daging. Telinga dan mulut adalah senjataku, tapi yang kuherankan, kenapa dikartu jamsostek dokter THT tak masuk dalam pertanggungan??? Ironi dan mengenaskan.

Balik ke cerita awal kawan, dalam acara sesi pembekalan tersebut, dari awal sampai akhir acara, hanya tiga mimik yang bisa kutampilkan, yaitu: nyengir, mangap, dan menatap nanar layar sliding. Dari sekian banyak jabaran dan penjelasan dari sang mentor, yang nyangkut diotakku kurasa hanya seper-delapannya saja, itupun masih belum paham-paham amat, OMG…..tiga puluh tiga tahun diberi kesempatan untuk hidup, kenapa baru sekarang aku menyadari bahwa otak dalam kepalaku lemot abis, bodoh minta ampun, mungkin karena selama ini, selama tiga puluh dua tahun sebelas bulan, lima belas harinya kuhabiskan otakku hanya menilai diri sendiri terlalu tinggi—over value—padahal nyatanya tak lebih pintar dari anak SD. Keesokan harinya, kami diberi kesempatan untuk mendiskusikan program kerja (Proker) kami masing-masing, proker yang akan diterapkan jika nantinya kami berhasil menduduki jabatan yang telah dipromosikan, proker yang mendapat poin paling besar pada test presentasi nanti, proker yang mesti bin kudu binti wajib dirahasiakan agar tidak dapat dicuri oleh kompetitor lainnya. Semalam suntuk aku tak dapat memejamkan mataku kawan, aku memaksa otakku yang sudah lama menyusut untuk bekerja lebih keras, kira-kira ide briliant apa yang akan kuajukan untuk prokerku nantinya. Dan pas ketika ayam jantan tetangga sebelah berkokok, bohlam hasil buah pemikiran si mbah Thomas alfa edison tiba-tiba menyala dikepalaku, aku tersenyum lebar kawan…. lalu kemudian terlentang tepar diatas tikar.

Pukul 12 siang, satu jam sebelum jam makan siang para mentor, aku mendapat kesempatan untuk mendiskusikan prokerku hasil melekan semalam suntuk itu kawan. Pada sharing session ini, aku punya keyakinan mereka akan langsung mengiyakan dan terkagum-kagum pada ide brilian nan cemerlang yang akan kusampaikan. Namun….yang terjadi kemudian adalah aku kembali terjerembab pada ketiga mimik ekspresi pada sesi pembekalan kawan, yaitu: nyengir, mangap dan tatapan kosong. Baru seperempat jalan kusampaikan proker yang nantinya akan kulaksanakan, sang mentor memberikan gambaran paling mengerikan dan menakutkan, aku harus bisa membuat perbandingan dengan data yang akurat, angka tabulasi yang tepat, dan nantinya harus pula ditampilkan dalam bentuk grafik yang sederhana agar mudah dibaca dan dianalisa. Demi mendengar rumus dan angka-angka——SLA= Handling inTqos/Call offered – Abandoned inTqos X 100%, AHT= Talktime + ACW/Call answered X 100%——otakku yang memang berukuran dan berkapasitas kecil itu langsung tiarap dan mengibarkan bendera putih. Keringat dingin mengucur sembunyi-sembunyi dibalik jaket yang kukenakan, jangankan untuk menghitung service level, menghitung tahun kelulusan mulai dari SMP sampai perguruan tinggi saja aku masih komat-kamit, menghitung sudah memasuki tahun keberapakah aku nikah, aku kerap gelagapan. The main point is prokerku terlalu berat dan besar bagi processor otakku yang berkapasitas kecil dan cenderung pas-pasan. Tiba-tiba saja aku seperti menemukan diriku sedang berdiri ditepi jurang, sedang dibelakangku sirene ambulans membahana siap mengangkut jasadku. Keluar dari ruangan, aku merasa tak berpijak, buyar sudah, tercerai-berai sudah semua susunan proker bahkan keseluruhan isi presentasiku kawan. Nafasku megap-megap, otakku blank, mataku terserang rabun, ga tau harus ngapain. Namun sejurus kemudian aku sedikit terhibur dan mampu menyunggingkan senyum bahkan tertawa lebar, ketika kulihat ternyata bukan hanya aku yang mengalami penderitaan itu, karena setiap peserta yang baru keluar dari ruang sharing session kulihat dari kontur wajahnya yang tak keruan, aku bisa menebak merekapun bernasib serupa. You aren’t alone…..you aren’t alone bisikku membesarkan hati.

Tiga hari setelah sharing session, test tulis yang merupakan test pertama harus kuhadapi. Mulanya aku berniat tak datang, aku ingin mengundurkan diri saja, semangatku rontok dan kuberkata dalam hati “go to hell to the f*ckin promotion”. Gara-garanya kawan, secara tak sadar aku membentak anakku dan detik itu pula aku merasa menjadi a completly looser. Sembilan tahun bekerja dengan santai dan tanpa beban, tapi tiba-tiba saja diharuskan berada di area under pressure….terus terang aku galau dan stress berat. Semalaman tak tidur memikirkan bahan untuk presentasi namun tak satupun ide yang bermurah hati mau dengan suka rela hinggap dikepalaku, sedang limit waktu sudah mepet, belum lagi harus belajar test tulis, belum lagi harus masak, nyuci, beberes rumah dll. kepalaku terasa mau pecah. Dan pagi itu Naura rewel, sedang minta perhatian, minta dimandiin, minta dipakaikan seragamnya, sedang aku harus berburu waktu agar tak terlambat untuk test tulis. Tanpa sadar aku membentak anakku dengan keras….Naura terdiam, suamiku terdiam, ayam tetangga terdiam, cicak di dinding terdiam, semua terasa terdiam….aku terhenyak, lalu bergegas kedapur kemudian menangis sejadi-jadinya. Tubuhku terguncang hebat, dadaku sesak likat, airmataku tumpah terkuras, aku lunglai dan semangatku memuai. Jika karena tekanan pekerjaan aku menjadi pribadi yang tak ramah pada keluargaku, lebih baik aku mengundurkan diri karena ke-tidaksiapanku me-manage pribadi dan berkompetisi. Aku berdiri tegak, menyusutkan air mata, menarik nafas panjang lalu keluar menemui anakku.

Kupeluk Naura erat-erat, “maafin ibu ya…” bisikku, dia hanya mengangguk. Kurapikan baju seragamnya, kurapikan rambutnya.

“ibu ga kerja???” tanyanya, aku menggeleng.

“ibu ga jadi test???” aku menggeleng

“kenapa???” aku diam saja, sambil berusaha tersenyum.

“karena Naura???” aku menggeleng keras

“udah sana berangkat aja, Naura sekolahnya sama ayah aja. Kan ibu janji, katanya kalo lulus test mau beliin Naura tas sama sepatu, udah berangkat sana, Naura ga apa-apa”. Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang, tapi anakku terus mendorong-dorong tubuhku.

“beneran???” tanyaku, Naura mengangguk. Ada semacam lecutan cambuk dihatiku, semacam pemantik yang menyulut api, semacam amarah dan dendam, bahwa segala tekanan, kerepotan, kekacauan yang diakibatkan oleh promosi jabatan ini, haruslah berbuah manis, harus…..jadi aku merasa tak melakukan semuanya sia-sia. Aku siap menghadapi test tulis.

Test tulis sudah kulalui, tinggal menghadapi test presentasi, dan hari ini pukul tiga sore, soft copy harus sudah terkumpul. Aku bingung dan panik, apalagi sempat kuiintip hasil karya kompetitor lain, kebanyakan punya kompetitor muda, hasilnya keren abis, layoutnya kreatif, ga seperti punyaku yang seperti punya anak SD yang baru belajar menyusun tulisan lewat komputer. Tapi aku sudah berjanji dalam hati, bahwa seburuk apapun performanceku nanti, aku tetap harus maju dan berani tampil.

Maka ketika tiba waktunya untuk test presentasi. Aku mondar mandir seperti setrikaan didepan ruang penguji menunggu giliran. Segala macam doa kurapal, mulai dari doa mau makan, doa mau tidur sampai doa sapu jagat kubaca demi menentramkan detak jantung yang seakan-akan mau melompat keluar saja. 30 menit kemudian namaku dipanggil, aku menarik nafas panjang, merapikan blazer pinjaman, lipstik, blush on, eye-shadow yang juga dari hasil minta sana sini (kere banget aku ya….), baru dengan langkah mantap aku memasuki ruangan. Battle is begin….dalam ruangan aku ngecap abis, meski hasil tampilan yang terlihat di layar slide tak karuan, namun yang kupentingkan adalah isi prokerku, aku berterima kasih pada Tuhan karena memberiku kemampuan untuk pandai berbicara, bersilat lidah, menelikung, berkelit meski aku tak paham betul apa yang aku bicarakan (modal untuk jadi politisi). Walhasil, aku menjadi satu-satunya peserta yang paling singkat waktu presentasinya. Keluar ruangan aku melompat kegirangan, bukan karena puas akan hasilnya, tapi lebih dikarena aroma kebebasan yang akhirnya bisa kuhirup setelah satu minggu hidup dalam tekanan dan penjajahan…hi….

Banyak yang bertanya, kenapa aku bisa keluar ruangan begitu cepat, bahkan ada yang berpikir bahwa isi presentasiku sangat memuaskan para assessor sehingga mereka tak banyak tanya. Padahal sejujurnya…asal tahu saja….aku keluar cepat bukan karena isi presentasi yang wah, briliant, cemerlang…..tapi justru dikarenakan betapa sangat sederhana, simple dan minimalisnya isi presentasiku. Saking simplenya kawan, empat tabel yang kusodorkan semuanya tak berisi angka alias kosong. Kalaupun ada satu tabel berisi angka dan data, itupun tak dapat terbaca kawan, karena ke-gaptek-kanku akan komputer, aku tak bisa mengformat data agar bisa kelihatan ditampilan layar, sehingga yang tampil dilayar hanya berupa tabel berisi barisan semut yang bergerombol, yang kurasa untuk melihatnya para assessor harus menggunakan microskop, tak cukup hanya dengan kacamata saja….hi….bisa kalian bayangkan bukan kawan, apa yang harus dianalisa dan diperdebatkan kalau tabel yang disodorkan ternyata kosong, tak ada…dan tak mungkin. Itulah kenapa waktu presentasiku bisa jadi demikian singkat. (you can try this…..jurus si bokong semog menghancurkan presentasi).

Dan akhirnya semua proses itu berbuah legit kawan, segala kepayahan lunaslah sudah, aku lulus kawan. Tak percaya rasanya waktu berjabat tangan dengan atasan. Tak percaya rasanya ketika langsung disodorkan flashdisk untuk langsung mengerjakan tugas baru. Tapi sayangnya aku tak bisa bersuka cita sepenuhnya atas kelulusanku itu, karena dari sekian kompetitor veteran yang merangkak dari CSO dan berkompetisi, hanya dua saja yang lolos, sisanya tak masuk kualifikasi, termasuk sahabatku sendiri. Aku tak tahu ekspresi apa yang harus kuungkapkan, yang kutahu hari itu, setelah pengumuman aku tertawa lalu kemudian menangis tersedu-sedu, dan tak ada yang tahu itu, bahkan sahabatku.

Cerpen Promosi Jabatan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malam Perpisahan

Oleh:
Kami saling mengucapkan selamat tinggal di seberang apartemen itu. Jalan beraspal penuh lubang-lubang dan anak-anak muda bodoh mengebutkan motornya di antara kami, saat itu jam 10 malam yang dingin

Si Bocah Daman Setiawan

Oleh:
Bermula dijalanan menuju sungai aku berpapasan dengannya. Aku menyapanya dengan senyum terhiasi di wajah. Dia hanya diam. Berlalu pergi meninggalkanku. Tak berkata apa-apa, tersenyum pun tiada. Di hari lain,

Ibuku Malaikatku

Oleh:
Ibuku bagaikan malaikat yang diturunkan dari surga, untuk menjaga anaknya. Ibu kesayanganku, dia adalah sosok ibu yang paling baik sedunia. Setiap hari ibuku bangun jam 2 pagi untuk menyiapkan

Gelar Sarjana Kopi

Oleh:
Pada malam Jumat 9 Kliwon 8 adalah malam terakhir begadang dalam persiapan menghadapi sidang ujian akhir program sarjana. Untungnya, segelas kopi dengan rasa nyess-segar dapat membantu menyegarkan tubuh dan

Indonesia Baru (Part 2)

Oleh:
“Dan juara pertama kita adalah… Aldi Saputro.” tepuk tangan begitu meriah, tapi aku hanya terbengong. Namaku? “Saudara Aldi dipersilahkan naik ke podium.” ucap juri sekali lagi. Aku menatap Pak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Promosi Jabatan”

  1. Vany says:

    Ceritanya bagus, seger! Enak bacanya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *