Rajutan Asa Mak Yus

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 May 2014

Pagi ini suara ayam bersahutan, dengan diringi suara adzan yang damai. Yang selalu memberi semangat di tengah hawa dingin yang menusuk balung (tulang), karena memang hawa hari ini lebih dingin dari sebelumnya. Mak Yus yang tinggal di Curup, desa Air Meles Bawah, Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu ini, segera bangkit dari tempat tidurnya, dan langsung mandi seakan tak meghiraukan hawa dingin pagi ini. Setelah mandi mak Yus melakukan salah satu kewajiban umat Islam umumnya untuk shalat subuh yang diawali dengan berwudhu.

Tak lupa di balik umtaian do’anya ia memohon agar Allah SWT memberkahkan rezekinya hari ini. Tak perlu untung banyak, asal bisa menyimpan sedikit hasil untuk biaya kuliah anaknya dan uang tabungan di kehidupan mendatang. Yah, mak Yus mempunyai lima orang anak, tiga laki-laki dan dua perempuan, tapi dua orang anaknya sudah meninggal dunia. Anaknya yang kedua sudah hidup berkeluarga dan tinggal di Kabupaten sebrang sana yaitu Kabupaten Kepahiyang Yono namanya, begitu juga anak ketiganya Anto juga ikut berkeluarga dan kini tinggal di Bengkulu Tengah. Anak keempatnya Alin, kini memasuki pertengahan semester 3, ia kuliah di salah satu kampus di desanya yaitu STAIN CURUP. Ia mengambil jurusan tarbiyah prodi PGMI.

“Hhmm, adem’e koyok es, koyok’e dino ki terang,” (“hmmm, dingin sekali kayak es, kayaknya hari ini cerah”) gumam mak Yus dalam hati sambil meletakkan satu cerek air di atas kompor. Setelah itu mak Yus langsung menyiapkan sarapan, sambil membangunkan anaknya
“Lin, tangi no, shalat subuh nduk,” (“Lin, bangun, shalat subuh nduk,”) ujar mak Yus
“Iyo, mak, aku mandi sek ah,” (“iya, bu, aku mandi dulu ah,”) sahut anaknya dengan riang
“Yo, mandi lah,” (“ya, mandi lah,”)
“Mak masak opo?” (“ibu masak apa?”)
“Goreng endok loro ae ki” (“goreng telur dua saja lah,”)
“ojo asin-asin no mak,” (“jangan teralu asin ya bu,”)
“iyo-iyo,” (iya, iya”)

Sayup-sayup terdengar suara lantunan dzikir dari sudut kamar, yah, di sana ada mbah Kadar yang sedang shalat sambil berdzikir. Mbah Kadar sudah lama tinggal ikut dan bersama kami, semenjak bapaknya Alin meninggal. Jadi, di rumah yang tak begitu luas ini dihuni oleh tiga orang hawa, mak Yus, mbah dan Alin.
“Yo, Yus goreng endok wae lah, sambel wingi jek ono, engko awan oseng-oseng tempe wae yo? Koyok wingi enak na Yus…” (“Ya, Yus goreng telur aja lah, sambal kemarin masih ada, nanti siang oseng-oseng tempe aja ya? Seperti kemarin itu Yus…”) sahut mbah dari kamar.
“Iyo, mak engko aku tuku tempe seng akeh..” (“iya, bu nanti aku beli tempe yang banyak,”)

Yah, mak Yus janda beranak tiga ini sudah sekitar 14 tahunan berpropesi sebagai pedagang sayur keliling. Penghasilannya tak begitu besar, namun mak Yus tetap bersyukur pada Allah SWT dari hasil penjualannya yang ia selalu kumpulkan sedikit demi sedikit. Hingga kini ia dapat membeli sebuah rumah sederhana, dan dapat juga membelikan sebuah laptop untuk bekal belajar anaknya, dan bisa mencicil sebuah sepeda motor yang bisa dipakai anaknya kuliah, dan membantunya berjualan.

Suaminya meninggal sudah sekitar 4 tahun yang lalu. Pak Rudi namanya, suaminya dulu sebelum meninggal, ia berpropesi sebagai pekerja pembuat jalan raya. Tapi karena penyakit diabetesnya sudah parah, dan beliau pun meninggal dunia.

“yok Lin mangkat, opo arep sarapan sek Lin? nek sarapan, ngangge piring mamak ki na Lin enek endok’e secuil ku, mamak gak entek. Entekne la Lin…” (“Yok Lin, berangkat, apa mau sarapan dulu? Kalau mau sarapan, pake piring ibu ni, ada telur nya sedikit tu, ibu tidak habis. Habiskan lah Lin…”)
“iyo, mak,” (“Iya, bu…”)

Setelah mereka selesai sarapan, mak Yus pun berangkat, yang setiap harinya diantar oleh Alin. Nah samapailah mak Yus di pasar, bak pemburu yang sudah siap melucuti buruannya, mak Yus langsung membaur dan mulai berbelanja untuk bahan dagangannya hari ini.

“Eh, ndok-ndok, terus wae, endi ndok’e?” (“Eh, telur-telur, terus aja, mana telurnya?”)
“iyo, kosek to mas, aku arep golek tempe sek engko ra kebagian ki, cepet entek tempe ki, nak gak cepet ra entok..” (“Iya, sebentar mas, aku mau cari tempe dulu nanti gak kebagian ni, cepat habis tempenya, kalu gak cepet, gak dapat…”)
“iyo-iyo, endok’e ki rene sek lah ah,” (“Iya-iya, sini dulu telurnya ah… “)
“yo,yoh, nyoh yo,” (“iya, ya, nih ya,”)

Memang, mak Yus tak hanya menjual berbagai macam sayuran, berbagai bumbu dapur, dan berbagai ikan dari ikan kali (sungai) sampai ikan laut, serta berbagai macam ikan asin. Dan juga telur rebus serta berbagai jajanan pasar lainnya. Mangkanya sesampainya di pasar mak Yus langsung disahuti pelanggan telur rebusnya. Yah, namanya juga pasar, pasti ramai

Setelah selesai berbelanja, sarau (keranjang gendong) besarnya pun sudah penuh, begitu juga kedua tas keranjang kecilnya puas rasanya sudah mendapat sayuran yang bagus-bagus. Mak Yus pun segera melangkahkan kakinya, menuju rumah-rumah di belakang pasar untuk menemui para pelanggannya karena mak Yus sudah cukup lama berjualan, jadi mak Yus telah mempunyai langganan tetap yang selalu menunggu mak Yus. Mak Yus mulai mengelurkan suara emasnya.
“Sayur… sayur… sayur…!”
“Bik, sayur,! Ado sayur apo bae bik?” (“Bi, sayur! Ada sayur apa aja bi?”)
“Yo, banyak ko. Sawi manis, sawi senter, kangkung, genjer, kacang panjang, terong, ikan, ayam, telok rebus. Banyak ko belanjo la we…” (“Ya, banyak ni. Sawi manis, sawi senter, kangkung, genjer, kacang panjang, terong, ikan, ayam, telur rebus. Banyak ni ayo, belanja dong…”)

Dengan sabar ramahnya mak Yus melayani para pelanggannya. Tak semua pelanggan membayar dengan uang tunai, ada yang memakai sistem tukar barang, ada yang cash bon, yang tidak bayar pun ada. Mungkin karena sama-sama lupa, namun mak Yus tak berkecil hati, karena baginya dihutang tak apa, karena dengan begitu mak Yus jadi mempunyai tabungan, hutang dari pelanggannya ia anggap sebagai uang celengan (tabungan). Orang-orang cash bon baru akan membayar setiap awal bulan atau saat gajian, hal itu juga berlaku bagi pegawai negeri. Mak Yus tahu benar bagaimana keadaan ekonomi para pelanggannya, profesi pelanggannya beracam-macam ada yang berprofesi sebagai buruh tani, buruh serabutan, yang satu profesi pun ada sampai para PNS, dan lain-lain.

Mak Yus sangat bersyukur, dengan profesinya sebagai tukang sayur keliling seperti ini, tidak merasakan kekurangan, soal sandang pangannya, uang sekolah anaknya tidak sampai menunggak, dan yang terpenting mak Yus masih bisa menolong orang lain disaat orang lain mengalami kesulitan. Mak Yus juga selalu siap menampung berbagai curhatan para pelanggannya dan mencoba menjadi pendengar yang baik. Maklum saja, mak Yus cukup dekat dengan pelanggannya sehingga mereka tak segan saling bertukar cerita.

Tak sedikit orang yang sering mencemoohkan mak Yus dengan profesinya sebagai tukang sayur keliling. Namun, mak Yus tak berkecil hati ia tetap melangkahkan kakinya ia tak menghiraukan apa yang dikatakan mereka terhadap dirinya. Langkah demi langkah mak Yus menyusuri jalanan antar desa, matahari telah menampakkan gelora apinya. Panas mulai menyengat. Sampailah makyus di rumak pelanggan terakhirnya. Dan mak Yus segera memberi tahu Alin anaknya untuk segera menjemputnya. Seketika mak Yus pulang berboncengan dengan Alin, sambil menyuarakan suara emasnya.
“Sayur… sayur… sayuuuuur…!”

“Alhamdulillah… hari ini laris manis,”
Begitulah hari-hari mak Yus yang kesehariannya menjadi tukang sayur keliling. Kesederhanaan bukan berarti kehinaan. Kemiskinan bisa membawa kemuliaan. Bersyukur adalah cara terbaik menikmati hidup.

Cerpen Karangan: Marlinawati
Email: marlinawatilina20[-at-]gmail.com
Facebook: Marlinawati Lina
Hallo sobat, aku anak baru ni heeee … namaku Marlinawati aku tinggal di Desa Air Meles Bawah, Curup, Provinsi Bengkulu, Kabupaten Rejang Lebong. Kini aku sekolah di STAIN CURUP Jurusan Tarbiyah, Prodi PGMI semester III … salam kenal ya sobat, semoga cerpen ini bisa bermanfaat bagi sobat-sobat pecinta cerpenmu.com… “Menjadi sukses di depan orang-orang yang meremehkan anda adalah balas dendam yang terbaik”

Cerpen Rajutan Asa Mak Yus merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengeluh Tandanya Lemah

Oleh:
Suasana dalam hidup memang berbeda setiap waktunya. Tiap jam, menit, bahkan detik suasana bisa berubah. Suasana apa pun yang membuat seseorang berubah lebih cepat dari detak detik berjalan adalah

Di Balik Doa

Oleh:
Hari ini mulai ku tulis sebuah alur hidupku yang banyak melibatkan air mata. Tentang pahitnya menghadapi kenyataan yang sebenarnya harus selalu aku lewati, Memohon agar dapat diberikan umur yang

Dialog Pikiran

Oleh:
Hawa panas mulai memasuki kamarku. Gorden jendela kamar kubiarkan tetap menutup. Suasana kamar terasa sedikit pengap, tapi kubiarkan saja. Keadaan di sekitar sudah tidak berpengaruh banyak. Aku sudah tenggelam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *