Pulang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 15 April 2016

Aku menunggu di depan teras, menatap jengah jarum jam yang seakan tidak begerak. Ke mana taksi pesananku? Kalau aku terus di sini aku bisa ketinggalan kereta. “Masih belum datang taksi kau?” Mba Inge duduk di sampingku, menghabiskan sisa pisang goreng di meja. Aku mendengus, sebentar lagi Mba Inge pasti akan menyalahkanku.
“Kan aku sudah bilang, mending diantar Juna, daripada kamu ketinggalan kereta?” Tuh kan bahas Juna lagi. Hariku sudah buruk, dan mendengar nama Juna membuatnya terasa makin buruk.

“Mba Inge…alasan aku pulang itu karena aku sudah muak dengan Juna…” Suara klakson taksi memotong ucapanku. Aku menyeret koperku dan bergegas masuk taksi. “…aku duluan ya Mba. Kalau Juna nyariin, abaikan saja.”
“Terserah kamu saja lah. Hati-hati.” Ku berikan senyum terbaikku sebagai jawaban.

3 jam kemudian aku sudah duduk di dalam kereta, menikmati pemandangan sambil menunggu pesanan kopi datang. Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingku dan tatapanku berhenti pada satu sosok yang duduk sendirian di seberangku. Tampaknya bukan hanya aku yang sendirian. Tak ku sangka sosok itu bangkit dan berjalan menghampiriku. Tiba-tiba aku jadi salah tingkah mendapati ia sudah duduk di depanku.

“Boleh aku di sini?”
Aku mengangguk perlahan. Ia mengeluarkan buku sketch dari tas, dan menggambar di atasnya. Lantaran penasaran aku spontan melongok untuk mengintip apa yang ia gambar.
“Jangan gerak-gerak, Nona. Aku jadi tidak bisa menggambarmu dengan tepat.”
“Eh?” Tak ku sangka ternyata akulah yang sedang ia gambar. Ku rasakan pipiku memerah.
“Jadi ke mana tujuanmu?” Ia bertanya, tanpa melepas pandangannya dari buku.
“Aku mau pulang.”

Ia mendongak, menatapku seakan aku makhluk aneh dan tertawa kecil. Jujur, dia sangat tampan saat tertawa.
“Aku bertanya tempat tujuanmu. Tapi jawabanmu menarik juga. Hem…pulang ya? Ahaha.”
“Ada… yang salah?”
“Ah tidak. Tampaknya kita punya tujuan yang sama. Aku juga mau pulang.”
“Ke mana?” ku beranikan diri bertanya.
“Perlukah sebuah tempat hanya untuk pulang? Pulang bisa ke mana saja, asalkan tempat itu bisa membuatmu merasa di rumah.” Aku takjub mendengar jawaban dari laki-laki di depanku. Sebenarnya aku juga bingung harus pulang ke mana, ke rumah Ayah atau rumah Ibu? Ah lagi-lagi aku menyesali keputusan kedua orangtuaku yang bercerai.

“Jadi… tempat kita pulang adalah tempat di mana kita merasa nyaman dan diterima, begitu?”
Laki-laki itu tersenyum. “Kalau menurutmu begitu, ya begitulah. Setiap orang berbeda-beda kan?”
Aku tertawa, dalam hati mengiyakan jawabannya.
“Aku Lin. Kamu?” Dari tadi aku bertanya-tanya soal identitas dirinya.
“Oka.” Singkat ia menjawab, namun cukup membuatku kaget. Oka?
“Oka… yang dulu ingusan? Juara kelas 6 tahun berturut-turut waktu SD?”
Oka tersenyum dan mengangguk. Aku spontan tertawa terbahak menyadari kebodohanku. Mana menyangka aku kalau aku akan bertemu teman masa kecilku, di kereta? Selama perjalanan pulang ke kampung akhirnya aku ditemani Oka, menikmati perjalanan dengan bernostalgia. Rasanya aku benar-benar pulang kali ini.

“Jadi kamu pulang ke mana?” Oka menghabiskan kopinya.
“Aku rasa aku akan pulang ke rumah Nenek.”
“Kenapa?”
“Bukannya kamu sendiri yang bilang, pulang bisa ke mana saja, asal kamu nyaman?”
Oka tersenyum, menampakkan giginya yang putih. Sekali lagi aku merasa sedikit getaran saat melihat senyum Oka.
Apa aku… jatuh cinta?

Cerpen Karangan: Dara Dharmesti
Facebook: Loly Lola

Cerpen Pulang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lentera

Oleh:
Aku dan Pomo duduk di rel kereta api dengan santainya. Menikmati pemandangan senja kota metropolitan. Cahaya orennya menyejukkan hati. Ditambah siluet bangunan pencakar langit yang kokoh jauh di seberang

Dika Sayang Ayah!

Oleh:
“Sudah berapa kali aku katakan, bawa jauh-jauh anak cacat itu dari hadapanku,” Seorang lelaki berkata kasar pada seorang perempuan dan anak kecil yang menangis dalam pelukannya, Perempuan itu memeluk

Valod Valley

Oleh:
Terdapat suatu desa bernama Valod Valley. Dulunya desa tersebut sangat terkenal akan cagar dan kenampakan alamnya yang indah. Desa tersebut bahkan sering didatangi oleh para turis, baik mereka yang

Mereka Juga Manusia

Oleh:
“Orang gila… Orang gila..” Panggilan-panggilan sejenis itu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga Kak Omas, orang gila kampung kami. Bahkan, ia sudah tak marah lagi bila anak-anak kampung

Keris

Oleh:
Keris itu telah menjadi obyek sengketa dan pemicu perselisihan dalam keluarga kami, tiga bersaudara ahli waris Joyo Wijoyo. Menurut Mas Bardi, keris itu adalah pusaka turun temurun, karena itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *