Purnama Rengganis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 10 December 2018

Ini sudah lebih dari setengah jam tetapi laki-laki itu masih saja berdiam diri. Ia tersenyum sesekali atau sekedar berkedip. Memandangku dari ujung rambut hingga kaki. Aku sudah terbiasa dengan hal semacam ini tapi entah mengapa, ia membuatku sedikit risih. Mungkin karena bedak yang kukenakan mulai luntur atau warna bibirku yang tak lagi merah. Kami hanya duduk dan itu membuatku sungguh merasa lelah. Kakiku yang biasanya bergerak ke sana kemari dengan lihainya, kini hanya diam di tempat semestinya.

“Tidakkah Tuan ingin melakukan sesuatu?” tanyaku kemudian. Laki-laki itu hanya menggelengkan kepala. Tak ada sepatah katapun yang keluar. Apakah ia tak bisa bicara?
“Baiklah, semoga malammu menyenangkan Tuan,” kataku sambil beranjak pergi karena sudah tak tahan. Baru kali ini aku diabaikan. Diabaikan seorang laki-laki. Ia tak hanya sekali mengabaikanku. Ini adalah malam ke empat.

“Bisakah kau berhenti?” tanyanya ketika aku mulai membuka pintu.
“Apa maksud Tuan?”
“Berhenti dari pekerjaanmu,” katanya lagi. Aku berdiri kesal. Kubanting pitu itu keras-keras kemudian kutinggalkan laki-laki itu. Rupanya ia juga tak mengejarku. Ia membiarkanku pergi begitu saja.
Laki-laki itu sungguh membuatku kesal tapi seharusnya tidak. Ia bukan orang pertama yang berkata begitu. Seharusnya aku tidak perlu semarah ini. “Aku ini kenapa?” tanyaku pada diri sendiri.

Aku menghela nafas perlahan. Berusaha untuk menenangkan diri sambil membersihkan riasan wajahku. Kupandangi cermin tua itu. Cermin yang hampir berusia 50 tahun sama seperti usia emakku. Bingkainya mulai rapuh dan catnya hampir-hampir memudar. Cerminnya tak lagi berkilau terang. Seperti halnya diriku. Ada beberapa perubahan pada wajahku. Tidak pada beberapa. Tidak hanya pada wajahku. Semuanya telah berubah sejak laki-laki tua itu mengasingkan hidupku.

Bagiku bulan purnama tak pernah terang. Biarpun seribu bintang juga bersinar. Malam tetaplah malam. Hanya ada kegelapan. Terang hanyalah alasan untuk menjauhkan diri dari kegelapan. Tidak lebih tidak kurang. Dan kembali lagi pada malam-malam yang membosankan. Aku berdiri di tengah-tengah kerumunan serigala. Serigala-serigala yang haus akan kecantikan dunia. Tatapan mereka sungguh menjijikkan apalagi ucapannya. Ah, rasanya aku mau berhenti saja.

“Teruskan!!!” kata salah seorang laki-laki bertubuh gempal dari belakang.
“Waktunya sudah habis Tuan. Seseorang telah menungguku,” kataku sambil merayu. Aku meninggalkan panggung sialan itu. Berjalan menelusuri lorong demi lorong. Berharap tamu kali ini bisa diajak kompromi karena aku sedikit lelah. Kuketuk pintu dengan sopan. Kuucapkan salam terlebih dahulu. Laki-laki itu telah menungguku. Ia berdiri di tepi ruangan sambil menatap lurus keluar. Kulangkahkan kaki mendekatinya lalu kusentuh punggungnya.

“Kau? Kau lagi?” kataku dengan kesal. Aku langsung berbalik badan.
“Kau tidak bisa pergi. Tidak akan ada bayaran,” katanya kali ini. Ah sial, ucapannya benar sekali.
“Lalu untuk apa kau ke sini jika tak melakukan apa-apa?”
“Apa aku harus melakukan apa-apa padamu?” kata-katanya selalu membuatku jengkel entah mengapa. Apapun yang ia ucapkan selalu membuatku kesal. Rasanya aku bisa cepat mati karena naik darah menghadapinya. Kutinggalkan laki-laki itu. Bukan untuk waktu yang lama. Aku kembali lagi setelah berganti pakaian dan menghapus riasan wajahku. Dan rupanya ia masih di sana, duduk menunggu.

Kusandarkan tubuhku pada kursi merah. Kuhela nafas perlahan lalu kupejamkan mata. Haruskah aku berterimakasih padanya? Semenjak kedatangannya, aku tak perlu lagi menari atau merayu setelah pertunjukkan Ronggengku. Aku hanya perlu duduk menemaninya sampai pagi tiba dan tak perlu melakukan apa-apa.

Pagi itu akhirnya tiba. Aku merasakan sinar matahari yang menembus masuk melalui kaca. Kaca? Ah yang benar saja! Apakah sudah sepagi ini? Perlahan kubuka kedua mataku. Kugerakkan tanganku ke atas ke bawah. Kugoyangkan pinggulku sambil menguap lebar-lebar. Oh astaga! Ini pukul 9 pagi? Bagaimana bisa aku tertidur di sini? Apa semalam aku benar-benar tak pulang? Oh celaka!

“Apa kau begitu menikmatinya?” tanya Mama Kalong sambil tersenyum.
“Kapan ia pergi?” tanyaku penasaran pada laki-laki itu.
“Pukul 7,”

Cuacanya panas betul. Membuat siapapun malas bekerja. Aku selalu menghabiskan siang dengan membersihkan rumah, mencuci baju dan memasak sesekali. Terkadang aku bisa menjadi gadis yang sangat rajin dan juga pemalas. Hal yang membuatku menjadi gadis baik adalah ketika Emak sedang tak di rumah. Aku bisa melakukan apa saja. Aku tak perlu merasa marah atau risih karena kehadirannya.

Kehadirannya lima tahun yang lalu sungguh membuatku marah. Bagiku dia adalah wanita yang sangat kejam dan tak berperasaan. Semenjak kejadian itu, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami biarpun pada akhirnya kami hidup dalam satu atap. Aku sama sekali tak pernah berbicara kepadanya, begitupun ia. Ku rasa ia juga tak menganggapku sama sekali. Pagi adalah waktunya, siang adalah waktuku, begitulah kami. Kami menghasilkan uang sendiri dan mengurus diri sendiri. Kami bertingkah seolah kami hidup sendiri. Seolah jalan setapak telah memisahkan kami. Membuat kami tak bisa menyebranginya secara bersamaan.

“Emakmu marah?” tanya Mama Kalong begitu aku tiba.
“Buat apa dia marah?” kataku. Aku bersiap di ruang rias. Merias wajahku secantik mungkin. Kumulai dari garis mataku. Kubuat ia lebih cantik dari mata burung Merak. Kusapukan serbuk bedak ke wajahku senatural mungkin. Kemudian kugoreskan pewarna bibir agar ia lebih menarik dari mawar merah yang akan merekah.

Mbah Karno mulai memainkan jari-jemarinya yang lentik. Itu memang keahliannya. Seiring dengan tabuhannya, kugerakkan pula jemari-jemariku mengikuti iramanya. Kulenggak-lenggokkan pinggul searah jarum jam. Kubiarkan alunan gamelan Mbah Karno membawa jiwaku terbang entah kemana. Entah apa yang orang pikirkan tentangku, aku merasa tak perlu memikirnya mereka ketika aku mulai menari. Ronggeng adalah panggilan jiwaku, kataku dalam hati.

Selesai melakukan pertunjukkan biasannya seseorang akan memintaku menamaninya menghabiskan malam. Ini adalah pekerjaan tambahan namun yang kulakukan masih sama. Cukup menari dan menemaninya. Begitulah pekerjaanku. Malam ini aku berharap bukan laki-laki itu lagi. Entah mengapa aku merasa ia selalu mengikutiku. Seakan kami dekat padahal aku tidak tahu siapakah dia.

“Bisakah kau tidak menemuiku lagi?” kataku padanya, ternyata tebakanku benar. Ia datang kemari. Ia bahkan sudah menungguku. Sebenarnya, dalam hati aku sedikit bersyukur karena aku tak perlu menari lagi. Aku duduk tepat di depannya dan sama seperti malam-malam sebelumnya. Laki-laki itu hanya diam menatapku tanpa mengatakan sepatah katapun. Kali ini aku beranikan untuk menatap matanya juga.
“Aku akan berhenti,” katanya tiba-tiba
“Sungguh?” kataku sambil tersenyum. Tersenyum? Haruskah itu yang kulakukan?
“Jika kau berhenti,” lanjutnya, “Menarilah untukku saja”.

Beberapa hari kemudian aku merasa tak enak badan dan demam. Mama Kalong mengizinkanku untuk istirahat beberapa hari. Sesekali ia juga mengunjungiku ketika Emak tak di rumah. Ia bilang suasana sungguh kacau karena aku mesti cuti beberpa hari. Kukatakan padanya tak usah khawatir. Beberapa hari ke depan aku akan baik-baik saja. Dengan ragu-ragu, kutanyakan kabar laki-laki itu pada Mama Kalong. Katanya selama aku cutipun ia juga tak nampak batang hidungnya. Ia pasti sudah melupakanku, kataku dalam hati.

Haruskah kukatakan ini awal yang baik? Karena tak enak badan, sesekali Emak melihatku. Membantuku membersihkan kamar, memasak dan merias rambutku yang mulai usang tak karuan. Meskipun begitu, tak banyak kata yang kami ucapkan.

Malam ini cuaca sedikit dingin. Dibalut dengan mantel yang sewaktu dulu Emak berikan, kulangkahkan kaki menuju Hole Indij, tempatku bekerja. Pemandangannya memang sedikit berbeda. Tak banyak roda-roda yang mengisi barisan parkir. Bahkan jumlahnya bisa terhitung dari jauh. Ku buka pintu perlahan. Kulihat Mirna, si gadis pendiam itu mengantikan peranku. Kuperhatikan dia. Seorang gadis yang baru berusia 19 tahun, dengan anggunnya menari di hadapan para serigala. Ialah mangsa baru, seperti aku 8 tahun yang lalu.

Aku kembali ke rumah karena tak ada yang bisa kukerjakan. Di bawah cahaya bulan yang remang-remang, aku kembali melihat sosoknya. Ia berdiri di bawah lampu petromak.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya dengan lembut. Kutatap matanya lebih dekat. Tatapan matanya sangat dalam juga begitu sayu. Seakan-akan ia pernah melakukan dosa besar. Meskipun ia terlihat sebagai laki-laki yang baik tapi entahlah, aku merasa ia menyembunyikan sesuatu.

“Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain mengikutiku?” tanyaku dengan kesal. Aku berharap ia akan marah dengan kelakuan naifku ini. Dengan begitu aku yakin ia tak akan pernah menemuiku lagi.
“Aku akan berhenti, sampai kau berhenti menari di sana,” katanya. Ini bukan pertama kali aku mendengarnya sehingga aku tak terlalu terkejut. Aku hanya berfikir apakah yang diinginkan laki-laki itu. Kenapa ia selalu memintaku berhenti menari di tempat Mama Kalong.
“Berikan satu alasan mengapa aku harus berhenti bekerja,” kataku dengan tegas. Ia terdiam sesaat. Menghela nafas, lalu berkata “Mulai sekarang aku akan menjagamu,” jawabnya. Menjagaku? Memangnya siapa dia? Mengapa ia begitu yakin padaku? Apakah ia mengenalku? Apakah ia tahu siapa aku?

Aku meninggalkannya. Aku berjalan lurus seolah tak ada apa-apa. Seolah aku tak pernah bertemu dengannya. Kukira ia sungguh berbeda tapi ternyata tidak. Tunggu, kenapa aku mesti marah? Dia bahkan bukan satu-satunya laki-laki yang menggodaku dengan buaian kata-kata manisnya. Aku menghela nafas, kemudian kutatap bulan. Semakin larut, sinarnya semakin meredup. Seakan ia hilang ditelan kegelapan namun ia selalu menyinari langkah kakiku pulang.

Kubuka kedua mata dengan enggan. Terkadang aku merindukan sengatan sinar matahari yang kini tak bisa lagi kurasakan. Kini tak kurasakan lagi deruan angin yang berhembus menerpa wajahku, menyejukkan pandanganku ataupun mengusir lelahku. Di sinilah aku kini. Ditemani ruji-ruji besar yang mengapit ruangan tanpa ventilasi. Sungguh sesak merasakan betapa sempit dan gelapnya tempat ini. Sampai purnamapun tak dapat menyapaku.

Kakiku masih sedikit mati rasa setelah cuti beberapa hari. Apalagi angin malam seakan menyerang tulang rusukku. Sungguh dingin, aku tak sanggup jika berdiam lebih lama. Kusudahi pertunjukkan Ronggengku. Kulirikkan sebelah mataku sehingga Mbah Karno menghentikan permainan gamelannya. Kutatap purnama, mengapa ia tak seperti biasanya? Kulangkahkan kaki menemui tamuku. Rupanya ia masih menungguku. Di ruangan biasa kami bertemu. Ia tersenyum. Ia tak lagi terlihat kaku. Aku menghampirinya, samar-samar bertanya apa yang sebenarnya ia inginkan.

Aku tak begitu mengerti dengan ucapannya Dengan apa yang ia maksudkan. Aku memintanya menjelaskan sekali lagi. “Akan kulakukan apapun asalkan kau memaafkanku, Rengganis,” itulah kata-kata terakhirnya. Kemudian setelah kupahami lebih dalam, terkadang aku sedikit menyesal membuatnya pergi meninggalkanku. Seharusnya aku tahu bahwa laki-laki itu pastilah sangat menderita. Bahkan kini ia tak punya seseorang yang mesti ia lindungi lagi.

Berkhianat adalah hal yang tak pernah bisa kumaafkan. Ketika bapak mengkhianatiku, membuangku, memasukkanku ke dalam lubang penderitaan itu. Juga ketika seorang emak yang tak pernah mencari tahu keberadaanku tiba-tiba ia datang dengan wajah yang sungguh menjijikkan. Sungguh, semuanya tak dapat kumaafkan begitu saja. Saat itu aku berusia 15 tahun, bagaimana aku bisa menerimanya? Selama 10 tahun aku terjebak dalam lubang kegelapan. Kemanapun kakiku melangkah, terangpun tak pernah kutemukan. Melihat kilaunya saja tidak. Lalu ketika aku mulai menerima segalanya. Membiarkan semua yang telah berlalu, tiba-tiba laki-laki itu datang.

Katanya, ialah pengkhianat yang membunuh pemimpin Serikat Pemuda yang kebetulan adalah bapakku. Saat itu, Sang Belanda datang dan memaksanya mengatakan siapa pemimpin Serikat Pemuda dengan ancaman akan membunuh emak dan adiknya kalau ia tak segera berbicara. Kemudian Sang Belanda menawarinya pekerjaan dengan imbalan yang tak terhingga. Lantas pemuda malang itu merasa bingung. Ia hanya berdiam diri selama dua minggu. Ia tak keluar kamar dan tak melakukan apapun. Ia bersembunyi di balik selimut usangnya. Sampai suatu malam, ia menemukan jenazah ibunya di pekarangan belakang rumahnya. Ini peringatan, katanya. Ia bergegas menemui Sang Belanda dan berkata menerima tawaran tersebut dengan syarat, adiknya harus tetap selamat.

Selesai mengadakan rapat Serikat Pemuda, diam-diam pemuda malang itu mengikuti pemimpinnya. Kemudian ia membawa jenazah pemimpinnyua ke hadapan Belanda. Kemudian ia mengikuti Belanda-Belanda itu menemui emak dan putri si pemimpin diam-diam. Mereka Belanda-Belanda itu menyeret emak dan putri semata wayangnya. Menjebloskan si putri ke dalam penjara, menjadikannya pekerja rodi selama bertahun-tahun. Kemudian memaksa si emak menjadi wanita penghibur untuk tentara-tentara lainnya.

Tepat setelah laki-laki itu menjelaskan kejadian 10 tahun silam, tak dapat lagi kutahan amarahku. Apa yang selama ini kulakukan? Tak semestinya ku benci emak dan bapakku. Merekalah yang selama ini melindungiku. Fikiran itu membuatku tersadar, namun terlanjur sundhuk menthulku telah tertancap di leher laki-laki itu. Kamandaka namanya.

Cerpen Karangan: Anisha Nur Fatihah
Penulis lahir di Kabupaten Semarang pada 02 November 1997. Kini sedang menyelesaikan pendidikan S1nya di IAIN Salatiga dan mengambil jurusan Tadris Bahasa Inggris. Penulis aktif mengikuti UKM LPM DinamikA.

Cerpen Purnama Rengganis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku Ummi

Oleh:
Hari ini aku resmi menjadi suami wanita yang aku sayangi. Aku dan Aisyah pernah pacaran selama 2 tahun. Kini ia telah resmi menjadi istriku. Aku bahagia sekali. Perkenalkan, namaku

Akan Indah Setiap Waktunya

Oleh:
Namaku Yusni Novalin Simbolon. Sekarang aku seorang mahasiswa yang berkuliah di Universitas Gadjah Mada semester 6. Mungkin tidak sedikit orang yang mendengar dan mengatakan aku seorang yang hebat bisa

Jangan Biarkan Indonesia Pecah

Oleh:
“Lihat deh teman-teman aku baru saja membeli tas. Langsung dari London lo.” Pamer Sisylia. Yup, dia paling senang pamer segala barang-barangnya. Mulai dari pensil lah, buku lah, penghapus lah,

Mukena Untuk Ibu

Oleh:
“selamat beraktifitas dan tetap semangat” aku mengakhiri siaranku di salah satu stasiun radio swasta di kota Bogor. Ku tancapkan sisa-sisa semangatku sore itu, sutera jingga di langit barat terpintal

Rendi

Oleh:
“Kakak, aku sudah lapar,” rintihan seorang pria kecil yang tangguh terdengar di tengah-tengah pasar kecil itu. “Sabar ya Ren, jualan kakak belum terjual. Mungkin sebentar lagi, kamu akan bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *