Ratapan Penyesalanku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 9 February 2018

Jika aku bertanya, apakah aku menyukai takdir? Untuk beberapa hal aku akan menjawab, ya. Tapi, apakah kau tahu. Masih ada banyak takdir yang tak aku mengerti. Takdir itulah yang membuatku mengutuk banyak hal. Baik itu diriku sendiri, orang di sekitarku, lingkunganku, dan yang paling masuk akal bagiku adalah takdir itu sendiri. Sekarang, takdir apakah yang kujalani? Selama ini aku berharap akan datang takdir terbaikku. Membuatku hidup seperti semula. Bahagia.

Langit yang semula indah, dengan pancaran biru muda yang menenangkan. Kini mulai memudar dan tampak berduka. Tak lama kutatap, ia pun mulai meneteskan air mata kesedihannya. Ribuan derai hujan yang kembali membawaku ke masa silam. Aku mulai meratapi kejadian memilukan itu. Dari sudut penglihatanku. Sosok yang selama ini kutakuti. Selalu kulakukan apa yang ia inginkan. Aturan-aturan yang selalu jadi alasanku untuk mematuhinya.

Dia mulai memarahiku. Berusaha menjelaskan aturan apa yang sedang kulanggar. Tapi, aku hanya bisa menangis. Tepat dari edaran penglihatanku. Diriku lima belas tahun silam. Masih sesosok gadis kecil yang tak bisa memerintah. Hanya bisa menangis dan mengakui kesalahannya. Kau tahu, siapa yang sedang memarahiku?

Luapan kesedihan yang semakin bergejolak. Tak hanya tangisan. Badai pun ikut menyertai penyesalan. Kini, hanya ratapanlah yang bisa kugenggam.

Dari sudut pandang seorang pendosa ini. Aku melihat penyesalan itu seakan menelan cahaya hidupku. Membuatku terpaku akan gelapnya rasa sesal. Orang yang kutakuti benar-benar lenyap. Aku tak lagi dapat melihatnya melantunkan nasihat-nasihat yang paling kubenci. Membiarkan aku melukai hati. Berharap dia akan kembali memarahiku. Mengikatkan kembali aturan yang ia buat.

Tahukah kau? Alasan apa yang mendasari penyesalanku ini? Perlahan, langit mulai melupakan kesedihannya. Awan mendung bersedia berganti tempat. Langit biru muda yang indah perlahan menampakkan sisi menawan yang luar biasa. Bunga-bunga yang hampir mati ketakutan, tersiram indah dengan cahaya sang mentari. Dunia seakan hidup kembali. Kegelapan yang mengkhawatirkan seolah lenyap tak berbekas. Aku menyukai suasana alam yang seperti ini. Sejenak aku pun bisa melupakan kegelapan yang menelan cahaya hidupku.

Bisakah aku mencurahkan isi hatiku pada kalian? Akan alasan ketakutanku ini? Sungguh, sebesar apa kepedulian kalian?
Pandanganku mulai terpaku pada sosok remaja yang beranjak dewasa ini. Pakaian yang kukenakan. Hingga wangi parfum yang melekat pada jati diriku. Aku sudah lama lari dari kepahitan hidup. Mulai mencium bau ketenangan. Kehidupan yang merupakan celah pencapaianku. Akankah sirna dengan penyesalanku?

Terkadang aku merasa telah merdeka. Saat ingatan masa lalu itu mulai tertutupi dengan ingatan masa bahagiaku. Tenang, akan kehadiran orang-orang yang peduli. Tidak ada lagi pemaksaan kehendak. Aku pun mulai bisa memerintah diri sendiri. Tanpa berkewajiban mengikuti perintah siapapun.

Namun, ketika langit mulai gelap. Aku juga merasakan kembali kegelapan itu. Seperti dirasuki kembali akan kehadirannya. Sosok pemarah. Sang pengatur. Biangnya kedisiplinan. Entah kenapa aku merasa harus berterima kasih padanya.

Benarkah aku seorang pendosa? Benarkah bahwa ia jauh lebih menyesal? Jika ia masih hidup, akankah ia lebih meratapi kehidupanku? Adakah rasa sayangnya kepadaku?

Sekarang, aku mulai menyusuri jalanan basah yang hampir mengering ini. Sekaligus menyusuri lagi sisi gelap masa lalu. Kembali pada belasan tahun yang lalu. Dari sudut penglihatanku yang kesekian kalinya. Diriku yang sedang duduk termenung. Menyalahi diri yang berusaha kabur dari aturan ini. Jujur, aku sangat kecewa. Mengapa aku membiarkan dia memakiku sekejam itu. Mengapa aku mudah sekali membuang air mataku untuknya. Tapi, tak bisa kupungkiri. Kehidupan normal yang kujalani sekarang. Sesungguhnya tidak senormal yang seharusnya terjadi.

Dua hari yang lalu. Salah satu takdir mulai terbuka. Ketika aku merasa hidupku sudah baik-baik saja. Penyesalan baru pun muncul. Aku tak bisa menyalahkannya lagi. Aku tak bisa mengutuk aturan itu lagi.

“kamu benar-benar bodoh” satu kalimat yang tak pernah kudengar. Tertuju padaku. Sejak itulah penyesalan yang sesunggunya muncul. Selama ini aku tak mengerti alasan aku merasakannya. Penyesalan akibat ulahku sendiri.

Untuk yang terakhir kalinya, tahukah kau? Sesaat aku tak mendengar apapun, kecuali nasihat darinya. Nasihat yang tertanam sebagai aturan dalam benakku.
Saat itu pula, sebagai keinginanku yang pertama kalinya. Aku ingin mengakhiri hidup. Ingin mengakhiri penyesalannya. Agar ia bisa tenang.

Tapi, aku tak ingin bertemu dengannya seperti ini. Menemuinya dengan diriku yang jauh berbeda. Aku takut, ia tak mengenaliku. Apalagi, jika ia merasa jijik dengan diriku yang sekarang.

Waktu dua hari, kurasa cukup. Untuk menyadari kebutaanku selama ini. Aku akan bertemu denganmu. Setelah aku memperbaiki kesalahan yang kuanggap sebagai kebebasanku.

Bolehkah aku sebutkan siapa orang itu? Aku juga punya harapan. Agar ia benar-benar tenang di sana. Meski dulu aku hanyalah gadis kecil yang tak bisa berpendapat secara luas. Hanya sekedar tahu benar dan salah.
Aku yakin tanpa kusebut siapa dia, kau pasti sudah tahu. Sosok pahlawan yang sering kali kau khianati. Kau salahkan, jika ia tak sejalan denganmu. Tapi, kerap kali kau tangisi ketika itu sudah jadi penyesalan. Tanpanya, kau takkan pernah merasakan penyesalan. Begitupun aku. Itu sudah jelas, bukan.

Dia selalu ada dalam kehidupan siapapun. Dialah tempat pertama kau bersandar. Sebelum menikmati gelap terangnya dunia.

“aku akan berusaha.”
Tolong pegang janjiku ini. Aku akan kembali normal seperti dulu. Menjalani hidup seperti saat kau masih bersamaku. Tak akan kubiarkan dukamu yang berkepanjangan ini. Melihatku yang sudah jauh dari jalanmu. Tak akan.

Sekejap bayangan masa lalu yang terus menghantuiku menghilang. Sebelum itu terjadi, gadis kecil itu melihat ramah ke arahku. Sembari memperlihatkan senyuman khas kesukaannya.

Cerpen Karangan: Mitha Melanie Putri
Facebook: Mitha Melanie Putri

Cerpen Ratapan Penyesalanku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Firasat

Oleh:
Pagi ini terasa sepi hanya tetesan embun dan semerbak udara pagi yang menyapa pagiku. Seakan semua kebahagianku terengut semenjak kejadian itu, kejadian yang membuatku ingin lari dari kenyataan. Namaku

Ketika Manusia Berhenti Menjadi Manusia

Oleh:
“aku berhenti menulis ” “kenapa? Apa kau bosan padaku, bukankah kau bilang aku satu-satunya?” “kau memang satu-satunya ” “bukankah kita slalu bersama? Lalu mengapa?” “aku takut tuhan marah” “mengapa

Pelarian Gunung Pelarian

Oleh:
Tanpa pedulikan kondisi pintu yang sudah rusak dan masih dalam kondisi terkunci, kudobrak sekuat tenaga dengan bantuan amarah yang tak terbendung menenggelaman diri dalam nafsu yang hampir tak terkendali,

Setangkai Mawar Putih

Oleh:
Percayalah padaku, maksudku ini sungguh. Aku tak berbohong kali ini, aku mohon percayalah padaku untuk kali ini. Dan, sekarang aku akan bercerita tentang Kay and Key. Yah, tebakanmu benar.

Tak Sanggup Lagi

Oleh:
Setelah sekian lama baru ku menyadari.. mengapa ku selalu menahan rasa sakit ku.. ingin ku hapus saja semua, semua dendam ini tapi rasa tak mungkin lagi.. biar kan ku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *