Pulang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 8 May 2017

Sudah seperti sebuah tradisi dan budaya ketika momen-momen libur panjang orang-orang akan pulang ke kampung halamannya. Semua berebut tiket pulang untuk berkumpul dan bercengkrama dengan sanak saudara. Tak terkecuali yang terjadi di tempat kost-kostanku. Libur panjang seperti ini sering dimanfaatkan oleh para penghuni kost untuk pulang kampung, bertemu keluarga tercinta yang sudah menunggu di rumah. Begitu juga dengan libur lebaran kali ini. Banyak teman-teman kostku yang sudah melakukan packing untuk persiapan pulang. Lalu bagaimana dengan aku? Ah sudahlah, aku sudah lama membuang kalimat pulang kampung. Karena memang aku tidak memiliki kampung halaman. Lebih tepatnya aku tak pantas punya kampung halaman.

“Bro, lu nggak pulang?”, tanya ucup membuyarkan lamunanku.
“Lah gua mah anak kota, Jakarta kampung gue”, jawab aku dengan penuh bangga.
“Kalo tinggal di kota namanya bukan pulang kampung berarti ye?”, tanya ucup membuatku bingung.
“Maksud lu, cup?”, tanyaku
“Iye jadinya pulang kota”, gurau Ucup
“Garing lu ah”, timpalku.

Kemudian Ucup pun berlalu, meninggalkanku seorang diri yang masih termenung dan tak tahu apa yang harus dilakukan selama libur lebaran ini. Well, Sejujurnya aku punya kampung halaman. Ya kampung halaman ayah dan ibuku. Kampung halaman sebelum aku merantau ke Ibu Kota ini. Sebuah rumah tempatku pulang. Rumahku sesungguhnya, bukan sekedar tempat singgah 4 x 6 m seperti tempat kostku saat ini. Andai aku bisa pulang, tapi ada rasa malu yang luar biasa jika aku pulang. Aku sudah tak punya tempat di sana, aku sudah terbuang dan dianggap anak hilang di sana. Tak pernah ada yang menanyakan kabarku lagi.

Semua berawal dari kejadian 3 tahun lalu. Pada saat kelas 3 SMP aku memang sedang nakal-nakalnya. Sering kali aku terlibat tawuran dengan sekolah tetangga. Puncaknya adalah aku harus drop out karena menghajah habis-habisan seorang pentolan Sekolah tetangga, Bima Namanya. Padahal aku menghabisinya bersama teman-temanku. Tetapi karena memang staminaku yang paling lemah, hanya aku yang tertangkap polisi. Ketika aku menceritakan bahwa kami ramai-ramai mengkeroyok si Bima. Temanku tak ada yang mengaku. Mereka malah menuduhku balik karena sudah memfitnah mereka. Alhasil aku mendekam di penjara di kampung halamanku. Ayahku malu berat. Menganggap aku anak gagal, seharusnya aku tak pernah ada. Ibuku sebenarnya sangat menyayangiku. Namun sialnya tak lama aku dipenjara ibuku stress dan jatuh sakit parah. Ia pun meninggal ketika aku di penjara. Aku hanya bisa melayat ketika jasadnya sudah dikuburkan. Sial bagiku, setelah aku lepas dari lapas dan kembali ke rumah keluargaku. Ayah malah mengusirku. Ia menganggap aku tak pernah ada. Padahal aku adalah anak kandung satu-satuya. Rupanya, Ayah sudah menikahi wanita yang lebih muda lagi. Hancur hatiku. Padahal baru beberpa bulan Ibu meninggal. Ayah sudah menemukan tambatan hatinya yang baru. Berbekal uang saku dari sipir penjara yang baik hati aku nekat merantau ke Jakarta.

“tututuududd tutududdd..”, terdengar nada dering dari ponsel Nokia kesayanganku.
“Halo, apakah ini dengan Riza, Riza Cahyadi?”, tanya seorang di seberang sana menyebutkan namaku.
“Iyah benar ini Riza, Riza Cahyadi”, jawabku spontan tak menaruh curiga apapun.
“Hoo, lu udah keluar dari penjara rupanya?”, tanya seorang di sebrang sana yang membuat bulu kudukku merinding.
“Ini Siapa? Tau darimana gua keluar dari penjara?”, tanyaku balik panik.
“Ini Bima. Bima Sanjaya. Apa lu masih inget siapa gua?”, seru orang itu Singkat.
Deg, mendadak degap jantungku berdegup lebih kencang. Bagaimana mungkin aku melupakan nama itu. Karena dialah aku mendekam di penjara. Karena dia pulalah aku terbuang disini.

“Looh kok diam? udah lupa ya? ckckck. Mungkin nama-nama berikut lu masih inget.”, tanya si Bima kembali.
“Arya Arjuna, Dimas Pamungkas, Beni Munandar dan Abdul Malik. Lu nggak penasaran apa yang terjadi sama mereka?”, tanya si Bima membuatku penasaran karena menyebutkan nama teman-temanku yang sama-sama mengekeroyok Bima tempo dulu.
“Kenapa Mereka? Lu apain mereka hah?”, tanyaku dengan nada marah.
“Arya Arjuna cacat permanen, Dimas dan Beni hilang dari kampung. Dan lu tau Abdul Malik? Kini namanya sudah ada di batu nissan di TPU Simalingkar”
“Lo beruntung masuk penjara, dan lo langsung kabur ke Jakarta. Kalau nggak, mungkin nasib lo bakalan lebih tragis dari mereka berempat”, ancam Bima yang kembali membuat bulu kudukku merinding.
“Hahaha, gua nggak takut dan lu nggak mungkin nemuin gua di mana”, jawabku tak gentar dengan ancaman Bima.
“Oh ya? Kelihatannya menarik. Kebetulan gua lagi di Bandara Kuala Namu. Gua lagi ikut bos baru gua yang akan ke Jakarta. Bukan hal yang sulit, nemuin satu curut tanpa kelompok kayak lo.”
“Trek.. tut… tut…”, langsung kututup telepon itu. Aku tahu, kalau Bima sudah berbicara seperti itu, itu bukan ancaman main-main. Ini sudah pasti ancaman serius. Apalagi jaringan dia sangat luas. Aku tak tahu dengan Bos barunya, tapi bos yang lama dia aku kenal betul. Bosnya Bima itu preman pasar, namanya sangat besar di Medan. Orang yang bergelut di dunia Hitam pasti tau siapa dia. Lalu Bagaimana dengan Bos Barunya? Pasti lebih seram dan sangar lagi. Sial, padahal aku sudah pergi merantau jauh ke Jakarta. Tapi tampaknya aku juga tak aman.

Ah, pada saat ini aku iri dengan teman-temanku yang punya kampung halaman. Mendadak aku teringat dengan kampung halamanku di Medan sana. Tempat yang asri, masih banyak sawah membentang. Karena kelakuanku sendiri aku harus pergi meninggalkan semua itu? Dan kini nyawaku terancam. Aku tak bisa hanya berdiam diri saja. Kalau tidak aku benar-benar akan pulang. Bukan pulang ke rumah atau ke kampung tapi benar-benar berpulang.

Cerpen Karangan: Zuhdijung
Blog: ruangrindu.com
Seorang Programmer yang bosan dengan code-code antah berantah dan mencoba menjadi seorang penulis.

Cerpen Pulang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sideng

Oleh:
Lagi-lagi aku heran menyikapi sifat rekan yang satu ini. Hidupnya seperti sok suci, padahal kelakuannya durjana. Bekerja di salah satu instansi pemerintah, senangnya mendholimi orang lain. Kayaknya tidak ada

Lelaki Paruh Baya di Sekolah Tua

Oleh:
Kaki kecil nya tak pernah letih untuk melangkah menuju sekolah tua itu. Seperti gubuk yang telah lama ditinggal oleh penghuninya. Meja dan kursi enggan menyatu dengan kakinya. Papan tulis

Selamat Jalan Pak Dudung

Oleh:
Ah, tak ada yang bisa kugambarkan secara detail tentangmu teman paling lucu, paling cengeng dan paling menjengkelkan. Pak Dudung entah kapan kita bertemu di sekolah ini dan entah kapan

Bertemu di Plaza

Oleh:
Jalanan becek pagi ini, bekas hujan semalam. Kampung sempit yang kumuh ini semakin kumuh dengan hadirnya genangan air di jalanan kampung. Aku berjalan dengan berjingkat-jingkat untuk menghindari genangan air

Kue Apem Fitrah

Oleh:
Saya mengenalnya sudah cukup lama. Dan saya bukanlah tipikal orang yang pilih-pilih dalam berkawan. Karena saya menyadari setiap manusia adalah terlahir ke dunia ini sesuai fitrahnya. Saya berprinsip, jika

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *