Relung Hati Sang Wanita Orange

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 22 January 2018

Kumulai hariku di saat penghuni kota masih terhanyut akan belaian mimpi mereka, bahkan deru indah ayat suci belum terdegar. Dengan menahan letih yang tak pernah lepas dari setiap sendi-sendi tulangku aku memulai perjuangan hidupku. Kulangkahkan kakiku keruang dapur rumahku yang begitu mungil. Hanya ada 2 meja saja yang berjejer menutupi hampir sebagian dinding belakang rumahku yang berbatasan langsung dengan SMK Muhmmadiyah. Sisa ruang dari dinding rumahku dialih fungsikan sebagai tempat mencuci dan segaligus tempat mandi. Tak ada jamban di rumah mungilku ini, jika kami memerlukannya kami menggunakan wc umum yang ada di ujung gang. Jendela tidak perlu diharapkan di ruang ini pintu saja sepertinya tak bisa digunakan. Sirkulasi udara hanya mengandalkan lubang sebesar buku tulis dan ditutupi jala besi yang terletak di atas dinding meja kompor, setidaknya itu mampu mengeluarkan sedikit hawa panas ketika kompor dinyalakan sehingga ruangan tidak seketika menjadi sebuah oven.

Aku menanak nasi kurang dari seperempat liter dan sengaja melebihkan sedikit airnya. disamping aku menunggu nasi matang aku mencuci pakaian. Tanganku Melawan air pam yang begitu dingin. Uap panas mengepul-ngepul dari belanga menandakan aku harus beranjak dari cucianku dan membuka tutupnya. Butiran beras tadi nampak mulai berubah menjadi nasi atau lebih tepatnya seperti bubur. Putriku selalu mengeluh dan bertanya kenapa aku selalu memasak nasi seperti ini, aku hanya mengatakan kepadanya aku lupa dan memberinya sedikit lebih banyak air saat mamasaknya. Dia masih terlalu dini untuk mengetahui bahwa betapa susahnya aku dalam menggenapkan beras untuk cukup kami makan bertiga bersama ibuku yang renta selama sebulan.

Deru azan dan iqamah subuh telah lama berlalu. Selepas ibadah aku mulai menyiapkan perlengkapan kerja dan bekalku nanti. Tak lupa aku juga menyiapkan baju sekolah putriku yang kini baru bersergam merah putih. sarapan dan makan siangnya aku telah siapkan di dapur. Di sampingku putri kecilku masih tertidur lelap di dekapan ibuku. Aku tak ingin mengusik mimpi indahnya semua pergerakanku kuusahan tak menimbulkan secuil bunyi pun. Kuraih tas hitamku yang telah kusiapkan tadi. Tak lupa aku mengintip kompor di dapur yang hanya dibatasi sebilah dinding teriplek dan sehelai kain dari ruang utama di rumahku. Setelah aku mamastikan semuanya aman aku melangkah ke pintu, sebelum aku menutupnya aku menengok putri dan ibuku yang masih berbalut selimut usangnya, dan aku memberi salam dalam hati.

Hari masih gelap ketika aku menyusuri jalan untuk menuju tempat pangkalan kerjaku. Kami harus berkumpul di sana untuk mengabsen lalu menyebar ke tempat kerja kami masing-masing. Setapak demi setapak jalan berbatu berliku kulalui hingga akhirnya aku sampai ketempat dimana aku mencari sesuap nasi. Tempat ini sudah mulai dikerumuni oleh orang-orang yang juga tengah berjuang dalam melewati hidup ini. Ada satu dari mereka yang sangat membuatku kagum. Dia selalu menyambutku dengan senyum lembut hangatnya ketika aku sampai ketempat ini. Rambut putih mulai tumbuh subur di kepalanya namun ia masih sangat kuat dan semangat mengadu nasibnya. Melihatnya, seharusnya dapat membuat para pemuda-pemuda pemalas yang hanya mabuk-mabukkan di ujung gang itu merasa malu untuk menampakkan wajahnya ke dunia. Hari mulai terang, setelah memakai seragam kebanggaanku aku mulai berbaris bersama teman yang lain. Setiap pagi kami selalu memulai aktivitas dengan rapat atau istilah kerennya briving terlebih dahulu, lalu kemudian kami menuju kendaraan dinas dan kemudian berpencar ke pos masing-masing.

Bermandikan terik mentari pagi, kumulai tugas yang kuanggap mulia ini. Bermodalkan kaus tangan, sapu lidi, dan sendok sampah aku mulai membersihkan sampah yang berserakan di jalan. Aku terheran, setiap kali menyapu sampah-sampah itu. Setiap pagi aku selalu membersihkan jalan ini bersama ibu nari, namum setiap pagi pula sampah-sampah baru selalu menyapa kami. jika itu hanya dedaunan kering aku tak heran, namun banyak sampah-sampah yang kami jumpai tak dihasilkan oleh alam, padahal tong sampah telah di siapkan oleh depertemen kami di setiap sisi jalan dengan jarak yang tak begitu jauh. Sampah itu mungkin tak berarti lagi bagi mereka, tapi setidaknya dapatkah mereka membuangnya di tempatnya. Mereka selalu mengeluh akan kota yang indah ini penuh akan sampah yang merusak pandangan mata mereka serta mengganggu saraf-saraf hidung mereka. Mereka selalu mencemoh dan meraung kepemerintah bilamana bencana air melanda. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah teguran dari yang kuasa agar mereka sadar.

Tetesan peluhku telah membasahi bajuku. mentari telah berada di atas kepala, aku dan bu nari berisirahat sejenak di bawah pohon yang berjejer di pinggir lapangan utama kota ini. Tampak mahasiswi-mahasiswa yang berlalu-lalang di jalan. Tawa mereka terlukis dengan indah di wajah mereka. Sebagian besar dari mereka memilki stayle fashion yang dapat bersaing dengan artis-artis di tv. Dari atas hingga bawah selalu penuh dengan gaya yang trendi. Namun ada satu yang selalu mengelitik hatiku, tas mereka terlihat begitu kecil dan tak nampak satupun buku yang berada di genggaman mereka. Apakah mereka tak lagi menggunakan kertas putih itu sebagai media pembelajaran mereka mengingat jaman ini sudah begitu canggih dan maju. Di antara mahasisiwa yang itu ada juga mahasiswa yang masih ingat membawa kebutuhan pokok pembelajaran mereka. Tas ransel besar tak pernah lepas dari punggung mereka. Waktu mereka tak dihabiskan begitu saja, meskipun tengah menikmati waktu istirahat di bawah pohon mereka selalu membaca buku yang tampak begitu tebal. Di anganku aku selalu terbayang dan berharap kelak buah hatiku dapat menjadi mahasiswa seperti itu. Tak harus melewati masa mudanya seperti diriku yang dipenuhi dengan kemalangan penderitaan.

Rupiah demi rupiah yang kutuai dari setiap tetes keringat kuharap cukup untuk mencerahkan masa depan putri kecilku. Aku ingin dia dapat merajut ilmu dari bangku universitas ternama di kota ini. Aku ingin dia dapat memiliki kenyamanan hidup yang layak di masa ia telah memiliki anak nanti. Aku tak ingin cucukku kelak memakan nasi yang tampak seperti bubur, serta tinggal di rumah yang sangat kecil. Aku ingin putriku cerdas agar ia tidak mudah dibodohi oleh pria-pria yang tak bertanggung jawab, yang dengan tega meninggalkan anak istrinya tanpa belas kasih dan uang sepeserpun. Aku akan menjaga dia dari kejamnya dunia, gilanya pergaulan bebas sampai ia menemukan sandaran yang lebih kokoh dariku yang dengan tulus akan menjaganya. Tentu itu tidak akan terjadi dengan sekejap mata, tak secepat air hujan yang jatuh menembus bumi. Aku harus menempuh waktu bertahun-tahun untuk menempah putriku menjadi gadis yang pantas dan terhormat.

Hari menjelang-menjelang magrib. Untaian ayat suci al-quran telah memenuhi setiap seluk beluk kota. Aku pulang dengan seribu peluh yang mengalir bagikan sungai di setiap pori-pori kulitku. Setelah sampai di istanaku yang begitu sederhana aku menyandarkan bahuku sebentar kemudian aku mensucikn diri untuk menghadapkan diriku ke sang pencipta alam semesta. tak akan cukup waktu untuk menguraikan seluruh keinginan dan harapan di dalam doaku. Aku berharap sang pencipta dapat memahami isi hati hambanya yang hina ini tanpa harus mengucapkannya.

Belum sempat aku menutup doa, terdengar suara sesuatu terjatuh di dapur. Aku pun dengan bergegas menengoknya dan maasya Allah ibuku tergolek lemah di lantai dengan sebuah sendok sup panas tergenggam erat di tangannya. “asstagfirullahh aladzim, ma” Sahutku kaget, ibuku tak menjawab matanya masih tertutup rapat. Aku dengan cepat memeriksa ibuku dan syukur Tuhan masih menolongku setelah memastikan tak ada luka bakar di tubuh ibuku, aku membawanya di ruang tengah. Dengan tangan gemetar aku menyapukan minyak kayu putih ke leher ibuku. Setelah itu aku memijit kaki dan tangannya berharap ia akan cepat sadar dari pingsannya. Mataku mulai basah sedang putriku mulai kebingungan dan bertanya tentang keadaan neneknya. Pikiranku mulai kabur dan tak sangup menanggung semua ini. Terkadang terbesit di benak kecilku untuk lari dari segala beban ini. Namun, semua niat buruk itu sirna ketika menatap wajah polos putriku.

Ibuku tak kunjung sadar aku masih tetap terjaga di sampingnya. Setelah menangis yang cukup lama akhirnya putriku tertidur dengan airmata yang masih membasahi pipinya. Di tengah kebingunganku pikiranku teringat akan sesuatu yang tersimpan rapi di lemariku. Aku kemudian mengambilnya dan melihatnya begitu dalam. Akankah aku mengeluarkannya sekarang?. Yah, ini merupakan jalan satu-satunya untuk menolong ibuku. Dengan hati gundah aku membuka buku kecil itu terlihat dijit yang tak begitu banyak namun merupakan jerih payahku selama beberapa tahun terakhir. Sebenarnya tabungan itu untuk biaya sekolah putriku namun aku tak bisa berbuat apa-apa lagi, ini semua demi seorang wanita yang sangat mulia untukku. Mengingat semua tingkahku dulu, ini tak ada bandingannya dengan penderitaan yang telah kuberikan kepada ibuku. Seanndainya aku menuruti semua nasehatnya mungkin nasibku tak akan seburuk ini.

Seminggu ibuku terbaring di rumah sakit. Tentu menambah datar tugas yang harus aku lakukan. Setelah bekerja aku langsung bergegas kerumah sakit untuk menemani ibuku. Untung saja kerabatku masih ada yang bersediah untuk menjaga ibuku selama aku mencari nafkah. Ibuku menderita kanker tenggorokan stadium tiga. Hal ini terjadi begitu saja bahkan gejala-gejalanya saja tak pernah kusadari. Apkah selama ini aku terlalu tamak akan pekerjaan sehingga mengabaikan seluruh gejala-gejala itu. Ya Tuhan maafkanlah anak durhaka ini. Anak yang hanya selalu menyusahkan wanita tua ini hingga hari tuanya. Hari dimana seharusnya ia menikmati canda tawa dengan cucunya yang cantik. Ya Tuhan Maha pengasih kapankah cobaan-Mu ini akan berakhir.

Hari demi hari wajah ibuku makin suram dan pucat. Suaranya tak lagi dapat terdengar dengan baik. Ia hanya menggumam bila mengiginkan sesuatu. Namun dengan sabar putriku yang masih kecil merawatnya ketika aku bekerja. Perlahan namun pasti kerasnya cobaan ini tampaknya membuat putri lebih dewasa. Ia tak lagi bermain dengan teman sebayanya, ia lebih memilih menemani nenek tercintanya. Bahkan ia mulai meminta diajari memasak, dan mulai bangun lebih pagi dan membantuku melawan dinginnya air pam. Ia juga tak lagi merengek ketika melihat mainan atau jepitan yang terpajang dengan indahnya dipasar minggu, ia juga mulai menyimpan uang jajan yang aku berikan setiap paginya. Melihat perubahan yang begitu besar pada purtiku membuat percikan bara api semangat di hatiku yang sempat membeku menjadi cair kembali. Setiap senyumnya selalu menjadi energi untuk tubuhku. Aku tak boleh lemah atau bahkan menyerah dengan semua cobaan yang diberikan Yang Kuasa kepadaku. Aku harus berjuang meski harus menguras seluruh peluh yang ada di tubuhku. Tak penting pekerjaan apa yang aku lakukan meskipun itu terlihat kotor dan rendah di mata masyrakat, asalkan itu masih halal, akan aku lakukan dengan penuh semangat.

Aku tak pernah mengutuk atau mencemoh Yang Maha Kuasa hanya memberikan penderitaan di hidupku. Karena Dia telah memberikan dua buah intan permata yang tak akan sebanding dengan uang atau apapun di dunia ini. Intan-intan itu sangat berhargga untukku dan sebagai sumber hidupku. Aku akan selalu menjaga agar intan itu selalu berada di genggamanku meskipun suatu hari nanti aku harus merelakannya untuk kembali kepemilik aslinya. Aku akan selalu menjaga dan menjagamu ibuku dan putriku kalian adalah intan di hidupku yang sangat berharga.

Cerpen Karangan: Do Minseok
Facebook: Rhiny Salvia Clouds Kyuppa

nama: do minseok (samaran)
tl : 03 07 1997
asal: sulsel
jenis kelamin: wanita

hobi: kepoin idol dan drama korea
status: mahasiswa

Cerpen Relung Hati Sang Wanita Orange merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bakat Terpendam

Oleh:
Namaku Farid, aku adalah murid sekolah menengah pertama, lebih tepatnya SMPN 1 jakarta. Aku adalah anak seorang pengusaha kaya, hidup kaya raya, tempat tinggal bagus, kesenangan difasilitasi dan hal

Romantic Love From SulTeng

Oleh:
Aku sedang berjalan di antara kerumunan siswa-siswa lain yang ingin mengetahui bahwa mereka lulus atau tidak. Tahun ini aku sudah akan lulus dari sekolah menengah pertama. Dan saat ini

Apa Salahku

Oleh:
“Kirani Muzani Arianti, itulah namaku. Aku lahir dari keluarga yang hidup serba berkecukupan, aku punya sodara kembar yaitu Kirana Aryani Restari, aku memanggil dia Kak Ana, karena dia lahirnya

Perjuangan Seorang Ibu

Oleh:
Suatu hari di sebuah desa terpencil ada seorang Ibu yang baru melahirkan seorang anak perempuan di bidan terdekat. Setelah proses melahirkan selesai, sang Ibu ingin melihat keadaan bayinya. “Bisa

Membenam Rasa Kepedihan

Oleh:
Hati ini belumlah lupa bagaimana ia menilaiku. Tak melihatku dan semakin melupakanku, terdiam tiba-tiba aku di tepi jembatan kota jakarta ini. Dengan berlinangan air mata dalam hati ku pantulkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *