Pulang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Rindu
Lolos moderasi pada: 15 January 2022

Sudah memasuki Desember akhir, suasana liburan mulai terasa, ada orang yang memilih untuk menghabiskan liburan dengan bersantai di rumah dan ada yang memutuskan jalan jalan dan berkumpul Bersama keluarganya.

Tahun ini aku memutuskan pulang ke kampung halamanku, sudah 6 tahun tidak pulang karena tidak ada biyaya dan sedang menabung untuk biyaya hidupku kedepannya nanti, tahun ini, karena aku sudah menghemat dari jauh jauh hari, aku mempunyai cukup uang untuk pulang kampung, aku senang akhirnya bisa bertemu lagi dengan ibu dan bapak, dan juga adik adik, karena menghubungi mereka sangat susah, disana signalnya sangat jelek dan hp adikku juga bukan hp yang canggih, jadi aku hanya bisa mengirim pesan lewat sms untuk menghubungi keluargaku di kampung, itupun dibalas seminggu kemudian.

Aku menyiapkan tas ransel yang cukup besar karena aku memang pulang agak lama sekitar 10 hari, sembari melepas kerinduanku dengan keluarga, kata adik, ibu dan bapak disini sudah tidak sabar menunggu kehadiranku, mereka sudah menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatanganku, namun aku sedikit sedih, karena selama merantau aku belum bisa mengirim uang yang banyak ke kampung, bahkan aku pernah tidak mengirim uang sama sekali, sangking mahalnya kebutuhan untuk hidup di ibu kota, disini aku hanya seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan, sebenarnya aku ingin bisa menjadi pengusaha sukses, aku ingin bisa menjalankan usaha sendiri, namun untuk usaha kan butuh modal yang besar dan tentunya beresiko, jadi aku masih takut untuk memulai usaha, padahal sudah banyak ide di kepalaku untuk ide ide bagus untuk berbisnis.

Aku tidak mungkin pulang ke kampung dengan tangan kosong tanpa membawa apa apa, dan baru kepikiran ingin membelikan oleh oleh saat sudah malam, padahal aku harus segera tidur karena jadwal keretaku pagi pagi sekali, tapi ya sudahlah, daripada aku tidak membawakan oleh oleh untuk keluargaku, aku keluar dan menyiapkan motor, untuk melihat toko toko yang kiranya masih buka dan menjual sesuatu yang unik untuk dibawakan ke kampung, dan setelah cukup lama aku berkeliling, akhirnya aku mendapatkan beberapa makanan dan barang unik yang tidak ada di kampung untuk oleh oleh yang akan kubawa besok, aku segera pulang karena jalanan pun sudah sangat sepi, hanya ada beberapa mobil yang lalu Lalang dan ada beberapa warung kopi yang masih buka di tepi jalan.

“trettt tretttt” bunyi alarmku yang terus berdering di atas kepalaku, aku memang sengaja menaruh hp di atas kepalaku karena hawatir aku tidak mendengar alarm dan akhirnya kesiangan, untung aku sudah menyiapkan dering alarm yang cukup keras dan bisa membangunkanku yang sedang tertidur sangat lelap, aku bangun tepat waktu dan segera mandi, membereskan kamar kos dan mengecek barang barang untuk dibawa, sekiranya sudah lengkap semua dan kamar kos juga sudah sangat rapi dan aman untuk ditinggal dalam waktu yang agak lama, aku segera berangkat menuju stasiun, masih sangat pagi, namun sudah banyak aktifitas di luar.

Sepanjang perjalanan aku melihat banyak orang yang sedang menyapu, berolahraga dan ada juga orang yang sedang duduk sarapan bersama teman dan keluarganya, sungguh susana seperti ini membuatku makin rindu dengan keluarga keluragaku, berharap bisa selalu berkumpul dan menikmati hari hari Bersama setiap saat.

Sesampainya aku di stasiun, masih sangat sepi dan sepertinya aku datang terlalu pagi, saking semangatnya ingin segera sampai di kampung, aku duduk dan menunggu ketibaan kereta yang masih cukup lama keberagkatannya, sambil melamun, aku memikirkan semua hal yang harusnya tidak aku fikirkan.

”Kruukk krukk” suara perutku yang berbuyi, aku lapar dan memang belum sarapan, akhirnya aku membeli bubur ayam yang terletak tepat di depan stasiun, pagi pagi gini memang enak bangat untuk makan bubur ayam dan sate telur puyuh, harganya pun masih terjangkau untuk anak kos sepertiku.

Saatnya kereta keberangkatanku tiba, aku segera berlari dari tukang bubur seberang stasiun untuk segera memasuki gerbong kereta, aku duduk di kursi paling depan, di dalam kereta lumayan penuh, karna mungkin juga banyak ornag orang yang ingin pulang kampung sepertiku, di dalam kereta sangat damai, dan fikiranku selalu tertuju pada rumah, padahal hanya tinggal menghitung jam untuk sampai ke rumah, rasanya aku sudah tidak sabar dan membayangkan sebahagia apa Ketika aku sampai nanti.

Selama perjalanan aku memutuskan untuk tidak tidur, aku ingin menikmati pemandangan sawah dan pemukiman pemukiman dari dalam kereta, suasananya seperti mengingkatkanku pada suatu masa, masa yang tidak akan pernah terulang lagi, rasanya damai dan tentram Ketika hidup di masa itu, ditamabah hujan turun dan membekaskan embun pada kaca, sungguh ini benar benar damai.

Sekitar 4 jam sudah aku lewati dengan perjanalan menggunakan kereta, tibalah aku di kampung halamanku, aku turun di stasiun yang cukup jauh dari rumaku, akhirnya aku naik angkutan umum yang disediakan oleh kampungku, suasana di kampung ini benar benar sudah berubah sejak 6 tahun lalu.

Perjalanan terasa menyenangkan, sampai tibanya aku di depan sebuah rusun tua, tempat tinggalku dulu sebelum aku membelikan rumah yang layak, yang keluargaku tempati sekarang, rasanya flashback ke zaman zaman saat aku susah dulu, saat akun berjuang untuk bisa merantau ke ibu kota, waktu zaman zaman aku tinggal di rusun, untuk makan mie instan saja aku susah, rusun itu juga tidak memiliki kamar mandi sehingga aku harus jalan keluar rusun Ketika ingin mandi, namun ada juga hal hal seru yang aku lakukan disana, aku memiliki teman teman yang sangat baik, kami sering memandang langit malam dan menatap bintang Bersama sama dan berharap sebuah keajaiban, dulu kami juga sering mencari kerja bersama sama, kerja serabutan di pasar dekat kota, walaupun pekerjaannya berat, namun kami melakukan itu bersama sama dan depenuhi dengan canda tawa, banyak perjuangan yang sudah kami lewatkan Bersama, sampai saat aku harus berpisah dengan mereka karna aku merantau, sampai hari ini aku sudah tidak pernah dapat kabar lagi dari mereka semenjak rusun di tutup kepala desa, perpisahan hari itu benar benar sangat menyedihkan kami semua berpelukan dan berjanji suatu saat nanti kami akan bertemu lagi dan akan menjadi lebih baik saat pertemuan itu tiba, kiki, bintang, sukarni, ahmad, aku berharap kalian sudah menemukan kesuksesan kalian di luar sana, mereka semua adalah anak yang penuh dengan semangat dan pantang menyerah, aku yakin kalian sudah menemukan kehidupan yang lebih baik dari kehidupaan kita dulu di rusun.

“Mas sudah sampai” ucap supir angkutan umum, aku pun segera membayarnya dan turun, rumahku sebenarnya masih agak jauh dari gang, jalannya cukup curam dan becek, aku sebenarnya agak sulit melewatinya karena membawa dua kantung plastik oleh oleh dan satu ransel yang cukup besar, aku hampir terpelesat, tapi untungnya tidak jatuh, semuanya aman, walauapun agak sulit namun pelan pelan aku melewati jalannya.

Akhirnya saat yang ditunggu tunggu tiba, aku sampai tepat di depan rumahku, ibu, bapak dan adikku menyambutku dengan senyuman lebar di depan pintu, mereka memelukku dan menciumku, akhirnya aku merasakannya lagi setelah 6 tahun lamanya, Ternyata benar, perpisahan bukanlah akhir dari segalanya dan dari perpisahan kita bisa lebih merasakan makna dari seberapa berharganya kebersamaaan.

Bapak dan ibu mengajakku masuk dan membawakan barang brangku yang cukup banyak, suasana rumah sangat hangat dan damai, mulai dari dinding dan perabotannya semua didominasi dengan kayu, banyak juga barang barang jadul disini, ibuku memang awet jika memakai barang barang, semuanya belum ada yang rusak dan masih tersimpan rapi.

Sesampainya di meja makan, ibu sudah mebuatkan makanan kesukaanku, semur tahu dan kentang, karena dulu ibuku tidak mampu membeli daging sapi, akhirnya ibu membuatkanku semur dengan tahu dan kentang saja, dan sampai sekarang itu adalah makanan favoritku, masakan ibu tidak berubah dari dulu, masih sama, masih sangat lezat, rasanya benar benar melunturkan rindu yang selama ini melekat di tubuhku, makan Bersama keluarga di meja makan dan saling bertukar cerita.

Cerpen Karangan: Cahaya Rembulan
Haaii, aku suka sekali menulis, terutama menulis cerpen untuk menuangkan semua imajinasi di fikrianku, kalian bisa memanggilku Cahya rembulan itu bukan nama asliku sebenarnya namun aku suka dengan sinar rembulan di bawah pekatnya malam

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 15 Januari 2022 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Pulang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pulang

Oleh:
“Farah, beliau sudah tiada,” sebuah pesan singkat Whatsapp dari ibu yang muncul di layar notifikasi. Menunjukkan pesan tersebut tiba pada pukul delapan malam, sedangkan sekarang sudah menunjukkan hampir pukul

Konspirasi

Oleh:
Juno dan Parmin bersahabat sejak kecil. Mereka berasal dari desa yang sama, desa Sukasapi di daerah Madura. Sampai SMA mereka sekolah di sekolah yang sama. Persahabatan diantara mereka demikian

Sandiwara Agustus

Oleh:
Pada sore hari terdengar langkah kaki yang menuju ke kamarku, pelan-pelan langkah kaki itu semakin dekat. Saat aku membuka mata, Ibu sudah ada di depan mataku. Aku menatap Ibu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *