Rantai Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 5 January 2019

Suara riak lumpur yang menyatu dengan langkah kaki kian menjauh, dalam rintik hujan terdengar suara beberapa orang di sekitarku saling berbisik. Pandanganku hanya tertuju kepada gundukan tanah merah yang bertaburkan bunga. Harum mawar masih tercium menyengat beterbangan di udara. Ketika jiwa tidak lagi menyatu dengan kenyataan, tiba-tiba ada yang memegang pundakku.
“Jangan sedih bunda, hidup kita sudah ada ketentuan masing-masing”.
Dibalik robohnya dinding jiwa, muncul seorang anak perempuan kecil menasihatiku atas kejadian yang telah terjadi. Sambil menyapu air mata yang telah bersanding dengan rintik hujan aku pun menoleh kepadanya dan memeluknya. Ya, hanya jawaban itu yang bisa kuberikan kepada anakku yang saat ini sudah memasuki usia 12 tahun.

Di bawah payung hitam yang di guyur rintik hujan, aku berjalan bersama suami dan anakku, kami berjalan melewati gerbang kayu yang sudah lapuk di telan panas dan dinginnya alam, aku sekilas membaca tulisan yang ada di atasnya.

(“TPU Taman Sari, setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya”.)

Kuresapi makna tulisan tersebut di tengah jiwa yang kedinginan menahan dahsyatnya badai perasaan, keimanan pun semakin bertambah. Tidak jauh terlihat beberapa orang yang berpakaian serba gelap sudah menunggu kami di samping deretan beberapa mobil putih dan hitam, itu adalah Ani beserta teman-temanku lainnya. Menunggu untuk segera melangkah melanjutkan kehidupan.

Di dalam mobil yang tengah melaju menembus jutaan air yang jatuh dari langit, aku hanya diam mengingat semua kejadian. Peristiwa seperti ini jarang kurasakan, terakhir ketika aku baru saja duduk di bangku Sekolah Dasar pada saat ayah pergi untuk selamanya meninggalkanku dengan ibu. Hari ini ibu pun telah menyusul ayah. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika peristiwa ini menimpa anakku kelak. Pemutus kebahagian selalu saja memaksa kita untuk tidak bisa lagi untuk mengukir senyum di wajah orang-orang tersayang. Mungkin kejadian hari ini adalah hadiah dari sang pencipta yang diberikan pada hari ulang tahunku agar senantiasa menambah keimanan kepadanya.

Bagaimana aku mendapatkan semua cerita ini, bagaimana aku bisa bertahan dari semua keadaan yang membunuh jiwa. Aku pun mulai mengingat-ingat semua kenangan masa kecilku. Pikiranku mulai menyelam ke dalam samudera yang aku sendiri tidak tahu berapa luasnya. Ya, pikiranku telah tenggelam, tarikan jiwa serta emosi cukup kuat kurasakan. Kenyataan rasanya mulai menghilang dari dunia ini. Semakin lama pikiranku di selimuti kegelapan, gelap, gelap, hingga akhirnya aku…

“Layla, Layla, bangun sayang”.
Dalam gelap terdengar sayup-sayup suara lembut yang memanggil namaku. Suara itu terdengar kembali,

“Layla, ayo bangun sayang sudah subuh”.
Seberkas cahaya kuning lambat laun menerangi gelapnya penglihatan, terlihat wajah dengan senyuman indah memandangiku. Ternyata ibu membangunkanku,

“iya ibu”, sahutku.
Aku pun bangun untuk mandi dan sholat subuh, terlihat ibu kembali sibuk dengan urusannya.

Hari ini Senin, sebagai seorang siswa sekolah dasar aku harus berangkat ke sekolah. Dengan semua perlengkapan yang telah aku sediakan malam sebelumnya, aku tidak begitu terburu-buru setiap paginya sehingga aku bisa sedikit bersantai sambil membaca buku yang kemarin telah kupinjam dari perpustakaan sekolah. Terlihat ibu menghampiriku dengan membawakan bekal untukku.

“layla, ayo berangkat, sebentar lagi Ani datang”, ujar ibu sembari memasukan bekal ke dalam tas cokelat milikku.
“iya bu”, jawabku pelan.

Aku dan ibu berjalan keluar rumah untuk menunggu Ani. Ani adalah sahabatku dari kecil, kami bertemu karena ayah ani adalah teman baik ayahku. Aku berangkat ke sekolah ditumpangi oleh ayah Ani dengan mobil miliknya. Setiap pagi Ani beserta Ayahnya pergi dengan membawa sayur serta buah dari kebunnya untuk di jual kepada para pedangang pasar. Tidak berapa lama terlihat mobil berwarna Biru dengan bak belakang terbuka yang dipenuhi dengan sayur serta buah datang menghampiri kami.

“Ibu, Layla berangkat dulu ya Assalamu’alaikum”, ucapku dengan bersalaman dengan ibu dan mencium pipi ibu.
Ibu pun menjawab dengan membalas ciuman di pipi ku, “iya Layla, Wa’alaikumsalam hati-hati ya nak rajinlah belajar”.
Selalu terngiang di kepalaku kata-kata ibu di setiap pagi yang tidak pernah kulupakan.

Ya, ibu tidak bisa mengantarku ke sekolah karena ibu harus menyelesaikan pekerjaannya. Ibuku berjualan kue kecil di Sekolah Menaengah Atas yang dekat dari rumah. Semenjak ayah meningal, ibu yang membiayai semua kebutuhan kami. Ayah meninggal karena sakit. Malam hari aku terkadang menangis mengingat ayah yang sudah tiada. Andai waktu itu aku sudah dewasa, aku pasti membantu ayah sehingga ayah tidak sakit karena beratnya pekerjaan yang dilakukan. Ayahku seorang buruh di pabrik tempat pengolahan kelapa sawit, ayah bekerja di sana semenjak umurnya masih muda. Di waktu aku kecil ayah sering bercerita tentang pekerjaannya, ayah bilang dia bekerja hanya memisahkan bunga dan buah dari pohon kelapa sawit. Aku pun selalu bertanya warna-warna bunga yang ada di pohon kelapa sawit tersebut.

“Ayah, bunga yang ayah petik ada berwarna merah? aku mau merawatnya”.
“Bunganya sangat indah sayang, berwarna-warni tetapi setiap selesai ayah petik selalu saja diambil oleh segerombolan monyet nakal”. Ayah selalu menjawab dengan jawaban yang membuat aku tertawa.

Tetapi sekarang aku tahu pekerjaan ayah ternyata sangat berat untuk menghidupi aku dan ibu hingga akhirnya ayah jatuh sakit karena tidak sanggup lagi untuk bekerja. Aku harus belajar dengan rajin, agar aku bisa membahagiakan ibu. Itulah mimpi yang ada di kepalaku.

Di sekolah aku tidak pernah mendapatkan peringkat tiga besar, tetapi aku selalu masuk peringkat lima besar. Aku duduk di bangku paling depan bersama Ani. Ani sahabatku yang sangat pintar, dia selalu mendapatkan peringkat pertama di kelas. Ani juga seseorang yang baik, jika ada pelajaran yang susah bagiku, dia selalu membantu untuk menjelaskan kepadaku. Di sekolah aku berteman dengan siapa saja, aku tidak pernah mempunyai musuh. Aku selalu ingat pesan ibu untuk tidak membeda-bedakan teman.

Sepulang sekolah aku segera kembali ke rumah bersama Ani. Seperti biasa aku selalu ditumpangi oleh Ani dan ayahnya. Ketika di rumah aku selalu membantu ibu, aku tidak ingin ibu sakit karena bekerja sendirian. Setiap sore aku dan ibu pergi ke masjid, ibu adalah seorang guru mengaji. Ibu selalu ramah kepada semua murid-muridnya, tidak pernah sekalipun aku melihat ibu marah kepada teman-temanku bahkan kepadaku. Malam harinya aku dibantu oleh ibu mengerjakan tugas yang diberikan ketika di sekolah, jika tidak ada tugas, aku dan ibu selalu bercerita tentang kejadian-kejadian yang terjadi di sekolah. Di saat bercerita, aku senang apabila ibu tertawa. Aku merasakan beban ibu sedikit berkurang hingga malam harinya sampai kami beristirahat bersama.

(“Jika aku hanya memiliki sedikit cinta, maka seluruhnya akan kuberikan kepada orang-orang tersayang agar aku tidak lagi memiliki cinta yang hanya kugunakan untuk mencintai diriku seorang”)

“Layla, Laylaa, bangun sayang”.
oh. Suara itu terdengar kembali, apakah ibu? pikirku.
Dalam gelap kembali terdengar sayup-sayup suara yang memanggil namaku. Suara itu terdengar kembali,

“Layla, ayo bangun sayang sudah subuh”.
tetapi suara itu tidak lagi lembut seperti yang biasa aku dengar. Seberkas cahaya kuning lambat laun kembali menerangi gelapnya penglihatanku, terlihat wajah dengan senyuman indah memandangiku, tetapi wajah itu sudah mulai terlihat tua. Ternyata ibu membangunkanku.

“iya ibu”, sahutku.

Aku teringat, hari ini sangat bersejarah di dalam hidupku. Aku akhirnya berhasil meraih gelar Sarjana, tetapi yang lebih membuatku bahagia bulan depan aku sudah mulai bekerja di perusahaan besar sebagai Konsultan Arsitek, sesuai dengan jurusan yang aku geluti yaitu Teknik Arsitektur. Tidak hanya itu, kami juga akan pindah ke rumah baru yang diberikan oleh perusahaan untukku. Saat ini benar-benar segala rasa bercampur di dalam jiwaku, ibu tidak perlu lagi capek-capek berjualan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, ibu tidak perlu lagi bangun jam tiga subuh untuk menyiapkan jualannya walaupun ibu selalu bilang hanya untuk sholat tahajud, tetapi aku tahu semua itu adalah wujud ketabahan ibu dalam menghadapi cobaan hidup. Setidaknya sekarang aku sudah bisa memberikan kepada ibu kenyamanan beristirahat.

Lima tahun sudah berlalu. Aku duduk di pinggir tempat tidur sembari memperhatikan raut wajah wanita yang masih tertidur. Ya, Itulah ibuku, wajahnya sudah penuh dengan kerutan tetapi senyumnya masih saja terlihat manis dari pertama aku melihatnya. Aku pun berbaring di samping ibu untuk beristirahat. Dalam perjalanan menuju fatamorgana kupegang tangan ibu, lalu sejenak melirik tirai masa depan. Kelak jika aku mempunyai anak, aku ingin disayangi layaknya aku menyayangi ibu. Ah, dunia rasanya mulai gelap, terasa berputar. Tubuhku seperti jatuh ke dalam dimensi waktu yang tidak ada dasarnya, hingga akhirnya aku pun tidak sadar JIKA dunia ini berputar dan aku pun…

“Bunda, bunda kita sudah sampai”.
Suara-suara itu selalu saja muncul di dalam kegelapan. Aku kenal suara ini. Ini suara Aisyah anakku.

“Bunda”.
Suara Aisyah terdengar lagi, tetapi kali ini tubuhku diselimuti hawa panas yang menyejukkan. Dunia tetap saja gelap, jiwaku berlari tanpa tujuan tetapi aku tahu, aku harus mencari cahaya jalan keluar. Tiba-tiba! cahaya yang menyilaukan muncul mengeluarkanku dari gelapnya fatamorgana. Terlihat Aisyah yang memelukku, ternyata kami sudah sampai di rumah. Pikiranku mulai kembali ke masa ini, teringat ibu dan ayah yang sudah tiada, tetapi kenangan indah bersama mereka akan selalu tersimpan di dalam jiwa hingga kelak kami di persatukan di surga.

Hari ini aku merasakan pengorbanan ayah dan ibu dalam membesarkanku hingga aku akhirnya menjadi seorang ibu yang merasakan kebahagiaan. Aku pun kembali menyadari selama ini ayah dan ibu telah menjadi pahlawan dalam hidupku yang senantiasa berjuang serta berdoa untuk masa depanku. Perjuangan orangtua tidak akan mampu dibalas oleh anak-anaknya. Masih ingin rasanya aku membahagiakan kedua orangtuaku, tetapi takdir dari Allah harus kuimani. Aku bahagia memiliki orangtua seperti ayah dan ibu.

Fatamorgana masih menyatu dengan kenyataan, terdengar kembali suara yang berbicara kepadaku.

“Aisyah, sayang bunda”.

Tidak terasa air mata jatuh dari kedua mataku. Aku hanya bisa terdiam menyimpan semua kenangan di hatiku.

(“Hanya orang tua, orang yang benar-benar tulus mencintaimu dan mendoakan kebaikan tanpa mengharapkan apapun dari dirimu”)

Cerpen Karangan: Adz Dzahabi
Blog: catatantintaputih.blogspot.com
IG: @abdrrhmndzhb

Cerpen Rantai Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malas Sekolah

Oleh:
“Hans… Bangun, sudah jam berapa sekarang, cepat bangun sekolah…” ibu hans dengan suara yang melengking mencoba membangunkan hans, padahal ibunya memanggil hans dalam situasi lagi memasak. Hans dengan muka

Ayah

Oleh:
“Kamu jadi anak lelaki tidak boleh cengeng,” perkataan itu yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang di telingaku dan selalu ke luar dari mulut ayah di saat aku kecil meminta sesuatu

Tour Leader

Oleh:
Tepat pukul delapan malam empat bus mulai meluncur dari sebuah SMP yang menggunakan jasa travel wisata tempatku bekerja. Aku kebetulan yang ditunjuk menjadi Tour Leader bersama tiga orang tour

Aku

Oleh:
Aku adalah Nisa, seorang gadis yang lemah, aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Ibuku bekerja setiap paginya sebagai penjual kue. Beliau sendiri harus menafkahi aku dan kedua adikku karena

My Spirit For Life

Oleh:
Di sebuah kota Malang, Jawa Timur hiduplah seorang anak kembar. Mereka bernama Rachel dan Brenden. Rachel adalah kakak dan Brenden adalah adik Rachel. Mereka baru menginjak usia 13 tahun.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *