Putri Ku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 December 2015

Pagi itu matahari mulai menampakkan dirinya dan sinarnya berusaha menyapaku melalui celah-celah dedaunan di atasku. Aku masih terpaku sambil terus memandangi nisan itu. Tulisan di batu nisan itu memang terlihat tidak begitu jelas. Karena memang tulisan itu dia pahat 14 tahun yang lalu ketika jasad yang memiliki nama Purwanto Rahardian itu dikubur di bawahnya. Tapi nama itu masih tetap jelas di hatiku. Mas pur.. sebentar lagi cucu kita akan lahir.. aku tak tahu harus menyambut kelahirannya dengan senyuman atau tangisan. Tapi yang pasti tangisan itu telah lahir dan bulir-bulir bening itu pun meluncur dengan sempurna dari kelopak mataku membasahi tanah pekuburan yang tak ingin lekas ku tinggalkan.

Siang itu matahari telah menunjukkan keperkasaannya, teriknya seakan ingin menghanguskan kulitku. Ku susuri jalanan yang berdebu, mataku sembari memelototi jalanan di sekitarku, walaupun tak banyak dengan penuh semangat aku memasukkan paku-paku yang rata-rata telah berkarat ke keranjang lusuhku. Paku-paku itu dengan sendirinya menempel mengitari besi magnet yang telah ku genggam selama perjalanan sepanjang 15 km. Ku rasa cukup perburuan pakuku hari ini, ku lihat keranjang mungilku telah setengahnya berisikan paku. Segera ku berbalik arah, kakiku pun tak sabar untuk mencapai tujuan karena sejak pagi kelelahan menopang bobot tubuhku. Dari kejauhan telah tampak sebuah rumah lumayan besar bercat cokelat. Walaupun dari kejauhan telah nampak kesibukan di dalamnya.

Setiba ku memasuki gerbangnya seorang lelaki setengah baya bertubuh tegap menghampiriku, matanya langsung tertuju ke keranjangku. Juragan Darmo, begitulah aku dan belasan pemulung paku lainnya memanggil laki-laki berkumis lebat itu. Juragan darmo menimbang paku di keranjangku. Sembari mengernyitkan dahi, mata Juragan Darmo terus memperhatikan jarum timbangan yang telah menunjukkan sebuah angka.
“Hari ini tumben dapet sedikit Rat! Cuma 1 kg.” tegur Juragan darmo yang sari mulutunya mengepul asap rok*k.
“Iya Juragan lagi susah sekarang.” jawabku.

Dari saku celananya Juragan Darmo mengeluarkan beberapa lembar ribuan lalu diberikannya kepadaku. Dengan senyum simpul disertai ucapan terima kasih ku lekas berlalu meninggalkan Juragan Darmo. Ku kantongi 3 lembar uang ribuan hasil jerih payahku hari ini. Tujuanku sekarang adalah halte RS, perutku sudah mulia mengeluarkan irama tanda segera minta diisi. Hari itu halte RS cukup ramai, tapi tak satu pun dari mereka yang berada di halte tampak sedang manyantap makanan.

Pandanganku beralih ke sebuah gerobak di ujung halte. Soun, cakwe, kol serta bahan pembuat soto lainnya memang masih tertata rapi di sebuah kota bertutupkan kaca, tampak belum menyusut. Di sampingnya tampak duduk seorang lelaki berbaju putih lengan panjang. Lelaki yang ku nikahi 13 tahun yang lalu itu masih terus mengamati kendaraan yang lalu lalang di hadapannya.

Senyumnya mengembang ketika matanya menangkap sosokku. Menyambut kedatanganku, mas Ipung begitulah nama suamiku langsung bangkit dari duduk. Tangan cekatannya meramu semangkuk soto untukku. Tanpa diperintah, aku langsung mengambil posisi duduk yang nyaman dan melahap soto buatan tangan orang yang ku cintai. Seusai mengisi perut aku langsung bergegas pulang untuk menunaikan kewajibanku sebagai ibu rumah tangga mengurusi rumah Mas Ipung tidak bisa ikut pulang bersamaku karena soto dagangannya belum habis terjual. Aku tak bisa memaksanya. Memang itulah caranya menafkahiku. Walaupun bukan miliknya sendiri, aku salut dengan semangat suamiku menjajakkan dagangannya. Tak jarang Mas Ipung harus pulang larut malam demi menghabiskan dagangannya serta memenuhi uang setoran.

Ragaku telah berada di dalam tempat aku dan keluargaku berteduh. Tak layak rasanya tempat yang beratapkan rumbia, beralaskan tanah dan berdinding bilik ini disebut rumah. Tanganku sibuk melipat kain yang berserakan di atas kasur. Ku kipasi arang yang sedari tadi telah menyala. Tak berapa lama ku dengar derap langkah kaki menuju ke dalam gubukku. Bersamaan dengan itu terbuka pintu yang di beberapa bagiannya sudah mulai terlihat rapuh. Dari balik pintu ku lihat seorang gadis tinggi semampai.

Puteri Rahardian nama gadis itu. Putri yang ke luar dari rahimku 14 tahun yang lalu. Putri yang sempat menjadi anak yatim sampai pada usia 1 tahun. Putri yang terpaksa melupakan cita-citanya karena harus meninggalkan bangku sekolah sejak menginjak usia 10 tahun. Putri yang kini mengisi hari-harinya dengan menjadi buruh cuci di rumah Ibu Irma tetanggaku. Putriku yang selalu hidup dalam keprihatinan. Maafkan ibu Putriku..

Udara dingin terasa menusuk tulangku. Jarum jam menunjukkan pukul 5 pagi. Putriku masih terlelap dengan kain sarung yng lusuh membalut tubuhnya. Mas Ipung sedang asyik membelah kayu bakar. Ku raih keranjang mungilku, bergegas ku pergi setelah meminta restu pendamping hidupku. Langit masih berwarna hitam kelam, benda bulat yang dari juah tampak bersinar masih menghiasi langit. Desiran angin pagi membuatku semakin merapatkan balutan jaket di tubuhku. Sendiri aku berjalan kaki di pagi buta. Sesekali kendaraan melintas di sampingku. Sepi ku rasa, tapi tak ada pilihan lain, aku harus menyusuri jalanan berharap keberuntungan menemaniku hingga keranjangku penuh berisikan paku. Aku tetap harus menyusuri jalanan demi menyambung nyawaku dan orang-orang yang ku cintai.

Tiba-tiba seseorang menarik tanganku. Ku balikkan tubuhku, di hadapanku berdiri seorang wanita paruh baya bertubuh tambun. Matanya terbelalak menatapku seakan-akan ingin melumatku habis. Wanita tambun bercelana pendek itu berkacak pinggang, mulutnya berkomat-kamit mengeluarkan kata-kata kasar yang menghujam hatiku. Sesekali wanita tambun itu menunjuk-nunjuk wajah tak berdayaku. Aku tak mengerti apa penyebab wanita tambun itu begitu murkanya padaku.

Aku tak sempat bertanya tentang apa yang membuatnya tak berkenan sampai 2 orang pria tegap berpakaian putih hitam. Dari tulisan di bajunya ku tahu 2 orang pria itu bernama Amir dan Budi. Oleh mereka aku dibawa ke sebuah tempat berukuran 3×3 meter. Sepanjang perjalanan menuju pos yang baru ku ketahui adalah pos keamanan, wanita tambun itu masih saja menghujaniku dengan aneka cacian.

Aku duduk di sebuah kursi, di hadapanku duduk Budi salah 1 pria yang membawaku tadi. Wanita tambun itu duduk tepat di sebelahku. Dengan bersungut-sungut wanita itu menceritakan seluruh emosinya terhadapku kepada Budi. Dari penjelasannya baru ku ketahui bahwa aku dituduh sering mencuri pakaian yang dijemur di depan rumahnya. Aku tak habis pikir mengapa harus aku? apakah hanya aku yang selalu melintas di depan rumah wanita tambun itu. Seperti tak mengenal kata puas, wanita tambun itu terus memakiku.

Mulutku hanya bisa diam sambil sesekali menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Budi. Budi mengeluarkan selembar kertas, lalu ia menghiasinya dengan tulisan. Setelah tulisannya dirasa cukup disodorkannya pena ke arahku. Ku bubuhkan tanda tanganku di atasnya, tepat di atas namaku RATMI. Aku tak memahami mengapa wanita tambun itu menuduhku melakukan pekerjaan sekotor itu tanpa memilki bukti yang kuat. Keadilan adalah sebuah impian bagi kaum marjinal sepertiku.

Ku hirup dalam-dalam udara kebebasan. Rasanya seperti narapidana ke luar dari bui. Napasku menghembuskan beban bathin yang menghimpit dadaku. Dengan langkah gontai ku susuri jalan kembali pulang. Semangat kerja keras di dadaku sekan hilang tanpa bekas terbawa oleh kekecewaanku yang menumpuk. Ku hempaskan tubuhku di pembaringan. Ku pejamkan mataku berharap segera menemukan mimpi indah di dalamnya. Mataku tak terpejam lama, telingaku menangkap suara tanda bahwa ada jiwa lain di bawah atap gubukku.

Ku datangi sumber suara itu. Ku dapati Mas Ipung termangu di sisi ranjang Puteriku. Matanya menangkap kehadiranku, rasa aneh memancar dari tatapannya. Senyum mengembang di sudut bibirnya. Waktu menujukkan pukul 10 yang mengharuskan raganya tengah berada di rumah Pak Basuki menyiapkan hidangan soto untuk dijajakkan. Enggan ku mempermasalahkannya. Ku ingin bermanja dipeluknya sembari meluapkan emosi jiwaku bersamanya di atas ranjang Putriku..

Mataku kembai terjaga. Ku temui diriku dalam keadaan tak layak. Ku tarik kain sarung untuk menutupi bagian vital di tubuhku. Ku longokkan kepalaku di daun pintu untuk menangkap situasi di sekitar kamar Putriku. Di ruang tengah tepatnya di hadapanku, Putriku yang tak pernah mendapat seorang adik dari rahimku duduk termangu. Tangannya sibuk dengan kalin wol dan jarum rajut di kanannya. Puteriku berdiri. Semakin lama semakin tumbuh saja. Gurat-gurat kecantikanku sewaktu gadis mulai tampak di wajahnya. Tubuhnya padat berisi, balutan kulit tubuhnya yang kuning langsat menambah pesona dirinya. Persis seperti diriku 15 tahun yang lalu. Aku sama sekali tak pernah berharap nasibnya juga sama sepertiku.

Sama sekali tidak. Mataku beralih menikmati bagian tubuhnya yang lain. Ada yang tak biasa dari tubuh Putriku dari gadis seusiannya. Buah dadanya yang ranum terlihat lebih besar dan mengeras. Perut bagian rahimnya membuncit seperti orang kelebihan lemak. Aku wanita sempurna yang juga pernah merasakan keanehan pada tubuhku lalu berbuah janin si rahimku. Aku seorang Ibu beranak 1. Ku hampiri Putriku. Ingin ku membuktikan dugaanku yang ku harap meleset. Ku dapat jawaban dari bibir mungilnya. Jantungku serasa berhenti berdetak. Gubuk reotku serasa mengubur tubuhku hidup-hidup. Putriku menyebut 2 kata. Mas Ipung dan 5 bulan. Tangisku tak bisa ku ledakkan karena telah teruras habis. Tak kuasa ku berdiam diri, ku langkahkan kaki dengan sisa tenaga yang ku punya.

Ms Pur aku di sisimu saat ini. Berdukalah bersamaku. Ku usap nisan itu seperti mengusap kepalamu Mas Pur. Ku lanjutkan langkahku demi Puteriku dan cucuku di rahimnya. Tapi ku rasa aku tak bisa, aku tak sanggup ketika benda besar menghempaskan tubuhku. Terjerembabku di jalanan berdebu. Anyir darah tercium dari rongga kepalaku. Bintik-bintik hitam dan kabur menghiasi kepalaku. Banyak orang di sekelilingku. Aku tak mengerti apa yang mereka perbuat, apa yang mereka bicarakan. Jantungku berdegup kencang, tiba-tiba melambat dan akhirnya hanyalah putih.

“Mas Pur sambut aku di gerbang surgamu.”

Cerpen Karangan: Isnaini Agustine
Facebook: Ainy Febrian (Isnaini Agustine)

Cerpen Putri Ku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sekali Sahabat, Tetap Sahabat

Oleh:
Hari ini, seperti biasa aku pergi ke sekolah bersama Dewi, sahabat baruku. Ya, sejak beberapa tahun belakangan ini aku dan dia mulai dekat. Walaupun dulu aku dan dia adalah

Pesan Terakhir

Oleh:
“Mentari mau kemana? Tolongin Bunda ya, antarin kue ke rumah bu Fahimah. Tau kan sayang?” “Aduh, suruh Tito aja ya Bun. Tari buru-buru ada les privat di kafe. Minta

Jiwa Malaikat

Oleh:
Siang itu terik matahari yang menyengat mulai menyentuh kulit kepala sang bocah bernama Andini, belum lagi sang kakak yang seharian berkeliling mendorong gerobak mengorek-ngorek sampah dan berharap menemukan barang

Darah Di Ujung Daun

Oleh:
Sungai mengalir dengan deras. Bunyi arusnya membuat burung berkicauan. Seketika dari ufuk timur mentari menampakkan dirinya. Keheningan pun tak berlangsung lama. Banyak petani yang mulai berangkat untuk bekerja. Banyak

Mawar Terakhir Dari Bunda

Oleh:
Dari kecil mawar tak pernah melihat sosok seorang ayah karena saat bundanya sedang mengandung sembilan bulan ayah dan bundanya berpisah dan ayahnya membawa anak pertamanya yaitu bernama melati dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *