Ratapan Masjid Tua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 9 July 2016

Pagi yang cerah dengan embun yang masih menempel di dedaunan. Sang fajar masih malu untuk menampakkan dirinya, tapi cahyanya yang kemilau mulai menyeruak menyibakkan kabut kelabu. Pagi ini begitu sunyi, hanya kicau burung yang mulai beranjak dari sarangnya untuk mencari makan.

Tiada yang datang untuk menjengukku, sekelebat kenangan kembali teringat. Ketika sang fajar belum muncul, ketika langit masih gelap dan dingin masih membelenggu sudah banyak yang datang padaku. Tua, muda, kaya, miskin semua berbondong-bondong kepadaku. Tiada perbedaan di antara mereka. Mereka sujud dan bersimpuh kepada Sang Maha Pencipta dengan penuh kerendahan diri. Tapi kini tiada satupun yang menjengukku, mereka telah melupakanku.

Kuedarkan pandangan, namun yang kutemui hanyalah alat-alat berat yang akan segera menghancurkanku. Hari ini aku akan dimusnahkan dan dijadikan pusat perbelanjaan. Aku tak berarti lagi bagi mereka, karena aku telah dijual.

Andai aku bisa bicara, aku ingin mengatakan..
“JANGAN JUAL AKU!! Aku rumah Tuhan kalian. Kenapa kalian menjualku hanya untuk uang?!! Kenapa kalian tega menukarku menjadi tempat perbelanjaan?!! JANGAN!! JANGAN!! Jangan lakukan itu..”

Ketika cahya sang surya sudah meyinari bumi, aku melihat beberapa orang berwajah menyeramkan memandangku ganas.
“AKU TAKUT..”
Mereka mulai mendekat ke arahku dan tanpa malu mereka masuk dalam diriku tanpa melepas sepatu kotor mereka. Kemudian mereka mulai memporak-porandakan diriku. Almari tua tempat ku menyimpan peralatan sholat dan Al-Qur’an juga diporak-porandakan, semua berceceran di lantai.
“AKU TERLUKA!! Kenapa tak ada yang datang menolongku?!! Benarkah semua telah melupakanku?!! KEMANA KALIAN!!”
Setelah puas mereka keluar dan mulai menggerakkan alat-alat berat itu, mereka mulai mendekat lalu..
“BRAKKK..”
Dalam satu hantaman sebagian dari diriku hancur, lalu..
“BRAKK.. BRAKK.. BRAKK..”
Hantaman kedua, ketiga dan seterusnya bertubi-tubi meyerangku dan kini aku telah menjadi puing-puing.
“Kemana semua orang?!! Sampai kondisiku seperti ini tetap tak ada yang datang?!! Sungguh kalian telah melupakanku. Aku telah HANCUR!! Rumah Tuhan kalian, naungan kalian telah HANCUR!! tapi kalian tak peduli. AKU TERLUKA!!”

Sekelebat kenangan kembali teringat. Saat dimana kalian semua masih menyayangiku. Setiap hari kalian mengunjungiku, kalian merawatku dengan penuh kasih sayang, debu pun tak berani hinggap padaku. Tapi semua terhapus oleh kemajuan zaman. Kalian disibukkan oleh kebahagiaan dunia, sehingga kalian melupakanku. Aku terbengkalai sendiri dan terlupa.
“Aku MATI secara perlahan..”

Aku ingat saat bulan kemenangan tiba kalian berbondong-bondong padaku. Kalian terlalu banyak sehingga sebagian dari kalian harus di luar. Sungguh waktu itu aku sangat bahagia. Aku merasa HIDUP, tapi kini?!!

Suara Adzan selalu menggelegar pagi, siang, sore maupun malam. Dengan panggilan yang indah itu kalian bergegas berbondong-bondong menghampiriku, karena kalian tau kalian akan diberikan kemenangan yang besar oleh sang KHALIQ. Bahkan kalian meninggalkan semua aktivitas kalian ketika mendengar Adzan. Hati kalian bergetar, kalian mendengarkannya dengan khidmat. Karena kalian tau itu panggilan dari Tuhan kalian.

“ALLAHU AKBAR.. ALLAHU AKBAR..
ASYHADU AN LAA ILAAJA ILALLAAH..
ASYHADU ANNAMUHAMMADAR ROSULULLAH..
HAYYA ‘ALASH SHOLAAH..
HAYYA ‘ALAL FALAAH..
QOD QOOMATISH SHOLAATU 2×
ALLAAHU AKBAR.. ALLAAHU AKBAR..
LAA ILAAHA ILLALLAHU..”

ketika Iqomah berkumandang aku sudah penuh, Tapi kini?!!

Alunan bacaan Al-Qur’an yang merdu selalu bergema. Anak-anak kecil dengan semangat mengalunkannya dengan suara merdu mereka. Bahkan mereka sering berebut untuk membacanya. Mereka ingin membuat orangtua mereka bangga saat mendengarkan bacaan mereka. Tapi kini?!!

Saat malam lailatul Qadar tiba. Kalian tak tidur, kalian berdiam diri di dalam diriku, aku naungi kalian dengan sayang dan lisan kalian selalu menyebut nama Tuhan kalian dengan kerendahan diri mengharap keridhoannya, Tapi kini?!!

“Aku MERINDUKANNYA..”

kini aku sendiri, aku hanya tinggal puing-puing yang berserakan. Aku sudah tidak dapat menaungi kalian lagi. Tapi kenapa satu pun dari kalian tak ada yang datang melihatku, bahkan untuk yang terakhir…
“Kenapa??!!!…”

orang-orang itu menyiramiku dengan minyak tanah, lalu mereka menyalakan api dan melemparkannya padaku dengan cepat api itu melahapku dengan ganas..
“Aku TERBAKAR Habis..”

Kini aku sudah menjadi debu..
Mereka meratakanku dengan tanah dan meninggalkanku..
Esok pagi aku akan segera berubah menjadi pusat perbelanjaan..
Tapi sampai sekarang pun kalian tak datang..
Kalian benar-benar telah melupakanku..
“Tuhan ampuni mereka..”

Kini aku hanyalah tinggal sejarah, kenangan semata..
Aku Masjid Tua yang dulu menjadi tempat sandaran, penghubung Manusia dan Tuhan..
Kini aku telah tiada..
Aku hanyalah sebuah kenangan yang terlupa..

Cerpen Karangan: Khoirin Nikmatun
Facebook: Khoirin Ririn

Cerpen Ratapan Masjid Tua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Halaqoh Empat Pemuda

Oleh:
“Janganlah berjalan di belakangku, karena mungkin aku tak bisa memimpinmu. Jangan pula berjalan di depanku, mungkin aku tak bisa mengikutimu. Berjalanlah di sampingku dan jadilah sahabatku..” -Anonim- Suatu sore.

Kafe Kafein (Part 1)

Oleh:
Betapa banyaknya ketidakyakinan di dunia ini. Kita tidak yakin akan nasib kita hari esok, atau kita tidak yakin betapa besarnya seluruh alam semesta ini. Kita tidak yakin dengan potensi

Payung Merah (Part 1)

Oleh:
Kamis sore disambut dengan rintik hujan yang cukup deras. Awan gelap bergulung-gulung dengan petir yang sekali-kali menyambar lemah. Jutaan rintik-rintik air mengguyur daerah kecamatan, termasuk tempat sekolahku. Rintik-rintik air

Secercah Asa

Oleh:
Saat itu, aku masih berusia 9 tahun. Ayahku sudah meninggal, beliau hanya mewariskan malaikat tanpa sayap padaku, Ibuku. Aku sudah merasakan kerasnya hidup dimana anak-anak seusiaku hanya menikmati harta

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Ratapan Masjid Tua”

  1. Nanda Insadani says:

    Pesannya sampai…
    Ide penuturan ceritanya juga rapi, walau sekarang sudah banyak yang memakai metode penceritaan seperti itu…
    Tapi manusia biadab mana yang menghancurkan mesjid demi bangunan lain?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *