Realita dalam Sebuah Fatamorgana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 18 December 2018

Hai, namaku Salsabila Intan. Kalian bisa memanggilku Bila. Rambutku panjang terurai. Biji mataku kelam, sekelam hidupku saat ini. Kata kebanyakan orang wajahku cantik. Walau kecantikanku ini hanya disebut ‘kembang jalan’ karena hidupku memang di jalanan.

Orangtuaku meninggal saat aku masih kecil. Hingga usiaku enam belas tahun saat ini, aku diasuh oleh kakekku yang sekarang lumpuh. Bagaimana pun keadaan kakekku dialah satu-satunya keluarga yang kupunya. Aku berjanji pada diriku akan merawatnya dengan pengorbanan hidupku.

Keseharianku dihabiskan untuk mengais rezeki di jalan raya. Bermodalkan kentrung peninggalan ibuku yang merupakan harta paling berharga dalam hidupku setelah kakek. Aku memutari jalan saat lampu merah dan menyanyikan sebuah lagu dengan alunan kentrung sebisaku. Tak banyak yang kudapat dari mengamen, tapi setidaknya itu cukup untuk kelangsungan hidupku dan kakek.

Aku memiliki seorang kawan. Namanya Raka. Ia lebih tua lima tahun dariku sehingga aku biasa memanggilnya kak Raka. Ia adalah harta ketiga dalam hidupku. Kak Raka yatim piatu, sama denganku. Aku dan kak Raka sering menggabungkan uang hasil mengamen kami agar jumlahnya lebih banyak. Dia juga yang sering melindungiku apabila aku digoda oleh Beni, anak jalanan paling sok di sini.

Tak ada yang spesial dalam hidupku ini. Hanya ada sebuah kata yang dapat mengungkapkannya. Kata yang tak asing lagi mungkin. Hidupku adalah sebuah ‘Fatamorgana’.

Hawa dingin membangunkan dari tidur lelapku. Kutatap langit. Nampak di sana bintang-bintang masih menghiasi langit gelap. Kulihat kakek masih tertidur di atas becak yang merupakan harta keempat setelah semuanya. Kupandangi segala arah yang masih menunjukkan tanda kesunyian. Sepi. Semua orang masih terlelap dalam mimpi mereka. Setelah membenahi posisi tidurku, aku kembali dalam sebuah rajutan mimpi indah.

“Ayo, bangun. Sudah pagi, Bil.” Kurasakan seseorang mengguncang tubuhku pelan. Kubuka mata perlahan dan nampak di sana kak Raka dengan senyum manisnya. Aku balas tersenyum. Entah bagaimana mukaku saat itu, muka saat seseorang habis bangun tidur.
“Eh, ayo. Kasihan kakek lho, udah laper,” kata kak Raka.
Aku menoleh ke arah becak. Di sana kulihat kakek dengan tatapan kosongnya. Tatapan yang berbeda dari saat sebelum ia lumpuh. Aku tahu apa yang dirasakannya. Sebuah keputusasaan hidup.

Aku berdiri dari dudukku lalu mencari keran di pinggir jalan. Segera kubasuh mukaku dengan air yang mengalir dari keran. Rasa segar segera menghiasi hari baruku. Aku kembali ke becak. Kulihat kak Raka sedang membereskan alas tidurku yang berupa tumpukan kardus. Sesekali ia mengajak ngobrol kakek yang tak berdaya sambil menata tumpukan kardus. Melihat itu semua aku ingin menangis, tapi aku tak ingin terlihat lemah di hadapan kak Raka.

“Kak, ayo kita ngamen,” kataku kepada kak Raka. “Biar bisa beli sarapan buat kita dan kakek.”
“Iya, ayo.”
Kuambil kentrung dari dalam becak. Dan berpamitan pada kakek.

“Kek, Bila berangkat ngamen dulu, ya. Kakek tunggu di sini sebentar, nanti Bila bawain sarapan buat Kakek.”
Aku tahu kakek pasti mendengarnya. Hanya saja ia tak mampu berbicara. Ia hanya memandangku sebentar lantas kembali ke tatapan kosongnya.

Mentari mulai beranjak tinggi ketika kami berada di antara padatnya kendaraan. Kami menunggu lampu merah menyala. Dan saat sudah menyala, kami segera berjalan sambil menyanyikan sebuah lagu dengan suara yang asal keluar. Beberapa orang yang terlihat iba memberi kami sepeser uang seribuan atau paling banyak dua ribu. Sesaat sebelum lampu hijau menyala kami kembali ke pinggir jalan.
“Eh, udah dapet berapa?” tanya kak Raka padaku.
“Udah lima belas ribu, nih.”
“Ya udah, kalo gitu sekarang kita beli sarapan dulu buat kakek, kasihan.”
Aku mengangguk.

Kami pun melangkah menuju warung emperan yang biasa kami datangi untuk membeli makan. Kami membeli dua bungkus nasi berisi tahu dan telur, serta dua air mineral gelas. Kini uang kami tersisa seribu rupiah.
Sekembalinya kami dari warung, kulihat kakek yang masih bergeming dengan tatapan kosongnya. Aku kasihan padanya. Bagaimana mungkin orang yang selama ini merawatku dengan penuh kasih dan sayangnya harus mengalami hal seperti ini. Tuhan, adil kah, Engkau?

Kubuka nasi bungkus untuk kakek. Kusiapkan sesuap nasi di tanganku.
“Kakek makan dulu, ya. Biar tetap kuat, biar bisa lihat Bila bahagia di hari esok.” Kutahan air mata. Kutatap kakek yang berubah guratan wajahnya. Sedih. Itulah yang mungkin dirasakannya. Matanya tak lagi kosong, tapi kini berubah sayu. Perlahan air mata mengalir dari kelopak matanya yang telah penuh dengan kerutan. Kakek menangis. Dan itulah kesalahan terbesar yang pernah kulakukan. Membuat kakek bersedih. Bersedih dalam keputusasaan yang ia rasakan. Kakek maafkan aku.

Perlahan kusuapi kakek. Hanya lima suap nasi, itu sudah cukup untuk membuatnya kenyang hingga siang nanti. Setelah kuberi minum kakek, kini giliran aku dan kak Raka yang makan. Kami tak menghabiskan makanan yang tadi dibeli. Khawatir tak ada makanan di siang nanti. Tapi itu sudah cukup mengennyangkan dan memberi tenaga untuk ngamen lagi.
Inikah nasib yang sudah Engkau tentukan, Tuhan?

Siang pun tiba. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Kendaraan berada pada jam paling sibuknya. Membuat udara di jalan ini terasa sangat panas.
Beginikah nasib orang kecil sepertiku, seperti kak Raka, seperti orang-orang yang berjuang bersama mempertahankan hidup. Mungkin sekarang ini kami berada dalam sebuah neraka dunia. Tapi, apakah di hari esok, aku dan orang-orang sekitarku juga akan tetap berada dalam neraka?

Kutunggu lampu merah menyala. Sembilan puluh puluh detik. Waktu yang kupunya untuk berkeliling, mengamen. Kuputar kembali lagu yang biasa kunyanyikan.
Dua puluh detik. Aku segera kembali ke tepi jalan. Menunggu lampu hijau menyala kemudian berganti lampu merah lagi. Itu saja kegiatan yang selama ini kulakukan di setiap detik hidupku. Sekolah? Maaf saja, tak ada kata sekolah dalam kamus hidupku.

“Hei!” seseorang menepuk pundakku. Saat kutoleh, kebencianku muncul. Beni. Kenapa harus dia lagi!?
“Mau ngapain, Kamu?” tanyaku ketus pada Beni.
“Aku titip ini sebentar, mau ke kamar mandi dulu.” Beni memberiku sebuah dompet yang entah milik siapa. Ia segera meninggalkanku. Saat kubuka, aku terkejut melihat isinya. Setelah kuhitung, ternyata isinya sejumlah uang satu juta. Aku bingung, terkejut, tak tahu apa yang harus kulakukan dengan dompet berisi uang ini.

Kebingunganku memuncak saat tiba-tiba segerombolan orang berlari ke arahku. Mereka meneriaku dengan sebutan ‘copet’ entah mengapa begitu. Sesaat kupandangi dompet yang kupegang. Dan aku sadar sesuatu yang mengerikan akan terjadi padaku.
Aku berusaha berlari sekuat tenagaku. Dan belum sempat aku berpindah tempat, seseorang meraih kerah bajuku, lantas menarikku. Usahaku untuk menyelamatkan diri sudah pupus.

“Eh, kamu kecil-kecil udah berani nyopet, ya!” bentak seorang laki-laki kepadaku. “Cewek lagi!”
“Enggak, Pak. Saya nggak nyopet. Beneran, Pak,” kataku berusaha membela diri.
“Terus, apa itu di tanganmu?!”
“Ini tadi teman saya titip. Nggak tahu sekarang kemana?”

Seseorang berlari mendekat. Menerobos kerumunan. Orang itu adalah ibu-ibu berpakaian modis, berlipstik tebal, dan beralis hitam.
“Bu, apakah dia orang yang tadi mencopet Ibu?” tanya bapak yang memegangi kerahku.
“Sepertinya bukan. Seingat saya tadi anak laki-laki.”
“Tuh, kan bukan saya, Pak,” aku masih punya kesempatan untuk membela diri.
“Tapi, mungkin saja dia itu komplotannya!” Ibu itu berkata ketus. “Kalau gitu bantu saya bawa dia ke kantor polisi.”

Bapak yang sedari tadi memegangi kerahku menarikku entah kemana. Aku berontak berusaha melawan. Tapi, semakin aku memberontak semakin banyak orang yang memegangiku. Hingga seorang yang amat kusayangi datang membelaku.
“Hei, lepaskan adik saya!” kata kak Raka kepada bapak yang menarikku.
“Maaf, tapi adik kamu ini sudah mencopet ibu itu,” kata bapak yang menarikku sambil menunjuk ibu yang bersedekap, menatap sinis padaku.
“Apa buktinya?” kak Raka masih membelaku.
“Lihat di tangannya. Itu adalah dompet saya,” kata ibu itu.
“Tapi, belum tentu dia yang nyopet, kan?”

Tanpa banyak basa-basi lagi kak Raka berusaha membebaskanku dari cengkraman bapak yang menarikku. Tak kusadari orang-orang yang berkerumunan berusaha menghalangi kak Raka untuk menolongku. Sontak kak Raka ikut berontak. Dan hal itu menyebabkan sebuah perkelahian. Saat kak Raka disibukkan dengan orang-orang yang mengeroyoknya, aku ditarik semakin kuat, semakin jauh dari kak Raka. Dan kini, tak ada yang dapat kuperbuat.
“Kak Raka, aku titip kakek. Doakan saja aku kembali!” teriakku sambil menitihkan air mata.
Aku tak mendengar jawaban kak Raka atau mungkin kak Raka tak mendengarku. Tapi, kuyakin kak Raka pasti tahu apa yang ia harus lakukan. Tuhan kali ini tolong bantu aku, bantu hamba-Mu yang lemah ini.

Kalian atau kita semua tahu, nasib baik takkan berpihak pada orang kecil sepertiku. Aku kalah dalam pengadilan. Dan aku, harus mendekam di dalam jeruji besi ini selama dua tahun.

Hari-hari kulalui dengan keputusasaan. Tapi, setahun di penjara membuatku terbiasa untuk tahun berikutnya. Di sini aku juga mendapatkan pelatihan seperti menjahit, memasak, ataupun pelatihan-pelatihan lainnya. Itu membuatku tak perlu lagi menghitung hari.

Kakek sudah meninggal saat aku menginjak enam bulan di penjara. Aku hanya bisa melihat proses pemakamannya saja dan berdoa untuknya. Entah, apakah Tuhan menerima doa orang kecil sepertiku. Aku juga sempat melihat kak Raka. Ia hanya menatap kecewa padaku dari kejauhan. Apakah ia percaya bahwa aku seorang pencopet? Kuharap tidak.

Hari demi hari kulalui. Tak terasa sudah dua tahun aku berada di penjara, berada dalam sebuah keterpurukan. Lara tak lagi terpahat di hati. Harap, kubiaskan dalam senyumku. Aku kembali ke ‘rumah’ tempatku mengais rezeki. Kembali ke sebuah metafora yang habis dimakan waktu.

Tak kulihat lagi kehidupan di sana. Sepi. Hanya menyisakan jalan dengan sebuah renovasi dan mall-mall yang tinggi menjulang. Aku lagi-lagi mengangis. Kini, ku tak memiliki apa-apa lagi. Keempat hartaku yang paling berharga telah sirna ditelan kemajuan peradaban. Ke mana saja aku dua tahun ini. Iya, aku berada di penjara. Tapi, aku tak pernah menyangka akan melihat perubahan besar ini.

Kuseka air mata dengan kedua tanganku. Kudatangi tempat dimana dulu aku tinggal. Saat aku tiba di sana, aku terkejut. Kulihat sebuah becak yang tak asing bagiku. Harta yang penuh dengan pengharapan. Kudekati becak itu dan semakin kukenal saja saat semakin dekat. Kutengokkan kepalaku melihat ke dalam becak. Kudapati seseorang sedang memeluk kentrung yang merupakan salah satu dari harta paling berhargaku.

“Kak Raka!” tanpa sadar aku memekik bahagia. Kulihat kak Raka terbangun dari tidurnya dan langsung memelukku begitu matanya terbuka.
“Bila, aku rindu padamu.” Isak tangis terdengar dari setiap kata yang ia lontarkan.
“Aku juga, Kak.” Aku juga ikut terisak. Aku berada dalam pelukan penuh duka kebahagiaan.

“Bila, entah kenapa tiba-tiba aku ingin mengatakan ini padamu. Maukah kau menjadi istriku?”
Aku terkejut, menangis semakin menjadi. Kupeluk erat kak Raka. Hangat. Itulah yang kurasakan saat ini. Kusadari sesuatu, kak Raka tak pernah kecewa padaku. Selama ini ia menunggu hanya untukku. Menunggu dengan penuh duka lara. Menunggu jawaban Tuhan atas nasib kami berdua.

Aku sadar. Selama ini aku tak pernah bersyukur atas apa yang Tuhan berikan padaku. Aku sadar duka dan lara bukanlah satu-satunya yang diberikan Tuhan padaku. Aku sadar aku telah kembali. Kembali kepada kebahagiaan yang samar. Inilah… realita dalam sebuah fatamorgana.

Cerpen Karangan: Muhammad Pramesta J. S
Blog / Facebook: jalasena jalasena
Nama saya Muhammad Pramesta Jalasena Salim. Teman-teman biasa memanggil saya Sena. Sekarang saya masih belajar di bangku SMA. Buat para readers atau writers yang ingin berbagi cerita/pegalaman, bisa hubungi saya melalui Facebook : jalasena dan instagram : muhammad_pramesta. Sekian, terimakasih.

Cerpen Realita dalam Sebuah Fatamorgana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku, Ayah

Oleh:
Dunia ini begitu keras bagi perempuan lemah sepertiku. Kerasnya dunia sudah aku cicipi, seperti halnya “PACARAN.” Ya, aku mengenal pacaran tepat pada usia 15 tahun mungkin orang bilang itu

Cinta Sejati Sebagai Sahabat

Oleh:
Percayakah kamu akan hadirnya cinta sejati? Semua orang pasti mempunyai pendapatnya masing-masing dan alasan yang berbeda pula. Perbedaan juga biasa muncul dalam topik-topik tertentu yang nantinya akan di bahas,

The Cangar Love Memories

Oleh:
Aku angel, gadis usia 22 tahun, aku bekerja di interior. Bekerja adalah hobiku, selain dapat mengisi dompet, juga menghilangkan kejenuhan, oleh sebab itu bekerja over time tak masalah buatku.

Menanti Senja

Oleh:
Terlihat seorang pria bertubuh tinggi dan tampan ditambah kacamata yang dikenakannya membuat dia terlihat sempurna. Pria itu sedang duduk di pinggir pantai sambil menatap pada senja yang mulai tenggelam,

Si Pemalu

Oleh:
Namaku Alise aku gadis kelas 1 SMA yang pemalu. Setiap kali bertemu dengan orang aku selalu bersembunyi sambil gemetaran. Aku takut sekali bila bertemu dan bercakap-cakap dengan orang lain

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *